
Setibanya di rumah sakit, Rangga langsung memarkirkan mobilnya, setelah itu mereka bergegas untuk menuju ruang IGD.
Sesampainya di ruang IGD mereka mendapati Rina ternyata sudah dipindahkan ke ruang rawat. Rangga pun bertanya pada salah satu Suster di sana, setelah Rangga diberitahu, mereka langsung bergegas pergi untuk melihat kondisi Rina.
Tibalah mereka di kamar dahlia no. 16, Rangga dan Lisa masuk ke dalam. Pintu terbuka dan Rangga terkejut melihat keadaan Rina yang sudah terbalut perban di kepalanya, tak ada sehelai pun rambut yang terlihat. Rangga mulai khawatir keadaan Rina yang saat itu tidak sadar dengan infus yang terpasang di tangannya. Rangga mengambil sebuah kursi yang sudah terletak di sana, ia menaruhnya di dekat tepian tempat tidur.
Rangga sudah duduk dan menggenggam tangan Rina, ia memandang Rina dengan sangat piluh dan langsung menundukkan kepalanya, ia terlihat sangat bersalah, air matanya berjatuhan menandakan rasa pedih yang teramat dalam. Lisa yang melihatnya ikut bersedih ia pun berusaha untuk menguatkannya.
"Mas Rangga harus sabar, jangan begini ya Mas." ujar Lisa.
Rangga hanya mengangguk tanda ia mendengar apa yang adiknya ucapkan. Tak lama kemudian terdengar suara azan yang berkumandang, Rangga terengah mendengar itu, dengan menengadahkan tangannya Rangga berdoa sambil menangis.
"Ya Allah, aku mohon tolong selamatkan Rina, aku berjanji akan menjaganya lebih baik lagi dari ini." ucap Rangga dengan penuh harapan.
Rangga beranjak dari tempat duduknya, ia pamit kepada Lisa untuk ke masjid, Rangga meminta Lisa untuk menjaga Rina selama Rangga pergi. Lisa dengan senang hati menuruti permintaan Kakaknya, ia berganti duduk di kursi yang tadinya di duduki oleh Rangga.
Saat Rangga sudah pergi keluar dari kamar untuk menuju masjid. Tiba-tiba Lisa melihat ada gerakan dari jari jemari Rina. Lisa yang tadinya sedih seketika tersenyum bahagia, ia langsung berdiri dan berulang kali memanggil nama Rina.
Rina akhirnya mulai membuka mata perlahan, pandangannya masih kabur, wajahnya terlihat sangat pucat. Rina menoleh ke kiri dan ke kanan melihat sekelilingnya, ia terlihat sangat bingung. Hingga pandangannya terhenti di satu sosok, ia melihat Lisa yang berada tepat di sampingnya.
"Kamu siapa? Ini dimana? Dan kenapa aku?" tanya Rina seolah berusaha mengingat semuanya namun yang didapat hanya rasa sakit di kepalanya yang berdenyut.
"Ini aku Lisa, Kak!" seru Lisa menjawab dengan sangat heran tidak terlintas dipikiran Lisa bahwa Rina ternyata sudah amnesia.
__ADS_1
Rina yang kesakitan terus memegangi kepalanya, ia mulai merintih dan mengaduh tanda sakit yang ia rasa semakin terasa. Lisa segera menenangkan Rina namun semua usaha yang ia lakukan selalu menemui kegagalan.
Terbesit dipikiran Lisa untuk mengejar Rangga, ia ingat Rangga saat itu belum pergi terlalu lama. Lisa dengan tergesa-gesa meninggalkan Rina seorang diri di kamarnya, ia berusaha untuk mengejar Rangga.
Setelah keluar dari kamar, Lisa melihat ke arah petunjuk di dinding rumah sakit, arah kemana dia harus menemukan mesjid tempat tujuan Rangga. Lisa berlari di koridor rumah sakit, ia melihat dari kejauhan lift yang terbuka dan di dalamnya terlihat Rangga sudah berdiri sana.
Lisa semakin menambah kecepatan larinya, ia ingin berteriak tapi ini di rumah sakit ia takut menggangu ketenangan pasien lain. Sampai pada akhirnya pintu lift pun tertutup dan Lisa terlambat. Dengan terengah-engah Lisa mulai mengatur nafasnya dan berusaha untuk tetap tenang.
Lisa akhirnya hanya bisa menunggu Rangga kembali, karena ia tidak bisa menghubungi Rangga, dikarenakan handphone Rangga yang tertinggal di rumah.
Lisa kembali teringat keadaan Rina di dalam kamarnya, ia pun memutuskan untuk kembali dengan segera.
Setibanya di kamar Rina, Lisa sangat kaget, karena di sana tampak Mega sudah bersama Rina yang kini terlihat jauh lebih tenang dan tidak ketakutan sama sekali.
Rina juga mulai menyadari kedatangan Lisa, ia teringat dengan apa yang baru saja Mega katakan kepadanya. Rina pun menoleh ke arah Lisa, ia menatap Lisa dengan sorot mata yang tajam.
"Pergi kamu, bilang sama Kakak kamu, aku tidak mau menemuinya lagi!" titah Rina dengan suara lantang.
Senyum bahagia yang teraut dalam wajah Lisa, seketika buyar mendengar ucapan Rina. Lisa bingung dengan sikap Rina terhadapnya.
"Kali ini benar-benar membuatku bingung, ada apa dengan Kak Rina?" tanya Lisa dalam hatinya.
Suara Rina semakin lantang terdengar, membuat Lisa perlahan mundur karena merasa tak enak akan pengusiran yang Rina lakukan. Lisa menurutinya, ia melangkah keluar dari kamar walau dengan berat hati.
__ADS_1
Namun saat Lisa akan keluar ia melihat ke arah Mega yang saat itu sedang tersenyum sinis tanda kemenangannya.
Lisa tak punya kuasa untuk melawannya, bahkan ia tak mampu membuka suaranya untuk menjelaskan kepada Rina, bahwa sebenarnya yang patut ia takuti dan ia benci adalah sosok Mega orang yang saat ini berada didekatnya.
Setelah Lisa keluar, keadaan Rina kembali normal. Rina terdiam, ia merasa seperti ada perasaan yang berbeda saat ia mengusir Lisa keluar.
Rina mencoba kembali mengingat semuanya, sakit di kepalanya berdenyut lagi sangat hebat, Rina mulai memegangi kepalanya tanda ia kesakitan. Mega yang ada di dekatnya berusaha untuk menenangkannya.
"Kamu sekarang jangan mikir yang aneh-aneh, nanti kepala kamu sakit lagi, percaya saja sama aku ya." tutur Mega mencoba menenangkan Rina.
Rina yang masih memegang kepalanya hanya bisa mengangguk dan bicara dalam hatinya.
"Aku saat ini hanya bisa percaya pada Mega, aku sudah coba tapi tetap saja aku tidak ingat apapun." batin Rina pasrah.
Rina kembali tenang dan rasa sakitnya mulai berkurang saat ia berhenti untuk mengingat sesuatu.
Lisa yang berada di luar kamar, menangis tersedu. Ia terduduk di kursi panjang depan kamar Rina sambil menunggu kedatangan Rangga kembali.
"Mas Rangga pasti akan sangat sedih jika tahu kondisi Kak Rina yang tidak ingat apapun." gumam Lisa lirih.
****
Bersambung✍️
__ADS_1