Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Rina Terkejut


__ADS_3

Viska pun mendengar percakapan Adi dan Rina, ia pun langsung memotong percakapannya.


"Maaf ya Rin, aku udah ngasih tahu Papa kamu." ucap Viska seraya memberikan kode kepada Adi.


"Eh iya Papa tahu dari Viska, gak apa-apa ya Rin." ujar Adi yang lega.


"Iya gak apa-apa." ucap Rina tampak ragu.


Mereka pun menaiki mobilnya, Adi duduk di depan dengan Ryan yang mengemudikan kendaraan, Vara dan Yoga di kursi belakang dan Rina juga Viska berada di tengah.


Mobil melaju menelusuri jalanan Ibukota yang padat, menuju ke rumah Rina. Mereka pun melintasi Jalan Jendral Sudirman.


"Viska kita mampir dulu ke kantor kita yang dulu ya, ada janji yang harus kamu tepati kan." ucap Rina mengingatkan Viska.


"Ya ampun, iya iya." ujar Viska tidak punya pilihan.


"Sabar ya sayang nanti aku bantuin, gak apa-apa ya Pak Adi kita mampir sebentar." ucap Ryan.


"Iya gak apa-apa silahkan saja." sahut Adi menjawab.


20 menit kemudian.

__ADS_1


Tibalah di parkiran kantor mereka yang dulu, Ryan ternyata juga sudah tidak lagi bekerja di kantor itu semenjak Viska dan Rina keluar. Ryan memarkirkan kendaraannya di halaman Kantor, mereka bertiga pun turun, sementara Adi dan kedua anaknya menunggu di kendaraan dengan mobil dan AC yang masih menyala, karena memang saat itu cuaca lumayan cerah dan sangat panas.


"Kangen ya Vis, udah lama gak ke sini." ucap Rina.


"Iya Rin, aku juga kangen dulu kita setiap hari sibuk di sini, tapi semenjak proyek Angga itu membuat kita jadi harus kena masalah hingga kamu harus dikeluarkan." ujar Viska kesal mengingat itu.


"Udah sayang gak usah dibahas yang sudah lewat, ayo gak enak sama Pak Adi." ucap Ryan.


Viska pun melihat halaman kantor yang jauh berbeda tidak sama dengan saat ia bekerja dulu.


"Kenapa ini jauh lebih luas daripada yang dulu? Ah, capek pasti aku, huft." keluh Viska.


"Ayo sayang aku bantu." ucap Ryan seraya memberikan sapu kepada Viska yang sudah ia ambil.


"Iya iya." ucap Viska sambil melihat Ryan.


Mereka berdua menyapu halaman, walau cuaca tampak panas, namun Ryan dan Viska tetap suka cita menjalaninya.


"Kamu nyesel gak pacaran sama aku." tanya Ryan.


"Gak aku gak nyesel, yang aku sesalkan adalah kenapa aku bisa berkata seperti itu padahal saat itu sebenarnya aku sudah suka sama kamu, mungkin karena aku gengsi mengakuinya." ucap Viska jujur pada Ryan.

__ADS_1


"Gak apa sayang, walau harus nyapu di gurun pasir pun aku gak akan lelah asal berdua sama kamu." ucap Ryan romantis.


"Cie.. Cie.. Kalian romantis banget, sampai mau nyapu di gurun pasir, emang gak capek tapi mati kehausan, hahaha." canda Rina menyindir Ryan.


"Hahaha iya ya Rin, aku mah ogah nyapu di gurun pasir, mending aku nyapu di Gunung Sahari aja deh rumah nenek aku." ucap Viska tertawa.


"Iya sayang itu kan cuma perumpamaan, istilahnya itu menggambarkan bahwa asal berdua sama kamu, walau keadaan susah apapun aku tidak akan bosan dan lelah." ujar Ryan puitis.


"Rangga kaya Ryan begini gak sih Rin, lebay orangnya." tanya Viska kepada Rina, ia lupa bahwa Rina belum tahu kalau Rangga ternyata masih hidup.


"Rangga juga sama romantis tapi dia gak lebay kaya Ryan, tapi kamu bersyukur Viska, Ryan masih selalu di samping kamu, sedangkan Rangga aku hanya bisa melihatnya di foto." piluh Rina penuh kesedihan.


Viska meletakkan sapunya, ia lalu menghampiri Rina, ia tidak kuat menyimpan rahasia ini lebih lama, karena ia tidak mau melihat Rina larut dalam kehancuran.


Dengan memegang bahu Rina, Viska berkata, "Rangga masih hidup Rina." tutur Viska dengan menatap Rina.


"Apa? Rangga masih hidup, bagaimana mungkin Viska?" kaget Rina tak menyangka.


*****


Bersambung✍️

__ADS_1


__ADS_2