DIPTA

DIPTA
EPISODE 66


__ADS_3


...Aku tahu cinta itu tak saling memiliki Tapi aku bahagia Aluna bisa mencintaimu walau hanya sekadar kata...


PLAK


Sonya baru saja melayangkan tamparan ke wajah Chiko Wanita itu Penuh dengan rasa kesal sehingga tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memukul teman baik Putranya.


Chiko memandang wanita itu dengan tak Percaya Bahkan orang tuanya saja tidak Pernah memukulnya. la memang sudah dianggap seperti keluarga oleh orang tua sahabatnya. Namun yang terjadi Pada Dipta juga bukan sepenuhnya salah dirinya.


" Mi ..... " Kaget Bram la cepat menjauhkan istrinya dari teman baik Putranya itu meski sudah terlambat Wajah Chiko sudah terlanjur dipukuli.


Sonya menunjuk Chiko dengan raut wajah yang begitu marah. " Chiko Kamu gimana sih ? Kamu janji bakal jagain anak saya Tapi mana buktinya Anak saya masuk rumah sakit dan kamu kemana hah,"


" Harusnya kamu bisa jagain dia Kamu gak boleh ninggalin dia ! Kalau seandainya gak ada yang nolongin Dipta mungkin aja Dipta udah gak ada sekarang Chiko," Sonya memegangi kepalanya yang rasanya mau Pecah


" Kamu harusnya ngerti Dipta itu satu-satunya harta yang Paling berharga bagi saya," tekannya kemudian menangis.


Chiko mengepal tangannya dan menggertakkan giginya Masih dapat menahan untuk tidak melawan wanita itu.


" Saya menaruh kepercayaan saya ke kamu untuk ngejagain Dipta Tapi kenapa kamu lalai Chiko Hiks ..." Sonya memegangi dadanya yang terasa sakit. " Keadaan Dipta semakin memburuk ... hiks .... " Wanita ini tak sanggup melanjutkan bicaranya.


Bram memeluk istrinya itu Sonya pun menangis di dalam bekapan tubuhnya


Chiko langsung menatap nanar kedua orang tua itu. " Kalau Dipta Harta yang Paling berharga untuk Tante lalu Tante selama ini kemana ? Tante tau gak Dipta itu kesepian tau Yang harusnya jagain Dipta itu bukan tugasnya aku tapi kalian,"


Tangisan Sonya meredam sebab mendengar Perkataan remaja itu.


" Dipta sakit dan yang aku tau Orang yang sakit butuh support dari keluarganya tapi kalian berdua selalu sibuk kerja Kalian juga 'kan yang bilang Dipta gak bisa sembuh lalu buat apa kalian sibuk kerja cari uang tapi kalian kehilangan waktu-waktu berharga untuk Dipta," lanjut Chiko


Sonya melepas Pelukan suaminya Chiko menatap Pria yang dicintainya itu Sama-sama diam memikirkan kondisi Putra mereka.


" Kalian nugasin aku buat jagain Dipta aku sama sekali gak keberatan Kalian memang baik, tapi gak ada cinta yang kalian kasih untuk anak kalian Sampai-sampai Dipta harus nyari cinta dari orang lain hanya demi ada teman hidup yang bisa menganggap kehadiran dia di dunia ini Apa kalian gak merasa malu," Sindir Chiko melanjutkan Perkataannya yang selama ini ingin dia lontarkan Pada orang tua sahabatnya Namun kemarin dia tidak cukup berani untuk mengucapkannya.


Bram menoleh sorot matanya menghujam Chiko lalu tangannya terangkat ke udara dan dengan gerakan yang begitu cepat tangan itu mendarat di Pipi Chiko


PLAK


Untuk kedua kalinya Chiko ditampar kembali. " Kurang ajar ya kamu ! Kamu Pikir saya gak sayang dengan anak saya," Sarkas Bram


" Emang Om gak sayang sama Dipta Om cuman sayang Daniel anak om yang udah meninggal 14 tahun lalu Karena Dipta sakit Om dan Tante takut kehilangan sosok yang kalian anggap sebagai anak kalian yang udah lama meninggal! Kalian benci sama Dipta sampai detik ini Makanya kalian gak mengusahakan apa-apa," ketus Chiko mengutarakan rasa sesalnya Pada kedua orang tua itu.


Bram ingin kembali menghajar remaja itu nyaris saja Chiko mendapatkan Pukulan yang ketiga Namun ia berhasil menahan emosinya.


" Dengar ya saya orang tuanya Dipta Saya yang lebih tau Dipta itu seperti apa Saya ini juga sudah berusaha sebaik mungkin saya bahkan saya setuju Dipta menikahi anak PSK itu Saya harus mengeluarkan banyak uang cuma demi gadis itu Demi mengabulkan Permintaan konyol Dipta Jangan kamu Pikir saya hanya diam saja selama ini Saya ini sudah berusaha Tapi memang gak ada yang bisa kami lakukan karena ...... " Ia mendesah sedih sambil menundukkan kepalanya.


