DIPTA

DIPTA
EPISODE 54


__ADS_3


...Satu doaku suatu saat nanti kau akan mencintaiku...


Di ROOFTOP


DIPTA sedang menikmati semilir angin yang ada di Rooftop di atas rumahnya Dipta sering sekali ke sini untuk sekadar melupakan masalahnya yang sering terjadi saat ini


" Sampai kapan Aluna Lo mencintai gue sampai kapan gue harus menunggu balasan cinta dari Lo,"


" DIPTA " Panggilan Bram


DIPTA langsung menoleh ke arah belakang mendapati Papinya yang berdiri gagah Tumben-tumbenan Papi berada di rumah biasa ia sibuk dengan Pekerjaannya


" Pi " sahut Dipta


Bram tahu masalah Putra yang dihadapi Dipta saat ini


" Kamu Kenapa Dipta " tanya Bram ingin tahu


Dipta menggeleng dia tidak ingin merepotkan orang lain tentang masalah ini


" Papi tahu Dipta kamu Pasti ada masalah kan tentang Aluna istri kamu,"


Dipta langsung menoleh ke arah Papinya


" Dipta kamu harus nyakin bahwa akan tiba saatnya Aluna akan mencintai kamu, " ujar Bram


" Tapi sampai kapan Pi aku harus menunggu Dia mencintaiku sepertinya aku udah .... "


" Dipta kamu gak boleh menyerah begitu saja kamu harus nyakinin dia bahwa kamu itu berhak untuk di cintai," kata Bram


Dipta langsung tersenyum ketika mendengar kata Papinya Apa kata Papinya benar juga dia gak boleh menyerah begitu saja dia harus nyakin suatu saat nanti Aluna akan mencintainya


" Oh ya kamu masih ingatkah waktu kamu kecil dulu kita berdua sering bermain drone di sini," ujar Bram


Dipta mengangguk ia masih ingat ketika ia masih kecil dia sering sekali bermain drone bersama Papinya


" Gimana kalau sekarang ini kita bermain drone,"


" Boleh juga Pi "


" Kalau gitu Papi ngambil dronenya dulu, "


Bram langsung mengambil dronenya yang ada di bawah


Dipta mulai mengontrol drone yang terbang di udara.


" Seru ya ternyata Papi jadi kepikiran buat belajar nerbangin helikopter deh kayaknya bakal lebih seru Gimana menurut kamu,"


" Ya Pasti lebih seru," jawab Ali datar dan terus memperhatikan Papinya Pria itu tampak senang Kebersamaan seperti ini jarang ia rasakan Mungkin dalam setahun hanya 2 atau 3 kali Andai sejak kecil ia lebih sering bermain dengan Pria itu Mungkin rasanya tidak secanggung ini.


Pria itu orang tuanya tapi ia merasa asing. Untuk memulai Pembicaraan saja ia harus berpikir dulu apa yang harus ia katakan karena takut membuat kesalahan. Seperti kejadian semalam. la kelepasan dan akhirnya mereka bertengkar. Walau Pria itu sudah minta maaf tapi tetap saja rasa sakitnya masih ada Tidak ada kata Pengakuan dari Pria itu jika Pemikirannya salah karena telah menyamakan Putranya yang masih hidup dengan Putranya yang telah lama tiada.


Mungkin ia yang harus mengalah Lupakan saja bahagianya Barangkali tugasnya untuk membahagiakan Pria itu Setidaknya hubungan mereka lebih baik dari beberapa tahun lalu.


" Liat siapa yang datang," ujar Bram yang melihat 2 orang keluar dari taksi dan menuju ke rumahnya.


Dipta melihat ke bawah Ia melihat Aluna dan Shifa Apa Aluna datang karena mengkhawatirkannya ? Senyumnya terbit tanpa ia sadari.


" Benarkah apa Papi bilang Tadi " ujar Bram


" Kayaknya Aluna rindu kamu," lanjut Bram


Tanpa menunggu lagi Dipta buru-buru Pergi meninggalkan Papinya dan ke bawah untuk membukakan Pintu.


Dipta tergesa-gesa menuruni tangga hingga sampailah ke depan Pintu dan segera membukanya. Aluna langsung menatapnya Tatapan cewek itu sulit diartikan. Antara rindu atau marah entahlah terlalu susah untuk terbaca olehnya.


" Mau sampai kapan kalian berdua tatap-tatapan," tanya Shifa membuyarkan eye contact Dipta dan Aluna


" Happy valentine bro," ujar Shifa tiba-tiba sambil menunjukkan coklat Cadbury dairy milk Memang inilah tujuannya datang ke sini karena hari ini hari kasih sayang Dan cowok Paling spesial salah satu baginya adalah Dipta


" Thanks," balas Dipta seraya mengambil coklat Shifa Tak heran setiap tahun sepupunya itu memang always sweet


" Cobain dong "


Dipta membuka bungkus coklat lalu mencicipinya.


" Manis buat gue diabetes."


" **** " maki Shifa lalu melenggang Pergi kedalam rumah om dan tantenya.


