Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Dugaan Adi


__ADS_3

Rina mencoba mengingat lebih jauh lagi, namun saat ia berusaha lebih keras, kepalanya mulai berdenyut sangat sakit luar biasa. Rina meringis kesakitan, suara Rina yang sedang kesakitan membuat Rangga, Adi dan Lisa yang berada di depan kamar mendengarnya, Adi segera masuk ke dalam, tapi Rangga dan Lisa mengurungkan niatnya untuk masuk karena mereka tidak ingin Rina tambah ketakutan saat melihat mereka.


Rangga sangat tersiksa, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk dapat menenangkan Rina, ia di buat sangat heran, kenapa hanya pada dirinya, Rina begitu takut.


"Arghhhh, kenapa saat seperti ini tidak ada yang bisa aku lakukan untuk bisa membuat Rina tenang?" tanya Rangga sangat kesal sembari meninju beberapa kali dinding rumah sakit.


Lisa yang melihat hal tersebut, berusaha menenangkan Rangga.


"Sudah Mas, jangan menyakiti diri sendiri Mas, percaya saja sama Allah, bahwa di balik semua ini pasti akan ada kebahagiaan yang nantinya akan Mas Rangga rasakan, tidak ada cobaan yang Allah berikan di luar kemampuan kita, Mas." ucap Lisa seraya memegang pundak Rangga untuk menahannya agar tidak lagi melakukan sesuatu yang hanya dapat menyakiti dirinya sendiri.


Rangga yang mendengar itu, hatinya tersentak, ia tak menyangka Adiknya saat ini sudah dewasa, sehingga setiap perkataan Lisa dapat membuatnya berpikir dengan tenang.


"Betul kata kamu Lis, saat ini yang terpenting kita harus cari cara sehingga ingatan Rina bisa segera kembali dengan perlahan-lahan." ujar Rangga seperti menemukan secercah harapan.


"Alhamdulillah, itu baru Kakak aku." ucap Lisa bangga.


Yoga dan Vara masih berusaha menenangkan Rina.


"Kakak, sudah Kak! Jangan Kakak mencoba untuk mengingat apa-apa lagi, aku mohon aku tidak mau Kakak kesakitan lagi." ujar Vara seraya memeluk Rina dari samping.

__ADS_1


Rina terhenyak mendapat pelukan dari Vara, ia pun mulai kembali tenang.


"Siapa tadi nama gadis ini?" batin Rina berpikir sejenak.


"Oh iya, Vara namanya, dia tampak begitu tulus menyayangi aku, pelukan ini begitu erat dan air matanya sampai membasahi pakaianku." sambung Rina dalam hatinya yang melihat ketulusan Vara.


"Iya betul kata Adik kamu Rin, kamu harus lebih santai, biarkan ingatan kamu kembali dengan sendirinya, jangan memaksakan yang hanya bisa menyakiti kamu saja, sekarang kamu harus lebih tenang ya!" titah Adi kepada Rina.


Rina yang mendengar hal tersebut mengangguk tanpa dapat memberi jawabannya, sungguh ia merasa bingung berada di sekeliling orang-orang yang menyayanginya, namun ia tak ingat hal apapun tentang mereka.


"Iya Kakak, kalau Kakak sekarang mau istirahat, biar Vara saja yang menemani Kakak di sini, aku sama Papa bisa tunggu di depan." ujar Yoga seraya mengajak Ayahnya keluar, untuk memberi waktu pada Rina agar bisa istirahat.


Yoga dan Adi sudah berada di luar. Rangga yang melihatnya segera menghampiri mereka untuk menanyakan kondisi Rina. Adi mencoba menenangkan Rangga karena ia melihat kecemasan dari raut wajah Rangga.


Di sisi lain koridor rumah sakit.


"Begini Rangga, sebaiknya kamu sekarang pulang, kasian Adik kamu Lisa, saya lihat dia sangat lelah, takutnya nanti dia malah sakit, kamu juga harus memikirkan keadaan Lisa." ujar Adi menasihati.


"Tapi Rina, bagaimana om?" tanya Rangga cemas.

__ADS_1


"Sementara biar Yoga dan Vara yang bergantian menjaga Rina, nanti saya akan menjemput Bi Imah, untuk dapat menemani Rina di rumah sakit jika Yoga dan Vara pulang." ujar Adi.


"Baik Om, kalau memang begitu." sahut Rangga.


"Tapi kamu harus kembali lagi, kamu harus menggantikan saya di rumah sakit untuk mengurus segala keperluan Rina selama di sini, saya besok harus terbang ke Solo, ada proyek yang tidak bisa saya batalkan, karena ini sudah terencana sebulan yang lalu, jadi saya tidak bisa menundanya." ujar Adi yang sebenarnya berat harus jauh dari Rina dalam situasi Rina seperti ini.


"Baik Om, saya mengerti, dengan senang hati saya akan menjaga Rina, Om Adi gak perlu khawatir." ujar Rangga mengiyakan permintaan Adi.


"Ini tentang Rina, saya mulai berpikir dan merasa ada kejanggalan, kenapa Rina hanya takut jika melihat kamu? Sementara melihat saya dan Adik-adiknya, Rina tidak langsung ketakutan. Saya berpikir, seperti yang kamu ceritakan tadi pas saya datang, kata kamu saat Rina sadar orang yang pertama kali Rina lihat adalah Lisa, tapi Lisa pergi untuk memberitahu kamu, hanya saja kamu ternyata sudah turun ke bawah, dan ketika Lisa kembali, Lisa sudah melihat Mega di dalam ruangan bersama Rina dan tidak lama kemudian Rina melihat Lisa dengan wajah penuh amarah dan mengusirnya." ujar Adi mengulang apa yang Rangga ceritakan.


"Iya betul Om, begitu yang Lisa ceritakan." ujar Rangga membenarkan ucapan Adi.


"Kalau benar dugaan saya, mungkin Mega sudah membuat Rina membenci kamu lewat ucapannya, sehingga Lisa jadi ikut merasakan kebencian Rina, karena Lisa itu adalah Adik kamu." ujar Adi menduga.


"Maksud Om?" tanya Rangga terkejut.


"Saat ini Rina sedang amnesia, ia tidak ingat apapun dalam hidupnya, kita masih belum tahu seberapa parah amnesia yang Rina alami saat ini, tapi satu hal yang harus kita jaga, jangan sampai ada ucapan yang tidak benar terdengar oleh Rina. Saya takut itu dapat mempengaruhi memorinya untuk kembali mengingat semuanya, yang kita harus lakukan coba pertemukan Rina dengan orang-orang yang sangat dekat dengan Rina, semoga itu bisa sedikit demi sedikit membangun kembali ingatannya." ujar Adi menjelaskan kepada Rangga.


"Berarti ini semua karena Mega." gusar Rangga kesal.

__ADS_1


*****


Bersambung


__ADS_2