
Pertemuan yang singkat dengan Arief Setiawan, Rangga merasa bersyukur karena Arief Setiawan selaku pemilik EO sekaligus pemilik gedung bersedia untuk menemuinya langsung. Setelah semua selesai, tibalah Rangga untuk mengajak Rina menuju suatu tempat.
"Rangga, kita mau kemana?" tanya Rina yang penasaran.
"Pokoknya kamu ikut aja, ok!" titah Rangga yang merahasiakannya.
Rina akhirnya menuruti semua yang Rangga katakan, ia hanya diam dan tidak bertanya lagi kepada Rangga. Rina menikmati perjalanannya karena sudah hampir 10 hari ini, Rina tidak pernah melihat dunia luar. Sesampainya di sebuah sekolah SMA, tertulis SMA 39 Cijantung.
"Rangga, ini SMA siapa?" tanya Rina yang heran Rangga mengajaknya ke sini.
"Ini adalah tempat kita pertama kali ketemu, waktu itu kamu menolong aku untuk bisa masuk melewati gerbang itu, karena aku kesiangan makanya aku telat." ujar Rangga menuturkan ceritanya sambil menunjuk ke arah gerbang.
Terlintas sebuah bayangan yang sangat jelas di pikiran Rina, saat itu benar ia melihat Rina dan Rangga sewaktu SMA di depan gerbang sekolah, semua kejadian seperti yang Rangga ceritakan. Tidak ada rasa sakit di kepala Rina, namun saat ia mencoba mengingat lebih jauh lagi, tiba-tiba rasa sakit mulai menyerang kepalanya, Rina mengaduh kesakitan.
"Rin, kamu gak apa-apa? Rin, biarkan ingatan kamu kembali dengan sendirinya, kamu tidak usah terburu-buru, aku tidak masalah kalaupun kamu harus kehilangan ingatan kamu seumur hidupmu, aku akan tetap mencintaimu, itu tidak akan berubah Rin." ujar Rangga mencoba menenangkan Rina.
Rina menuruti apa yang Rangga katakan, hingga sakit di kepalanya sudah mulai mereda. Rina menatap Rangga sangat dalam, pandangan mata yang menggambarkan rasa terima kasih yang begitu dalam terpancar dari sorot matanya. Rasa kagum atas sosok laki-laki yang begitu mencintainya.
Rangga pun membelai rambut Rina, tangannya terhenti pada pipi
nya, dengan lembut Rangga mencium kening Rina. Rina hanya terdiam menatap Rangga, lagi-lagi ia heran mengapa Rangga tidak mencium bibirnya.
"Mengapa kamu hanya mencium keningku saja Ngga?" tanya Rina menggoda.
"Simpan itu untuk nanti saat aku sudah mengucapkan ijab qobul, setelah kamu halal untukku, jangan salahkan aku, kalau nanti bibirmu bisa jenuh ku ciumi." ujar Rangga menyimpan segala hasratnya.
"Apa kamu kuat menahannya selama itu?" tanya Rina sambil mengalungkan tangannya di leher Rangga.
Wajah mereka kembali sangat dekat, Rina seakan memberi ujian pada Rangga untuk menahan semua hasratnya, Rangga hanya dapat menatap bibir Rina yang merekah, membuat pertahanannya hampir goyah, walau nafasnya sudah mulai tak beraturan ya hingga membuatnya sulit untuk menelan ludahnya. Mereka saling terpaku dalam diam, tanpa berkedip Rangga terus melihat Rina, seolah matanya tak mau membuang sedetik pun waktu untuk bisa memandang Rina dengan jarak yang sedekat ini. Rina yang pada akhirnya menyerah untuk menggoda Rangga, melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Ok laki-laki penyabar, kamu menang, aku kalah." gerutu Rina sambil melempar tubuhnya ke kursi mobil yang di dudukinya.
"Sudah aku bilang, jangan salahkan aku jika nanti kita sudah halal, bibirmu akan jenuh ku ciumi." celutuk Rangga menggoda Rina.
"Gak aku gak mau." tukas Rina singkat dengan mengembangkan pipinya.
