Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Janji Sherra


__ADS_3

Keesokan paginya.


Matahari mulai terbit dengan indah dari sisi timur, menyapu semua gelap yang masih tersisa, sinarnya menghangatkan alam dari dinginnya pagi.


Darren terlihat bangun sangat pagi lebih dari biasanya, bahkan tidak seperti hari-hari sebelumnya, ia sudah terlihat rapi dan bersiap untuk pergi.


Darren masuk ke dalam mobilnya, ia menyalakan mesin mobil, namun ketika ia bersiap akan menjalankan mobilnya, pintu depan mobil Darren terbuka, Sherra langsung masuk dengan cepat hingga membuat Darren terkejut.



Dengan membawa secangkir es kopi di tangan kanannya, ia langsung duduk bersila di kursi depan mobil Darren. Darren sangat keberatan dengan kedatangan Sherra, karena dapat menggagalkan rencananya untuk pergi ke mansion menemui Rina.


"Aduh, gimana ini? Sherra ngapain sih? Kenapa dia harus masuk segala sih ke mobil." gusar Darren dalam hatinya.


"Ayo, jagoan jujur sama aku, pagi-pagi gini kamu sudah rapi mau kemana?" selidik Serra.


"Aku ada meeting pagi ini." sahut Darren mengelak.


"Jagoan, hari ini tuh hari Minggu, kamu gak usah bohong sama aku." ujar Serra.


Darren tak berkutik di buatnya, ia sangat bingung harus bagaimana agar dapat kabur tanpa di ketahui oleh Sherra. Darren pun mau tak mau mengajak Sherra untuk pergi ke mansion.


"Aku mau pergi ke mansion, kamu lagian tumben banget deh pagi-pagi gini udah datang aja." tutur Darren agak bete.


"Darren, WhatsApp tuh makanya di bales!" seru Sherra seraya merubah posisi duduknya.


Darren pun akhirnya melajukan mobilnya.


"Gimana ya? Apa kalau Sherra tahu ada Rina di mansion itu gak akan menimbulkan masalah, ntar dia ngadu lagi ke Papa." batin Darren cemas.


“Darren, katakan padaku kenapa kamu harus pergi pagi-pagi sekali?” tanya Sherra penasaran.


"Nanti kamu akan lihat sendiri, aku hanya khawatir tentang seseorang, itu sebabnya aku harus melihatnya." jawab Darren.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu? Siapa seseorang itu?" Sherra bertanya.


"Aku akan ceritakan, dari awal tapi tolong jangan beritahukan hal ini kepada Papa, oke!" ujar Darren seraya meminta Sherra berjanji.


"Okay, I promise." ucap Sherra.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Darren menceritakan semua tentang Rina kepada Sherra. Walau Sherra agak cemburu di buatnya, namun ia mencoba meyakini bahwa wanita yang Darren tolong itu tidak mungkin merebut Darren dari genggamannya, apalagi wanita itu amnesia yang sewaktu-waktu, ingatannya bisa kembali kapan saja.


"Aku jadi penasaran, seperti apa wajah wanita itu, apa dia cantik? Sampai seorang Darren yang sangat acuh ini mau menolongnya." gumam Sherra.


30 menit kemudian.


"Sudah sampai, ini pertama kali kamu ke sini kan?" tanya Darren.


"Iya ini pertama kali." jawab Sherra.


Darren langsung bergegas masuk ke dalam mansion meninggalkan Sherra yang masih di dalam mobil, sesampainya di dalam, ia lalu bergegas menaiki anak tangga untuk menuju kamar, Darren membuka pintu kamarnya. Darren sangat terkejut Rina tak ada di dalam kamar, ia kemudian mencari Rina ke setiap sudut kamar, ke kamar mandi, sampai di bawah ranjang pun tak luput jadi tempat pencariannya, namun ia tetap tidak menemukan Rina.


"Kemana Rina ya?" tanya Darren bingung.


Tak lama Sherra menghampiri Darren.


"Mana wanita itu?" tanya Sherra.


"Aku sendiri bingung, kemana wanita itu sekarang, dia itu tidak tahu jalan, karena dia amnesia, bagaimana mungkin dia bisa pergi jauh?" tutur Darren seraya bergegas menuju ke luar mansion.


Darren berlari menuruni anak tangga, ia pun keluar mansion untuk mencari Rina. Darren teringat kejadian semalam saat Rina kesakitan, itu membuatnya jadi tambah cemas memikirkannya. Setelah beberapa lama ia mencari di luar tetap saja Darren belum menemukan Rina. Darren pun kembali ke dalam mansion.


