
Mentari terbit dengan sinarnya yang menghangatkan alam, dedaunan pun masih basah terselimuti embun, dingin dan sejuk itulah Bandung di pagi hari.
Rina terbangun, sesekali ia mengerjapkan matanya, ia beranjak bangun dari ranjangnya, seperti biasa langsung menuju dapur, membuat sarapan untuknya dan juga Bu Rita.
Saat Rina tiba di meja makan tampak sudah ada beberapa menu sarapan yang sudah tersaji, Rina langsung berpikir kalau Bu Rita sudah terlebih dahulu tiba di sana dan benar saja Bu Rita sudah terlihat menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
"Pagi Rin, sarapannya sudah siap." ujar Bu Rita.
"Iya Bu, maaf ya aku bangun terlambat harusnya aku yang siapin sarapan untuk Ibu, ini malah Ibu." ucap Rina menyesal.
"Tidak apa - apa Rin, lagipula selama Ibu sakit 10 hari kemaren, kamu yang sudah merawat Ibu kan." ujar Bu Rita mengingatkan Rina.
"Sudah tugas aku Bu, karena Ibu sudah ku anggap seperti orang tuaku sendiri." ujar Rina.
"Duduk dan mari kita makan Rin." ucap Bu Rita menawarkan.
Mereka pun memulai sarapan paginya, di sela-sela mereka makan, tiba-tiba suara pintu pun terdengar.
Tok-tok-tok
Bu Rita yang akan beranjak untuk membukakan pintunya terhenti karena Rina memberikan kode agar Bu Rita tetap makan dan biarkan Rina saja yang melihatnya.
Rina pun membukakan pintunya, saat pintu terbuka Rina sangat terkejut tak menyangka.
"Ryan dan Viska" ujar Rina.
"Bagaimana kalian tahu aku di sini?" sambung Rina penuh keheranan.
"Hei Rina, apa kabar? Gimana rasanya sebulan jauh dari Jakarta?" tanya Ryan menggoda.
"Rin, aku kangen sama kamu." ucap Viska seraya memeluk Rina penuh haru.
__ADS_1
"Maafin aku Vis, buat kamu khawatir." ujar Rina terharu.
"Yang penting kamu baik-baik saja aku sudah bahagia." ucap Viska seraya menghapus air matanya.
Mereka pun masuk ke dalam, Rina memperkenalkan sahabat-sahabatnya kepada Bu Rita. Ryan dan Viska mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke Bandung untuk menjemput Rina, namun yang masih terpikirkan oleh Rina, bagaimana mungkin Ryan dan Viska bisa tahu rumah Bu Rita ini karena yang tahu hanyalah aku dan Rangga.
"Kalian belum jawab, bagaimana kalian bisa tahu aku ada di sini?" tanya Rina.
"Kalau kamu mau tahu jawabannya, ikut kami Ke Jakarta, maka kamu akan temui jawabannya di sana, lagipula adik-adik kamu sudah sangat merindukan kamu Rina." ujar Viska memberitahu.
"Iya Rin, sekarang kamu siap-siap, karena ada seseorang yang nunggu kamu di Jakarta Rin." ucap Ryan seolah memberi teka-teki.
"Siapa Ryan? Jangan bikin aku penasaran! Kalian ini." kesal Rina.
Viska beranjak dan mengajak Rina untuk segera bersiap ke Jakarta.
"Udah ayo kamu siap-siap kita berangkat sekarang." ucap Viska.
60 menit kemudian.
Mereka pamit kepada Bu Rita.
"Bu makasih banyak, Ibu sudah mengingatkanku bahwa yang terpenting bukan pada sesuatu yang harus kita jaga, tapi pada apa yang harus kita jalani, bangkit jika terjatuh, ikhlas jika kehilangan dan tetap kuat jalanin hidup demi orang-orang yang ku sayangi." tutur Rina penuh haru.
"Iya Rin, telepon Ibu saat kamu sudah sampai." ucap Bu Rita yang juga sudah tampak sedih dengan perpisahan ini.
Viska dan Rina terlebih dahulu keluar dari rumah, sementara Ryan izin untuk pura-pura ke kamar mandi agar bisa berbicara dengan Bu Rita untuk menyampaikan sesuatu.
Setelah Ryan melihat keadaan aman tidak ada Rina, ia pun segera menceritakan semuanya kepada Bu Rita. Cerita Ryan sungguh membuat hati Bu Rita menjadi sangat bahagia, ia sangat bersyukur bahwa kesabaran Rina ternyata akan berbuah kebahagiaan, Bu Rita sangat ingin melihat Rina bahagia bersama Rangga.
"Benar seperti itu Nak Ryan, ya Allah Ibu bahagia mendengarnya." ucap Bu Rita.
__ADS_1
"Iya Bu, aku sudah pesen tiket untuk keberangkatan Ibu Minggu depan, karena Rina pasti akan sangat bahagia kalau ada Ibu yang mendampingi." ucap Ryan seraya memberikan tiket kereta apinya kepada Bu Rita.
"Baik Nak Ryan, Ibu akan berangkat." ujar Bu Rita
Ryan pun pamit kepada Bu Rita dan menghampiri Rina dan Viska.
"Ya ampun Ryan kebiasaan dah beser terus." ujar Viska menyindir padahal ia sudah tahu dengan rencana dari Ryan.
"Gak apa-apa, walau aku beser kan kamu tetap sayangkan." ucap Ryan meminta maaf.
Rina kaget mendengar percakapan Ryan dan Viska. Rina tak menyangka dua orang sahabatnya yang dulu sering bertengkar sekarang bisa menjadi sepasang kekasih. Rina sangat bahagia, ia pun tanpa sengaja kembali mengingat Rangga. Rasa rindu yang kembali menyelimuti hati dan pikirannya, membuatnya tanpa sengaja menangis. Viska dan Ryan yang tadinya sedang bercanda satu sama lain, menjadi sangat bersalah melihat kesedihan Rina.
"Kamu jangan sedih Rin, kamu pasti ingat Rangga ya?" tanya Viska setelah melihat air mata Rina.
"Iya, aku rindu sekali dengan Rangga." ujar Rina tersedu-sedu.
"Kamu yang sabar ya Rin, kamu harus percaya kebahagiaan pasti akan secepatnya kamu rasakan, kamu harus tetap semangat, kan ada aku sama Viska." ujar Ryan berusaha menyemangati.
"Iya Ryan, makasih ya. Aku bahagia banget melihat kalian seperti ini, ini kejutan untuk aku." ucap Rina yang bahagia melihat dua sahabatnya bahagia.
Viska mendekati Rina, ia memeluknya untuk menenangkan Rina.
"Kamu akan lebih bahagia dan terkejut bila sudah sampai di Jakarta, kamu percaya ya sama aku." ujar Viska.
Mendengar perkataan Viska, membuat Rina tambah berpikir dengan sangat keras. Walaupun ia coba untuk memaksa Viska agar mau mengatakannya, tetap saja Viska diam seribu bahasa.
Rina pun tak menyangka Viska dan Ryan bisa menemukan keberadaannya di Bandung, di tambah lagi kejutan yang Viska katakan, membuat Rina semakin penasaran dan berharap secepatnya bisa segera tiba di Jakarta.
Mobil pesanan mereka pun telah tiba. Mereka segera masuk ke dalam mobil untuk menuju ke stasiun kereta.
******
__ADS_1
Bersambung✍️