
Andrean masih terlihat berdiri di depan pintu ruang rawat. Ia masih terus berjaga agar tidak ada siapapun yang masuk lolos dari pandangannya.
Di dalam ruang rawat.
Rina yang sudah dekat di samping Viona, terduduk di kursi yang ia letakkan di samping ranjang yang Viona tiduri.
"Viona, aku sangat berterima kasih atas pengorbananmu yang sudah menyelamatkan aku, harusnya aku yang berada di tempat tidur ini dan bukan kamu." tutur Rina lirih dengan rasa tak nyaman.
Viona menatap Rina dengan tatapan mata yang penuh haru, ia ikut sedih karena Rina harus mengalami amnesia yang membuatnya hilang ingatan.
"Iya Rina, walau aku tidak mengenalmu, tapi kamu adalah wanita yang dicintai oleh laki-laki yang aku cintai, maka itu aku menyelamatkanmu." ujar Viona mengatakan yang sebenarnya.
Rina terhenyak mendengarnya, betapa besar pengorbanan Viona terhadap dirinya. Ia berpikir jika ia jadi Viona, belum tentu akan melakukan hal yang sama seperti yang Viona lakukan. Hati Rina sangat tersentuh, ia tak kuasa menahan air mata yang sudah menganak di kedua bola matanya.
"Kamu sangat baik Viona, aku turut bahagia jika Rangga akan menikah denganmu." ucap Rina dengan senyum kecil di wajahnya.
"Dan Kamu juga tidak usah cemas, walau ingatanku kembali, aku tidak akan pernah mengganggu hubungan kalian untuk selamanya, karena bagiku tidak adil Rangga harus menderita menunggu ingatanku kembali, yang aku sendiri tidak tahu kapan waktunya semua itu akan terjadi. Sudah sepantasnya Rangga bahagia bersama kamu." imbuh Rina yang sudah yakin akan keputusannya.
"Terima kasih Rin, aku pasti akan membuat Rangga bahagia, aku janji." ucap Viona yang ikut menangis penuh haru.
Sesama wanita mereka saling mengerti satu sama lainnya. Rina dengan senang hati melepas Rangga untuk Viona, karena Viona rela untuk mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkannya.
Suasana semakin haru dengan derai air mata. Mereka berdua larut dalam kesedihannya hingga suara pintu yang terbuka mengejutkan mereka. Pintu pun terbuka dan Andrean mengintip dengan melongokan kepalanya, dengan wajah polosnya ia menoleh ke kiri dan ke kanan melihat sekitar untuk memastikan keadaan aman. Namun hal itu membuat Rina merasa tidak nyaman.
"Andrean, sedang apa kamu? Ini urusan wanita, segera keluar dan jangan mengintip lagi." geram Rina dengan suara yang agak keras.
Andrean yang mendengarnya seolah biasa saja dan tidak merasa bersalah.
"Maaf aku hanya memastikan situasi di dalam, karena aku tidak mau sampai pembunuh itu lolos dari pandanganku." ujar Andrean dengan raut polosnya.
"Kamu boleh masuk jika kamu mendengar aku berteriak, tapi jika tidak jangan pernah masuk walau hanya melongokan kepalamu." titah Rina membuat peraturan.
__ADS_1
Andrean langsung menarik kepalanya keluar, ia segera menutup pintunya dengan perlahan. Rina kembali menatap kondisi Viona yang membuat hatinya seperti teriris dan merasa bersalah.
"Sekarang kamu harus sembuh ya Viona, kamu harus semangat." ucap Rina memberi motivasi kepada Viona.
"Iya Rin, aku pasti akan sembuh. Saat ini aku sangat bahagia, karena akhirnya Rangga ingin menikah denganku." tutur Viona.
Rina tersenyum mendengarnya. Ia pun pamit kepada Viona. Setelah keluar dari ruang rawat ia segera mengajak Angga untuk pulang.
"Rangga aku pulang ya, tolong jaga Viona dengan baik." ucap Rina seraya melangkah pergi, di ikuti oleh Andrean yang setia mengawalnya.
Rangga hanya mengangguk tak bicara, ia menatap kepergian Rina yang semakin lama semakin jauh menghilang.
Sampailah mereka di parkiran mobil, Andrean yang memarkir mogenya di parkiran motor yang berbeda dengan arah yang Rina dan Angga tuju. Andrean meninggalkan Rina dengan Angga.