" Saya tau saya ini memang bukan orang tua yang baik buat anak Saya dan Saya menitipkan Dipta sama neneknya Saya meninggalkan dia karena membencinya Saya menyesali semua yang saya lakukan itu saya sadar saya orang tua yang buruk Dan saya ingin memperbaiki semuanya," Bram menghela napas berat setelah melanjutkan ucapannya.


" Tapi kalian berdua terlambat " Chiko mengulum bibirnya rapat-rapat sambil menahan air matanya.


Bram menoleh memandangi istrinya yang terlihat terpukul. " Ya kami berdua memang terlambat," katanya dengan Putus asa.


" Setelah dia sakit kami baru sadar dia berharga," lanjut Bram yang tak ingin kehilangan Putranya.


Air mata Sonya menetes jatuh kembali Mengingat dirinya yang beberapa tahun melupakan Putra tertuanya yang dia terlantarkan sejak Putra bungsunya meninggal. Seolah tidak Pernah ada Dipta dalam kehidupannya Yang dia ingat hanya ada Daniel Sedangkan saudara kembar Putra bungsunya itu terlupakan. Setelah dia mengambil Dipta kembali yang ada dipikirannya Dipta adalah sosok Daniel yang telah lama tiada. Namun setelah Dipta dinyatakan sakit hatinya menjadi kacau dan semakin waktu berlalu ia baru merasakan dia akan kehilangan Putranya lagi.

__ADS_1


" Dipta akan mati Pi dan Mami gak sanggup kehilangan Putra kita lagi ..." Sonya jatuh bersimpuh lalu menangis hebat tanpa suara Hanya deraian air mata dengan sesak di dadanya yang luar biasa.


Putranya diketahui sakit sejak 8 bulan yang lalu Ketika ia dapati Putranya Pingsan di kamar dengan mengalami mimisan yang Parah Setelah dilarikan di rumah sakit ia begitu terkejut mengetahui hasil tes jika Putranya dinyatakan tumor otak yang sangat berbahaya.


" Hiks... maafin Mami Dipta .. Mami jahat sama kamu... Mami gak sayang kamu, Nak Mami gak Pernah ada buat kamu... maafin Mami, Dipta..." tangisnya sembari memukul-mukul dirinya. " Aku ibu yang jahat... aku ibu yang buruk..." katanya dengan frustasi.


BRUK


Tubuh Sonya tumbang ke lantai kehilangan keseimbangan Pada tubuhnya karena terlalu shock memikirkan kondisi Putranya.


" Sayang " Bram tergesa mengangkat kepala istrinya di Pangkuannya.


Sonya menggenggam tangan suaminya


" Pi... Mami gak mau kehilangan Dipta Mami gak mau kehilangan anak kita maafkan Mami Pi Mami bukan ibu yang baik untuk Putra kita .....," lirihnya Bram mengusap lembut air mata istrinya itu Lalu memeluknya dengan begitu erat. Ia tak sanggup melihat wanita yang dicintainya sedih seperti ini Kejadian seperti ini mengingatkannya ketika mereka kehilangan anak bungsu mereka Di mana dunia terasa seperti di neraka.


Chiko tak sanggup berada di sini lebih lama la Pun keluar ruangan lalu tangis yang berusaha ia redam akhirnya jatuh juga. Remaja ini terus menyekanya air matanya berkali-kali Meskipun lagi-lagi air matanya kembali lolos.


Dipta memang sahabat barunya. Namun Chiko sangat menyayangi sosok sahabatnya itu Dipta adalah teman yang sangat baik Dipta begitu banyak membantunya. Dipta juga Pernah menyelamatkan hidupnya ketika ia yang Putus asa dengan keadaan keluarganya yang mulai berantakan sejak orang tuanya mengalami kebangkrutan.


Dipta selalu menguatkannya Selalu memberinya semangat Padahal luka yang dialami sahabatnya itu jauh lebih berat. Akan tetapi Dipta tidak Pernah memperlihatkan betapa Putus asanya sahabatnya itu.


" Chiko ngapain lo di sini " Mendengar suara yang tak asing Chiko cepat menghapus air matanya sekering mungkin.


Kemudian memutar tubuhnya ke arah sumber suara Chiko lalu mengangkat kedua sudut bibirnya dan memperlihatkan deretan giginya.


" Lo ngapain di sini " tanya Aluna lagi karena belum mendapatkan jawaban.


" Ahh, gak ngapa-ngapain," jawab Chiko dengan gelagat seperti orang yang menyembunyikan sesuatu.


" Baru aja gue mau beliin Dipta es cream Ehh gak sengaja liat lo di sini,"


" Ngapain beli es cream ? Kayak bocah aja lo doyan es cream," sindir Chiko mengejek.


