
Rangga dan Lisa masih terduduk di depan ruang rawat tempat Rina berada. Rangga meminjam handphone Lisa untuk memberi kabar kepada Yoga karena memang di handphone Lisa hanya ada nomor Yoga. Rangga mencoba menghubungi Yoga dan dengan hati-hati menyampaikan keadaan Rina saat ini.
"Halo, ada apa Kak Rangga?" jawab Yoga.
"Begini Yoga, Kakak mau sampaikan kalau Kak Rina saat ini dirawat di Rumah Sakit Berlian?" tutur Rangga memberitahu walau agak berat.
"Apa! Kak Rina dirawat, kenapa memangnya Kak?" tanya Yoga terkejut.
"Rina mengalami kecelakaan mobil dan saat ini kondisinya sudah lewat dari masa kritisnya, Rina sudah sadar kembali, hanya saja..." ujar Rangga tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
"Hanya saja kenapa Kak?" tanya Yoga yang semakin panik.
"Lebih baik kamu beritahu yang lainnya dulu, termasuk Papa kamu dan segera ke rumah sakit, biar nanti di rumah sakit, Kakak jelasin kondisi Rina saat ini." ujar Rangga memberitahu.
"Baik Kak, aku, Vara dan Papa akan segera ke sana." ujar Yoga dengan segera menutup teleponnya dan langsung memberitahu Ayahnya.
Rangga tak kuasa menahan sedihnya, hingga tak terasa bulir-bulir air mata sudah membasahi kedua sudut matanya, begitu perih yang ia rasakan saat ini, Rangga pun teringat dengan semua yang sudah ia dan Rina lalui bersama.
"Ya Allah, begitu berat cobaan-MU untukku dan Rina dalam menjalani hubungan kami, apakah KAU tidak menginginkan kami bersama, ya Allah? Hingga saat kami bersama jalan yang kami lalui begitu berat." lirih Rangga sangat pedih.
"Mas Rangga gak boleh bicara seperti itu, justru Allah itu sayang sama Mas Rangga dan Kak Rina, Mas Rangga harus percaya ya! Kalau Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan umat-NYA." ujar Lisa menenangkan Rangga.
Rangga yang mendengar semua itu kembali tenang, ia mencoba berpikir dengan apa yang dikatakan Dokter Cinta.
"Tadi kan Dokter Cinta bilang, kalau biarkan ingatannya datang secara alami kan?" ujar Rangga teringat sesuatu.
"Iya Mas, tadi aku dengar seperti itu, terus Mas, maksudnya apa?" tanya Lisa mencoba berpikir.
"Berarti kita bisa bantu Rina untuk mengingat semuanya kembali. Kita mulai dari makanan kesukaannya, tempat yang sering ia kunjungi atau bahkan sahabat-sahabatnya datang dan bertemu Rina, mungkin itu bisa mengembalikan ingatannya." tutur Rangga yang menerangkan idenya kepada Lisa.
"Betul Mas, semoga dengan cara ini, Kak Rina bisa segera pulih dan pernikahan Mas Rangga dan Kak Rina bisa terlaksana." ujar Lisa tampak bahagia dan berharap semua pemikiran Rangga berhasil untuk kesembuhan Rina.
"Amin, semoga ya Lis, soalnya Mas sudah ngurus semua dokumen ke KUA kemaren itu dan sudah dapat tanggalnya untuk akad nikahnya, semoga Rina bisa segera pulih agar semua bisa terlaksana sesuai tanggal yang sudah direncanakan." tutur Rangga penuh harapan.
"Aku berharap semua bisa berjalan sesuai harapan Mas Rangga, aku ingin Kakakku ini bahagia, ya Allah, aku mohon kabulkanlah doanya." gumam Lisa dalam hatinya.
__ADS_1
Rangga seolah mendapatkan semangatnya kembali, sembari beranjak dari tempat duduknya, ia meminta kepada Lisa untuk tetap menjaga Rina di sini, sedangkan Rangga akan pergi ke Supermarket terdekat untuk membelikan Rina sesuatu. Lisa mengiyakan dan ia meminta Rangga untuk membelikannya makanan karena memang sudah dari pagi Lisa belum sempat untuk makan.
Rangga segera pergi menuju Supermarket.
40 menit kemudian.
Adi, Yoga dan Vara sudah terlihat di koridor rumah sakit. Setelah menghubungi Lisa dan menanyakan kamar Rina dirawat, mereka bergegas menuju lift untuk bisa secepatnya tiba.
Setibanya mereka di depan ruangan Rina dirawat, mereka bertemu dengan Rangga dan Lisa yang masih berada di sana, Rangga pun menceritakan semua kronologinya, mulai dari awal Rina kecelakaan sampai kondisi Rina yang saat ini mengalami amnesia. Betapa sangat terkejutnya mereka mendengarnya, terutama Vara yang langsung menangis tersedu-sedu. Adi yang melihat Vara menangis langsung memeluknya mencoba untuk menenangkannya. Sementara Yoga berusaha tetap tenang, walau dalam hatinya sangat berat mendengar kondisi yang di alami Kakaknya saat ini.
Vara yang sudah tidak sabar untuk menemui Rina, meminta kepada Ayahnya untuk segera masuk ke dalam. Sebelum masuk ke dalam ruangan, Rangga menitipkan sesuatu kepada Vara. Vara menerimanya dan ia sudah membaca maksud Rangga.
