Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Kebaikan Hati Darren


__ADS_3

Awan gelap mulai menyelimuti langit, diikuti suara gemuruh petir yang saling beradu, menandakan hujan akan segera turun. Rina yang sudah duduk di halte busway, terlihat sangat bingung dan tidak tahu arah tujuannya.


"Aku harus kemana? Mana handphoneku tertinggal lagi, gimana ini?" lirih Rin.


Di dalam mobil.


Darren mengendarai mobil mewahnya yang baru di belikan oleh Ayahnya.



Sambil mendengarkan musik ia menikmati perjalanannya. Namun pandangannya terhenti ketika ia menangkap satu objek yang pernah dilihatnya.


"Wanita itu kan." ucap Darren.


Darren dengan mendadak menghentikan mobilnya. Namun karena mobilnya terlalu cepat ia pun jadi kelewatan, Darren lalu mencoba untuk memundurkan mobilnya agar dapat berhenti tepat di tempat Rina berada.


Darren membuka kaca mobilnya.


"Hi, kamu yang tadi di gedung kan?" sapa Darren bertanya.


Rina yang baru menyadari mobil yang mundur itu ternyata untuk menghampirinya, menjadi sangat kaget. Rina pun mencoba mengingat kejadian di dalam gedung sewaktu ia menabrak Darren.


"Iya, kamu yang di gedung itu ya." jawab Rina.


Rina sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan laki-laki yang ia temui di gedung tadi.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Darren.


"Aku.. Aku.." suara Rina terhenti oleh derasnya hujan yang tiba-tiba turun, Darren pun meminta Rina untuk naik ke mobilnya, namun karena Rina takut ia menolak ajakan Darren.


"Kamu tenang aja, aku bukan orang jahat." tutur Darren.


"Orang jahat mana ada yang mau ngaku." celutuk Rina.


"Ya udah kalau kamu gak mau naik, aku gak jamin ini tempat aman untuk kamu." ujar Darren menakuti Rina.


Rina melihat sekelilingnya, dengan cuaca yang hampir hujan dan petir semakin kencang, ia tidak mungkin terus berada di sini.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar tidak ingin pergi dengan dia, tetapi aku tidak punya pilihan." gerutu Rina di dalam hatinya.

__ADS_1


Rina dengan terpaksa akhirnya naik ke mobil Darren. Darren sempat membukakan pintu depan untuk Rina naik, namun Rina menutupnya kembali, ia memilih untuk duduk di kursi belakang.


Mobil pun melaju membelah derasnya hujan yang turun.


Di dalam mobil.


"Coba deh ceritain ke aku, kenapa kamu bisa ada di halte busway tadi?" tutur Darren bertanya.


Rina mendengar pertanyaan Darren, merasa canggung sekali untuk bercerita. Rina hanya diam tanpa menjawab, tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya.


"Hi, kamu itu tidak bisa mendengar atau bisu sih?" ketus Darren bertanya karena pertanyaannya tidak di gubris oleh Rina.


"Laki-laki ini sudah baik mau memberi aku tumpangan, apa begini cara aku memperlakukannya? Ini tidak sopan, lebih baik aku bersikap baik terhadapnya." gumam Rina.


"Aku minta maaf, jadi aku itu sebenarnya amnesia." ujar Rina membuka suaranya.


Darren mendengar cerita Rina begitu kaget di buatnya, ia pun kembali mendengar kelanjutannya sampai akhir.


"Jadi wanita cantik ini amnesia." gumam Darren.


"Sementara kamu bisa tinggal di rumahku." tawar Darren kepada Rina.


"Tenang saja, aku tidak tinggal di sana, itu pemberian Ayahku, jadi kamu tempati saja dulu, apa kamu punya handphone?" tanya Darren.


"Handphoneku tertinggal jadi aku tidak membawanya." ucap Rina.


Darren memberikan handphonenya, karena memang Darren memiliki 3 handphone yang dibawanya.


"Ini kamu pegang," ucap Darren menyodorkan handphonenya.


"Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku, aku pasti akan datang, karena ini sudah malam, aku sepertinya tidak bisa lama menemanimu, aku harus segera pulang, karena Ayahku sudah menungguku." tutur Darren menambahkan.


30 menit kemudian.


Mobil Darren memasuki parkiran mansion. Darren turun dari mobilnya, diikuti oleh Rina.


"Ini mansion yang Ayahku kasih, ayo masuk." ujar Darren.


Rina hanya mengangguk, ia merasa sangat terkesan dengan mansion yang ia lihat saat ini. Mereka berdua pun masuk ke dalam.

__ADS_1



Saat masuk ke dalam Rina sudah di buat takjub oleh apa yang ia lihat.


"Di tempat seluas ini aku sendirian?" ujar Rina masih terkesima.


"Kalau kamu mau ada satu atau beberapa orang pembantu, besok aku langsung kirim untuk bekerja di sini, kamu tidak usah khawatir." ucap Darren menunjukan betapa kaya rayanya dia.


"Wah, tidak usah, sudah tidak apa-apa kalau aku sendiri, aku hanya merasa rumah ini terlalu luas untukku." ucap Rina.


Darren mengajak Rina melihat kamarnya di atas, ia menaiki anak tangga terlebih dahulu di ikuti oleh Rina di belakangnya.



Rina kembali terkesima dengan kamar yang ditunjukan oleh Darren. Ia hanya dapat diam terpana, tanpa Rina sadari Darren terus memperhatikannya.


"Wanita ini, kalau di pandangi terus semakin cantik ya, dari sekian banyak wanita yang mengejar aku, kenapa dia tidak ikut mengejar aku ya, kalau dia pasti aku tidak akan menolaknya." gumam Darren yang mulai jatuh hati.


Setelah Darren menunjukan kamar untuk Rina, mereka kembali ke bawah. Namun saat Rina menuruni anak tangga, langkahnya terkait oleh kakinya, hingga membuat Rina hampir jatuh, Darren yang tepat ada di depannya, menolong Rina dengan memeganginya.


"Wajahnya begitu dekat denganku." gumam Darren.


"Ya ampun, laki-laki ini lagi-lagi menyelamatkan aku." batin Rina.


Tangan Darren yang menopang punggung Rina agar Rina tidak terjatuh, membuat wajah mereka sangat dekat. Beberapa detik mereka seperti itu tanpa bergeming sedikit pun.


Hingga suara Rina yang mengaduh memecahkan keheningan, Rina kembali melihat sebuah bayangan dalam pikirannya, saat Rina bertabrakan dengan Angga, ia memandang Angga, Angga terlihat menolongnya dengan menopang tubuhnya, mereka berdua pun sangat dekat, Angga hanya terdiam memandanginya. Saat Rina ingin mengingat lebih jauh, kepalanya kembali terasa sakit, namun kali ini lebih sakit dari biasanya, Rina semakin mengaduh, Darren yang sangat cemas, menuntun Rina untuk menuju kamarnya.


Di kamar.


Rina yang masih kesakitan membuat Darren sangat panik. Ia bingung harus berbuat apa untuk membuat Rina tidak lagi kesakitan.


"Kamu kenapa? Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak kesakitan lagi?" tanya Darren panik.


Rina tidak menjawab, namun rasa sakit yang ia rasakan mulai berkurang di saat ia berhenti mengingat sesuatu. Darren mulai tenang melihatnya, namun ia menjadi tidak tega meninggalkan Rina sendiri.


*****


Bersambung✍️

__ADS_1


Jika sudah membaca tekan like ya jangan lupa. Terima kasih. 😊🤗😍


__ADS_2