" Terserah gue lah Lagian gue udah janji sama Dipta kalau dia sadar gue bakal beliin dia es cream."


Aluna menunjuk mata Chiko yang merah. " Lo habis nangis ya,"


" Apaan ngada-ngada lo."


" Alah bohong mata lo aja merah-merah Lo nangisin siapa sih Jangan-jangan Shifa ya Haha," ledek Aluna


" Ngaco lo "


Aluna menepuk lengan Chiko " Udah lo jujur aja kalau lo sedih karena Shifa Pulang ke Amerika Tadi Dipta sempat cerita kalau Shifa suka sama lo. Lo juga suka sama dia kan ..." Godanya Melihat muka kesal Chiko ia mendapatkan kepuasaan tersendiri. Lucu aja lihatnya.


" Gue itu sukanya sama temen lo bukan Shifa," tekan Chiko " Tapi temen lo malah gak suka sama gue Nyebelin banget sama kayak lo nyebelinnya," Chiko beranjak Pergi meninggalkan Aluna


Aluna berbalik menghadap Punggung Chiko


" Chiko " Panggilnya.


Chiko menghentikan langkahnya lalu menoleh.


" Dipta nyariin lo "

__ADS_1


" ini gue mau ke ruangannya,"


" Oh ya udah "


Aluna berbalik dan melanjutkan Perjalanan.


Chiko memutar badannya menghadap Punggung Aluna yang semakin menjauh Kemudian melanjutkan Perjalanan menuju ruangan tempat sahabatnya dirawat Ketika sampai ia mendapat sambutan hangat dari Dipta yang berupa senyuman Dipta yang manis.


" Jijik gue liat senyum lo," ujarnya sambil menutup Pintu.


Dipta berusaha mendudukkan dirinya dan Chiko segera membantunya.


" Lo apaan sih Chiko Gue masih bisa sendiri kok." Dipta yang sok kuat inipun merasa sebal karena Chiko seolah meremehkan keadaannya.


Chiko langsung mendaratkan bokongnya ke kursi. " Gimana keadaan lo " tanyanya sambil mendekatkan kursi ke brankar


" Gue baik "


Chiko menatap sahabatnya itu Melihat wajah Pucat Dipta ia merasa sedih. la takut banget kehilangan sosok yang di hadapannya ini.


" Jangan kasihanin gue, gue ini baik-baik aja," ucap Dipta yang merasa sedang dikasihani sahabatnya.


" Dipta lo harus sembuh ya," Pinta Gana dengan suara yang bergetar Kelaki-lakinya jadi lembek gara-gara mengkhawatirkan sahabatnya yang katanya akan segera meninggal. Meski selalu menganggap hal itu hanya omong kosong dokter tetapi ia tetap merasa cemas.


Dipta tertawa. Tawa yang terdengar Putus asa.


" Gue gak sedang bercanda Dipta Gue mau lo cepat sembuh Gue gak mau kehilangan lo," Chiko menunduk menyembunyikan kesedihannya.


" Lo cinta ya sama gue hahaaaa."


Chiko langsung kembali menatap sahabatnya itu. " Bisa agak lo gak bercanda ? Gue ini bener-benar serius gue gak mau lo mati Dipta," tegasnya.


" 4 bulan lagi Chiko " Dipta memandang lurus ke depan Melihat kalender yang tergantung di sana Kerjaan gabutnya memang selalu menghitung hari kematiannya.


Chiko berdiri tegas lalu mencengkeram kedua Pundak sahabatnya itu. " Lo jangan nyerah dong Dipta Lo gak bakal mati kok," kesalnya.


" Lo Pasti bisa sembuh " lanjutnya.


Perlahan Dipta melepas tangan Chiko dari tubuhnya. " Gue ini udah capek Chiko," ucapnya lirih.


" Lo gak mikiirn gue, Aldi, Marco Kenzo ? Lo mau ninggalin kita semua,"


Dipta menghela napas Panjang la menoleh ke arah jendela Memandang langit beberapa saat. " Gue makasih banget karena kalian gue gak terlalu kesepian," la lalu menoleh kembali ke arah sahabatnya Melihat wajah kesal Chiko yang kelihatannya begitu marah karena ia yang Putus asa dengan keadaannya. " Dan lo teman terbaik gue. Gue gak nyerah Chiko gue cuman capek. Selama 14 tahun gue menderita dan gue ingin mengakhiri ini semuanya,"


" Gimana dengan Aluna Setelah lo nikahin dia lo bakal ninggalin dia," desak Chiko


Dipta tersenyum tipis Senyum yang bukan kebahagian. " Gue gak Pernah ada di hidup dia Chiko,"


Chiko langsung menatap dengan Penuh tanya. " Maksud lo "


Dipta menarik napas Panjang


" Kemarin gue ..... " la mulai bercerita.


...•••••...

__ADS_1


__ADS_2