
Setelah berbicara dengan Rangga, Adi segera pergi untuk menjemput Bi Imah. Adi mulai berpikir tentang semua masalah yang menimpa Rina, ia sebetulnya sangat sedih namun Adi mencoba tetap tegar, karena sebagai sosok Ayah ia tak boleh terlihat rapuh.
Adi pun tiba dan ia segera turun dari mobil.
Tok-tok-tok
Suara pintu terdengar oleh Bi Imah, ia dengan bergegas membukakan pintu. Setelah melihat kedatangan Adi, Bi Imah yang sangat cemas tentang keadaan Rina, segera bertanya kepada Adi.
Setelah mendengar cerita Adi, Bi Imah sangat sedih mengetahui bahwa Rina saat ini mengalami amnesia. Bi Imah tak kuasa menahan tangisnya, bulir-bulir air mata menetes deras membasahi kedua sudut matanya. Adi yang melihatnya berusaha untuk menenangkan Bi Imah.
"Sudah Bi, tidak usah menangis lagi, semoga Rina segera kembali ingatannya." ujar Adi.
Mendengar hal itu, Bi Imah mulai menghapus air matanya, walau sesak di dadanya masih terasa begitu sakit.
"Sekarang Bi Imah siap-siap, kita ke rumah sakit, saya minta Bi Imah bergantian dengan Yoga dan Vara untuk menjaga Rina, soalnya saya besok harus pergi ke Solo ada urusan kerja." titah Adi kepada Bi Imah.
Bi Imah segera melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Adi, di sela-sela kegiatannya memasukkan pakaiannya ke dalam tas, Bi Imah kembali menangis mengingat kondisi Rina.
"Maafin Ibu, karena telah membuangmu, Ibu hanya ingin kamu bahagia, tapi ternyata yang kamu dapat hanyalah kesengsaraan." lirih Bi Imah memandangi foto Rina saat masih bayi.
Bi Imah menangis tersedu-sedu, ia sangat sedih dengan apa yang menimpa Rina, begitu banyak kesedihan yang Rina rasakan, menambah rasa penyesalan di hati Bi Imah yang telah membuangnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Bi Imah terkejut ketika Adi ternyata sudah berada di belakangnya, Adi sudah sejak tadi memanggil Bi Imah, namun karena tidak ada balasan, Adi memutuskan pergi ke kamar Bi Imah, tapi saat ia sampai di depan pintu, ia mendengar tangisan Bi Imah dan semua perkataan yang di ucapkan oleh Bi Imah. Adi sontak terkejut, ia tak menyangka bahwa Rina adalah Anak kandung Bi Imah.
"Bi, tolong jelaskan kepada saya, apa maksud perkataan Bibi barusan?" tanya Adi yang masih terkejut tak menyangka mendengar semua hal yang Bi Imah katakan.
Bi Imah membalikan tubuhnya dan melihat wajah Adi, ia sangat terkejut tak mengira Adi sudah menguping perkataannya. Sambil menangis Bi Imah memegang kaki Adi, ia meronta meminta maaf, ia menyesali semua perbuatannya sudah membuang Rina di depan pintu rumah Adi, ya rumah ini, rumah yang saat ini Bi Imah tinggali. Adi merasa risih mendapati Bi Imah yang bersimpuh minta maaf di kakinya, ia dengan cepat segera membangunkan Bi Imah, meminta Bi Imah untuk berdiri dan tidak usah bersikap seperti ini.
"Bi, Bibi tidak perlu minta maaf, ini bukan salah Bibi, Bibi memang salah sudah membuang Rina, tapi itu menjadi suatu kebahagiaan untuk saya dan Sarah saat itu, kehadiran Rina membuat kami yang tadinya hampir menyerah untuk dapat mempunyai keturunan, kembali semangat untuk menjalani hidup kami kembali, sampai lahirnya Vara dan Yoga." ujar Adi menceritakan semuanya kepada Bi Imah.
