
Terlihat Rangga masih tergolek lemas di atas ranjangnya.
"Sayang, bangun dong ini udah pagi?" tutur seorang wanita yang sudah duduk di depan meja riasnya sedang bercermin dan menghias dirinya.
Rangga tetap tak bergeming dari posisinya, wanita itu lalu mendekati Rangga karena melihat Rangga mengacuhkan seruannya.
Wanita itu mendekap tubuh Rangga, ia mulai menggoda Rangga dengan beberapa kali mendaratkan ciuman di bibir Rangga, sampai akhirnya Rangga terengah hingga ia pun beranjak dari tidurnya.
"Aku sudah bilang sama kamu, jangan pernah mencium aku!" seru Rangga sangat kesal.
"Kita ini suami istri Rangga, apa tidak boleh aku sebagai istri kamu mencium kamu?" ucap wanita itu mulai menangis.
"Pernikahan yang bukan dilandasi cinta apa bisa disebut pernikahan!" geram Rangga mengingat semua yang sudah terjadi.
"Tapi saat ini kita sudah setengah tahun bersama, apa tidak bisa sedikit saja kamu buka hati kamu untuk dapat mencintai aku?" tanya wanita itu yang begitu terisak air matanya.
"Kamu sudah tahu, apa alasan aku tidak bisa mencintai kamu! Sudahlah aku lelah selalu berdebat denganmu, ujung-ujungnya nanti pasti kamu akan mengancam ku." tutur Rangga yang langsung pergi meninggalkan wanita itu dan menuju kamar mandi.
Wanita itu hanya duduk terdiam di tepi ranjang, menatap kepergian Rangga dengan begitu kesalnya.
"Aku mencintaimu Rangga, sejak pertama kali kita bertemu. Apapun bisa aku lakukan untuk membuatmu menikah denganku, tapi kenapa begitu sulit membuatmu mencintai aku." geram wanita itu dengan kenyataan yang dihadapinya.
🍁🍁🍁
Rumah Rina.
Ruang dapur yang sepi di pagi hari, tidak ada kegiatan apapun yang terlihat di meja makan, semua terasa hilang seiring kepergian Rina. Bi Imah yang biasanya selalu mengurus rumah, kini sudah memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, di daerah Madiun.
Terlihat Vara sedang menuruni anak tangga untuk menuju ruang tamu. Raut yang kalut dengan mata yang sembab terlihat dari wajah Vara.
"Kakak, andai Kakak di sini, pasti keluarga kita tidak akan sepi seperti ini, Kak." ucap Vara dengan menangis meratapi foto Rina.
Vara terus memeluk foto Rina begitu erat, sambil berbaring di sofa, ia terus merintih mengingat Rina yang sangat ia rindukan.
🍁🍁🍁
Rumah Viona di Australia.
Viona merebahkan tubuhnya di ranjangnya yang megah. Ia memandang langit-langit kamar sambil mengingat beberapa kenangan yang sempat ia lewati bersama Rangga saat di Indonesia.
Viona tak mampu menahan air matanya, semakin ia mengingat, hatinya menjadi begitu perih seakan membelah muara air matanya, hingga menetes deras membasahi kedua pipinya.
Wajah Rangga selalu terlintas di dalam benaknya, tersimpan dengan begitu indah, sama seperti cinta untuk Rangga, selalu hidup dan tidak pernah mati, walau saat ini Rangga sudah tidak mungkin untuk ia miliki.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Rangga." lirih Viona yang mendekap wajahnya dengan bantal empuknya untuk menutupi kesedihannya.
🍁🍁🍁
Gedung Pernikahan.
Pesta pernikahan yang megah menjadi saksi awal perjalanan cinta, Sherra dan Darren.
Setelah berjuang tanpa henti, Sherra akhirnya mampu untuk meluluhkan hati Darren yang begitu keras, yang mungkin hanya dialah wanita yang mampu menghancurkan tembok keangkuhan Darren.
"Aku tidak menyangka, Sherra saat ini sudah menjadi istriku, kami saling berjanji untuk mendampingi dalam setiap langkah, menemani dalam suka maupun duka, untuk hari ini dan selamanya. Akhirnya Sherra dapat membuatku mencintainya, hingga aku dapat melupakan semua kesedihanku atas kepergian Rina." gumam Darren yang sedih kala mengingat masa kelam itu.
Tamu undangan yang hadir menjadi saksi akan kebahagiaan yang Sherra dan Darren rasakan saat itu. Lisa pun tampak hadir di sana, ia tampil cantik dengan gaunnya, bersanding serasi dengan Fandi yang gagah dengan tampilan jas putihnya.
🍁🍁🍁
Tempat Pemakaman.
