
Bandara Soekarno Hatta
Terlihat sepasang kaki melangkah menuju lobi Bandara. Wanita cantik berusia sekitar 23 Tahun. Sesampainya di lobi, ia segera menaiki taksi. Taksi pun melaju meninggalkan bandara.
****
Di rumah Rangga.
Rangga terlihat sedih memikirkan Rina.
"Rin, kamu kemana? Aku sudah mencari kamu kemana saja tapi tetap saja aku tidak bisa menemukanmu." gumam Rangga.
Reza sudah dari semalam memerhatikan Rangga kelihatan banyak masalah, terlihat dari raut wajah Rangga yang sangat penat.
"Rangga, Papa lihat dari semalam kamu murung terus, cerita ke Papa apa yang sebenarnya terjadi selama Papa tidak ada di Jakarta?" tanya Reza kepada anaknya.
Reza Hardian Nugraha berusia 49 Tahun. Ia bekerja sebagai Kepala rumah sakit di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta. Ia baru kembali ke Jakarta setelah seminggu ini ada urusan rumah sakit, yang membuatnya harus pergi ke Surabaya.
Mendengar Ayahnya menyapa, Rangga berusaha menutupi kesedihannya.
"Masalah Rina, Pah." ucap Rangga.
"Kenapa lagi dengan calon istri kamu itu?" ketus Reza bertanya.
"Rina hilang Pah, aku sudah berusaha mencarinya tapi hingga kini aku belum juga menemukannya." tutur Rangga.
Reza kaget mendengar cerita Rangga. Ia tak habis pikir begitu banyak masalah yang menimpa Rina dan itu membuatnya kasihan dengan Rangga.
"Lantas bagaimana dengan gedung dan segala sesuatunya yang sudah kamu persiapkan? Harinya sudah semakin dekat." tutur Reza menanyakan.
"Aku akan batalkan saja Pah." ucap Rangga tak punya pilihan.
"Tidak usah kamu batalkan, seperti yang Papa sering katakan sama kamu, Papa berniat akan menikahkan kamu dengan Viona, teman masa kecil kamu." tutur Reza.
Rangga tidak menyangka Ayahnya akan mengucapkan kata-kata tersebut, itu membuatnya sangat kesal.
"Aku tidak mau Pah." geram Rangga menolak.
"Kamu tidak bisa menolak, Papa tidak mau kamu membatalkan semua yang sudah kamu persiapkan, untuk undangan yang sudah tercetak tidak apa, akan Papa buatkan lagi." ujar Reza.
"Tapi aku mencintai Rina, Pah." tegas Rangga.
__ADS_1
"Kamu dan Rina terlalu banyak masalah kalau Papa perhatikan. Lagipula cinta itu bisa datang di saat kalian sudah menikah, dulu Papa dan Mama kamu juga begitu." tutur Reza menceritakan pengalamannya.
Rangga terdiam tak menjawab apapun, walau Rangga tidak suka dengan apa yang Ayahnya bicarakan, namun ia tidak bisa membantahnya. Ia tidak mau penyakit jantung yang di derita Ayahnya sewaktu-waktu bisa kambuh kembali.
"Kasih waktu aku Pah." pinta Rangga.
Reza berpikir dan memberikan kesempatan.
"Papa kasih waktu kamu seminggu. Jika dalam seminggu kamu tidak bisa menemukan Rina, kamu harus terima keputusan Papa, untuk menikah dengan Viona." tutur Reza memberi ultimatum.
Rangga tak menduga persyaratan yang di lontarkan Ayahnya, sungguh sangat memberatkannya, karena waktunya terlalu singkat.
"Seminggu Rin, semua impian kita di pertaruhkan di sini, cepat pulang Rin, cepatlah ingat kembali kalau aku dan kamu itu saling mencintai." gumam Rangga.
"Baik Pah." ucap Rangga pasrah seraya menghela nafasnya.
*****
Sampailah wanita itu ke sebuah rumah, rumah yang tidak asing lagi untuknya karena memang sudah sejak lama ia tidak pernah berkunjung.
"Aku tidak memberitahunya kalau aku hari ini pulang ke Jakarta, dia pasti akan terkejut melihatku." tutur Viona.
Raut wajah rindu tampak di wajahnya. Ia pun masuk mengetuk pintu terlebih dahulu.
Suara pintu terdengar membuat percakapan Rangga dan Reza terhenti. Rangga melangkah untuk membukakan pintunya. Saat pintu terbuka, Rangga tak menyangka Viona yang jadi topik pembicaraan dengan Ayahnya sejak tadi, kini sudah tiba di depan pandangan matanya.
