
Rangga sudah berada di dalam kamar Rina. Ia melangkah perlahan menghampiri lemari. Rangga pun membukanya. Namun ia kaget Rina sudah tidak ada di dalam lemari seperti yang dikatakan oleh Vara.
"Rin, kamu jangan ngumpet Rin, aku tahu kamu masih di kamar ini." ucap Rangga.
"Rin, kamu harus tahu satu hal, apapun keadaan kamu, bagi aku kamu tetap sempurna, karena bagi aku kesempurnaan itu bukan hanya fisik Rin, tapi hati." imbuhnya dengan tegas.
Rina melihat Rangga dari tempat persembunyiannya.
"Kamu dimana Rin, aku tidak mau berpisah lagi dengan kamu, cukup kmren itu pun sangat menyakitkan untuk aku, hati aku sangat merindukan kamu, karena aku sangat mencintai kamu Rin." tutur Rangga.
Rangga pun terhenyak karena tubuhnya tiba-tiba ada yang memeluknya, kedua tangan melingkar di tubuh Rangga, mendekap Rangga dengan sangat erat.
"Aku juga mencintai kamu Rangga, terimakasih karena kamu mau menerima semua kekurangan aku, aku janji aku tidak akan pergi lagi dari kamu, kecuali kematian yang memisahkan kita." tutur Rina penuh piluh.
Rangga memegang tangan Rina dan ia kini berbalik, mereka saling berhadapan. Rangga mengecup kening Rina dengan kecupan cinta. Rina pun hanyut kembali dalam pelukan Rangga.
__ADS_1
"Rin, aku juga berjanji akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu dan anak-anak kita kelak." tutur Rangga penuh keyakinan.
"Iya Rangga, makasih." ucap Rina sesugukan.
Dengan lembut Rangga memegang tangan Rina dan ia memakaikan cincin yang tadi belum sempat ia sematkan di jari manis Rina. Suasana menjadi sangat haru Rina pun tak kuasa menangis, air mata yang begitu deras membasahi pipinya.
"Jangan ada lagi air mata ya Rin, sekarang kamu harus bahagia." tutur Rangga seraya mengusap air mata di pipi Rina dengan kedua tangannya.
Rina menggenggam tangan Rangga yang masih mengusap air matanya.
"Ini bukan air mata kesedihan Rangga, ini adalah tangis kebahagiaan." ujar Rina sambil menggenggam tangan Rangga.
"Ibu aku, Ibu aku sudah meninggal Rangga, gak mungkin kan kamu lupa." heran Rina curiga.
Rangga terhenyak kaget, ia lupa bahwa Rina belum tahu tentang Bi Imah yang bahwasanya adalah Ibu kandungnya.
__ADS_1
"Hmmmm itu maksud aku, hmmmm." ucap Rangga terbata.
"Rangga kenapa? Jujur sama aku, apa ada yang kamu tahu? Tapi kamu belum sempat cerita sama aku, tolong kamu ceritakan jangan kamu sembunyikan." tutur Rina memaksa.
"Gak Rin, gini maksud aku, walaupun Ibu kamu sudah gak ada, tapi sebenarnya Ibu kamu selalu menjaga dan memperhatikan kita, dia selalu hidup di hati kamu." tutur Rangga seraya menunjuk hati Rina.
Rina berpikir sejenak, walau tak sepenuhnya percaya.
"Udah ayo gak usah kamu pikirin kata-kata aku, sebaiknya kita ke bawah yang lain udah khawatir Rin." imbuh Rangga.
Mereka bergegas menuju ke ruang tamu untuk menemui yang lainnya.
"Ups hampir saja aku keceplosan, untung aku masih bisa ngasih alasan dan Rina percaya. gumam Rangga sambil melihat Rina dengan cemas.
"Aku gak sepenuhnya yakin dengan kata-kata Rangga, aku merasa sepertinya Rangga menyembunyikan sesuatu dari aku, kalau kata-kata yang di maksud itu Ibu berarti hanya Bi Imah yang bisa di sebut Ibu, apa jangan-jangan aku bukan anak kandung Papa, aku harus cari tahu tentang ini." gumam Rina yang penasaran dengan maksud ucapan Rangga.
__ADS_1
*******
Bersambung✍️