
2 Minggu kemudian.
Setelah melewati situasi yang sangat mencekam di India, kini Rina sudah hidup normal seperti sedia kala, bersama kedua Adiknya dan juga Bi Imah yang telah Rina jemput dari kampung halamannya.
Namun kenyataan bahwa Bi Imah adalah Ibu kandungnya masih belum dapat ia ketahui.
Rina sudah mulai bekerja di Perusahaannya yang dulu. Bu Inggrid pimpinan perusahaan, yang langsung menghubungi Rina, untuk meminta Rina kembali bekerja bersama Viska di perusahaannya.
Kehidupan Rina semakin hari semakin baik, kebahagiaan sedikit demi sedikit mulai kembali di raut wajahnya. Walau ada satu hal yang masih belum ia putuskan, lamaran Rangga terhadap dirinya.
Lho, bukannya Rangga sudah menikah?
Rangga sudah bercerai dengan Mega, setelah melewati 1 kali mediasi dan 1 kali sidang, kini Rangga resmi bercerai dari Mega. Pernikahan karena sebuah ancaman memang bukan hal yang baik untuk dilakukan, bahkan untuk menjalaninya sampai membuat Rangga tak pernah sekalipun menyentuh Mega walaupun mereka sudah suami istri.
Yang sangat mengejutkan Rangga kini sudah diterima di Perusahaan yang sama tempat Rina bekerja. Rangga sengaja melamar di sana agar dapat selalu dekat dengan Rina, namun Rina masih belum mengetahuinya, karena ini hari pertama Rangga masuk ke kantor.
Bagaimana kabar Angga dan Siska?
Angga sudah menikahi Siska, ia sudah merasa lega karena Rina sudah memaafkan atas semua kesalahan yang telah ia lakukan.
Kehadiran Angga membawa kebahagiaan untuk Siska yang sempat kehilangan Rio, walau Siska masih menyimpan suatu rahasia yang belum ia ungkapkan kepada Rina.
Dosa yang selalu menghantuinya, namun ia takut mengatakannya, karena takut Rina akan membencinya. Sebuah kenyataan bahwa Siska adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian Sarah, Ibunya Rina.
πππ
Rumah Rina.
Rina sudah duduk di meja makan bersama kedua Adiknya, Bi Imah juga terlihat sibuk menata makanan untuk dihidangkan di atas meja makan.
"Kakak, mulai sekarang biar aku saja yang mengantar Vara untuk pergi ke sekolah,"
Rina terhenyak bingung. Wajahnya penuh pertanyaan.
"Lho kenapa Yoga?"
"Karena sekarang Kakak, udah gak perlu bawa mobil lagi,"
Rina semakin bingung mencerna perkataan Yoga, sampai kegamangan dipecahkan oleh suara Rangga yang terdengar dari kejauhan.
Rangga mulai mendekat menghampiri Rina ke meja makan.
"Karena mulai sekarang, kita akan selalu berangkat bareng untuk bekerja,"
Rina semakin bingung dengan perkataan Rangga.
"Maksudnya?"
Yoga dan Vara terkekeh lucu melihat raut wajah Rina yang terlihat bingung.
"Aku sudah bekerja di tempat kamu Rina, aku sengaja bekerja di sana agar aku bisa selalu dekat dan menjaga kamu,"
Rangga tersenyum menatap Rina yang kelihatan begitu kaget mendengar perkataan Rangga.
"Untuk apa kamu seperti itu,"
Rina memalingkan wajahnya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Apa kamu tidak menyukainya Rin?"
Tanya Rangga yang kini jadi muram wajahnya.
Yoga dan Vara pun ikut termangu melihat reaksi Rina yang terlihat tidak suka.
__ADS_1
Mereka saling menoleh satu sama lain, seakan bertanya kenapa Rina terlihat begitu marah.
"Rin, apa kamu tidak menyukainya?"
Rangga mengulangi pertanyaannya, namun Rina lagi dan lagi hanya terdiam tanpa kata-kata, ia masih mengunci rapat bibirnya tanpa suara.
Rina beranjak dari kursinya setelah santap paginya selesai. Ia melangkah menuju keluar rumah. Rangga dibuat bingung dengan sikap Rina.
"Kamu mau kemana?"
Rina kembali memutar tubuhnya dan menoleh menatap Rangga yang tampak masih heran.
Rina merubah raut wajahnya yang tadinya mengeras dengan wajah datar seperti biasanya. Rina mulai tersenyum kecil.
"Berangkatlah Rangga, ayo! Katanya kita akan berangkat barengkan,"
Rangga menyeringai mendengar ucapan Rina. Ia bergegas berlari untuk menghampiri Rina menuju mobilnya. Bi Imah yang melihat kebahagiaan di wajah Rina, ikut tersenyum menatap kepergian Rina dan Rangga.
Akhirnya sekarang kamu bahagia, Nak.
Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu.
Bi Imah melanjutkan pekerjaannya dengan membenahi meja makan. Sementara Vara dan Yoga juga beranjak untuk berangkat ke sekolahnya.
Di dalam Mobil.
Rina sudah duduk di kursi depan di samping Rangga.
"Rin, apa boleh rencana yang sempat gagal dulu, kita rencanakan lagi Rin,"
Rina langsung menoleh mendengar ucapan Rangga.
Rina tampak berpikir.
Rangga masih menunggu jawaban Rina, dengan cemas ia terus menatap Rina sambil membagi pandangannya agar tetap fokus mengendarai.
"Bagaimana Rin?"
"Apakah kamu masih mencintaiku?"
Dua pertanyaan yang membuat Rina masih diam membisu. Ia begitu terkejut saat mengetahui dari Angga, bahwa Rangga setuju untuk menikah dengan Mega demi menyelamatkannya.
