Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Kehilangan Cinta


__ADS_3

Rina dan Viska masih menikmati suasana sore di sebuah cafe di Jakarta. Tampak hujan masih turun dengan sangat lebatnya, gemuruh petir saling bersautan, tiupan angin yang kencang pun seolah menyapu rintikan air yang turun.


Seketika Rina melihat sebuah berita di televisi yang berada di bagian atas menggantung di dinding cafe, sebuah berita yang membuatnya tersedak karena terkejut. Rina sangat panik, seketika ia menangis tersedu-sedu tanpa memikirkan kalau ia sedang berada di tempat keramaian, Viska yang melihat berita itu mencoba menenangkannya, Viska langsung memeluk Rina.


"Kamu harus kuat Rin." ucap Viska menenangkannya.


Rina coba untuk mencerna setiap ucapan Viska, namun semakin Rina cerna, setiap memori yang melintas dipikirannya menolak semua itu, Rina terus menangis, sampai orang-orang di dalam cafe bertanya kepada Viska. Viska mencoba menjelaskan kepada mereka bahwa berita di televisi itu mengabarkan kecelakaan pesawat tujuan Surabaya, yang salah satu penumpang di dalam pesawat adalah kekasih Rina.




*** Vara yang iseng mengambil foto kakaknya sewaktu di halaman rumah, saat Rangga dan Rina masih di dalam mobil Rangga.


Rina langsung mengambil handphonenya, Rina berusaha menghubungi Rangga berulang kali walau selalu gagal, Rina semakin sakit, perasaannya saat ini tidak karuan.


"Ya Allah, aku sudah di pecat dari pekerjaanku, dulu Mamaku, sekarang Rangga, kenapa?" tangis Rina membatin bertanya dalam hatinya.


Viska mengajak Rina untuk pulang, untuk menenangkan diri dan menunggu kabar selanjutnya.

__ADS_1


Di dalam perjalanan.


Terlintas semua kenangan dipikiran Rina akan kebersamaannya dengan Rangga.



Sewaktu mereka berdua menghadiri Resepsi pernikahan teman kuliahnya.



Sewaktu di kampus ruang UKS, Rangga sempat memberikannya bunga.


Viska yang masih melihat Rina menangis berusaha terus menenangkannya.


"Rin, ikhlas ya." ucap Viska seraya mengendarai mobilnya.


"Gak Vis, gak... Aku gak mau Rangga pergi, selama ini aku selalu menutupi semua perasaanku ini, semua kenyamananku saat dekat dengan Rangga, padahal satu yang aku tidak bisa bohong, aku mencintai Rangga, aku ingin dia terus ada di samping aku, nemenin aku." tangis Rina penuh Isak.


"Rangga." ucap Rina memanggil nama Rangga.

__ADS_1


"Tapi semua sudah terjadi Rin, sudah terlambat, walau kamu teriak pun Rangga tidak akan tahu perasaan kamu, kamu harus mendoakan yang terbaik untuknya dengan begitu Rangga bisa pergi dengan tenang." ujar Viska menjelaskan.


"Rangga... Rangga..." teriak Rina sambil menangis tersedu-sedu.


"Yang kuat ya Rin." ucap Viska.


Perjalanan sore itu sungguh sangat memilukan, Rina tak berhenti menangis, bahkan terkadang Rina berulang kali memanggil nama Rangga, di tengah tangisannya, handphone Rina berbunyi tanda ada pesan yang masuk.


Drrret-drrret-drrret


Rina membuka pesan yang masuk di handphonenya. Saat membaca pesan itu Rina sangat terkejut, air matanya mereda, dunia yang tadinya hancur berubah kembali utuh, sesak yang mencengkram dadanya seolah hilang, lepas entah kemana. Viska yang melihatnya seolah aneh dengan perubahan Rina.


Rina tersenyum kecil..


"Rangga." ucap Rina.


****


Bersambung ✍️

__ADS_1


__ADS_2