Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Persahabatan dan Cinta


__ADS_3

Ruang tamu rumah Rina.


"Jadi seperti itu yang aku denger Rin dari Ibu pemilik warung, makanya aku cerita ke kamu." ujar Rangga dengan serius kepada Rina.


Rina mencoba untuk berpikir tentang apa yang Rangga ceritakan, namun pada kenyataannya ia tidak percaya dengan apa yang pemilik warung itu katakan.


"Kejadian itu sudah 2 tahun yang lalu Rangga, bisa saja pemilik warung itu salah mengingat." geram Rina.


Rangga berpikir sejenak.


"Iya juga sih, bisa jadi dia salah atau yang dia bilang itu bukan Tante Sarah tapi orang lain." ujar Rangga menduga.


Raut wajah Rina seketika berubah sangat bete. Rangga yang melihat perubahan wajah Rina menjadi sadar bahwa apa yang ia katakan tidak berkenan di hati Rina. Rangga lalu mencoba mencairkan suasana.


Rangga memulai dengan minta maaf, setelah itu ia mencoba membuat Rina tertawa dengan candaannya, yang ternyata memang bisa menyihir Rina kembali ceria dan bisa tertawa lepas. Rangga melihat Rina tanpa berkedip, hingga berulang kali Rina menjadi tersipu malu. Seolah tak mau Rangga memandangnya, Rina berusaha mengalihkannya dengan membuat rambut Rangga berantakan, mereka berdua pun kembali bercanda tanpa menghiraukan waktu yang sudah semakin larut. Di tengah-tengah tawa Rina, hati Rangga terhenyak hingga ia baru menyadari betapa ia sangat mencintai Rina bukan hanya sekedar sahabat tapi lebih dari itu.


"Rin, aku tuh sebenarnya ingin utarakan semua ini ke kamu, bahwa aku sebenarnya mencintai kamu, aku ingin kita lebih dari sahabat. Hanya saja aku yang tidak punya keberanian, aku terlalu lemah untuk bisa jujur sama kamu Rin." gumam Rangga di dalam hatinya.


"Hei Rangga, malah bengong. Kalo bengong, aku semprotin baigon nih, mau gak?" canda Rina mengagetkan Rangga.


"Emangnya aku nyamuk Rin." sahut Rangga membalas candaan Rina.


Mereka berdua pun tertawa dan tampak bahagia.

__ADS_1


"Perasaan apa ini? Kenapa kenyamanan aku bersama Rangga seperti tidak ingin berakhir, walau sebentar saja, apa mungkin aku diam-diam sudah mencintainya." batin Rina.


Rangga pun hanya bisa berkata di dalam hatinya.


"Rin, walau aku hanya menjadi sahabatmu tapi aku berjanji aku akan berusaha selalu menjagamu, aku akan menjadi pelindung untukmu selalu Rin, sampai waktu dimana kamu sudah tidak butuh aku lagi atau sampai nafasku terhenti." batin Rangga.


Pada akhirnya waktu jualah yang memisahkan mereka, malam itu sudah menunjukan pukul 22.00 wib


"Rin, aku pamit pulang dulu ya." ujar Rangga seraya beranjak dari sofa menuju keluar rumah.


Rangga pun berjalan menuju halaman rumah yang di ikuti oleh Rina. Langkah mereka pun terhenti di depan pintu.


"Kamu hati-hati ya di jalan jangan ngantuk ya, kalo udah sampai rumah kasih kabar!" titah Rina.


"Oh ya bentar ya, aku ke mobil dulu mau ambil sesuatu." ujar Rangga seraya menuju mobilnya.


Rangga pun kembali menghampiri Rina.


"Ini Rin, aku punya dua cokelat, yang satu buat Vara dan yang ini yang besar buat kamu ya Rin." ujar Rangga seraya memberikan dua cokelat kepada Rina.


"Wah." kaget Rina


"Repot-repot segala Ngga, ini udah cokelat ke 1.567 yang kamu kasih ke aku, ini nih yang bikin berat badan aku bertambah terus." sambung Rina yang tersipu malu.

__ADS_1


"Lagian suruh siapa suka cokelat, nanti kalau kamu udah enggak suka lagi bilang aku ya, nanti aku enggak akan kasih cokelat lagi, tapi ngasih yang lain, hhmm.. tapi kamu bakal terima apa enggak ya?" tutur Rangga seraya berpikir tentang suatu rencana.


"Yang lain tuh apa? Ya tergantung kalau kamu ngasih cucian baju kamu ya enggak akan aku terimalah, hahahaha." tawa Rina meledek.


"Hahaha, emangnya kamu mesin cuci aku kasih cucian." tawa Rangga.


Sesaat wajah Rangga berubah serius.


"Ya sudah Rin liat aja nanti, semua itu enggak ada yang pasti kan Rin, kita enggak bisa tahu hati ini mau di bawa kemana, terkadang ada hati yang setia menunggu atau ada juga hati yang jenuh dengan ketidak pastian lalu mencari cinta yang lainnya, udah gitu kita juga gak ada yang tahu umur kita sampai kapan." tutur Rangga seolah memberi teka-teki kepada Rina.


"Ya sudah Rin, aku pulang, sana kamu istirahat ya." imbuh Rangga seraya masuk ke dalam mobil.


"Iya Ngga, hati-hati ya." ucap Rina.


Rina pun terkejut dengan perkataan Rangga, Namun di titik inilah hati Rina mulai merasa takut bila ia harus kehilangan Rangga.


Rina pun menatap mobil Rangga yang menjauh dari rumahnya.


"Rangga, aku sendiri bingung tentang perasaan aku ke kamu, yang aku tahu saat aku di dekat kamu, aku tuh ngerasa nyaman banget, karena aku tahu kamu adalah laki-laki kedua yang tahu semua kebiasaan aku dan kesukaan aku setelah Papa. Aku cuma bisa menyerahkan semua kepada takdir biar takdir yang akan membawa kita kemana, apa tetap sebagai sahabat atau bisa lebih dari itu, walau aku takut kehilangan kamu tapi aku lebih takut kehilangan kamu di saat kita sudah memulai sesuatu yang pada akhirnya nanti kita akan jadi seperti musuh." batin Rina merasakan hatinya.


Rina pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.


*****

__ADS_1


Bersambung


Beri like dan tinggalkan koment ya.. makasih


__ADS_2