Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Keputusan Rina


__ADS_3

1 Minggu kemudian setelah kematian Rangga


Rina masih sangat terpukul dengan kematian Rangga, Rina tidak menyangka laki-laki yang sangat ia cintai harus pergi meninggalkannya dengan cepat. Seminggu sudah air mata ini terus mengalir bila ingat semua kenangannya saat bersama Rangga, Rina pun masih sangat sering mengunjungi makam Rangga. Rina selalu berharap semua yang ia sedang alami ini hanya mimpi, namun saat ia terbangun semua benar terjadi, semua nyata dan Rangga memang benar-benar sudah tiada.


Ruang tamu.


"Bi, sudah seminggu ini Kakak belum juga mau keluar kamar, bahkan makanan yang kita letakkan di depan pintunya pun hanya di makan sedikit Bi." tutur Vara khawatir.


"Iya Neng, Bibi sangat khawatir dengan keadaan Mba Rina yang seperti itu, Bibi ikut merasakan kehilangan yang sangat besar setelah Mas Rangga pergi." tutur Bi Imah.


"Nanti sepulang sekolah aku akan coba untuk membujuk Kakak, ya sudah Bi aku berangkat dulu ya." tutur Vara.


Selama Rina tidak bisa mengantar Vara ke sekolah, Vara selalu menggunakan taksi online untuk ia berangkat dan pulang sekolah. Adi juga memberikan handphone kepada Vara untuk dapat berkomunikasi agar Adi bisa tahu perkembangan Rina, karena Rina selama 1 Minggu ini tidak bisa dihubungi ia hanya mengurung diri di kamarnya.


Drrret-drrret-drrret


Handphone Vara berbunyi, tampak Yoga menelepon.


"Halo Var, kamu lagi berangkat sekolah ya?" ucap Yoga.


"Iya Kak, ada apa Kak?" ujar Vara.


"Mulai besok aku akan tinggal lagi di rumah, jadi kamu gak usah naek taksi online lagi untuk berangkat sekolah bisa bareng Kakak kebetulan kan searah dengan tempat Kakak Kuliah." ujar Yoga.


"Asyik Kak Yoga pulang." ujar Vara penuh sukacita.


"Iya Var, nanti sore Kakak yang jemput kamu di sekolah ya, ya udah kamu hati-hati sampai ketemu nanti sore Var." ujar Yoga.

__ADS_1


"Iya Kak, makasih ya Kak." ucap Vara seraya mengakhiri teleponnya.


Di rumah Rina.


Tok-tok-tok


Terdengar suara pintu tanda ada tamu yang ingin berkunjung, Bi Imah pun segera membukakan pintunya.


"Iya Non, mau nyari siapa ya?" ujar Bi Imah menyapa.


"Aku Siska sahabat Rina, Rina ada Bi." ucap Siska mengenalkan dirinya.


"Mba Rina udah seminggu gak mau keluar Kamar, tapi kalau Non mau nemuin coba aja dulu Non, ketok pintu kamarnya, siapa tahu ada Non Siska, Mba Rina mau keluar kamar." ucap Bi Imah berharap.


"Ya ampun Rina, ya sudah ayo Bi! Semoga aku bisa membujuk Rina." ujar Siska seraya mengikuti Bi Imah menuju kamar Rina.


Sesampainya di depan Kamar Rina.


Tak ada jawaban dari Rina, Siska dan Bi Imah tampak khawatir sekali. Tak lama terdengar suara dari lantai bawah yang memanggil nama Bi Imah. Bi Imah pun segera mendatangi asal suara tersebut, Bi Imah lantas ijin pamit kepada Siska untuk meninggalkannya sebentar, di tengah rasa khawatirnya terhadap Rina, Bi Imah bergegas pergi.


"Eh Mas Yoga, Bibi pikir siapa? Mas Yoga kebetulan banget, ini Mba Rina dipanggil gak ada jawaban dari dalam kamarnya Mas, Bibi khawatir Mas." ujar Bi Imah.


"Ayo Bi kalau gitu kita ke atas, nanti biar Yoga dobrak pintunya." ujar Yoga cemas.


Yoga dan Bi Imah pun segera menuju kamar Rina, sesampainya di sana, masih terlihat Siska yang mencoba terus memanggil Rina walau tak ada jawaban dari Rina sama sekali.


"Kalau begitu biar aku dobrak Bi." ujar Yoga.

__ADS_1


"Mas Yoga yakin Mas kuat." ujar Bi Imah.


"Kuatlah Bi, aku kan tiap Minggu fitnes Bi." ucap Yoga penuh keyakinan.


"Ya udah Mas cepet, Bibi khawatir sama Mba Rina." ucap Imah.


"Iya Bibi minggir sedikit." Ujar Yoga yang mulai bersiap-siap.


Yoga mendobrak pintu kamar Rina dengan sekuat tenaga, beberapa kali ia mendobrak namun tetap saja pintu belum juga terbuka.


"Susah Bi, tenagaku ternyata gak cukup untuk mendobrak pintunya, coba Bibi panggil Pak Ali, satpam komplek biar bantu Yoga untuk mendobrak Pintu ini." ujar Yoga cemas.


"Katanya kuat Mas." ujar Bi Imah.


"Mungkin karena aku belum makan kali ya Bi." ucap Yoga mencoba mencari alasan.


"Iya mungkin ya, coba kamu makan dulu aja Yoga biar kuat." ujar Siska memotong dengan sindiran.


"Kelamaan Kak, ya udah buruan Bi panggil Pak Ali aja." ucap Yoga.


Bi Imah pun segera mengikuti perintah dari Yoga, setelah berapa menit kemudian Pak Ali pun sudah tiba di depan kamar Rina dan siap untuk mendobrak pintu kamar Rina.


"Oke pak, dalam hitungan 3 ya pak, kita dobrak, 1.. 2.. 3.." ujar Yoga seraya mendobrak pintu berbarengan dengan Pak Ali.


Pintu pun berhasil terbuka, Siska dan Bi Imah segera masuk ke dalam kamar Rina, alangkah terkejutnya mereka tidak melihat Rina di dalam kamarnya, mereka jadi tambah panik, mereka memeriksa sekeliling kamar, setiap sudutnya sampai tiba di kamar mandi pun sudah diperiksa tapi tetap saja Rina tidak ada.


Saat mata Yoga mencari-cari, pandangannya tertuju pada suatu titik di meja kerja Rina, di sana sudah terdapat sepucuk surat yang di tinggalkan oleh Rina. Yoga pun menghampirinya, ia mengambil surat tersebut dan mulai membaca.

__ADS_1


******


Bersambung✍️


__ADS_2