Siska sudah terlihat sedang bersimpuh di sebuah makam, dengan batu nisan yang tertulis nama Rina Adista Savira.
"Rin, kamu apa kabar? Sudah lama ya aku tidak mengunjungimu." ucap Siska yang begitu lirih.
"Rin, kamu tahu gak, sejak kamu tiada, aku sempat bermimpi tentang kamu, kamu saat itu berdiri dengan cantik di pelaminan bersama Rangga yang terlihat begitu tampan. Tapi saat itu kamu memintaku untuk menemanimu karena ingatan kamu masih belum kembali, kamu mengeluh kepadaku karena Rangga yang akan menikah denganmu terasa asing dalam ingatanmu, namun saat aku terbangun semua mimpi itu sirna." imbuh Siska menambahkan yang masih memegang papan nisan dengan berderai air mata.
"Rin, aku minta tolong sama kamu, tolong sampaikan maaf dariku untuk Ibumu ya Rin, katakan padanya semua yang telah aku lakukan, sungguh aku sangat menyesalinya. Maaf sampai kamu tiada pun, aku belum bisa jujur sama kamu tentang kesalahan yang telah aku perbuat." tutur Siska menyudahi kata-katanya dan beranjak untuk pergi meninggalkan pemakaman.
Siska membawa duka yang begitu dalam tentang segala penyelesalannya.
Sesampainya ia di rumah terlihat Angga sudah menunggunya.
"Kamu habis dari makam Rina ya?" tanya Angga yang sudah menunggu Siska di halaman rumahnya.
"Iya, aku begitu kehilangan Rina, Ngga." lirih Siska sambil memeluk Angga dengan erat dan menangis sesenggukan.
"Tidak apa-apa, menangislah jika itu bisa membuatmu lega." timpal Angga mencoba menenangkan Siska.
"Aku sudah sepakat dengan Papa akan terus mencari Rina sampai ia ditemukan, aku dan Papa sama-sama percaya jika Rina masih hidup sampai sekarang, maka itu kamu harus percaya kepadaku." imbuh Angga memberitahu.
Siska lalu menatap Angga karena mendengar perkataan bodohnya, bahwa Rina masih hidup.
"Sepertinya bukan aku yang harus percaya, tapi kamu, bangun dan lihatlah kenyataan bahwa Adik kamu Rina sudah meninggal." tutur Siska seraya berlalu meninggalkan Angga sendirian di halaman rumahnya.
Angga terhenyak mendengar perkataan Siska, ia hanya mematung tanpa bisa membalas ucapan Siska.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Rumah Angga.
Terlihat Riansyah sudah beberapa kali membanting gelas ke arah dinding hingga pecah berantakan. Wajahnya sangat geram menerima kenyataan bahwa sampai saat ini apa yang dilakukannya belum menemui hasil.
Riansyah teringat beberapa kenangan bersama Rina, walau hanya dalam waktu singkat Rina bersamanya, namun suaranya saat memanggil dirinya dengan kata Papa, itu sudah cukup membuat kebahagiaan di dalam hidupnya.
Riansyah menangis merindukan Rina, air matanya menetes membasahi pipinya yang membuatnya begitu sesak.
Hatinya masih belum percaya kalau putrinya saat ini sudah meninggal. Selama 6 bulan, ia terus berharap. Harapan yang selalu ia genggam dengan erat dan tidak pernah ia lepaskan.
Tiba-tiba ponsel Riansyah berbunyi, ia bangkit dan mengangkat teleponnya.
"Halo, bagaimana hasilnya?" kata Riansyah mengawali teleponnya.
"Bodoh! Terus cari dan selidiki, saya tidak mau tahu, kalian harus berhasil?" geram Riansyah sambil menutup teleponnya**.
Riansyah begitu sedih mendengar kabar itu, hingga membuatnya terduduk lagi dengan lemas.
🍁🍁🍁
Apartemen di Jakarta.
Andrean terlihat selesai berolah raga. Terlintas di dalam pikirannya, potongan-potongan kenangan yang mengingatkannya kepada Rina.
"Baru pertama kali aku merasa bodoh seperti ini karena gagal menyelamatkan seseorang yang aku kawal." keluh Andrean sangat geram, sambil terduduk mengingat semuanya.
🍁🍁🍁
Nantikan season kedua dari Cinta Amnesia. Jika kalian penasaran, like dan komentar sebanyak-banyaknya agar Author semangat buat up season 2.
Sehat selalu ya. 😍😊🤗
Sambil menunggu Cinta Amnesia season 2, bisa mampir ke karya aku yang lainnya ya.
🍁🍁🍁
🍁🍁🍁
__ADS_1