Bi Imah tetap menangis, ia tetap menyesali segala tindakannya, berulang kali ia meminta maaf kepada Adi.
"Saya memaafkan Bi Imah, saya malah bersyukur bisa di pertemukan dengan orang tua kandung Rina, ternyata orangnya tidak jauh-jauh, ada di rumah ini." ujar Adi memaafkan Bi Imah.
Bi Imah menjadi lebih tenang, sampai akhirnya ia menceritakan semua kisah masa lalunya kepada Adi.
Pernikahan yang sudah berjalan selama satu Tahun, saat itu Bi Imah sedang hamil 7 bulan. Kehamilan anak pertama mereka di sambut bahagia oleh Bi Imah dan suami, saat itu suaminya bekerja sebagai kameraman di salah satu station televisi, sampai akhirnya petaka mulai menggerogoti kebahagiaan rumah tangga mereka. Bi Imah mulai mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya, hingga tak jarang suaminya tidak pulang ke rumah. Selama sebulan Bi Imah terus merasakan hal itu, sampai pada hari itu dimana semua kebahagiaan seakan remuk hancur tak tersisa, puing-puing tawa dan senyum ***** menjadi debu, hingga hilang tak tersisa tersapu oleh angin. Bi Imah ingat betul kata-katanya, tak bisa ia melupakannya seumur hidupnya.
"Mulai sekarang anggap saja kamu tidak kenal aku, kamu tidak usah mencari aku, aku akan pergi." ujar suaminya Bi Imah.
Mendengar hal itu, Bi Imah menangis tersedu-sedu, ia memegang kaki suaminya, meminta belas kasih untuk tidak pergi meninggalkannya. Namun ternyata semua tidak di gubris olehnya, ia tetap pergi tak menghiraukan anak yang sedang Bi Imah kandung. Bi Imah tetap mengejar suaminya yang ingin pergi, ia memegang tangan suaminya, menggenggamnya dengan erat tak mau suaminya pergi, tapi saat itu suaminya seperti gelap mata, Bi Imah di dorong, hingga tersungkur jatuh dan meringis kesakitan.
Bi Imah pun tak punya daya dan upaya untuk mengejarnya kembali, ia hanya dapat melihat suaminya pergi masuk ke dalam mobil, yang di dalamnya sudah ada seorang wanita yang menunggunya. Bi Imah tidak akan pernah lupa senyuman licik wanita itu kepadanya, dengan membuka kaca mobilnya ia memandang rendah Bi Imah dan pergi melajukan mobilnya bersama suaminya.
__ADS_1
Flashback OFF
"Begitu ceritanya Pak, sekali lagi maafkan saya, Pak." ujar Bi Imah tertunduk.
"Tidak apa-apa Bi, berarti mantan suami Bibi kerja di station televisi sama seperti saya dulu, tapi ya sudah! Semua kita lupakan saja Bi, Bibi tidak usah ingat-ingat lagi, biarlah itu jadi masa lalu saja." ujar Adi menasihati.
"Iya Pak, terimakasih karena ternyata Bapak sangat baik mau memaafkan saya." ujar Bi Imah yang masih merasa bersalah.
"Berarti Rina punya nama bayi ya Bi saat itu, siapa namanya kalo boleh saya tahu?" tanya Adi.
"Nafira Putri Riansyah." ujar Bi Imah memberitahu.
Adi mendengarnya bak tersambar petir di siang hari bolong, ia luar biasa terkejut, hingga Adi yang tadinya duduk sampai berdiri mendengar nama yang Bi Imah sampaikan.
"Riansyah! Apa mantan suami Bibi itu Riansyah Wijaya?" tanya Adi yang sangat terkejut.
"Iya betul Pak, itu nama mantan suami saya, dialah Ayahnya Rina, darimana Bapak bisa tahu?" ujar Bi Imah heran.
Adi benar-benar tak menyangka, ternyata sahabatnya selama ini adalah Ayah kandung Rina.
*****
__ADS_1
Bersambung..