Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Riansyah Sakit


__ADS_3

Keesokan Harinya.


Rina bangun dari tidurnya, ia mulai beranjak ketika matahari semakin gagah menembus celah-celah jendela kamarnya. Hari ini walau sebenarnya ia takut, namun Rina berkeinginan untuk menjenguk Viona di rumah sakit. Riansyah awalnya tidak setuju dengan rencana Rina, karena ia khawatir hal yang sama akan kembali terjadi menimpa Rina. Namun setelah ia menugaskan Andrean untuk menemani Rina, Riansyah pun akhirnya memberikan izin.


Sementara Angga sudah mulai ke


kembali bekerja, terlebih hari ini Siska memberi kabar bahwa akan ada meeting yang penting untuk proyek yang akan segera terlaksana.


Di meja makan.


Terlihat Angga baru saja tiba, ia langsung duduk di samping Riansyah.


"Angga, kamu urus segala pekerjaan Papa di kantor ya, hari ini Papa tidak bisa datang." kata Riansyah sambil menghela nafas berat.


Angga mulai khawatir melihat kondisi Riansyah, ia menempelkan punggung tangannya ke kening Riansyah.


"Papa, panas sekali ini, sudah telepon Dokter Raihan belum Pah?" tanya Angga cemas.


"Sudah, Dokter Raihan sekarang lagi di jalan." ucap Riansyah memberitahu.


Angga akhirnya menunda keberangkatannya ke kantor, ia segera menelepon Siska untuk menggantikannya posisinya saat meeting nanti. Siska yang sudah terbiasa dengan tugas dadakannya, terdengar santai menanggapi.


"Cepat sembuh untuk Pak Riansyah ya Pak Angga, salam dari saya. Pak Angga tidak usah khawatir masalah kantor, saya bisa handle sampai Pak Angga tiba." tutur Siska menenangkan Angga sekaligus jadi akhir percakapan mereka di telepon.


Setelah menutup teleponnya, Angga meletakan handphonenya di atas meja makan, lalu Angga melepaskan jas yang sudah dikenakannya dan meletakkan di sandaran kursi meja makan.


Angga langsung membantu Riansyah kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Saat mereka menaiki anak tangga, Rina yang baru keluar dari kamar dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya, raut wajahnya berubah menjadi panik seketika, ia lalu berlari menghampiri Angga untuk membantu Riansyah menuju kamarnya.


"Papa kenapa Kak?" tanya Rina cemas.


"Papa gak enak badan, badannya panas, tapi kamu tenang aja, Dokter Raihan sudah Papa telepon untuk datang ke rumah." jawab Angga.


Riansyah akhirnya sudah merebahkan tubuhnya di ranjangnya yang luas, ditemani oleh Rina yang duduk di sampingnya.


"Kamu tidak jadi ke rumah sakit, Rin?" tanya Riansyah parau.

__ADS_1


"Nanti saja Pah, aku khawatir dengan keadaan Papa, jadi aku mau nunggu Dokter dulu aja." tutur Rina yang mencemaskan kondisi Riansyah.


"Kalau kamu mau pergi, pergi saja, asal ingat pesan Papa jangan jauh dari Andrean! titah Riansyah mengingatkan.


"Sudah tidak apa-apa, Papa baik-baik saja, mungkin hanya perlu istirahat." imbuh Riansyah mencoba menenangkan kekhawatiran Rina.


"Aku tetap menunggu Dokter Raihan dulu, Pah, setelah aku tahu kondisi Papa, baru aku akan pergi." ucap Rina bersikukuh tetap pada pendiriannya.


Sementara Angga kembali menuju ruang tamu untuk menunggu kedatangan Dokter Raihan.


Tak lama suara pintu berbunyi.


Tok-tok-tok.


Angga akhirnya membukakan pintunya. Setelah pintu terbuka terlihat Andrean sudah datang sesuai dengan waktu yang Rina perintahkan.


"Apa Nona Rina sudah siap Pak Angga?" tanya Andrean.


"Sebenarnya Rina sudah siap, hanya saja mungkin dia menunggu Dokter datang terlebih dahulu, untuk memeriksa keadaan Papa, barulah ia akan pergi, tapi coba saja kau tanyakan sendiri kepada Rina." tutur Angga memberitahu yang di akhir kalimatnya di sertai dengan mengangkat bahunya sebagai tanda tidak tahu.


