Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Kedatangan Andrean


__ADS_3

Terlihat sepasang kaki turun dari mogenya. Ia memasuki lobi rumah sakit dan menuju ke lift. Pintu lift terbuka dan ia pun masuk. Lift telah tiba di lantai yang ia tuju. Laki-laki itu keluar dan segera menuju ruang rawat Viona.


Sesampainya di sana Angga yang terlihat sedang duduk di samping Rina di depan ruang rawat Viona, melihat kedatangan laki-laki itu. Angga menatap tajam mewaspadai laki-laki asing mendekatinya juga Rina. Angga lalu berdiri di depan Rina untuk melindunginya. Rina yang melihat kehadiran laki-laki itu pun merasa takut. Namun wajah laki-laki itu sangat terlihat jelas, tidak seperti penabrak yang mengenakan pelindung untuk menutupi wajahnya.


"Tampan sekali laki-laki ini, apa mungkin dia penabrak yang tadi di mall." gumam Rina terus menatap laki-laki asing itu.


Tibalah laki-laki itu dihadapan Angga.


"1109." ucap laki-laki itu memberikan sebuah kode kepada Angga dengan suara yang berat.


Angga langsung teringat dengan pesan yang dikirim oleh Riansyah. Kode bodyguard yang akan datang ke rumah sakit untuk mulai mengawal Rina. Angga akhirnya bisa bernafas lega.


"Oke kode diterima." sahut Angga yang sudah tenang mengetahui bodyguard kiriman Riansyah sudah datang.


"Saya Angga, Kakak dari Rina, wanita ini yang harus kamu kawal kemanapun dia berada." imbuhnya memberi perintah.


"Apa! Bodyguard, jadi Papa mengirim bodyguard ini untuk mengawalku." gumam Rina yang terperanjat kaget dan masih menatap laki-laki itu.


Namun saat Angga seolah ingin duduk, ia malah melancarkan satu pukulan ke arah laki-laki itu, tapi dengan mudah laki-laki itu mematahkan serangan Angga, bahkan ia memegang dan memelintir tangan Angga, hingga membuat Angga meringis kesakitan.


"Oke.. Oke.. Cukup." keluh Angga merasakan tangannya hampir patah dibuatnya.


"Saya hanya mau tahu kemampuan kamu, ternyata Ayah saya tepat mengirim bodyguard." imbuhnya yang tidak lagi sakit karena tangannya sudah dilepas oleh laki-laki itu.


"Tidak usah cemas, terbaik adalah nama belakang saya, siapapun tidak akan ada yang bisa melukai Nona Rina." ucapnya dengan sorot mata yang tajam.


Angga lalu mengenalkan laki-laki itu kepada Rina, yang sudah sejak tadi ia terkejut karena Riansyah mendatangkan bodyguard untuk mengawalnya.


"Siapa namamu jika aku ingin memanggilmu, tidak mungkin dengan kode itu aku menyebutmu kan?" tanya Rina.

__ADS_1


"Panggil aku Andrean, itu memang bukan nama asliku, tapi selama aku menjaga Nona, Nona bisa memanggilku dengan nama itu." jawab Andrean memberitahu.


Rina merasa risih dengan sebutan Nona yang terdengar sangat aneh di telinganya.


"Kamu cukup panggil aku Rina saja, tidak usah Nona segala!" titah Rina yang tidak suka dengan sebutan Nona tersambung di namanya.


"Baik, terserah Rina." kata Andrean menyudahi.


Andrean lalu melangkah untuk berdiri di seberang Rina, sambil bersandar di dinding ia terus mengamati sekitar lorong rumah sakit.


"Kak, tidak perlu sebenarnya pakai bodyguard segala, aku ini bukan orang istimewa untuk di jaga." ucap Rina menolak.


"Memang siapa yang bilang kamu istimewa." ucap Angga menimpali.


"Papa hanya ingin kamu ada yang menjaga, aku sudah diskusi dengan Papa masalah ini di telepon, karena ini masalah berat, ada pembunuh yang sedang berkeliaran mau membunuhmu." ujar Angga menjelaskan.


"Tidak, kamu itu wanita yang baik! Aku janji akan mencari tahu siapa dalang dari kejadian ini, karena aku yakin pembunuh itu pasti ada yang memerintahkannya." tutur Angga geram mengingat pembunuh itu.


Rina hanya mengangguk menuruti perkataan Angga.


