Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Pertemuan dengan Darren


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 10.00, Rangga sudah menunggu Rina selama setengah jam. Walau mulai jenuh, namun Rangga coba untuk mengerti.


"Sudah 2 cangkir cappucino habis, tapi Rina masih belum siap juga." desah Rangga mengeluh.


Di ujung penantiannya terdengar langkah kaki menuruni anak tangga. Rangga langsung menolehkan pandangannya, mulai dari anak tangga yang paling atas, hingga Rina sudah tiba di depan pandangan matanya, Rangga tidak berkedip menatap Rina. Rangga hanya memaku diam tanpa kata, kedua tangannya menjadi tumpuan pada dagunya, menambah kesan lamunannya akan pesona Rina.


Ya memang benar, saat ini Rina terlihat sangat anggun, dengan balutan dress hitam di tubuhnya yang ramping, di tambah warna lipstik yang merah merekah menambah kecantikan yang tak bisa Rangga ungkapkan.



"Ya ampun Rina, kamu itu cantik banget ya, memiliki kamu adalah anugerah untukku, aku janji akan selalu bahagiain kamu dengan segenap jiwa dan ragaku." gumam Rangga yang terpesona melihat Rina.


"Rangga, ayo kita jalan!" titah Rina menyapa.


Rangga yang tidak bergeming, membuat Rina mengulangi kalimatnya kembali.


"Rangga, ayo kita jalan atau aku ke atas lagi, ganti baju dan tidur." ucap Rina menaikan volume nada suaranya untuk mengagetkan Rangga.


Rangga mulai mengerjapkan matanya, suara keras Rina mulai membangunkan kesadarannya.


"Eh iya Rin, maaf ya aku jadi bengong begini, kamu hari ini cantik banget Rin." puji Rangga.


Rina tersipu malu, hatinya berbunga mendengar kata-kata Rangga. Namun ia berusaha untuk mengelaknya.


"Biasa aja Rangga, gak ada yang istimewa, memangnya aku dulu gak cantik ya?" celetuk Rina bertanya pada Rangga.


Rangga berpikir sejenak, memikirkan kalimat yang pas untuk menggoda Rina.


"Mungkin juga sih! Mungkin kamu bisa cantik karena kamu amnesia." celoteh Rangga sambil berlalu menuju luar rumah.

__ADS_1


Rina yang mendengarnya, berlari menghampirinya, ia menyerang Rangga lewat beberapa cubitan ke pinggangnya, hingga Rangga mengaduh kesakitan. Rangga berusaha menghindar, dengan menangkap tangan Rina, ia menggenggamnya dengan erat, mereka kini saling berhadapan. Tiba-tiba Rangga menjadi sangat sulit menelan ludahnya, lidahnya berkelu membuatnya tak bisa berkata apapun, pandangannya tertuju pada kedua bola mata Rina yang sangat indah ia tatap, Rina pun tak kuasa mengembangkan senyum pada bibir merahnya.


Mereka berdua mematung beberapa menit. Kali ini Rangga yang memulainya, ia sentuh rambut Rina dengan lembut, sentuhannya berhasil membuat Rina tampak pasrah dan kini sudah terpejam. Rangga hanya mengecup keningnya, Rina menjadi tertegun seperti bertanya mengapa ia tak menciumku.


"Ayo nanti kita terlambat, walau ini sudah terlambat sih di tambah lagi kalau aku mencium kamu, butuh waktu berjam-jam pastinya." goda Rangga yang kali ini berhasil menahan hasratnya.


Rina tersenyum mendengar sindiran Rangga.


"Walau aku tak ingat apapun, tapi aku bisa meyakini bahwa aku dulu pasti sangat mencintainya." gumam Rina.


Mereka kini sudah masuk ke dalam mobil.


****


Tiba di gedung pernikahan, mewah dan elegan cocok untuk menggambarkan kiasan yang tepat mewakili dari apa yang Rangga dan Rina lihat.


"Di sini kita akan menikah?" tanya Rina yang tampak kagum.


Saat Rina dan Rangga sedang terkagum melihat segala sudut gedung yang akan jadi tempatnya menikah nanti, datanglah seorang laki-laki, umur sekitar 50 Tahun, yang masih terlihat tampan dan gagah, yang bernama Arief Setiawan, seorang pengusaha ternama Indonesia.



"Mas Rangga ya." sapa Arief.


"Iya betul Pak, saya Rangga dan ini calon istri saya, Rina." ujar Rangga sekaligus memperkenalkan Rina.


"Oh, wanita yang cantik, sangat beruntung Mas Rangga memilih Mba Rina untuk di jadikan istri." puji Arief yang tertuju ke arah Rina.


Pujian yang membuat Rina menjadi tersipu malu, ia pun coba untuk mengelaknya.

__ADS_1


"Justru saya yang beruntung mempunyai calon suami seperti Rangga, baik hati, tampan dan penyayang." ujar Rina memuji Rangga.


Arief yang mendengar jawaban Rina menjadi teringat sosok istrinya yang kini sudah tiada.


"Wanita ini mirip dengan Sophia, dari caranya di puji dan balik memujiku." gumam Arief.


Di tengah-tengah perbincangan Rina meminta izin kepada Rangga untuk pergi ke toilet. Rina pun berlalu meninggalkan Rangga yang sedang menanyakan segala sesuatu untuk pernikahannya di gedung ini.


Rina mempercepat langkahnya karena memang ia sudah lama menahannya, namun karena terburu-buru Rina jadi menabrak seseorang, hingga membuatnya mundur beberapa langkah.


"Aku minta maaf ya, aku tadi buru-buru." ujar Rina yang pandangannya kini sudah tertuju pada seorang laki-laki.


Laki-laki itu melihat Rina dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya, ia terlihat marah karena Rina telah menabraknya.



Laki-laki yang usianya sama dengan Rangga, mempunyai wajah tampan, berbadan tegap, membuat Darren Setiawan dikagumi banyak wanita, apalagi Darren adalah anak pertama dari keluarga Setiawan yang termasuk dari 10 orang terkaya di Indonesia.


"Iya tidak apa-apa, gadis cantik. Aku bingung sih ini, padahal di luar panas, gak hujan pula, tapi kenapa ada bidadari yang turun ke Bumi ya." ujar Darren yang kagum akan paras cantik Rina.


Mendengar pujian dari Darren, laki-laki yang tidak dikenalnya Rina hanya bersikap biasa dan tidak terlalu menanggapi, lebih tepatnya ia mengacuhkan pujian dari Darren.


"Iya, permisi ya, maaf sekali lagi." ujar Rina seraya menundukkan kepalanya untuk berlalu dari Darren.


Darren menatap Rina penuh keheranan, ia berpikir baru kali ini ada seorang wanita yang apabila bertemu dengannya, langsung berlalu begitu saja tanpa kagum terhadap dirinya.


"Wanita itu membuatku geleng-geleng kepala, dia berlalu begitu saja. Andai dia tahu siapa aku, dia pasti akan menyesal! Tapi ya sudahlah, tidak penting untuk aku bahas." ujar Darren yang mengacuhkannya.


Darren berlalu dan melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


****


Bersambung✍️


__ADS_2