Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Kematian Rina Sudah Dekat


__ADS_3

Rina di dalam lift sudah mulai cemas karena tidak adanya Andrean yang mengawalnya. Rasa takut mulai membuat pikirannya tidak karuan. Ia coba untuk tenang namun bayangan pembunuh itu terus menghantuinya.


"Aku harus berpikir dengan kepala dingin, seandainya memang pembunuh itu telah menunggu aku di bawah dan ini semua rencananya untuk menahan Andrean masuk, berarti aku tidak boleh turun di lantai dasar." gumam Rina berpikir cepat dalam keadaannya yang begitu takut.


Rina bergegas menghampiri tombol lift dan menekan angka 2, tak lama lift terbuka di lantai 2, Rina segera turun dan ia langsung berlari menyusuri lorong rumah sakit.


"Aku harus kemana sekarang? Kalau aku ke bawah pasti pembunuh itu sudah menungguku di sana." gumam Rina ketakutan, namun langkahnya masih terus berlari.


Lift yang di naiki Rina berhenti di lantai dasar. Terlihat laki-laki misterius sudah menunggu kedatangan Rina di depan lift.


"Kemana wanita itu? Kenapa dia tidak turun sampai lantai ini?" tanya laki-laki misterius yang sudah menggenggam pisau di tangannya yang di sembunyikan di balik jas panjangnya.


Laki-laki misterius langsung menuju tangga darurat, ia mencoba menelusuri anak tangga untuk menemukan Rina.


Langkahnya terhenti di lantai 2. Laki-laki misterius ini seperti mempunyai pelacak yang mampu melihat posisi Rina, padahal ia hanya menggunakan instingnya saja dalam mengejar setiap target yang ingin dibunuhnya.


"Kali ini aku pastikan kau akan mati Rina, aku tidak akan gagal untuk ketiga kalinya." ujar Laki-laki misterius dengan nada kesal namun memelankan suaranya.


Rina terus menaiki tangga darurat, hanya satu yang Rina pikirkan saat ini, ia harus segera menuju lantai 5 dan berlindung di kamar Viona. Rina berlari dengan begitu ketakutan, namun langkahnya terhenti saat nafasnya begitu terengah-engah, Rina sejenak beristirahat untuk mengatur ritme nafasnya, tapi tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka dari bawah,


"Rina, apa kamu siap untuk mati?" teriak laki-laki misterius itu, yang mulai menaiki anak tangga.


Rina hanya berbeda satu lantai dengan laki-laki misterius itu, kedua kaki Rina gemetar mendengar suara laki-laki yang ingin membunuhnya, ia pun melangkah dengan perlahan menaiki anak tangga agar tidak terdengar. Rina membuka pelan pintu darurat lantai 3, namun pintu tidak terbuka, pintu terkunci.


"Ya ampun, bagaimana ini? Pintunya terkunci." cemas Rina dalam hatinya.


Rina kembali menaiki anak tangga, kali ini langkahnya tak bisa ia tahan lagi, Rina berlari sekuat tenaga untuk menuju lantai berikutnya. Namun itu suatu kesalahan yang Rina lakukan, karena pembunuh itu mendengar langkah kaki Rina, hingga ia yang sedang berusaha untuk membuka pintu tangga darurat lantai 3 yang terkunci menjadi terhenyak dan sudah mengetahui keberadaan Rina yang berada 1 lantai di atasnya, pembunuh itu langsung berlari mengejar Rina.


Rina sudah tiba di lantai 5, ia merasa lega karena sebentar lagi ia akan masuk, namun lagi-lagi saat ia membuka pintu darurat lantai 5, pintu terkunci. Rina begitu panik, ia mau tak mau terus berlari menuju lantai selanjutnya untuk keluar dari tangga darurat.


Pembunuh itu terus mengejar Rina, hanya selisih satu lantai jaraknya. Rina begitu lelah, seakan kakinya hampir tak kuat berlari lebih jauh lagi, saat ini ia sudah berada di lantai 10, lantai 11 adalah roof top rumah sakit, jika ia ke sana, dalam benak Rina itulah akhir dari hidupnya karena memang sudah tidak akan ada jalan lain untuk ia dapat kabur dari pembunuh itu.

__ADS_1


Rina mencoba membuka pintu darurat lantai 10, pintu akhirnya terbuka, Rina langsung masuk dan menutup pintu dengan pelan, agar pembunuh itu tidak mengetahui bahwa Rina masuk ke lantai 10.


Tak lama pembunuh itu tiba di depan pintu darurat lantai 10, ia berada di persimpangan antara memilih untuk masuk atau melanjutkan langkahnya menuju roof top atas rumah sakit.


Namun instingnya mengatakan ia harus masuk ke lantai 10, pembunuh itu akhirnya membuka pintu dan masuk.


