Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Rina Pergi


__ADS_3

Mobil Rangga sudah memasuki parkiran sebuah cafe. Cafe yang terletak di Kawasan Sudirman di daerah Semanggi. Rangga pun mengajak Rina untuk masuk ke dalam cafe.



"Rangga, apa aku dulu pernah ke cafe ini?" tanya Rina sambil melihat-lihat sekeliling cafe.


"Kamu sering ke sini Rin, bukan sama aku tapi dengan Viska." ucap Rangga memberitahu.


"Viska yang waktu itu datang ke rumah sakit dengan Ryan." ujar Rina mengingat.


"Iya betul, dia sahabat kamu, kalian kerja satu kantor, sampai akhirnya karena suatu hal kamu di berhentikan dan Viska akhirnya ikut mengundurkan diri dari kantor itu." ujar Rangga menuturkan.


Mereka sudah memilih tempat duduknya, Rangga pun memanggil pelayan cafe untuk memesan. Setelah melihat beberapa menu di buku menu yang diberikan, mereka pun memilih makanan dan minuman yang hendak mereka pesan.


"Sudah ini saja pesannya Pak?" tanya Pelayan kepada Rangga.


"Iya Mba, ini saja, terima kasih ya." ujar Rangga.


"Baik Pak, di tunggu pesanannya ya." ujar Pelayan seraya berlalu pergi.


Rangga meminta izin kepada Rina untuk pergi ke toilet. Ia pun meninggalkan Rina seorang diri. Saat Rina melihat televisi yang terletak di atas dinding cafe, ia seakan mengingat sesuatu. Terlintas bayangan berita televisi yang memberitakan bahwa telah terjadi kecelakaan pesawat jurusan penerbangan Surabaya, Rina pun memegangi kepalanya yang mulai terasa sakit, ia mencoba mengingat apa yang terlintas di pikirannya, semakin ia mencoba, semakin jelas terlihat bahwa saat itu ia menangis di pelukan Viska karena Rangga sudah meninggal. Rina juga melihat saat dirinya datang ke acara pemakaman Rangga, ia terlihat begitu hancur, tangisannya terlihat sangat sakit. Rasa kehilangan yang begitu sakit di bayangannya, seolah terbawa kepada dirinya yang saat ini sangat terguncang.


"Rangga sudah meninggal, lantas siapa laki-laki yang saat ini bersamaku?" tanya Rina yang mulai tak menentu pikirannya.


Potongan-potongan ingatan Rina yang datang secara tidak utuh, membuat memori di kepala Rina seolah menjadi salah paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Rina bangkit dari duduknya, ia melangkah pergi meninggalkan cafe.


"Aku belum dapat mengingat wajah Rangga, tapi kenapa yang terlintas di pikiranku Rangga sudah meninggal? Sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Rina lirih yang melangkah penuh keraguan.


Sesampainya di depan cafe, Rina melihat taksi yang melintas, Rina segera memberhentikan taksi tersebut. Rina masuk ke dalam taksi dan taksi pun melaju meninggalkan cafe.

__ADS_1


Di dalam cafe.


Rangga sudah kembali dari toilet, namun ia heran melihat Rina tidak ada di tempat duduknya, Rangga hanya melihat handphone milik Rina yang tertinggal di atas meja, handphone yang baru Rina beli, karena handphone sebelumnya ikut rusak akibat kecelakaan.


"Handphonenya ada, tapi kemana Rina ya?" tanya Rangga mulai cemas memikirkan Rina.


Rangga mencoba mencari di sekeliling cafe setiap sisinya, namun tetap saja ia tidak menemukan Rina. Rangga menjadi frustasi, namun di tengah-tengah kecemasannya, Rangga mencoba untuk berpikir tenang.


"Apa Rina sedang mengajak aku bermain petak umpet seperti dulu ya?" tanya Rangga menebak.


Mengingat kenangan masa lalunya Rangga kembali bersemangat mencari Rina. Namun setelah 1 jam mencari, ia masih belum dapat menemukan Rina.