"Aku ingin bertanya, apakah kamu tidak pernah mencintai Mega?"
Rangga cepat menjawab tanpa berpikir.
"Aku sama sekali tidak pernah sedetikpun mencintai Mega, bahkan setelah menikah aku tidak pernah menyentuhnya sedikitpun,"
"Aku setia menunggumu Rin, hatiku tak pernah berpaling untuk mencintaimu,"
Rina begitu terharu mendengar ungkapan Rangga. Air mata mulai menetes membasahi kedua pipinya. Hatinya tersentuh hingga membuatnya yakin untuk menjawab apa yang telah Rangga tunggu sejak tadi.
"Iya Rangga, aku masih mencintaimu, aku mau menikah denganmu, kita mulai semua dari awal, hidup bahagia sampai kita menjadi Ayah dan Ibu hingga kita mempunyai cucu nantinya,"
Rangga tak kuasa menahan air matanya, bulir air mata lolos dari kedua sudut matanya. Rangga begitu bahagia mendengar ucapan Rina.
"Terima kasih ya Rin, aku akan selalu membuatmu bahagia, aku akan selalu setia kepadamu, apapun yang terjadi,"
Rina tersenyum menatap Rangga. Keduanya larut dalam kebahagiaan mereka. Pagi itu dua sejoli yang telah terpisahkan cukup lama, kembali bersatu dalam satu ikatan yang dinamakan cinta.
Cinta yang membuat keduanya selalu kuat menghadapi berbagai kondisi yang hampir membuat cinta mereka kalah, tapi kini cinta Rina dan Rangga telah memuncak menuju hari kemenangan untuk kebahagiaan cinta mereka.
πππ
__ADS_1
1 Bulan kemudian.
Sebuah gedung mewah dengan dekorasi yang indah, menjadi saksi hari kebahagiaan Rina dan Rangga.
Tempat yang disiapkan untuk mengucap janji seumur hidup.
Rangga akan mengikrarkan ijab qobul dengan menjabat tangan Riansyah yang sudah terlihat begitu berwibawa mengenakan jas hitamnya. Adi terlihat begitu bahagia menyaksikan momen dimana Rina akhirnya memperoleh kebahagiaannya, walau bukan dirinya yang menjadi wali atas Rina, namun itu tidak mengurangi rasa bahagianya.
Terlihat Bu Rita juga datang dengan kebaya cantiknya yang dikenakannya.
Viska dan Ryan tersenyum bahagia menatap Rina, yang kini sudah bersanding dengan Rangga untuk melakukan ijab qobul.
Angga saling menoleh menatap Siska yang juga terlihat begitu terharu melihat sahabatnya kini akan segera resmi menjadi istri seorang Rangga Hardian Putra.
Jantung Vara berdebar, matanya sendu menangis bahagia melihat Kakaknya sudah memperoleh kebahagiaan dan cintanya yang sempat hilang. Begitu pun dengan Yoga ia sampai menangis melihat Kakaknya kini terlihat Anggun dengan gaun putihnya yang elegan, membuat Rina tampak begitu cantik.
Kedua saksi sudah siap di tempat duduknya yang disediakan, begitu juga dengan Penghulu dan Riansyah sudah terlihat duduk pada tempatnya.
Rangga terlihat mulai berkeringat di dahinya, ia mulai gugup dengan apa yang akan dihadapinya, ini berbeda dari pernikahan pertamanya dengan Mega yang dilandasi tanpa sebuah cinta.
Rangga berdecak kagum dengan perasaan yang ia rasakan saat ini. Sesekali ia menatap Rina yang duduk di seberangnya berhadapan langsung dengannya.
Riansyah mulai menyodorkan tangannya untuk dijabat oleh Rangga atas arahan penghulu.
"Saudara Rangga Hardian Putra, saya nikahkan dan kawinkan saudara dengan ananda Rina Adista Savira binti Riansyah Wijaya dengan mas kawin emas seberat 30 gram dibayar, TUNAI,"
Rina terharu menatap momen ini, air matanya berderai membasahi pipinya, dengan tisu yang dipegangnya ia mengusapnya dengan hati-hati agar tidak merusak make up wajahnya.
Riansyah menyibakkan jabatan tangannya dengan Rangga sebagai kode Rangga harus menjawab kalimat yang telah dilontarkan oleh penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Rina Adista Savira binti Riansyah Wijaya dengan mas kawin tersebut di bayar, TUNAI,"
"Sah," ucap penghulu bertanya kepada kedua saksi.
Saksi menjawab sambil mengangguk.
"Sah,"
"Sah,"
"Sah," penghulu mulai membaca doa penutup sebagai tanda syukur bahwa kini Rina dan Rangga telah sah sebagai suami istri.
Akhirnya Rin, cinta kita menang.
Bi Imah terus menatap momen bahagia yang terjadi dihadapannya tanpa berkedip, hingga membuatnya menangis penuh haru, kebahagiaan yang terasa begitu manis untuk Rina dan Rangga.
"Akhirnya sekarang kamu sudah bahagia, Nak,"
πππ
Di antara kerumunan tamu undangan, tampak satu orang laki-laki mengamati Rina dengan tersenyum licik, dengan mengenakan jas hitam dan wajah tertunduk tampak seseorang ini bukanlah tamu yang masuk dalam daftar undangan.
"Bahagialah, selagi kamu bisa bahagia Rina," ucap seorang Pria dengan memicingkan senyumannya.
πΈπΈπΈ
End sampai jumpa di season 3. Terima kasih sudah mengikuti perjalanan Rina dan Rangga selama ini.
Ikuti Novelku yang lain ya. ππ
__ADS_1
Aku Bukan Istri Mandul