Melihat Rina terlihat marah, tangan Rangga mulai mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sesuatu yang ia beli sebelum ia menjemput Rina.
"Jadi kamu marah nih sama aku, yakin marah kalo liat ini." ujar Rangga sambil melambaikan cokelat yang sudah ia pegang.
Rina yang melihat cokelat, sekejap melupakan drama ngambeknya dan langsung mengambil cokelat dari tangan Rangga.
"Makasih ya Ngga," ujar Rina seraya membuka kemasan cokelatnya.
"Karena kamu sudah begitu baik dan mengerti semua tentang aku, bahkan melebihi diri aku sendiri." sambung Rina yang mulai menitikkan air mata hingga membasahi kedua pipinya.
Melihat hal itu, Rangga mengusap air mata Rina dengan kedua tangannya.
Rina lanjut mengunyah menikmati cokelatnya, sementara Rangga kembali mengendarai mobilnya untuk menuju ke tempat lain. Mobil Rangga pun keluar dari halaman sekolah dan melaju cepat.
****
Di Bandara Soekarno-Hatta.
Adi terlihat sudah tiba di bandara, namun sebelum ia pulang ke rumahnya. Adi berencana akan menemui Angga untuk memberitahukan rahasia yang selama ini disembunyikan oleh Ayahnya. Adi menaiki kendaraan yang sudah dipesannya, mobil pun melaju meninggalkan bandara.
75 menit kemudian.
Setelah menempuh kemacetan yang sangat melelahkan, akhirnya Adi tiba di sel tahanan tempat Angga ditahan. Selesai melapor ke Pos Polisi untuk melakukan kunjungan, Adi menunggu Angga di ruang tunggu yang sudah disediakan. Tak berapa lama kemudian Angga datang menghampirinya.
__ADS_1
"Ada apa kamu ke sini, Bapak Adi?" tanya Angga pura-pura menghormati Adi.
"Tentunya kamu pasti sangat penasaran dengan maksud kedatangan saya." jawab Adi seolah menantang sorot mata Angga.
"Setelah membuat Kakak Ipar saya meninggal, sekarang kalian penjarakan saya, terus mau apa lagi?" tanya Angga sangat kesal meratapi nasibnya.
"Hukum tidak bisa kamu beli dengan uang Angga, kamu pikir dengan kekuasaan, Polisi akan melepaskan kamu." tegas Adi mengingatkan Angga.
"Sudah, tak usah banyak basa-basi." geram Angga.
"Saya hanya ingin memberitahu tapi ini pasti akan jadi penyesalan dalam diri kamu seumur hidup kamu." ujar Adi mulai membuka rahasia Riansyah.
"Apa maksud kamu? Cepat katakan aku tidak punya waktu, berlama-lama di sini hanya membuatku kesal melihatmu." ujar Angga yang mulai menunjukan kebencian di raut wajahnya.
"Kamu sudah salah memerkosa Anak saya Rina, karena kamu tahu kenapa?" ujar Adi menunda perkataannya yang membuat Angga semakin kesal dan makin penasaran.
"Karena Rina adalah adik kamu, kalian berasal dari darah yang sama." sambung Adi membuka semua rahasia Riansyah.
Angga yang mendengarnya sangat terkejut, raganya hanya terpaku diam, suaranya tiba-tiba lemah tak berdaya, ia seperti tersambar petir di kala matahari masih gagah menyinari.
"Aku tidak percaya dengan yang kamu bilang." ujar Angga yang gusar terhadap perkataan Adi.
"Boleh saja kamu tidak percaya, silahkan tanyakan langsung ke Ayah kamu, apa yang saya katakan ini sebuah fakta atau bukan!" titah Adi menantang Angga.
Adi pun pergi meninggalkan Angga dengan rasa kesalnya. Sementara Angga kembali ke dalam sel tahanannya, ia tampak kesal bukan dengan Adi melainkan dengan dirinya sendiri.
"Tidak mungkin, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Rina ternyata Adikku." gumam Angga mulai hanyut dalam kesedihannya.
__ADS_1
*****
Bersambung✍️