Adi dan Vara sudah berada di dalam, mereka melihat Rina yang masih tertidur. Vara lalu mendekati Rina sambil menangis, karena tak kuat menahan air matanya.
"Kakak, ini aku Vara." ucap Vara dengan suara pelan.
Namun seolah batin antara Kakak dan Adik, Rina pun mulai sadar. Perlahan matanya mulai terbuka, Vara dan Adi yang melihat hal tersebut menjadi sangat berhati-hati karena ia ingat apa yang Rangga sudah ceritakan.
"Kalian siapa?" tanya Rina.
"Vara, kamu Adik aku dan... Papa." kata Rina terbata-bata.
Reaksi Rina yang sangat tenang saat melihat Adi dan Vara berbeda dengan apa yang Rina tunjukan saat ia melihat Lisa dan Rangga.
"Iya Kak, Kakak jangan takut ya, kami sayang sama Kakak." ujar Vara berusaha menjaga Rina agar tetap tenang.
Rina yang tak begitu saja percaya dengan apa yang Vara katakan, mencoba untuk mengingat semuanya, hingga membuat sakit di kepalanya kembali terasa, Rina tampak kesakitan memegangi kepalanya. Vara yang melihat itu berusaha menenangkan Rina.
"Rin, sebaiknya kamu jangan mengingat apapun dulu, itu bisa membuat kepala kamu sakit, percaya sama Papa, semua akan baik-baik saja." ucap Adi menenangkan Rina.
"Kakak, aku mohon Kak, tidak usah coba mengingat apa-apa dulu, Kakak percaya sama aku, aku gak mungkin bohong sama Kakak." ujar Vara sambil menangis begitu perihnya.
Melihat ketulusan dan air mata Vara, membuat hati Rina menjadi luluh, ia pun mulai mencoba mempercayai Vara dan Adi, walau belum sepenuhnya.
Setelah terlihat semakin tenang, Vara melihat ada makanan yang belum Rina makan di atas nakas, Vara pun mengambil makanan itu dan mulai menyuapi Rina.
__ADS_1
Sambil mengunyah makanan yang telah disuapi oleh Vara. Rina merasa sangat sedih karena ia tak dapat mengingat apapun, ia meminta maaf kepada Vara dan Adi, karena walau ia sudah mencoba untuk mengingat semuanya, tetap saja sia-sia, hanya membuat sakit di kepalanya.
"Yang terpenting sekarang Kakak harus makan, jangan sampai Kakak gak makan malah nanti akan membuat kondisi Kakak jadi menurun." ucap Vara sambil menyuapi Rina.
Saat Vara mulai menyuapinya terlintas sesuatu di kepalanya, dalam bayangannya ia seperti pernah melakukannya ini terhadap Vara, walau bayangan yang terlihat tidak begitu jelas tapi itu sudah cukup membuat Rina semakin yakin bahwa memang ini adalah keluarganya.
"Setelah makan, kamu istirahat dan berhenti mengingat apapun. Papa keluar dulu, biar setelah ini Yoga masuk menemui kamu." ujar Adi seraya keluar dari ruangan.
"Yoga siapa Var? tanya Rina karena ia tak ingat apapun.
"Yoga itu Adik Kak Rina juga." jawab Vara seraya menyuapi Rina.
Yoga pun masuk ke dalam, melihat Rina dengan perban di kepalanya, ia begitu sedih dan membuat air matanya mulai tak tertahan.
"Kakak, maafin Yoga ya, lagi-lagi Yoga gak bisa jagain Kakak padahal waktu di stasiun Yoga sudah berjanji sama Kakak." ujar Yoga penuh air mata.
Rina yang mendengar semua perkataan Yoga, kembali terlintas potongan-potongan kejadian di bayangannya, walau masih belum begitu jelas, namun setidaknya ia mulai memahami bahwa keluarganya memang benar-benar menyayanginya dengan tulus.
"Iya Yoga, ini bukan salah kamu, kamu gak perlu minta maaf." ujar Rina yang perlahan tapi pasti mulai mengumpulkan ingatan-ingatannya yang hilang.
"Iya Kakak, Kakak cepat sembuh ya." ujar Yoga penuh harap.
Rina yang merasakan kasih sayang yang besar dari Adik-adiknya, seolah memberikannya semangat baru untuknya sembuh. Sudah tidak ada lagi ketakutan yang Rina pikirkan. Walau saat ini memang ia belum mengingat semua hal.
Setelah selesai menyuapi Rina, Vara memberikan cokelat kepada Rina.
"Kak ini dari Kak Rangga, calon suami Kakak." ujar Vara seraya menyodorkan cokelatnya.
"Rangga, calon suami aku? Cokelat ini?" ujar Rina seraya mengambil cokelatnya.
Rina kembali teringat sesuatu yang muncul dalam bayangannya, bayangan yang masih begitu gelap, dimana ia melihat ada seorang laki-laki sering memberikannya cokelat, walau wajah laki-laki itu tidak tampak terlihat, namun Rina mulai teringat sesuatu.
"Cokelat ke 1.568." ucap Rina yang mengingat sesuatu dalam pikirannya.
******
__ADS_1
Bersambung