
Perasaan cemas mengiringi perjalanan Rina menuju rumah Rangga.
"Aku tidak mau melukai hati kamu Rangga, tapi aku harus mengatakan ini padamu, walau aku sendiri tidak yakin, apa aku punya keberanian untuk menatap matamu yang mungkin akan basah oleh air matamu?" gumam Rina lirih.
Rina pun akhirnya tiba di rumah Rangga, dengan langkah tergontai Rina memasuki halaman rumah Rangga, ketika keraguannya menyihir kesadarannya, ia bergeming mendengar panggilan Lisa.
"Kak Rina, kenapa melamun saja? Ayo masuk Kak! Tapi pantas saja kalian berjodoh ya, Mas Rangga juga suka bengong kaya Kak Rina." tutur Lisa menahan tawanya.
"Kamu apa kabar Lis?" tanya Rina yang terkekeh malu.
"Iya Kak aku sehat. Mas Rangga ada tuh di dalam dari tadi senyum-senyum sendirian aja." ujar Lisa menuturkan.
"Rangga pasti sedang memikirkan pernikahan kami, apa mungkin aku bisa menyampaikan kabar ini yang pastinya akan merusak kebahagiaannya." gumam Rina.
"Kak Rina! Jangan bengong lagi." seru Lisa memanggil.
Rina bergeming sadar dari kecemasannya.
"Kalian emang benar-benar berjodoh ya." tutur Lisa yang kembali menahan tawanya.
Mendengar kata-kata Lisa, Rina seakan teriris hatinya, karena besar harapannya ia memang ingin menikah dengan Rangga.
"Aku juga sih maunya begitu Lis, aku masuk dulu ya nemuin Rangga." ujar Rina dengan raut wajah yang berubah sedih.
Rina berpaling dari Lisa, ia segera meneruskan langkahnya untuk menemui Rangga.
__ADS_1
"Tadi kata Kak Rina, "Aku juga sih maunya begitu". selidik Lisa seraya berpikir.
Lisa yang aneh dengan jawaban Rina mengurungkan niatnya untuk pergi, ia pun kembali ke dalam rumah, tanpa sepengetahuan Rina.
Rangga yang melihat kedatangan Rina langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan. Pelukan bahagia atas apa yang akan mereka lalui nanti bersama. Rina semakin ragu untuk menceritakan semuanya kepada Rangga.
"Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan semuanya? Rangga sepertinya sangat bahagia, aku tidak mau mematahkan hatinya." batin Rina.
Mereka berdua pun tampak duduk di ruang tamu.
"Sayang." sapa Rangga dengan lembut.
"Ih kamu biasa aja, aku kan malu dan aku gak terbiasa denger kamu manggil aku, sayang." sahut Rina yang agak canggung.
"Kamu mah, masih aja dah ah." gerutu Rina sambil mencubit Rangga di pinggang kiri kanan.
Mereka pun tampak tertawa bahagia, di sini Rina masih menahan apa yang ingin ia sampaikan.
"Ngga, aku sayang sama kamu, sebenarnya aku sangat ingin menolak ancaman Angga, hanya saja aku takut, Adik-adikku sampai tidak punya tempat tinggal, pekerjaan Papa akan hancur, aku gak bisa melihat mereka menderita karena aku, jadi seandainya aku mengiyakan untuk menikah dengan Angga, ketahuilah semua ini tidak akan merubah perasaan aku ke kamu, aku hanya mencintaimu." batin Rina.
Tanpa Rina sadari, air matanya sudah menenggelamkan kedua bola matanya, hingga menetes membasahi pipinya. Rangga yang melihat menjadi heran, seperti ada yang berbeda dari Rina.
"Sayang kamu kenapa menangis?" ujar Rangga seraya mendekati Rina.
"Ini tangis bahagia, aku bahagia seandainya kita bisa menikah dan sampai nanti aku jadi Ibu dari anak-anak kamu, bersama kamu selalu saat pagi dan malam, hanya saja aku takut." ucap Rina penuh lirih.
__ADS_1
"Apa yang kamu takuti? Kamu takut aku panggil sayang, ya udah aku panggil kamu Bunda aja ya, kamu jangan nangis lagi ya." ucap Rangga.
"Kamu ini bisa aja membuat aku tertawa." ucap Rina sambil mencubit Rangga.
"Au sakit.. Sakit Rin, udah kamu jangan sedih lagi ya Bunda." ujar Rangga menghibur Rina.
Mereka berdua terlihat bahagia menghabiskan waktu bersama, hingga membuat Rina melupakan sejenak segala kepenatannya, ia pun melupakan sejenak niatnya untuk memberitahu Rangga akan masalah yang sedang ia hadapi. Walau sesekali raut wajah Rina berubah sedih ketika melihat tawa Rangga, tapi ia berhasil menutupi semuanya dari Rangga, sampai Rangga tidak bisa membaca beban yang ada di wajahnya.
Sementara Lisa dari kejauhan terus memperhatikan Rina, ia menjadi tambah penasaran karena menangkap keanehan dari reaksi Rina.
"Aku harus cari tahu masalah apa yang sebenarnya Kak Rina tutupi dari Mas Rangga." gumam Lisa.
Lisa mencoba menerka walau ia belum tahu pasti kebenarannya.
"Maafin aku Rangga, aku tidak mau mematahkan perasaan kamu, kasih waktu aku sampai hari Sabtu, aku akan selesaikan masalahku dengan Angga, aku akan coba pertahankan segala impian kita untuk menikah, karena aku hanya ingin kamu yang menjadi Imanku." gumam Rina penuh tekad.
Lisa pun tidak melanjutkan rencananya untuk pergi.
"Aku harus cari tahu masalah apa yang Kak Rina hadapi? Aku yakin ada yang ia sembunyikan?" gumam Lisa tersenyum.
*****
Bersambung ✍️
__ADS_1