
Ciuman dari Rina membuat mata Rangga melotot kaget. Rangga tak menyangka ia akan di hadiahi ciuman oleh Rina, wanita yang dicintainya.
"Perasaan ini... Sekarang aku mengerti." gumam Rina seperti mengingat perasaan yang dulu pernah ia rasakan.
Rangga jadi salah tingkah dan gugup di hadapan Rina, sementara Rina seakan sudah menemukan jawaban yang ia cari selama 7 hari ini yaitu perasaan cinta untuk Rangga.
"Walau aku masih tidak mengingat apapun, tapi ciuman tadi sudah cukup untuk meyakinkan hatiku untuk menikah denganmu Rangga." ucap Rina yang masih menatap Rangga.
Rangga bahagia mendengar ucapan Rina.
"Benarkah yang aku dengar ini Rin?" tanya Rangga penuh harap.
"Iya Rangga, aku sungguh-sungguh." jawab Rina dengan yakin.
Rangga memeluk Rina, meluapkan semua rasa rindu yang selama ini tertahan jauh di dalam hatinya. Walau Rina belum ingat apapun tentang Rangga, namun ia sudah meyakini bahwa Rangga adalah laki-laki yang baik untuknya saat ini.
*****
3 hari kemudian.
Pagi yang indah. Rina sudah terlihat di dapur bersama Bi Imah, untuk menyiapkan sarapan pagi untuk kedua Adiknya yang akan berangkat ke sekolah.
Walau ingatannya masih belum kembali, namun naluri tubuhnya menuntunnya untuk melakukan kebiasaan yang seperti biasa ia lakukan, mulai dari bangun sangat awal sampai berlabuh di dapur untuk menyiapkan sarapan, semua ia lakukan sejalan begitu saja.
"Bi, biasanya Vara berangkat sekolah dengan siapa?" tanya Rina sambil mengolesi roti dengan selainya.
"Biasanya dengan Mba Rina, tapi semenjak Mas Yoga tinggal di sini lagi, Mas Yoga yang mengantar Neng Vara, pulangnya baru Neng Vara diantar taksi online, Mba." jawab Bi Imah menuturkan.
Sebenarnya Rina ingin sekali mengantar Vara. Walau kondisinya sudah membaik, namun ia masih belum dapat mengingat apa-apa, terutama jalan untuk ke rumahnya.
Selang beberapa menit kemudian Yoga dan Vara yang sudah rapi menghampiri meja makan untuk sarapan.
__ADS_1
"Selamat pagi, Kakakku yang cantik." sapa Vara dengan manis.
Yoga yang mendengarnya jadi mengerjapkan matanya tanda ia heran dengan Vara.
"Bi, apa Vara selalu memujiku setiap pagi seperti itu?" tanya Rina yang kembali mengintrogasi.
"Tidak Mba, hanya saja mungkin ia terlalu rindu dengan Kakaknya." jawab Bi Imah berusaha menebak.
"Gak Bi, bukan gitu, Vara tuh mau izin nanti pulang agak lama soalnya ada janjian sama pacarnya, Kak." celutuk Yoga membocorkan rahasia Vara.
Mendengar semua itu Vara langsung mengelaknya.
"Gak Kak bohong, masih kecil gak boleh pacaran Kak Yoga, apaan sih Kak Yoga, masa udah ngajarin Adiknya pacaran." ujar Vara mengelak.
"Tapi.." kata Yoga terhenti.
Injekkan kaki Vara membuat Yoga tak mampu menyelesaikan ucapannya. Kakinya terasa berdenyut, ia pun ingin mengaduh namun Vara sudah menutup mulutnya dengan cepat. Sambil mendekati telinga Yoga, Vara berbisik pelan.
"Kak Yoga, mau juga aku bocorin kalo nilai kuliah Kakak jelek, ayo." seru Vara berbisik berbalik mengancam.
"Kalian ini sudah sekarang makan! Ingat ya Vara pulang tepat waktu." tegas Rina yang heran melihat sikap kedua adiknya.
"Iya Kak." ujar Vara mengangguk, walau kecewa belum sempat ia izin tapi karena Yoga, Rina langsung menyuruhnya untuk pulang tepat waktu.
Vara langsung memasang wajah kesalnya kepada Yoga. Sedangkan Yoga hanya cekikikan melihat kekecewaan Vara.
"Dasar mereka ini, pagi-pagi sudah membuat aku tersenyum saja." gumam Rina yang lucu melihat kedua Adiknya.
"Ini keluargaku, walau tanpa Ibu yang sudah tiada, namun aku masih mempunyai mereka dua orang yang aku sayangi, aku memang tidak punya ingatanku, namun saat ini aku mempunyai mereka, aku percaya mereka akan selalu ada untuk aku, menemaniku saat aku kehilangan arah, mengajarkanku bagaimana tertawa saat aku bersedih, merekalah keluargaku." sambung Rina lirih dalam hatinya.
Bi Imah yang melihat senyum Rina, sangat bahagia.
__ADS_1
"Tetaplah bahagia seperti ini anakku, Ibu selalu akan memperhatikanmu dan menyayangimu, walaupun kamu tidak akan pernah tahu Ibu adalah Ibu kamu." gumam Bi Imah yang sudah menitikkan air mata di kedua sudut matanya.
Vara dan Yoga menyelesaikan sarapan paginya. Keduanya berpamitan dengan mencium punggung tangan Rina dan Bi Imah. Setelah itu mereka pun bergegas berangkat.
Terdengar suara handphone Rina berbunyi. Rina langsung mengambil handphonenya yang terletak di meja, sambil menikmati sarapan paginya, ia pun membaca sejumlah pesan yang masuk.
Viska :
"Hi Rin, gimana keadaan kamu?"
Siska :
"Rin, nanti aku ke rumah, apa kamu ada waktu?"
Rangga :
"Nanti aku akan menjemputmu, untuk melihat gedung untuk acaranya."
Papa :
"Nak, gimana kondisi kamu pagi ini? Jangan mikir yang berat-berat, maaf Papa masih di luar kota belum bisa nengok kamu.
Rina membalas satu persatu pesan yang masuk, lalu menyisakan pesan dari Rangga sebagai pesan yang terakhir untuk ia balas karena ia ingin banyak bertanya kepada Rangga.
"Jam berapa jemput aku?" tanya Rina membalas pesan Rangga.
"2 jam dari sekarang, oke Rin." jawab Rangga.
"Oke aku akan bersiap terlebih dahulu, bye." ujar Rina mengakhiri.
Rina mengakhiri santapannya, lalu segera naik menuju kamarnya untuk menyiapkan diri.
__ADS_1
****
Bersambung