Rangga terduduk lemas di anak tangga yang ia pijak, pikirannya saat ini sangat kalut, ia begitu sedih bercampur kesal dengan dirinya sendiri, kenapa dia pergi meninggalkan Rina untuk pergi ke toilet. Kedua matanya mulai tenggelam oleh air mata kesedihan.


Saat ia semakin larut dalam kesedihannya, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundaknya. Rangga pun kaget, ia mengira Rina ada di belakangnya.


Sambil menghapus air matanya, Rangga menoleh ke belakang.


"Maaf Pak, saya bukan Rina. Makanannya sudah saya antar ke meja, silahkan Pak!" ujar pelayan memberitahu Rangga.


"Baik Mba, terima kasih! Nanti saya ke dalam." ucap Rangga menyembunyikan kesedihannya.


Rangga masuk kembali ke dalam cafe, tapi ia tetap tidak melihat Rina di tempat duduknya, saat ini di depan matanya, hanyalah meja yang penuh dengan makanan dan minuman yang sudah ia pesan.



__ADS_1


Rangga duduk dan memanggil pelayan. Ia meminta untuk membungkus semua makanan dan minuman yang sudah di sediakan. Rangga pun sempat bertanya kepada Pelayan cafe tapi ia tidak melihat kemana Rina pergi, karena memang saat itu keadaan cafe sedang ramai-ramainya pengunjung.


Di dalam taksi.


Rina yang tidak henti-hentinya menangis, membuat sopir taksi bingung, karena Rina tidak tahu kemana arah yang mereka tuju. Sudah sejam mereka hanya berputar-putar di daerah Semanggi - Sudirman. Sampai akhirnya sopir taksi menghentikan mobilnya, ia meminta Rina untuk membayar dan turun dari taksinya. Rina yang mau tidak mau menuruti permintaan sopir, segera turun. Di saat yang bersamaan mobil Rangga melewati taksi tersebut.


"Maaf ya Pak, ini uangnya, kembaliannya ambil aja Pak, buat Bapak." ujar Rina seraya turun dari taksi.


"Iya Mba, maaf ya soalnya Mba gak jelas arah tujuannya, saya kasian juga sama Mba, argonya jalan terus, mending Mba pulang aja, kalau lagi sedih begini." ujar sopir taksi.


"Iya Pak, makasih nasihatnya tapi saya gak tahu jalan ke rumah." ucap Rina mengakhiri pertanyaan sopir taksi sambil menutup pintu belakang taksi.


Sopir taksi menjadi sangat iba mendengar perkataan Rina, walau heran ia tetap pergi melajukan taksinya.


Rangga pun berhenti sejenak beberapa meter dari tempat taksi Rina berhenti. Andai saja Rangga melihat spion sebelah kirinya, ia pasti langsung dapat melihat Rina.


Namun Rangga terus menoleh ke arah kanan untuk mencari Rina, saat Rangga mulai melihat spion kirinya, ia hanya mendapati sebuah truk yang akan masuk ke arah gedung yang ada di sebelah kiri Rangga, badan truk yang besar membuat pandangan Rangga tertutupi.


"Kemana aku harus mencari kamu, Rin." gumam Rangga bingung sambil melihat ke arah spion kirinya.


Saat truk tersebut sudah tidak menutupi pandangan spion kirinya, Rangga memalingkan pandangannya ke arah yang berlawanan.


"Hatiku kenapa merasakan kamu seperti dekat ya denganku? Apa ini hanya perasaanku saja?" tanya Rangga dalam hatinya.


Rangga yang belum menemukan Rina, tampak kesal dengan sesekali memukul kemudinya. Ia pun melanjutkan pencariannya, Rangga melajukan mobilnya jauh meninggalkan Rina yang sebenarnya berada beberapa meter di belakang mobil Rangga.


"Aku sekarang tidak tahu aku dimana dan bagaimana caranya aku bisa pulang?" gumam Rina kebingungan.


*****

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2