
Bi Imah teringat tentang masa lalunya.
Flashback ON
23 Tahun yang lalu
Saat itu keadaan Bi Imah dan suami sangat memprihatinkan, untuk makan saja mereka belum tentu bisa memenuhinya. Bi Imah bekerja sebagai kuli nyuci dari rumah ke rumah, dengan bayaran itu Bi Imah selalu menabung untuk biaya persalinannya, karena Bi Imah sedang mengandung. Suami Bi Imah bekerja sebagai tukang ojek pangkalan.
Suatu hari kecelakaan menimpa suaminya yang mengakibatkan Bi Imah harus kehilangan suaminya, dari situlah Bi Imah merasakan kehidupan yang berat dan pedih, karena ia yang sedang hamil 9 bulan harus memikul beban untuk mencari nafkah, untuknya juga calon anaknya.
Pada akhirnya Bi Imah dapat melahirkan anak perempuannya dengan sehat dan selamat. Bi Imah memberikan nama anaknya Nafira Putri Riansyah. Bi Imah pun bersyukur karena uang tabungan yang selalu ia simpan cukup untuk membiayai persalinan putrinya.
Masalah timbul setelah melahirkan, Bi Imah merasa sangat berat untuk bisa menghidupi putrinya karena Bi Imah tidak bisa bekerja dengan membawanya, untuk membayar orang lain atau menitipkan putrinya Bi Imah tidaklah sanggup dan tidak ada sanak saudara di Jakarta. Bi Imah adalah seorang janda yang telah hamil, maka itu ia sangat berterima kasih dan mencintai suaminya yang mau menikahinya untuk menjadi Ayah dari anak yang ia kandung dan menerima kondisi Bi Imah yang sedang hamil.
Setelah sebulan melalui kehidupan yang berat, Bi Imah yang depresi dan sangat bingung akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah yang sebenarnya sangat berat untuk dirinya tapi ia berfikir semua demi kebaikan anaknya, ia tak mau anaknya mengalami penderitaan seperti halnya dirinya. Akhirnya malam itu, Bi Imah berencana untuk membuang anaknya di salah satu komplek perumahan mewah.
__ADS_1
"Maafkan Ibu, Nak! Ibu gak mau kamu merasakan penderitaan seperti Ibu, Ibu sayang kamu Nak, makanya Ibu melakukannya ini, semua demi kebaikan kamu." gumam Bi Imah.
Bi Imah menoleh kiri dan kanan, terlihat aman ia dengan segera meletakkan keranjang yang sudah berisi anaknya itu di depan pintu salah satu rumah di sana.
Bi Imah menatap sedih anaknya. Walau berat namun baginya ini jalan yang terbaik untuk kebahagiaan putrinya, Bi Imah pun segera pergi karena suara tangis putrinya sudah mulai terdengar.
Bu Imah masih mengamati putrinya dari balik pepohonan, tampak ada seorang laki-laki yang kaget dengan adanya bayi di depan pintu rumahnya.
"Mah, Mah.. Ini ada bayi mah, cepat ke sini." ujar laki-laki tersebut.
Di sini tampaklah Adi dan Sarah sangat terkejut karena mendapat ada seorang bayi perempuan di depan rumahnya, Sarah pun menggendong bayi perempuan itu. Adi sempat memeriksa sekitarnya untuk memastikan ada tidaknya orang yang dengan sengaja meletakkan bayi tersebut di depan pintu rumah mereka. Namun setelah mencari setiap sudut, Adi tetap tidak menemukannya karena Bi Imah sudah pergi.
Flashback OFF
__ADS_1
"Bi, kok bengong kenapa Bi?" ujar Vara.
"Eh, Neng, gak apa-apa kok." sahut Bi Imah terkejut sekali, tersadar dari lamunannya.
"Bi jangan bengong aja, kenapa Bibi sakit? Kalau Bibi capek istirahat aja." ujar Rina.
"Iya Mba. Bibi sehat kok! Bibi hanya bahagia aja, ngelihat Mba. Bibi jadi membayangkan pernikahan Mba nanti." ujar Bi Imah mencoba mengalihkan wacana.
"Iya Bi, aku juga sangat bahagia dan sekarang aku sudah tidak takut lagi dengan ancaman Angga." ucap Rina yakin.
Kebahagiaan sangat indah terasa, senyum Rina dan Rangga membuat Bi Imah bergetar.
"Nak, Ibu akan selalu menemani kamu, walau kamu tidak tahu Ibu, biarlah Ibu yang menyayangimu dengan tulus dalam diam Ibu." gumam Bi Imah lirih.
*****
__ADS_1
Bersambung
Tinggalkan koment dan like nya ya!