
Rina yang masih terkejut sungguh tak menyangka pesan yang masuk ini dari Rangga, Rina sekejap bahagia, tak disangka Rangga tidak menjadi salah satu dari korban kecelakaan pesawat itu. Rina pun memberitahu Viska tentang balasan pesan yang masuk dari Rangga, Viska turut bahagia, ia sama kagetnya dengan Rina, namun mereka berdua percaya semua memang sudah takdir-NYA.
"Maaf baru ku bales begitu banyak pesan darimu yang masuk, namun handphoneku mati, tapi tenang! Aku baik-baik saja, aku bersyukur tak jadi berangkat, namun itu menyelamatkanku." ucap Rangga pada pesannya.
Rina pun segera membalasnya.
"Sekarang kamu dimana, jadi kamu censel penerbangan ke Surabaya?" ujar Rina membalas.
"Iya meeting di Surabaya di censel dan akhirnya aku tidak jadi terbang ke sana, maaf tidak memberitahumu, tadinya aku ingin memberi kejutan untukmu, tapi aku tak menyangka akan ada kecelakaan pesawat itu, aku sendiri mendengarnya gugup dan aku bersyukur masih di beri kesempatan untuk hidup, karena jika tidak, mungkin ada hal yang sampai kini belum aku lakukan, itu pasti akan membuatku tidak tenang." ujar Rangga menjelaskan.
"Tidak apa-apa Ngga, aku bersyukur kamu baik - baik saja, kamu belum jawab pertanyaanku, kamu dimana sekarang?" ucap Rina.
Rangga tak membalas pesan Rina lagi, walau begitu setelah tahu Rangga baik-baik saja Rina menjadi sangat tenang.
Di tempat lain, kantor Angga.
Angga yang tampak gusar karena syarat yang diajukannya ditolak oleh Rina, ia pun menjadi geram dan penuh ambisi.
"Hanya wanita itu yang susah ku taklukan, ada apa dengan wanita itu, kenapa dia seperti itu?" gumam Angga penuh kesal.
Tampak karakter sesungguhnya Angga mulai kelihatan di sini, ia adalah seorang yang punya ambisi besar dan apapun yang ia inginkan harus ia dapatkan, walau dengan segala cara. Angga mengambil handphonenya dan ia menghubungi seseorang.
"Aku mau segala informasi tentang wanita bernama Rina Adista Savira, data pribadi beserta keluarganya." ujar Angga kepada seseorang.
"Oke baik pak, sebentar saya check." ucapnya menjawab.
Tak lama kemudian email masuk, Angga membukanya dan membaca semua data pribadi Rina, ia pun terkejut Rina anak dari Adi Rhamdan Pratama, pimpinan sekaligus pendiri dari Adiansyah Grup bersama Ayahnya, Riansyah Wijaya. Namun karena terjadi suatu masalah Adi pun melepas semua sahamnya kepada Riansyah. Setelah itu Adi mendirikan perusahaan baru yang ia beri nama Pratama Grup.
Angga terlintas suatu ide, ia menjelaskan rencananya kepada seseorang di telepon.
__ADS_1
"Sudah mengerti." tanya Angga.
"Baik saya paham Pak." sahut seseorang itu.
"Segera jalankan rencana saya." titah Angga.
"Siap pak." ujar seseorang seraya mengakhiri telponnya
Angga duduk di kursi sambil memicingkan senyum liciknya, tanda ia mempunyai suatu rencana untuk bisa mendapatkan Rina.
"Kalau dengan cara yang halus aku tidak bisa dekat denganmu, aku akan gunakan segala cara agar kamu bisa menjadi milikku." gumam Angga.
****
Di rumah Rina.
Mobil Viska memasuki gerbang komplek perumahan, setibanya di halaman rumah, Rina melihat mobil Rangga sudah terparkir di sana, mobil Viska pun berhenti di sampingnya. Tanpa membuang waktu, Rina bergegas keluar dari mobil, dengan langkah cepat ia menuju ke dalam rumahnya untuk bertemu dengan Rangga.
Tok-tok-tok
Suara pintu terdengar, namun tidak ada yang membukakannya. Rina akhirnya membuka pintu rumahnya sendiri. Saat pintu terbuka, sudah tampak Rangga dengan posisi berlutut sambil menyodorkan sekotak cincin dihadapan Rina.
"Rina Adista Savira, apakah kamu mau menikah denganku?" ucap Rangga.
Rina bahagia mendengar untaian kalimat itu, seketika air matanya membasahi kedua bola matanya.
Rina segera meraih tangan Rangga untuk membantunya berdiri. Mereka kini sudah saling berhadapan. Rina menatap Rangga begitu dalam, Rina menyentuh wajah Rangga, sampai akhirnya Rina daratkan kecupan di kening Rangga, Rangga hanya diam mematung menyaksikan apa yang Rina perbuat padanya.
Rina akhirnya berlabuh dipelukan Rangga, tangannya seakan erat memeluknya, menandakan betapa ia tidak mau kehilangan Rangga, karena Rina ingin Rangga terus ada di sampingnya, mulai dari membuka mata di pagi hari hingga menutup mata di saat ia akan terlelap.
__ADS_1
"Iya aku mau, aku mau Rangga." jawab Rina lirih.
Viska yang melihat momen tersebut turut bahagia melihatnya, tanpa terasa ia ikut menitikkan air mata.
"Rin, pada akhirnya kamu bisa bahagia, aku pun bahagia Rin, selamanya kita akan selalu menjadi sahabat." gumam Viska di dalam hatinya.
Di dalam rumah tampak Bi Imah dan Vara bertepuk tangan melihat momen yang bahagia ini.
"Neng Vara, ambilin Bibi tisu Neng." ucap Bi Imah.
Vara yang masih fokus melihat Rina dan Rangga, membuatnya malas untuk memalingkan pandangannya, tangan Vara mengambil yang bisa ia gapai di meja makan untuk di berikan kepada Bi Imah.
"Ini Bi." ujar Vara.
Bi Imah mengambilnya, tanpa melihatnya karena saat ini pandangannya hanya tertuju pada momen bahagia Rina dan Rangga.
"Makasih Neng." ucap Bi Imah.
Bi Imah yang terus menangis tersedu-sedu mengusap air matanya.
"Ya ampun Neng, ini tuh lap meja masa di kasih Bibi, emang muka Bibi alas meja Neng." kaget Bi Imah seraya menunjukan lap meja kepada Vara.
"Eh.. Eh maaf Bi, gak fokus jadi salah ambil tuh." ucap Vara seraya menahan tawa karena lucu melihat reaksi wajah dari Bi Imah.
Malam itu Rina sangat bahagia, karena laki-laki yang selama ini menjadi sahabatnya, akan segera menjadi suaminya.
*****
Bersambung✍️
__ADS_1
Beri like dan tinggalkan koment ya.. makasih 😊😊