Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Kondisi Viona


__ADS_3

Ambulance memasuki lobi rumah sakit, dengan cepat Paramedis dan Suster mengeluarkan Viona untuk membawanya ke ruang IGD. Rangga mengikutinya dengan sangat cemas. Rangga memang ikut di dalam ambulance, maka itu ia bisa cepat sampai di rumah sakit. Sementara Rina, Siska dan Angga yang menyusul di belakangnya masih tertahan oleh kemacetan.


Viona sudah di tangani oleh Dokter di dalam ruang IGD, Rangga terduduk lemas menunggunya.


"Vio, kenapa kamu seperti ini. Selamatkan Vio ya Allah. Aku tidak ingin Viona kenapa-kenapa." ucap Rangga menahan rasa cemasnya.


Beberapa lama kemudian setelah penanganan yang cukup lama, Dokter akhirnya keluar dari ruang IGD.


Rangga yang melihatnya segera beranjak menghampiri Dokter.


"Dokter, bagaimana keadaan Viona?" tanya Rangga panik terlihat dari wajahnya.


"Begini Mas, keadaan pasien kritis, karena terjadi pendarahan parah di kepalanya, penyebabnya karena benturan yang sangat keras di bagian kepala." tutur Dokter menjelaskan.


"Tolong selamatkan Viona, Dok." kata Rangga memohon.


"Kami akan melakukan segala cara yang terbaik untuk menyelamatkan pasien, walau kecil kemungkinannya, tapi kami tetap berusaha dengan maksimal." ujar Dokter mengakhiri informasinya seraya pergi berlalu meninggalkan Rangga.


Pikiran Rangga sangat kacau mendengar apa yang Dokter sampaikan. Ia tak kuasa menahan air matanya hingga membasahi kedua kelopak matanya. Rangga beberapa kali mengerjapkan matanya sambil berdoa meminta keselamatan untuk Viona.


Tanpa Rangga sadari dari kejauhan terlihat seorang laki-laki terus mengamatinya.


"Lagi-lagi wanita itu membuat pekerjaanku menjadi gagal untuk kedua kalinya, tapi kenapa sekarang aku merasa lemah dan bersalah seperti ini." gumam laki-laki misterius yang terlihat kesal.


****


Di dalam mobil.


Terlihat Rina sedang menangis dipelukan Siska di kursi belakang dengan Angga yang mengemudikan mobil.


"Aku takut Sis, wanita itu sampai meninggal karena aku, aku lihat darahnya begitu banyak mengalir." kata Rina sambil menangis tersedu.


Siska mengusap rambut Rina berusaha menenangkannya.


"Kita berdoa ya Rina, semoga wanita itu bisa selamat dan baik-baik saja, kamu sabar ya kita sebentar lagi sampai rumah sakit." tutur Siska tetap tenang walau ia sendiri sangat kaget karena tabrakan itu terjadi di depan matanya.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa orang yang ingin dengan sengaja menabrak Rina." gumam Angga yang beberapa kali melihat Rina dari kaca tengah mobilnya.


Tak lama mobil tiba di parkiran rumah sakit, mereka pun turun dan bergegas menuju lobi.


"Suster korban tabrak lari yang barusan tiba di rumah sakit ini, bagaimana keadaannya?" tanya Angga kepada bagian resepsionis rumah sakit.


"Pasien masih dalam penanganan Pak, sekarang ada di ruang IGD, Bapak bisa tunggu di depan ruang IGD nanti Dokter yang akan menjelaskan kondisinya." tutur Resepsionis memberitahu.


Angga memberitahu Rina dan Siska apa yang Resepsionis sampaikan, mereka bergegas menuju ke depan ruang IGD untuk menunggu.


Rangga yang masih menunggu terlihat hanya menunduk dan sangat terlihat sedih dengan apa yang menimpa Viona, karena baginya mau bagaimanapun Viona adalah sahabat masa kecil, ia tidak mau kehilangan Viona terlebih dengan cara yang seperti ini.


Tiba-tiba terlintas dipikiran Rangga penabrak yang membuat Viona sampai harus terbaring lemah di rumah sakit, wajah Rangga memerah padam menahan amarahnya, ia bertekad akan menemukan pelakunya dan memberikan pelajaran atas apa yang telah dilakukannya.


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah Rangga, ia menoleh ke arah suara yang datang, betapa terkejutnya Rangga melihat sosok laki-laki yang sudah ia jebloskan ke dalam penjara, kini ada di depan matanya. Rangga beranjak dari duduknya, ia berlari mendekati Angga dan langsung memukul Angga dengan keras. Angga jatuh terjerembab ke lantai, ia tak membalas pukulan telak dari Rangga, Angga hanya diam sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


Rina yang melihat kejadian itu terperangah kaget tak menyangka, atas pertikaian yang melibatkan Rangga dan Angga. Siska lalu menahan Rangga dengan berdiri di depannya yang terlihat ingin kembali maju untuk menghajar Angga.