Tak lama Rangga akhirnya keluar dari ruang rawat. Ia pun melangkah mendekati Rina untuk membicarakan tentang langkah yang ia ambil untuk menikah dengan Viona. Namun saat Rangga semakin dekat, Andrean dengan segera berdiri di depan Rina dan memerintahkan kepada Rangga untuk berhenti.


"Hentikan langkah Anda, jangan mendekat lebih dekat lagi dengan Rina jika Anda tidak mau saya lukai." ancam Andrean dengan sorot mata yang tajam.


Namun semua ancaman itu tak membuat Rangga gentar untuk terus melangkah, ia semakin dekat hingga membuat Andrean hampir bertindak sebelum akhirnya Rina menghentikannya.


"Sudah Andrean, dia bukan musuh untukku, biar saja! Aku juga ingin bicara dengannya." ujar Rina seraya berdiri untuk berbicara dengan Rangga.


Rina akhirnya mengajak Rangga untuk lebih menjauh dari Andrean dan Angga. Di sudut lorong rumah sakit, mereka sudah saling berhadapan.

__ADS_1


"Rin, aku mau minta maaf, jika keputusan yang aku ambil ini salah untuk kita." ucap Rangga yang tersirat kesedihan dari sorot matanya.


"Maksud kamu apa Rangga?" tanya Rina heran dengan maksud kata-kata yang Rangga ucapkan.


"Aku sudah putuskan Rin, aku akan menikah dengan Viona." tutur Rangga lirih.


Entah mengapa saat mendengar perkataan Rangga, tiba-tiba kedua kaki Rina seolah lunglai, terasa tak sanggup menopang raganya untuk berdiri, padahal Rina tak mengingat apapun tentang Rangga, namun hatinya seolah merasa kehilangan saat Rangga menyampaikan bahwa ia ingin menikah dengan Viona.


"Aku tidak mengapa Rangga, kalau itu keputusan kamu, aku turut bahagia, anggap saja apa yang pernah kita lewati itu masa lalu untuk kita berdua, lagipula semua ingatan tentang kamu sampai saat ini aku belum dapat mengingatnya, aku tidak mau membuatmu kecewa, lebih baik kamu bahagia dengan Viona." tutur Rina walau seolah yakin, namun entah mengapa ada air mata yang menetes dari sudut matanya.


"Kenapa Rina menangis? Apa mungkin hatinya merasa sedih kehilangan cintanya walau ingatannya belum juga kembali." gumam Rangga menerka.


"Lagipula kamu sekarang sudah bertemu dengan orang tua kandungmu, bahkan sampai mengirim seorang bodyguard untuk menjagamu, itu membuatku lega dan aku sekarang tidak khawatir lagi memikirkanmu." tutur Rangga yang terasa berat mengatakan hal ini.


"Tadi Viona berpesan kepadaku, ia ingin bertemu denganmu." imbuh Rangga memberitahu.


"Baik aku akan menemuinya." ucap Rina seraya melangkah dengan tertatih menuju ruang rawat Viona.


Andrean mengikuti langkah Rina di belakang, namun saat Rina ingin masuk, ia menahan Andrean untuk menunggunya di depan pintu ruang rawat. Andrean mengikutinya, ia pun berdiri dan melebarkan pandangannya untuk lebih jeli mengamati sekitarnya.


Tiba-tiba titik pandangannya terhenti di kursi yang agak jauh dari tempatnya saat ini berada, di sana ia melihat seorang laki-laki seperti sedang mengawasi setiap gerak-geriknya. Andrean semakin menajamkan pandangannya pada laki-laki itu, namun sekejap buyar saat Angga memanggilnya untuk pamit ke kamar mandi. Saat Andrean kembali melihat, laki-laki itu sudah tidak ada di sana, kursi itu tampak kosong tidak ada siapapun.


"Kalau naluriku tidak salah, itulah orang yang ingin membunuh Rina, ternyata sudah sejak tadi dia mengamati Rina, pembunuh itu bukan orang sembarangan, sekali saja aku lengah, Rina bisa mati di tangan pembunuh itu." gumam Andrean.


****


Bersambung✍️


Happy reading ya semua, tekan like jika sudah membaca, berikan komentar juga vote kalian ya. Ayo ikuti juga kuisnya periode 24-31 Mei. Terima kasih atas dukungannya. 😊🤗

__ADS_1


__ADS_2