
Rina yang sudah kembali tenang, mulai beranjak dari posisi tidurnya, ia duduk di tepi ranjang dengan raut wajah yang penuh tanya.
Darren yang sejak tadi terus melihat Rina, mencoba mendekatinya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Darren.
"Tiba-tiba terlintas di pikiranku, aku sedang berada di pelukan laki-laki saat aku ingin terjatuh seperti yang tadi terjadi, namun laki-laki yang aku lihat ini berbeda dengan laki-laki yang bersamaku di cafe." tutur Rina menceritakan.
"Terus kamu gak ingat laki-laki itu siapa?" tanya Darren.
"Saat aku mencoba untuk ingat lebih jauh lagi, kepala aku sakit banget." ujar Rina.
"Ya sudah, sekarang kamu berhenti mengingat apapun yang tidak perlu kamu ingat, sekarang kamu istirahatlah! pinta Darren.
"Aku harus pulang, tapi besok pagi aku akan ke sini." imbuhnya.
"Iya sudah kalau begitu, aku lelah, aku mau tidur." ucap Rina menghela nafas.
"Oke, aku pergi dulu, ingat kalau ada sesuatu yang terjadi segera telepon aku!" seru Darren mengingatkan.
Darren meninggalkan kamar, saat ia menuruni anak tangga, terlintas di benak Darren kejadian yang membuat wajahnya sangat dekat dengan wajah Rina. Darren pun jadi tersenyum mengingatnya.
"Perasaan apa ini? Baru hari ini aku bertemu dengan wanita itu, tapi dia sudah membuatku senyum-senyum sendiri, besok-besok apalagi ya." tutur Darren lirih dalam hatinya.
Darren keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya untuk pulang.
Rina merebahkan tubuhnya di ranjang, ia masih melihat langit-langit kamar sambil memikirkan apa yang terlintas dipikirannya. Walau penuh tanda tanya, namun ia tak bisa lagi mengingatnya, Rina akhirnya mencoba memejamkan matanya untuk tidur.
Di dalam mobil.
__ADS_1
Saat Darren ingin melajukan mobilnya, tiba-tiba terdengar handphonenya berbunyi. Darren mengambil handphonenya dari saku celananya.
Terlihat pesan masuk dari Sherra.
"Darren, besok aku ke rumah kamu ya, apa kamu ada di rumah?" tanya Sherra.
Darren langsung meletakkan handphonenya di kursi sebelahnya. Ia mengabaikan pesan Sherra dan melajukan mobilnya.
*****
Di rumah Sherra.
"Darren kebiasaan banget ya, WhatsApp aku hanya kamu read aja." geram Sherra karena Darren tak membalas pesannya.
Sherra Devalina, wanita cantik berusia 23 tahun, dia adalah teman kuliah Darren sewaktu di Australia, ia sudah menyukai Darren sejak semasa kuliah, namun hingga kini cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Darren tidak pernah menyukai Sherra, walau sudah banyak hal yang Sherra lakukan untuknya.
"Besok aku akan tetap menemuinya." ujar Sherra.
"Walau begitu susah membuat kamu mencintai aku Darren, tapi aku percaya suatu saat, kamu akan mencintaiku." gumam Sherra.
Di rumah Darren.
Sesampainya di rumah, ia sudah di tunggu oleh Ayahnya. Darren terlihat sangat berbeda dari biasanya, gestur tubuhnya dan raut wajahnya sangat bahagia terlihat.
"Jagoan kemalaman begini abis darimana?" tanya Arief.
"Ini Pah, abis ketemu teman." jawab Darren singkat yang agak canggung berusaha menutupi.
__ADS_1
"Temannya pasti wanita ya." sahut Arief menebak.
"Papa tahu aja Pah, ya sudah Darren mau ke kamar dulu ya, nanti kita ngobrol lagi." ujar Darren seraya melanjutkan langkah kakinya.
Darren menaiki anak tangga menuju kamarnya, sesampainya di depan kamar ia di kagetkan dengan suara Fandi yang sudah menunggunya sejak sore tadi.
"Kemana aja sih bro, gue dari tadi nungguin lo?" tanya Fandi.
Darren langsung mendorong Fandi untuk masuk ke dalam kamarnya, setelah ia merasa aman, Darren pun menceritakan setiap kejadian yang sudah ia alami.
"Gila lo bro, kalau sampai Papa tahu ada wanita di mansion lo, wah abis deh lo!" seru Fandi sangat terkejut.
"Makanya lo jangan sampai ngasih tahu ke Papa semua yang gue ceritain ini, jadiin rahasia kita berdua ya." pinta Darren.
"Iya.. Iya.. Tapi gue minjem kartu kredit lo dong? Kartu kredit gue soalnya ke blokir." tutur Fandi meminta.
Darren memberikan kartu kreditnya, namun Fandi yang masih penasaran menyerang Darren dengan berbagai pertanyaan.
"Bro, tapi gue lihat-lihat dari muka lo, sepertinya lo suka ya sama cewe itu." selidik Fandi dengan suara yang agak keras.
"Ssstt diam, nanti kalau sampai Papa dengar, bisa abis gue." jawab Darren seraya menutup mulut Fandi.
Fandi yang sadar suaranya agak keras, ia pun meminta maaf kepada Kakaknya. Fandi langsung berjanji akan merahasiakan ini dari Ayahnya.
Fandi adalah Adik satu-satunya Darren. Fandi hanya berumur 2 Tahun lebih muda dari Darren. Ia agak berbeda dari Kakaknya dalam masalah asmara, Fandi merupakan tipe laki-laki yang sangat setia terhadap pasangan, buktinya sampai saat ini hubungan Fandi dengan Lisa masih terjalin dari mereka duduk di bangku SMA.
*****
__ADS_1
Bersambung✍️
Jika sudah membaca, jangan lupa tekan like ya dan berikan komentar kalian, jika berkenan sekalian vote juga ya. Terima kasih 😍😊🤗