
Malam Hari
Siska menjadi sahabat terakhir yang masih berada di rumah Rina, sementara itu Yoga dan Lisa sedang mengerjakan tugas kuliah bersama karena mereka satu Universitas dengan jurusan yang sama.
"Rangga." panggil Rina yang ingin mengajak Rangga ke depan rumah.
"Iya Rin" jawab Rangga seraya menghampiri Rina untuk menuju ke depan rumah.
Setibanya di luar rumah, mereka berdua pun duduk di sebuah taman kecil yang terletak di sebelah garasi mobil, Rina dengan segala kegundahannya berusaha untuk mengungkapkan semuanya.
"Rin, aku bahagia banget bisa bersamamu lagi." ujar Rangga.
"Andai kamu juga tahu Rangga, betapa bahagianya aku, tapi benar yang Mega katakan, sekarang ini yang layak bersama kamu adalah Mega bukan aku, aku tidak punya kesempurnaan yang Mega miliki, lagipula bukankah Mega sudah menolong aku, jadi sudah sepantasnya aku harus melepaskan kamu untuknya." batin Rina pedih dalam hatinya.
Rangga masih melihat raut wajah yang penuh kebimbangan dari Rina.
"Kamu kenapa? Kamu gak usah khawatir lagi Rin, sekarang sudah tidak ada lagi yang mempunyai niat jahat untuk memisahkan kita." tutur Rangga yang tidak menyadari.
Rina tersadar dari pikirannya. Rina lalu memegang tangan Rangga, dengan menatap mata Rangga ia berusaha untuk kuat mengatakan segala isi hatinya walau sangat perih untuknya.
"Maafin aku Rangga, setelah aku pikirkan lebih baik kita tidak bersama lagi, mungkin semua sudah terlambat untuk kita, keadaan aku sudah seperti ini." tutur Rina sangat lirih.
__ADS_1
Rina mulai meneteskan air matanya. Rangga yang melihat semua itu menjadi sangat bingung akan perubahan Rina, ia pikir Rina sudah bahagia, namun melihat Rina kembali menangis, membuat hatinya sakit.
"Kamu kenapa Rin?" tanya Rangga heran.
"Ada wanita yang ternyata selama ini sangat mencintai kamu, bahkan ia rela untuk membantu aku, padahal aku adalah wanita yang di cintai oleh laki-laki yang ia cintai, tapi karena besarnya cintanya terhadap laki-laki itu, ia rela melakukan semuanya demi laki-laki yang ia cintai." ujar Rina mencoba bercerita.
Rangga mendengar semua itu seakan mengingat seseorang yang memang ia sudah tahu, wanita itu pernah dekat dengannya saat semasa kuliah dulu.
"Maksud kamu Mega!" seru Rangga menyebutkan.
"Iya Rangga, Mega saat ini lebih pantas daripada aku, aku sudah tidak sempurna untuk kamu, aku rela melepas kamu untuknya, lagipula aku berhutang budi sama Mega, karena ia sudah mau menolong aku dan menjebloskan Angga ke dalam penjara." tutur Rina penuh air mata.
Rina lalu melepas cincinnya dan mengembalikan dalam genggaman tangan Rangga.
"Kenapa kamu jadi seperti ini Rin." ucap Rangga terkejut dengan perkataan Rina.
"Kamu yang sudah membuat ini semakin rumit Rangga, kamu bawa kembali seseorang dari masa lalu kita untuk menolong kamu sehingga aku harus ada di posisi seperti ini." gumam Rina.
"Sekali lagi aku ingin kamu tahu, walau mungkin kamu tidak akan pernah mengerti posisi aku, aku bukanlah wanita yang sempurna untuk kamu, aku hanya punya cinta tapi aku tidak punya kesucian." sambung Rina penuh air mata.
"Oke! Aku tidak ingin kamu menangis lagi, kalau itu mau kamu aku tidak bisa bicara apa-apa, aku akan beri kamu waktu untuk sendiri dan memikirkan semuanya." ujar Rangga.
__ADS_1
"Iya Rangga, aku baik-baik saja yang penting kamu harus bahagia." ucap Rina sambil menghapus bulir air mata di pipinya.
Dengan berat hati Rangga, memutuskan untuk membiarkan Rina sendiri dengan segala pemikirannya, Rangga tidak mau melihat Rina terus-terusan menangis karena itu hanya akan membuatnya sakit juga.
"Aku pamit pulang." ucap Rangga sedih.
Rangga dengan perasaan kecewa pamit pulang kepada Rina, ia memanggil Lisa terlebih dahulu untuk mengajaknya pulang bersama.
"Kak Rina, aku pulang dulu ya." ujar Lisa yang bingung melihat perbedaan reaksi Rina dan Rangga.
"Iya Lisa." jawab Rina.
Rangga keluar dari rumah Rina, setelah ia berpamitan dengan Adi, Bi Imah, Vara dan Yoga.
"Aku pulang Rin, mungkin bukan aku yang harus berpikir tentang hubungan ini, tapi kamu, kamu yang harus berpikir bahwa sebenarnya aku dan kamu memang sudah di takdirkan untuk bersama." ujar Rangga seraya pamit kepada Rina.
Lisa terkejut dengan perkataan Rangga, namun ia tidak enak jika harus ikut campur.
"Kenapa Kak Rina berubah, apa ini ada hubungannya dengan Kak Mega saat ia pamit pulang? Mereka kan sempat berbicara berdua di taman ini." gumam Lisa.
*****
__ADS_1
Bersambung✍️
🙂🙂 Beri komentar dan like ya..