"Sudah Rangga, kamu harus tahu, Angga adalah Kakak Tiri Rina, karena Rina adalah anak dari Riansyah, Ayah kandung Angga." tutur Siska membuka rahasia masa lalu Rina.


"Tidak mungkin, mana mungkin Rina adalah adik Angga." bantah Rangga dengan geram.


"Betul Rangga, kalau kamu tidak percaya, pergilah temui Bi Imah tanyakan padanya siapa Ayah kandung Rina yang sebenarnya." ucap Siska dengan suara yang tegas.


Rangga terdiam berusaha mencerna segala perkataan Siska. Rangga melangkah perlahan mendekati Rina. Namun saat Rangga semakin dekat, Rina malah terlihat takut dan melangkah mundur menjauhi Rangga. Rina semakin mundur hingga tubuhnya terbentur oleh dinding yang menahannya. Langkah Rangga terhenti tepat dihadapan Rina, kini ia bisa merasakan hembusan nafas Rina yang terdengar sangat tidak beraturan.


"Kenapa kamu begitu takut denganku, Rina?" tanya Rangga menatap mata Rina.


"Aku.. Aku hanya belum mengingat semuanya tentang kamu." jawab Rina parau.


"Jika kamu tidak ingat dengan aku, apakah hati kamu tidak bisa mengenali cinta yang aku miliki?" tanya Rangga yang semakin dalam menatap Rina.


Rina beberapa kali mengerjapkan matanya sambil menelan ludahnya dalam-dalam, Rina hanya diam tenggelam dalam tatapan mata Rangga yang begitu tajam melihatnya. Ia tak mampu menjawab pertanyaan terakhir yang dilontarkan oleh Rangga.


Angga yang melihat Rina semakin tersudut, datang mendekati Rangga dan menarik tubuh Rangga dengan kencang, lalu mendorongnya keras hingga Rangga menjauh dari Rina.

__ADS_1


"Jangan kamu paksakan Rina untuk mengingat kamu." geram Angga kesal.


Rangga yang ingin maju untuk kembali memukul Angga, tiba-tiba menghentikan langkahnya karena melihat Dokter sudah keluar dari ruang IGD. Rangga langsung bergegas menghampiri Dokter untuk menanyakan kembali kondisi Viona.


"Dokter, bagaimana sekarang kondisi Viona?" tanya Rangga dengan cemas.


"Ini suatu keajaiban Mas, saudari Viona saat ini berhasil melewati masa kritisnya, kemungkinan semangat hidup yang saudari Viona miliki begitu besar, hingga membuatnya dapat lolos dari masa kritisnya." tutur Dokter memberi kabar bahagia.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, KAU telah selamatkan Viona." ucap Rangga yang wajahnya sudah kembali tersenyum bahagia.


Dokter pun berlalu untuk melanjutkan pekerjaan. Rangga yang kembali menatap Angga dengan pandangan tajamnya, melangkah mendekati Angga kembali. Namun sesaat sebelum Rangga memukul Angga, Siska datang memisahkan dengan berdiri di antara keduanya.


"Sudah ini rumah sakit, tidak baik kalian bertengkar di sini." kata Siska sambil menahan Rangga dengan tangannya untuk berhenti mendekati Angga.


Tiba-tiba Angga menyingkirkan Siska dari depan jalannya untuk Rangga dapat mendekatinya, dengan memberikan kode kepada Siska tanda semua akan baik-baik saja. Siska akhirnya mengikuti kemauan Angga ia pun menyingkir.


"Jika kamu ingin memukulku berulang kali, lakukanlah aku tidak akan melawan, tapi semua tidak akan mengembalikan semuanya." ujar Angga yang bersiap diri menerima serangan Rangga lagi.


"Ketahuilah Rangga, aku sangat menyesali semua yang telah aku lakukan terhadap adikku, tapi aku berjanji akan menebusnya di sisa usiaku. Saat ini aku akan menjaga dan melindunginya selayak Kakak melindungi Adiknya." imbuhnya dengan tegas.


Rangga terkekeh mendengar perkataan Angga, ia seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Sementara Rina kembali menekankan kalimat dari apa yang Angga ucapkan.


"Sebenarnya apa yang telah Angga lakukan denganku sampai dia begitu menyesalinya." gumam Rina heran.


Rangga pun mengacuhkan Angga ketika suara seorang Suster terdengar memanggilnya. Suster tersebut memberitahu bahwa saat ini Viona telah sadar dan ingin bertemu dengan Rangga


Rangga melangkah meninggalkan Angga untuk bertemu dengan Viona.


****


Bersambungโœ๏ธ


Halo Readers ๐Ÿค— Tekan like jika sudah membaca, sematkan komentar dan juga vote kalian ya. ๐Ÿ˜Š๐Ÿค—๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2