Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Kesanggupan Rangga


__ADS_3

Di rumah Rina.


Terlihat Rina dan Vara yang sedang sarapan pagi bersama Bi Imah.


"Kakak, bagaimana acara hari Minggu ini, Kakak sudah siapin bajunya belum?" tanya Vara.


"Aku belum kepikiran sampai sana Var." sahut Rina dengan raut cemas.


"Lah kenapa Kakak jadi kelihatan bingung begitu?" tanya Vara.


"Gak apa-apa Var." ucap Rina singkat menutupi.


"Kakak, kenapa harus bohong dari aku? Kakak pikir aku bisa Kakak bohongi, Kakak itu Kakak aku, aku kenal seperti apa Kakakku, jadi aku tahu kalau Kakak saat ini sedang dalam masalah." ujar Vara.


"Aku tidak mau kamu jadi ikut mikirin masalah Kakak, bukan Kakak gak mau cerita." ucap lirih Rina.


"Masalah Kakak adalah masalah aku juga, aku harus tahu karena aku adalah Adik Kakak." tutur Vara.


Bi Imah yang mendengar hal tersebut merasa perlu meluruskan perdebatan kecil antara Kakak beradik ini.


"Mba, kalau menurut Bibi, Vara punya hak tahu atas masalah Mba, Mba kan masih punya keluarga di rumah ini, jadi kalau ada masalah sebaiknya jangan di pendam sendiri, jadikan keluarga tempat kita berbagi keluh kesah Mba." tutur Bi Imah.


Rina mencoba mempertimbangkan kata-kata Bi Imah. Akhirnya Rina pun menceritakan semua hal yang terjadi.

__ADS_1


"Memang benar, apa yang di katakan Bi Imah setelah aku cerita, perasaanku jadi lega." gumam Rina.


"Kakak, aku tidak masalah kalau hidup susah ataupun berhenti sekolah, jangan sampai Kakak korbankan impian Kakak, itu malah akan membuatku sedih." tutur Vara mulai menunjukan kesedihannya.


"Betul Mba, Bibi juga kalau seandainya Mba gak ada uang, gak apa-apa Bibi gak di bayar Mba, asalkan Bibi bisa terus dekat kalian saja Bibi sudah bahagia." tutur Bi Imah tersirat sebuah rahasia dari kata-katanya.


"Makasih ya Vara, Bi Imah." ucap Rina sangat terharu atas sikap Vara dan Bi Imah.


Suasana di meja makan menjadi haru, namun tanpa Rina sadari sudah sejak lama ada yang memperhatikan mereka dan mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Kenapa kamu pendam sendiri semua beban kamu ini Rin, aku ini calon suami kamu, kamu harus cerita dan percaya sama aku kalau kita bisa selesaikan semua masalah apapun bersama. Aku ingin tahu dari kamu, apa jawaban yang kamu pilih?" ujar Rangga yang yang sudah tahu kebenarannya.


Rina sangat kaget melihat kedatangan Rangga, ia masih terdiam tak mampu menjawabnya, ia merasa bersalah telah menyembunyikan semua masalah ini dari Rangga.


"Apapun pilihan kamu, aku bahagia asal kamu bahagia." ujar Rangga.


Rina sungguh tak menyangka apa yang telah Rangga ucapan, seketika air mata membasahi kedua bola matanya, sesekali Rina coba mengerjapkan kedua matanya untuk menahan air mata, namun begitu perihnya membuat Rina hanyut dalam kesedihannya. Rina beranjak berdiri dihadapan Rangga, ia memeluk Rangga dengan erat.


"Aku memilih kamu Rangga! Karena impianku hanyalah menikah denganmu bukan dengan yang lainnya." ucap Rina menangis.


"Menangis saja tak apa, aku akan selalu jadi tempatmu untuk bersandar." ucap Rangga.


Suasana begitu sangat memilukan semua yang melihatnya, tak terkecuali Lisa. Melihat semua yang mulai terasa canggung, Lisa mencoba untuk memecahkan kesunyian yang sempat terasa.

__ADS_1


"Yey, selamat ya Kakakku dan Kakak Iparku, aku turut bahagia, iya kan Vara." tutur Lisa sekaligus menyapa Vara.


"Iya Kak, aku bahagia banget akhirnya Kak Rina dan Kak Rangga bisa menikah." ucap Vara yang telah lepas dari diamnya untuk menjawab kata-kata Lisa.


"Kalau memang itu pilihan kamu, aku akan tanggung semua kebutuhan Adik-adik kamu, jadi kamu gak usah khawatir, Yoga bisa tetap kuliah dan Vara bisa tetap sekolah, mereka bisa tinggal bersama kita." ujar Rangga menenangkan.


"Makasih ya Rangga, kalau itu memang kamu sanggupi, aku sangat bahagia tapi kamu gak usah khawatir aku akan membantu kamu dengan bekerja." ujar Rina.


Semua tampak bahagia, namun hanya Bi Imah yang terlihat tampak sedih, ia seperti merasa akan mengucapkan kata perpisahan.


"Kalau gitu Bibi harus siap-siap pamit ya Mba, tapi Bibi bahagia banget pernah jadi bagian dari keluarga ini." ucap Bi Imah.


"Hush! Bibi ngomong apa, Bibi ikut kami jugalah, gak mungkin aku lupa sama Bibi, nanti gak ada yang buatin aku cappucino asin lagi dong, hehehee." ujar Rangga menyindir.


Bi Imah tersenyum, ia menjadi terharu mendengarnya, ia sangat bahagia bisa selalu bersama Rina. Air mata yang membasahi pipinya menyiratkan suatu rahasia dalam hatinya.


"Alhamdulillah aku masih bisa bersama anakku." gumam Bi Imah.


*****


Bersambung✍️


Beri like dan komentarnya ya, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2