Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Hampir Gagal


__ADS_3

Tok-tok-tok


"Masuk." ujar Angga


"Iya Pak, ini saya bawakan proposal kontrak kita soal iklan yang akan tayang dalam program station televisi kita." ujar Mega.


"Wanita ini sungguh cantik, aku akan coba buat deketin dia." ujar Angga.


"Oke sini saya tanda tangani." ujar Angga seraya membaca isi proposal.


"Aku sudah duga dia akan baca dulu isi kontraknya, tapi dari 10 lembar berkas yang ada aku yakin dia hanya akan baca 3 atau 5 lembar saja." gumam Mega penuh keyakinan.


Ternyata sesuai dengan apa yang Mega duga, Angga betul hanya membaca 4 lembar awal selebihnya ia langsung menanda tanganinya.


"Sudah beres ada lagi?" ucap Angga.


"Sudah Pak, kalo begitu saya permisi." ucap Mega.


"Tunggu Mega." ujar Angga.


"Aduh mau apalagi ya, apa jangan-jangan dia mau baca semua isi kontraknya lagi, waduh." gumam Mega cemas.


"Iya Pak, ada apa ya?" ucap Mega bertanya.


"Boleh aku liat kontraknya lagi." ujar Angga

__ADS_1


"Waduh bagaimana ini, bisa ketahuan semuanya kalau Pak Angga baca semua isi kontraknya." ujar Mega sangat panik.


"Iya pak boleh." ujar Mega seraya memberikan kontraknya mencoba tetap tenang walau sebenarnya ia panik.


Angga mengambilnya kontrak tersebut dan ia ternyata tidak membukanya.


"Mega, kamu weekend ini ada acara tidak?" ujar Angga.


"Tidak ada Pak, kenapa Pak?" tanya Mega menjawab.


"Kalau begitu bisa ya temenin saya, saya ada meeting." ucap Angga.


"Wah aku gak boleh nolak nih nanti dia kecewa malah baca-baca isi kontraknya lagi, lebih baik aku harus buat Pak Angga senang dulu." gumam Mega.


"Iya Pak siap, berarti sepulang kerja ya." ucap Mega.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu." ujar Mega sambil mengambil kontraknya dan bergegas keluar dari ruangan Angga.


"Uh hampir saja, aku berhasil Rangga, sebentar lagi rencana kita akan berhasil." gumam Mega.


Mega yang terlalu senang sampai ia tidak melihat Siska yang berada di depannya, mereka pun tertabrak.


bruk


Kontrak yang Mega bawa pun jatuh berhamburan semua isi lembarannya, Mega pun panik dan dengan cepat merapikan kembali lembaran-lembaran yang berantakan di lantai.

__ADS_1


"Maaf ya Siska, aku gak lihat, kamu gak apa-apa kan." ucap Mega sambil merapikan semua isi kontrak yang berantakan.


"Iya gak apa-apa, aku juga gak lihat maaf ya, gara-gara lihat handphone nih, biar aku bantu." ucap Siska.


Saat Siska sedang merapikan lembaran-lembaran yang berantakan di lantai, ia tanpa sengaja mengambil satu lembaran yang berisikan surat pengalihan kekuasaan karena di sana tertulis nama Angga kepada Rangga. Siska pun terkejut dan ia menatap Mega dengan penuh pertanyaan. Mega yang sangat panik, mencoba untuk bersikap tenang.


"Waduh gawat, Mega kenapa kamu bisa ceroboh begini sih?" gumam Mega cemas.


"Makasih Siska." ujar Mega seraya meminta lembaran yang sedang di pegang Siska.


"Kamu bisa jelaskan isi Surat ini." ujar Siska bertanya.


"Itu, kamu gak perlu tahu Siska, tolong berikan ke aku, ini penting menyangkut hidup sahabat aku." ucap Mega penuh harap.


"Jelaskan dulu baru aku akan berikan ini ke kamu atau sebaiknya Pak Angga saja yang baca semuanya ini ya." ujar Siska


Siska pun bangun dan saat ia mencoba menuju ruangan Pak Angga, Mega pun menghalanginya. Namun pintu ruangan Angga terbuka, Angga keluar dari ruangannya.


"Ada apa ini? Kenapa Siska?" ujar Angga bertanya.


Siska yang ingin memberitahu menatap Mega penuh tanya, karena ia belum dapat penjelasan tentang surat yang ia pegang ini. Mega yang berada di belakang Angga, memohon dengan tangannya agar Siska tidak memberitahu kepada Angga tentang semuanya. Namun sepertinya Siska seolah tidak peduli karena ia memang belum lama mengenal Mega. Siska seolah akan memberitahu kepada Angga.


"Maafkan aku Rangga, aku ceroboh." gumam Mega kesal.


******

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2