Pembunuh itu mulai melangkah menapaki setiap incinya lorong rumah sakit, ia mulai mencari keberadaan Rina di setiap ruangan yang ia lewati. Pembunuh itu akhirnya masuk ke suatu ruangan, memang instingnya tidak pernah salah, pengalamannya yang sudah membunuh targetnya ratusan kali, membuatnya mempunyai insting yang begitu kuat dalam mengejar targetnya, apalagi saat ini targetnya adalah seorang wanita.


Menurutnya seorang wanita itu mempunyai rasa takut yang lebih besar daripada laki-laki, hingga membuat keberadaanya mudah untuk diketahui.


Pembunuh itu sudah semakin dekat dengan Rina, terlihat Rina memang ada di dalam ruangan itu, ia sedang bersembunyi di samping lemari yang terletak di sudut ruangan.


Rina menahan nafasnya saat langkah pembunuh itu semakin mendekati tempat persembunyiannya, beberapa kali ia menahan tangisannya dengan menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar. Rina sudah begitu takut, keringatnya terus mengucur membasahi keningnya, air mata yang begitu deras terus menghujam pipinya, sambil menggigit tangannya untuk meredam ketakutannya.


"Aku pasrah, ya Allah maafkan semua dosaku, aku sudah ikhlas bila memang ini akhir hidupku." gumam Rina semakin menangis meratapi hidupnya harus terperangkap di sudut lemari dengan pembunuh yang semakin mendekatinya.


Tiga langkah lagi pembunuh itu akan berhasil melihat Rina jika ia menoleh ke arah kanannya, namun tiba-tiba saat itu ponselnya berbunyi, ia akhirnya mengangkat teleponnya terlebih dahulu.


"Bagaimana apa sudah kamu habisi, Rina?" tanya Mega.


"Saat ini saya masih mencarinya, Bu. Tidak usah khawatir, saya pastikan hidupnya akan berakhir hari ini." tegas pembunuh itu menjawab.


"Baik saya tunggu kabar kamu, Andrean sudah pergi, saya tidak bisa menahannya terlalu lama." tutur Mega memberitahu.


"Baik, Bu saya mengerti." ucap pembunuh itu sekaligus menutup teleponnya.


Saat pembunuh itu memasukan ponselnya ke dalam sakunya, Rina yang mencoba memberanikan diri sudah bersiap dengan sesuatu yang ia pegang untuk memukul kepala pembunuh itu, walau dengan rasa takut hingga membuat kedua kakinya gemetar, namun inilah sisa-sisa tenaga yang Rina miliki.



😊 Visual : Sesuatu yang Rina pegang, terbuat dari stainless steel.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


Pembunuh itu mulai melangkah lebih dekat, saat pembunuh itu menoleh ke arah kanan tempat Rina bersembunyi, Rina langsung menghantam kepalanya dengan sesuatu yang ia pegang, hantaman yang begitu keras membuat pembunuh itu lunglai sambil memegangi kepalanya, Rina langsung berlari menerobos tubuh pembunuh itu sekaligus mendorongnya dengan keras hingga membuat pembunuh itu tersungkur di lantai.


Rina berlari begitu cepat untuk keluar dari ruangan tempatnya kini berada, namun karena ia tidak memperhatikan langkahnya, kakinya terkait sisi lemari yang membuatnya terjatuh.



"Kurang ajar, saya akan habisi kamu! Dasar wanita ******." kesal pembunuh itu sambil melangkah menghampiri Rina yang terjatuh di lantai.


Rina mencoba untuk bangkit dan terus berlari, namun kakinya terasa sangat sakit hingga membuatnya hanya dapat menjauh dengan mengesot pada lantai.


"Akhirnya tiba juga saatnya, kamu mati di tangan saya." ujar Pembunuh itu.


"Tolong, jangan bunuh aku, aku masih mau hidup, aku mohon." ujar Rina sambil merintih menangis.


Pembunuh itu mengacuhkan permohonan Rina, ia terus melangkah mendekati Rina, walau dengan kening yang terus mengeluarkan darah karena hantaman benda yang Rina hujamkan.


Rina mencoba terus untuk mengesot menjauhi pembunuh itu, hingga akhirnya Rina terpojok di depan pintu ruangan. Rina hanya bisa pasrah akan nasibnya, air matanya semakin deras melihat Pembunuh itu sudah hanya tinggal beberapa langkah lagi di depannya.


"Kurangi rasa sakitnya ya Allah saat KAU cabut nyawaku." isak Rina menangis yang sudah memejamkan matanya.


****


Bersambung ✍️


🍁🍁🍁🍁


**Episode-episode seru jangan lewatkan ya. Tekan like dan berikan komentar kalian ya.


Apakah Rina akan mampu bertahan atau inilah akhir dari hidup Rina? 😢**

__ADS_1


__ADS_2