
Rina mendengar semua itu terasa tersambar petir. Air matanya mulai menenggelamkan kedua bola matanya, hingga kelopak matanya tak sanggup lagi menahan buliran air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipinya, rasa bahagia mulai terlihat dari senyumnya yang mulai merekah.
Rina akhirnya bertanya kepada Viska dengan rasa penasarannya. Viska pun menceritakan semua kepada Rina.
Setelah Rina mendengar semua cerita Rangga, ia makin rindu dan tak sabar ingin menemui Rangga.
"Rangga berkorban untuk aku sampai sejauh ini." tutur Rina kagum.
Viska mengangguk dan langsung memeluk Rina, sejenak Rina mencurahkan kebahagiaannya dipelukan Viska.
Setelah agak tenang, Rina menarik tangan Viska untuk segera ke mobil, karena ia sudah tak sabar ingin segera menemui Rangga. Ryan yang melihatnya ikut cepat menyusul keduanya.
Di dalam mobil.
Rina yang sudah mengetahuinya langsung memberitahu kepada Yoga dan Adi bahwa ia sudah tahu yang sebenarnya.
"Pantas Papa dan Yoga bicara seperti tadi di stasiun, kalian sudah tahu dari Rangga ya." tutur Rina teringat ucapan Adi dan Yoga di stasiun.
Yoga bahagia, karena melihat Rina sudah kembali tersenyum, begitu juga dengan Vara dan Adi.
"Rin, kamu harus kuat! Papa akan berusaha selalu ada walau saat ini Ibu kamu sudah tak lagi ada." gumam Adi penuh haru.
Namun di balik senyum Rina terselip kalut yang melilit hatinya. Ia teringat kejadian kelam yang menimpanya, kehormatan yang ia jaga selama ini dan hanya akan ia serahkan untuk Rangga, kini sudah tak dimilikinya lagi, semua telah dirampas oleh Angga.
45 menit kemudian.
Rumah Rina.
Mobil memasuki halaman rumah.
"Akhirnya kita sampai." ucap Adi.
__ADS_1
"Kakak masuk sana, pasti Kakak kangen banget ya sama Kak Rangga!" titah Vara.
Rina turun dari mobil dengan rasa ragu, ia melangkah menuju depan pintu rumahnya. Rina mencoba untuk sejenak melupakan ketidak sempurnaan yang ia miliki saat ini.
Rina coba mengatur nafasnya, beberapa kali ia menghela nafas untuk melepas semua pikirannya yang mengganggu. Rina pun membuka pintu rumahnya. Saat pintu terbuka tampak keadaan di dalam rumah sangat ramai.
"Surprise.." kompak terdengar suara semua orang yang berada di dalam rumah.
Di sana terlihat Siska, Mega, Bi Imah dan Lisa. Rina sangat terkejut melihat sambutan ini. Namun matanya masih mencari-cari seseorang yang selama ini selalu ia rindukan
"Rangga kemana? Rangga!" ucap Rina dengan suara keras.
Saat Rina tidak menemukan Rangga di depan matanya, ia malah menemukan sosok yang lain yang membuatnya sangat terkejut.
"Mega." ujar Rina.
"Bukannya kamu ada di luar kota, kenapa kamu ada di sini?" imbuhnya bertanya.
"Ceritanya panjang Rin, coba liat ke belakang kamu!" titah Mega seraya menunjuk.
"Rangga". ujar Rina penuh lirih.
Rina memandang Rangga penuh haru, sosok yang kini ia pikir tak dapat ia jumpai lagi, kini sosok itu ada dihadapannya. Rina memegang wajah Rangga yang sudah sangat lama ia pandangi. Mereka berdua saling menatap sangat dalam menandakan kerinduan yang begitu lama mereka pendam.
Rina pun tak kuasa menahan air matanya. Rina langsung memeluk Rangga dengan erat meluapkan semua air matanya dipelukan Rangga.
"Rangga." ujar Rina terisak.
"Aku kangen sama kamu Rin, maafkan aku ya aku pergi ninggalin kamu di saat kamu hancur tapi semua aku lakukan demi kamu." ucap Rangga seraya menenangkan Rina dengan sentuhan tangannya mengusap rambut Rina.
"Aku juga kangen kamu Rangga." ucap Rina lirih.
__ADS_1
"Rin malu tuh dilihat banyak orang." ucap Rangga mengingatkan Rina.
Rina melepas pelukannya dan mengusap air matanya, saat itu Rangga berlutut sama seperti yang dulu pernah ia lakukan, dengan menyodorkan kotak cincin yang sama, Rangga berkata, "Rina will you marry me."
Rina sangat bahagia mendengarnya, ia melihat cincin yang ia tinggalkan di meja kamarnya, cincin yang ia tidak bawa saat ke Bandung. Saat Rina ingin menjawabnya tiba-tiba bayangan pemerkosaan itu terlintas dipikirannya. Rina terdiam begitu sakit, hingga membuat kebahagiaannya sekejap sirna, menyisakan sesak di dadanya.
"Maaf Ngga aku gak bisa." ucap Rina seraya menangis berlari membalikan tubuhnya menuju kamarnya.
Semua yang berada di sana terkejut mendengar jawaban Rina.
"Ngga kejar Rina, aku mengerti kenapa dia seperti itu!" titah Siska kepada Rangga.
"Iya Kakak, ayo semangat, yakinkan Kak Rina bahwa apapun yang terjadi Kakak tetap mencintai Kak Rina." tutur Lisa menyemangati kakaknya.
Rangga bergegas menuju kamar Rina.
Rina yang menutup pintunya membuat Angga tidak bisa masuk ke dalam kamar.
"Rina, aku paham kenapa kamu menolak lamaran aku." ucap Rangga dari balik pintu kamar.
"Aku bukan Rina yang dulu Rangga, aku sudah tidak sempurna Rangga, aku tidak pantas untuk kamu." ucap Rina dengan menangis.
"Rina, bagi aku kamu sama seperti Rina yang aku cintai, tak peduli apapun yang terjadi dengan kamu, cinta aku tidak pernah berkurang untuk kamu." ujar Rangga mencoba meyakinkan Rina.
"Gak Rangga, aku gak pantas untuk kamu." ucap Rina penuh sesak.
"Baik tolong kamu pikirkan kata-kata aku, lebih baik mana, kamu kehilangan aku atau kamu tetap bersamaku, aku akan duduk di depan pintu ini menunggu kamu, kalo kamu ingin bersama aku buka pintunya." ujar Rangga seraya terduduk di depan pintu kamar Rina.
Rina beranjak dari tempat tidurnya, mendekati pintu kamar dengan terbata ia pun terduduk di sana, Rangga dan Rina saling bersandar hanya dibatasi oleh pintu yang memisahkan cinta mereka.
"Rangga aku mencintai kamu." gumam Rina penuh lirih.
__ADS_1
*****
Bersambung✍️