"Viona." ucap Rangga terbata.
*****
Di dalam mobil.
Darren yang masih khawatir dengan Rina, meminta Sherra untuk ikut mencarinya. Sherra mau tidak mau mengikuti keinginan Darren, walau sebenarnya ada rasa cemburu di hati Sherra.
"Darren padahal baru bertemu sekali dengan wanita itu, tapi dia begitu khawatir sekali. Apakah kalau aku hilang Darren akan mencariku juga sama seperti yang dia lakukan sekarang?" batin Sherra bertanya lirih.
Setelah beberapa lama berkutat dengan kemacetan, akhirnya Darren menemui jalan buntu karena ia tidak mempunyai petunjuk untuk dapat menemukan Rina. Darren pun memutuskan untuk melaporkan ini ke pihak kepolisian terdekat dari mansion. Mobil melaju kembali ke arah mansion menuju kantor polisi.
Di dalam kantor polisi.
__ADS_1
Riansyah begitu malu mendengar cerita dari Angga, kenyataan bahwa anak yang selama ini ia sia-siakan demi harta dan kekuasaan, kini ada di depan matanya dan yang lebih parahnya lagi, Angga sebagai Kakak telah menodai kehormatan adiknya sendiri. Riansyah sangat kesal dengan dirinya sendiri, ia melangkah dengan berat menghampiri Rina. Setelah tepat berada di depan Rina, ia hanya mampu memandanginya tanpa berkata sepatah kata pun.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Rina yang heran melihat Riansyah hanya mematung di depannya.
Mendengar suara Rina, Riansyah mulai bergeming, lidahnya tak lagi kelu, rasa rindu dan rasa bersalah bercampur menjadi satu di hatinya.
"Iya, Nak! Nama kamu Rina ya?" tanya Riansyah mulai membuka suaranya.
"Betul Pak, Bapak ke sini mau melapor juga ya?" jawab Rina sekaligus bertanya balik.
"Saya sedang menjenguk anak saya di penjara." ucap Riansyah.
"Anak Bapak di penjara kenapa pak?" tanya Rina kaget.
"Anak saya di penjara karena gugatan kamu." jawab Riansyah.
Kata-kata yang membuat Rina begitu bingung, karena di satu sisi saat ini ia tak bisa mengingat akan hal apapun.
"Tapi kesalahan apa yang anak Bapak telah buat terhadap saya sampai saya harus menggugat hukum ke anak Bapak?" tanya Rina heran.
"Bolehkah kamu ikut dengan saya, untuk menemui anak saya?" pinta Riansyah.
Rina sebenarnya tidak ingin, namun ia kembali berpikir mungkin ini sebagai petunjuk untuk dirinya menemukan jalan agar ingatannya bisa kembali.
"Baik Pak." kata Rina mengiyakan.
Riansyah menuntun Rina untuk menemui Angga. Rina mengikuti langkah Riansyah di belakangnya. Sampai akhirnya ia sudah tiba di tempat kunjungan tahanan, Rina dapat melihat Angga sudah duduk menunggunya, kini mereka hanya di batasi oleh sekat kaca.
Riansyah memberikan ruang untuk Rina, ia pergi menjauh, karena memang hanya 1 orang yang dapat berkomunikasi dengan Angga. Rina mengambil telepon yang sudah tersedia sebagai alat komunikasi.
"Hi, Rina kamu apa kabar?" sapa Angga bertanya.
"Hi juga, aku di bilang baik juga gak, nama kamu siapa ya?" tanya Rina yang mulai mencoba mengingat sesuatu, namun malah membuat kepalanya sedikit sakit.
"Aku tahu kamu marah denganku, aku minta maaf." ujar Angga.
"Marah! Memang apa yang kamu telah lakukan sampai aku harus marah?" tanya Rina mulai mengernyit sakit di kepalanya karena ia mencoba mengingat tentang Angga.
"Aku heran kenapa kamu bisa lupa atau kamu pura-pura lupa untuk mempermainkan aku." tutur Angga.
"Aku sedang tidak mempermainkanmu, aku memang saat ini sedang mengalami Amnesia, aku tidak ingat apapun tentang kamu, tentang Rangga, bahkan tentang keluargaku, yang aku ingat hanya Siska dan Mega." tutur Rina yang mulai mempertegas suaranya.
Angga sangat tidak menyangka, ia terkejut mendengarnya, tapi ia jadi mempunyai suatu rencana agar dapat bebas dari penjara.
__ADS_1
****
Bersambung ✍️