
Aluna memandang rumah barunya ini dengan tatapan jengahnya Berantakan dekil,debuan dan juga kotor seperti rumah yang tidak dihuni selama Puluhan tahun.
" Lo nggak urus rumah ini selama berapa tahun ? tanya Aluna
Dipta menolehkan kepalannya tanpa menjawab sama sekali kemudian ia mengalihkan kembali Pandangannya Pada Ponsel miliknya.
" Gue nanya sama lo "
" Oh, nanya sama gue toh Mbaknya ? Makanya, sebut nama gue. " Dipta menyentil keras dahi Aluna.
" Sakit tau !" rintih Aluna Pelan
Dipta berdeham singkat matanya menjelajahi ke setiap sudut ruangan ini
" Gue lupa nggak nempatin rumah ini berapa tahun. "
" Yakin lo, rumah ini nggak dihuni setan Kalau kata Nenek gue sih,rumah yang udah nggak dihuni selama empat puluh hari bakal jadi sarang hantu. Terus apa kabar sama rumah lo ini yang bertahun-tahun nggak dihuni ? Gue yakin banyak setan-setan disini." Aluna bergidik ngeri
" Percaya amat sih lo sama mitos "
" Kita Pulang aja yuk Kayaknya lebih enak tinggal di rumah orang tua Io deh Gue takut."
" Gak bisa gitu dong ini Keputusan gue udah bulat kita akan tinggal di sini selama lo jadi istri gue Titik."
Aluna Cemberut.
" Rumah ini banyak kenangannya Gue suka di sini Dan gue lebih senang di sini daripada rumah orang tua gue. Gue mohon sama lo, Io harus terima keputusan gue," lanjut Dipta sambil teringat masa-masanya saat tinggal disini
__ADS_1
Dipta merangkul Aluna " Lo gak usah takut kan ada gue," Dipta tersenyum manis Menyakinkan Aluna itu bahwa mereka akan baik-baik saja di sini Hidup bahagia tanpa Pengawasan orang tua Bukankah itu impian semua remaja ?
" Jangan curi kesempatan " Aluna melepas rangkulan Dipta
" Masa suami gak boleh nyentuh istrinya sih " Percuma Dipta menikahi Aluna jika tidak dapat apa-apa Merangkul Pun gak boleh.
" Gue emang istri lo. Tapi gue masih Pe-la-jar Dan gue gak mau kenapa-napa sebelum lulus dan menjadi mahasiswa kedokteran."
Dipta diam Ia beranjak menaiki tangga Aluna cepat menyusul Pria itu dan menarik ujung baju Dipta karena takut ditinggal.
" Katanya jaga jarak ? Kok deket-deket gue,"
" Nanti lo ninggalin gue "
" Lo selalu aja mikir negatif tentang gue "
" Gue 'kan jaga diri Dipta lagian siapa yang gak tau lo. Lo tuh anak bandel Suka ngisengin gue Gak kayak .... "
" Jadi rumah ini ada 4 lantai, setiap lantai ada 1 kamar. Di sini juga ada kolam renang di lantai 2. Ada taman juga di belakang rumah. Di samping rumah ada lapangan golf, terus ada studio musik di lantai 3. Terus ..." Dipta mencoba mengingat.
" Di lantai 3 ada ... ada ruangan yang gak boleh Io masukin Dan selebihnya lo bisa cek sendiri Maaf Gue juga agak lupa soalnya," jelas Dipta sambil menaiki tangga Rumah ini bangunannya emang kuno tapi tidak dengan fasilitasnya.
" Terus lo tidur di kamar yang mana "
" Gue di kamar Paling atas Lantai 4 "
" Jauh banget "
__ADS_1
" Kenapa ? Lo takut jauh dari gue"
" Enggak, geer banget lo."
" Jadi lo mau kamar yang mana ? Gue saranin di lantai 3."
" Emang apa spesialnya di lantai 3,"
" Uhm ... gak ada sih Gue cuma khawatirin lo Kalau terlalu jauh dari kamar gue nanti gue gak bisa jagain lo Bagusnya sih kita sekamar tapi lonya gak mau Ya udah."
Mereka akhirnya tiba di lantai 3 Dipta langsung menunjukkan kamar yang akan Aluna tempati.
" Nah ini kamar Io " Aluna melangkah masuk sambil melihat sekeliling kamar Memang kamar ini desainnya modern Kasurnya model baru dan dilengkapi kamar mandi yang bentuknya seperti hotel
Kamar di lantai 3 ini memang cukup bagus meskipun tetap menyeramkan bagi Aluna Karena kamar ini Pasti sudah lama kosong.
" Udah kan ? Kalau gitu gue ke atas dulu nanti Pak Panji akan naruh barang-barang lo di sini Kalo udah selesai beres-beres temuin gue di lantai 1 di ruang makan." Aluna mengangguk.
" Oh ya satu lagi di rumah ini hanya ada kita berdua Pak Panji jarang masuk ke sini Jadi kalau ada apa-apa segera kasih tau gue Kalau gue ketiduran dan Pintu kamar gue ke kunci itu salah lo sendiri karena gak mau seranjang sama suami sendiri," Selesai ngomong Panjang lebar Dipta lanjut ke lantai 4.
Aluna menutup Pintu lalu duduk di Pinggir ranjang Aluna memerhatikan sekelilingnya. Ia yang suka horror tapi Penakut jadi Parno sendiri Banyak hal yang ia bayangkan Sosok-sosok hantu yang sering ia lihat di film kini menghantui Pikirannya
Dipta di kamar Pilihannya. Kamar yang luasnya 2x lipat dari kamar di lantai 3 Kamar ini fasilitasnya lengkap Televisinya ada ruang belajarnya ada tempat ngegame ada Lengkaplah karena memang dulu ini kamarnya.
Neneknya itu sangat menyayanginya sehingga menyediakan semua hal yang ia senangi. Bahkan di lantai 4 ini ada ruangan untuk main basket. Maklumlah cucu kesayangan.
Dipta duduk di Pinggir ranjang menjuntaikan kaki. Kepalanya mendongak melihat foto wanita tua yang di Panjang di dinding atas meja belajar.
__ADS_1
" Nek Dipta kangen banget sama nenek," Sebelum Neneknya meninggal tempat curhatnya ya wanita tua itu. Setelah wanita itu Pergi teman curhatnya tergantikan oleh Pacarnya Pada saat itu Namun setelah Putus ia memilih memendam masalahnya. Peran orang tua memang tidak banyak di kehidupannya Kecuali 2 tahun belakangan ini Orang tuanya agak lebih Peduli meski tetap sibuk urusan masing-masing.
...•••••...