Darren terduduk di sofa panjangnya. Ia lalu menyandarkan tubuhnya untuk beristirahat melepas lelahnya. Sherra yang melihatnya kelelahan berusaha mendekati Darren.


"Sudahlah, mungkin saja ingatannya sudah kembali makanya ia pergi." ucap Sherra.


Darren yang mendengar itu berusaha mencerna kata-kata Sherra.


"Ya sudahlah, mungkin saja." ujar Darren.


Sherra yang sudah duduk dekat dengan Darren, mencoba menenangkannya.


"Darren, kamu ingat saat kita mabuk dulu di Australia, apa yang kita lakukan malam itu, aku tidak akan pernah lupakan?" ujar Sherra.


"Kamu yang paksa aku untuk mabuk, jadi jangan salahkan aku." ketus Darren.


"Apakah kamu tidak mencintaiku Darren?" tanya Sherra mulai lirih.


"Saat ini aku mencoba, tapi mungkin butuh waktu, perjodohan yang Papa bicarakan padaku semalam membuatku sedikit lucu, ia memintaku untuk menikah dengan kamu." tutur Darren dengan wajah yang mulai bete.

__ADS_1


"Lucu maksud kamu?" tanya Sherra.


"Lucu kalau jaman sekarang masih aja kaya jaman dulu, anak dijodoh-jodohkan, tanpa di beri kebebasan." tutur Darren kesal.


Sherra mendengar ucapan Darren, ia terdiam sejenak untuk berpikir dan menganggap semua yang dikatakan Darren memang benar.


"Beri aku waktu untuk membuatmu mencintaiku, jika dalam sebulan aku tidak berhasil, aku sendiri yang akan menolak perjodohan itu." tutur Sherra.


"Oke, kita akan lihat nanti?" kata Darren menghela nafas.


Sherra pun mulai berpikir keras bagaimana bisa membuat seorang Darren yang dikenalnya sangat acuh terhadap wanita-wanita yang menyukainya, berubah mencintainya.


*****


Di pinggir jalan.


"Aku harus pulang, aku tidak mau keluargaku mengkhawatirkan aku." ucap Rina.


Semalam Rina bermimpi jika keluarganya sangat cemas terhadapnya, ia melihat Vara menangis begitu kehilangannya dan Rina pun teringat janji yang ia ucapkan kepada Vara di stasiun bahwa ia tidak akan meninggalkan Vara lagi.


"Saat ini aku tidak tahu jalan untuk pulang, aku harus kemana ya." ucap Rina bingung.


Rina menoleh ke kiri dan kanan, melihat apa yang mungkin di ingatnya atau paling tidak bisa menolongnya untuk mengantarnya pulang. Rina melihat seorang polisi yang sedang berjaga mengatur lalu lintas. Rina menghampirinya. Setelah Rina menceritakan kepada polisi tentang masalah yang ia hadapi, polisi membawa Rina ke kantornya untuk di selidiki lebih lanjut asal usul Rina. Rina masuk ke dalam mobil polisi dan mobil pun melaju.


Kantor Polisi.


Setibanya di kantor polisi. Rina menunggu di ruang tunggu. Polisi meminta identitas yang dimiliki oleh Rina. Di dalam ruang tunggu, Rina tidak sendiri, ia bersama seorang laki-laki yang kira-kira sudah berumur sekitar 48 Tahun.



Tiba-tiba polisi memanggil nama laki-laki itu untuk memintanya menemui tahanan yang ingin ia kunjungi. Laki-laki itu beranjak dan berdiri menghampiri ke arah tahanan yang sudah menunggunya, dengan di sekat dinding transparan mereka pun saling berkomunikasi. Dari tempat tahanan itu berada pandangannya sangat jelas dapat melihat Rina yang sedang duduk menunggu kabar dari polisi mengenai apa yang ia tanyakan.


"Rina, itu Rina yang aku maksud!" seru Angga memberitahu Riansyah sambil menunjuk ke arah Rina.


Riansyah langsung menoleh ke arah yang Angga tunjuk, ia kaget tak menyangka akan bertemu Rina di dalam kantor polisi ini.


*****


Bersambung✍️

__ADS_1


Tekan Like setelah membaca ya dan berikan vote kalian, terima kasih karena dukungan kalian adalah semangat untukku 🤗😊😍🙏


__ADS_2