Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Kematian Rangga


__ADS_3

Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Adi terus memikirkan kata-kata Bi Imah, ia pun jadi teringat masa lalunya.


Flashback ON


Dahulu Adi dan Sarah sangat mendambakan seorang anak untuk melengkapi pernikahan mereka yang sudah berjalan selama 3 Tahun. Di tengah-tengah harapan mereka yang tak kunjung datang, suatu malam mereka menemukan seorang bayi perempuan di depan rumah mereka. Saat itu mereka sangat bahagia karena apa yang mereka impikan bisa terwujud, walau memang bukan anak kandung mereka, tapi di sisi lain ada kesedihan yang mereka rasakan karena sang bayi dibuang oleh orang tuanya sendiri.


Di dalam rumah Rina.


"Pah bayinya lucu banget ya pah, kita beri nama apa ya Pah." ujar Sarah.


"Tapi Mah, kita kan tidak tahu ini anak siapa dan apa niat si orang tua bayi ini meletakkan bayi ini di depan rumah kita, kita tunggu dulu sampai beberapa hari ke depan ya mah, kalau memang tidak ada orang yang menanyakan bayi ini kita akan rawat bayi ini untuk menjadi anak kita." ujar Adi.


"Baik Pah, Mama senang deh, Mama mau memberikan ia nama Juwita Adista Savira." ucap Sarah.


"Enggak ah mah, masa Juwita, udah kaya tukang jamu mah, ih Mama seleranya deso nih Mama." ucap Adi meledek Istrinya.


"Ih Papa, Juwita tuh namanya seksi tahu pah." ucap Sarah seraya menggendong bayi itu yang tampak sedang menangis.


"Seksi apaan Mah, seksi karena dia jualan jamu, pokoknya Papa gak setuju, tuh liat bayinya aja nangis Mah denger Mama mau ngasih nama Juwita." ujar Adi tertawa seraya membelai Bayi yang Sarah gendong.


Adi pun mengambil bayi itu dari gendongan Sarah, bayi itu tampak terdiam ketika Adi menggendongnya.


"Nama kamu Rina Adista Savira ya, Nak. Semoga kamu jadi anak yang baik, cantik dan pintar ya, Nak." ujar Adi yang sangat bahagia.

__ADS_1


"Ya udah deh terserah Papa aja, Rina juga bagus kok Pah, Mama juga senang." ucap Sarah.


Mereka pun bergegas menuju kamar untuk kembali beristirahat dengan membawa bayi itu.


Flashback OFF


"Nanti aku harus tanyakan maksud perkataan Bi Imah tadi." gumam Adi.


Adi pun kembali mengalihkan perhatiannya ke arah tujuannya untuk menuju rumah sakit.


30 menit kemudian.


Adi yang sudah sampai di Rumah Sakit Berlian segera menuju ruang ICU tempat Rangga berada, di sana Adi sudah di tunggu oleh Dokter.


"Begini Pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi maaf kami tidak bisa menyelamatkan saudara Rangga." ucap Dokter.


"Apa Dokter? Rangga meninggal?" ujar Adi sangat terpukul.


"Iya Pak, Bapak yang sabar ya dan saya harap calon istrinya bisa menerima semua kenyataan ini." ucap Dokter mengakhiri seraya pamit kepada Adi.


Adi pun terlihat lemas, ia pun terduduk.


"Bagaimana aku bisa mengatakan kenyataan ini pada Rina." gumam Adi penuh cemas.

__ADS_1


Adi pun segera menghubungi orang tua Rangga untuk memberitahukan kabar yang sangat pedih ini, walau sebenarnya tak sanggup untuk menyampaikan tapi sungguh tak ada pilihan lain karena walau bagaimanapun orang tua Rangga harus secepatnya tahu kabar ini. Tak lama Lisa datang dan menghampiri Adi.


"Om, bagaimana keadaan Mas Rangga?" tanya Lisa terburu-buru karena panik.


"Kamu duduk dulu Lisa! Kamu harus kuat dan sabar!" titah Adi menenangkan.


"Gak bisa Om, Lisa gak bisa tenang, gimana keadaan Mas Rangga, Om?" tanya Lisa lebih panik.


Adi menelan ludahnya dalam-dalam, tak kuat rasanya memberitahukan kabar ini kepada Lisa.


"Begini Lisa." ujar Adi terbata-terbata.


"Kenapa Om?" tanya Lisa memaksa.


"Rangga sudah meninggal Lisa, kamu harus kuat, ya." ujar Adi walau berat menyampaikan.


"Mas Rangga gak mungkin, Mas jangan tinggalin Lisa Mas." ujar Lisa penuh histeris.


Lisa pun menangis dan meronta-ronta, Adi berusaha untuk menenangkan Lisa, sampai akhirnya Lisa tak kuat membendung kesedihannya hingga membuatnya pingsan. Adi dengan segera memapahnya dengan berteriak Adi memanggil suster juga paramedis untuk membawa Lisa ke ruang perawatan.


*****


Bersambung✍️

__ADS_1


__ADS_2