Angga dan Rina berjalan sejajar menuju mobilnya, terlihat saat itu lalu lalang pengunjung rumah sakit terlihat sangat padat. Ketika mereka berpapasan dengan seorang laki-laki yang terlihat tertunduk dan mengenakan masker untuk menutupinya wajahnya, baik Angga dan Rina tidak merasa curiga. Namun Rina begitu kaget ketika ada tangan yang terlihat memegang pisau melingkar di depan dadanya dan mendekatkan pisau di lehernya.
Angga yang melihatnya sangat terkejut, ia tak menyangka laki-laki ini luput dari pandangannya. Angga merasa tampak bodoh, wajah Angga tampak terlihat pucat melihat pisau sudah erat mencengkram leher Rina, tinggal sedikit lagi pisau itu akan dapat merobek leher Rina yang sudah sedikit berdarah.
"Jangan sakiti Rina, kalau sampai kamu berani melukai Adikku, jika Rina sampai mati, aku bersumpah tidak akan melepaskanmu, kamu juga akan mati!" ancam Angga dengan sangat kesal.
Laki-laki itu tidak menjawab, dia hanya diam sambil menjaga jarak dengan Angga dan semakin mundur menjauh.
"Kak, tolong aku." ucap Rina dengan suara tercekik yang semakin ketakutan.
Keringat Rina mulai membanjiri wajahnya, kakinya terasa gemetar melawan rasa takutnya. Rina menangis memohon kepada laki-laki itu untuk tidak membunuhnya. Rina semakin tercekik hingga darah mulai banyak menetes dari luka sayatan pisau yang mencengkram di lehernya. Angga semakin panik melihat darah itu. Ia merasa tidak berguna karena tidak bisa bertindak apapun untuk menyelamatkan Rina.
Semua orang yang melihat kejadian tersebut pun tak berani mendekat, mereka semua acuh seperti tidak mau ikut campur dan pura-pura tidak melihat.
Laki-laki itu akhirnya membuka suaranya.
"Ucapakan kata-kata terakhir kepada Kakakmu!" titah laki-laki misterius yang semakin mencengkram leher Rina dengan pisau belatinya.
__ADS_1
Rina semakin menangis, derai air matanya begitu deras membanjiri pipinya, hingga membuatnya tak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun. Rina akhir memejamkan matanya, ia terlihat pasrah dengan takdir yang akan didapatnya, sambil merasakan sakit yang begitu hebat di lehernya ia bersiap menerima akhir dari hidupnya.
Saat pisau mulai bergerak lebih dalam menghujam leher Rina, tiba-tiba dari arah belakang, tangan Andrean memegang tangan laki-laki itu, terlihat otot tangan Andrean mulai mengeras, karena sekuat tenaga mencoba menjauhkan pisau dari leher Rina.
Laki-laki misterius itu terkejut, ia mencoba melawannya dengan tetap mengarahkan pisau yang di pegangnya untuk menghujam leher Rina, namun ternyata tenaganya kalah kuat dari Andrean.
Andrean berhasil membuat pisau menjauh dari Rina, Rina pun berhasil melepaskan diri, ia langsung berlari ke arah Angga.
Rina memeluk Angga dan menangis.
"Aku takut Kak." ucap Rina terisak.
"Sudah ayo kita ke mobil!" titah Angga yang langsung bergegas ke mobil sambil berteriak memberitahu kepada Andrean bahwa mereka akan pulang terlebih dahulu.
Andrean mendengar dan mengiyakan ucapan Angga. Tinggallah Andrean berhadapan dengan laki-laki misterius itu.
"Untung saja aku tidak berleha-leha, baru saja aku mengenakan jaket hitamku ini." ucap Andrean sambil menunjuk jaket hitamnya.
"Tapi instingku mengatakan ada yang tidak beres, ternyata benar saja, kau datang memanfaatkan kesempatan saat Rina sedang tidak aku kawal." imbuhnya terlihat sangat murka dengan laki-laki misterius itu yang telah melukai leher Rina.
Andrean tambah menatap tajam laki-laki itu yang masih mengenakan masker di wajahnya. Tak terhindarkan pertarungan di antara mereka. Beberapa kali laki-laki misterius menyerang dengan pukulan-pukulan ke arah Andrean, namun laki-laki tersebut bukanlah lawan sepadan dari Andrean, dengan mudah Andrean mematahkan serangannya itu. Walau awalnya mereka seimbang, namun Andrean terlihat unggul dengan berhasil menendang laki-laki misterius itu hingga terkapar.
****
Bersambung ✍️
Tekan like dan berikan komentar juga vote kalian ya. Terima kasih banyak ya atas dukungannya. 🤗😊😍
__ADS_1