Setelah tiba di ruang tamu, Andrean melemparkan tubuhnya di sofa yang terlihat begitu empuk dan lembut untuk diduduki, maklum saja ini sofa mahal sehingga kualitas yang dimiliki sesuai dengan harganya.


Waktu terus berlalu, sampai akhirnya Dokter telah tiba dan segera menuju kamar Riansyah untuk memeriksa keadaannya.


Riansyah yang hampir terlelap kembali terjaga saat mendengar suara pintu kamar berbunyi, Rina pun membukakan pintunya lalu Angga masuk diikuti oleh Dokter Raihan.


Beberapa menit kemudian, Dokter Raihan sudah selesai melakukan pemeriksaan, sambil melangkah keluar kamar, Dokter Raihan menjelaskan kepada Angga hasil pemeriksaannya.


"Mas Angga, tidak perlu terlalu cemas, beliau hanya sedikit kelelahan saja, di karenakan terlalu banyak pikiran dan emosinya akhir-akhir ini sering tidak terkendali." kata Raihan memberitahu.


Angga teringat saat ia memberitahu Rina ingin di bunuh, Riansyah begitu kesal mendengarnya.


Angga kembali teringat saat Riansyah mengancam Andrean.


"Jadi tidak perlu dirawat, Dok?" tanya Angga.

__ADS_1


"Tidak perlu Mas, yang terpenting beliau harus istirahat yang penuh beberapa hari ini, kalau bisa jangan bebankan segala yang memberatkan pikiran beliau." tutur Raihan memberi pesan.


"Berarti aku tidak boleh memberitahu kepada Papa yang bisa membuat amarahnya meledak, lebih baik aku urus segala permasalahan yang ada, jangan sampai Papa tahu." gumam Angga cemas.


"Baik, Dok, saya mengerti." ucap Angga seraya menganggukkan kepalanya.


Dokter Raihan berhenti di ruang tamu, lalu menuliskan sesuatu.


"Ini ada resep obat untuk beliau, segera dibeli ya." ucap Dokter Raihan seraya menyodorkan kertas yang sudah ia tulis kepada Angga.


"Baik, Dok, sebelumnya terima kasih banyak ya, Dok." tutur Angga mengakhiri.


Dokter Raihan akhirnya pergi meninggalkan rumah dan berlalu dengan mengendarai mobilnya. Sementara Angga langsung memanggil Pak Jaya untuk segera membeli obat untuk Riansyah.


"Pak setelah Bapak beli obat ini, kita langsung berangkat ke kantor saya ya, segera ya Pak, saya tunggu." tutur Angga memberi perintah.


Setelah mendengar perintah Angga, Pak Jaya segera berangkat ke apotik untuk membeli obat.


Andrean mulai jenuh menunggu Rina, terlihat dari raut wajahnya ia tampak bete dengan hanya berdiam diri saja, duduk di sofa sambil menonton TV.


"Membosankan." keluh Andrean pelan, namun terdengar sangat ketus.


Tak lama Rina terlihat menuruni anak tangga, ia akhirnya pamit kepada Angga untuk pergi ke rumah sakit.


"Kamu hati-hati ya Rin! Jangan pernah kamu jauh dari Andrean walau hanya sedetik saja, Andrean ingat pesan Papa saya, jaga Rina dengan nyawa kamu, jangan sampai dia terluka, karena akibatnya nyawamu pun bisa hilang nantinya." ancam Angga dengan menajamkan matanya.


Namun Andrean terlihat santai mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Angga, ia hanya menjawabnya dengan singkat sambil beranjak dan mengikuti langkah Rina dari belakang.


Setelah memberikan kunci mobilnya kepada Rina, Angga menatap kepergian Rina dengan perasaan cemas, ia memang tidak sepenuh tenang dengan keberadaan Andrean di samping Rina. Namun ia berusaha percaya kepada Andrean, karena Angga sudah menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya, saat Andrean menyelamatkan Rina dari cengkraman pisau laki-laki misterius itu.


****


Bersambung✍️


Setelah ini episode-episode penting akan tersaji ya. Jangan lewatkan, terus ikuti. Terima kasih. 🤗😊😁

__ADS_1


__ADS_2