" Gue baru ingat hari ini hari kasih sayang Happy valentine Aluna " Dipta mematahkan satu bagian coklat cadbury lalu memberikannya ke Aluna Memang tidak romantis tapi ia sudah berusaha. Setidaknya ia memberikan Aluna coklat seperti Pasangan-pasangan yang di luar sana yang memberikan coklat Pada Pasangannya setiap tanggal 14 Februari.

__ADS_1


" Lo baik-baik aja " tanya Aluna yang mengabaikan coklat yang Dipta berikan. la datang bukan untuk hal sepele itu Ia datang karena khawatir dan merasa bersalah.


" Gue baik Gimana dengan lo,"


" Gak " jawab Aluna jujur.


" Jawaban yang bagus Gue suka dengan lo yang gak munafik Itu yang menarik dari lo."


" Gue Punya ini " Aluna menunjukkan sesuatu yang ia sembunyikan di belakang punggungnya sejak tadi Sesuatu itu cokelat Silvergueen yang dibalut dengan Pita merah.


" Buat lo " Ia memberikannya ke Dipta


Coklat yang Dipta memberikan untuk Aluna tadi ia masukkan ke mulutnya dan mengambil cokelat baru yang Aluna berikan untuknya.


" Untuk hari valentine " tanyanya.


Aluna menggeleng. " Itu untuk Permintaan maaf gue," la menunduk.


" Maaf Dipta ucapan gue kemarin udah keterlaluan."


Dipta mengangkat dagu Aluna Membuat cewek itu mendongak dan menatapnya.


" Lalu " Ia bertanya.


Aluna diam saja karena tidak Punya jawaban.


Aluna diam saja karena tidak punya jawaban. Dipta maju lebih mendekati tubuh Aluna Masih dalam keadaan mengangkat dagu Aluna ia menatap wajah istrinya itu


" Gue juga minta maaf " Aluna tersenyum sebagai balasan ia memaafkan Dipta Meskipun rasa sedihnya masih ada karena hubungannya dengan Angga tidak akan seperti semula lagi.


" Boleh " tanya Dipta


" Boleh apa "


" Cium lo " Belum dapat jawaban


Dipta langsung memiringkan kepalanya lalu mencium Pipi Aluna


Mata Aluna terbuka lebar. la kaget Dipta melepas ciumannya lalu berbisik,


" Makasih ya cokelatnya dan Pipinya Sayang,"


Aluna menjadi kaku Jantungnya mendadak tak aman Degupannya terlalu kencang sampai membuatnya mau sesak napas Ada apa dengan dirinya ? Apa ia mendadak sakit jantung atau Pertanda lain ?


" Karena ini " tanya Dipta kembali sambil menunjuk bibirnya sendiri.


Pipi Aluna merah Padam. la menggigit bibirnya sembari bergumam dalam hati.


" Ah aku kenapa sih ? Masa sih aku baper."


Dipta meraih kedua tangan Aluna," Belum terlambat untuk lo bilang cinta ke gue," katanya lalu senyam-senyum.


" Gak secepat itu juga kali " ketus Aluna seraya menarik tangannya la buru-buru pergi sebelum semakin Panas dibuat suaminya itu.


...•••••...


" Kalian nginap di sini aja ya," Pinta Bram sambil jeda memakan makan malamnya Makan malam di rumahnya kali ini cukup ramai karena ada menantu dan keponakan istrinya.


" Tergantung ni orang," sahut Shifa sambil menunjuk Dipta


" Gimana Dipta " tanya Sonya


" Nginap di sini aja Besok baru Pulang," tambah Bram


Sebelum menjawab Dipta memandangi Aluna. " Kalau Aluna mau Dipta gak masalah,"


Aluna melirik Dipta Kenapa cowok itu malah menunggu Persetujuannya sih Dasar gak Peka ? Padahal dia ingin Pulang dan kalau sudah begini ia tidak mungkin menolak karena tidak enak Pada mertuanya.


" Gimana Aluna " tanya Sonya yang butuh jawaban segera.


Mau tak mau Aluna mengangguk.


" Good Papi suka jawaban kamu Aluna," ucap Bram senang.


" Keputusan yang tepat."


Aluna mengangkat kedua sudut bibirnya senyum terpaksa.


Selesai makan malam mereka berempat tanpa Dipta menonton film sambil memakan cemilan buatan Sonya. Cupcake yang dibuat tadi siang bersama menantu dan keponakannya Walaupun hanya Aluna yang serius membantu Sonya sedangkan Shifa sibuk main-main tepung dan nambah kerjaan karena ulahnya itu.


Film berakhir Mereka berempat bubar Aluna ke atas ke kamar Dipta la mengetuk Pintu lalu membukanya sendiri Perasaannya aneh karena berbeda saja rasanya Sejak Pertengkaran hebat mereka kemarin ia merasa canggung Pada Dipta


" Belum tidur " tanya Aluna agak gugup Pada cowok yang duduk di meja belajarnya.

__ADS_1


" Gue nunggu lo," jawab Dipta sambil menutup buku yang ia baca.


" Nunggu gue " Aluna duduk di Pinggir ranjang dengan ragu.


Aluna harap Dipta tidak akan berbuat aneh-aneh karena ia sudah membuat cowok itu sakit hati dengan ucapannya kemarin.


Dipta beranjak menghampiri Aluna la berdiri di hadapan gadisnya itu.


" Apa aja yang lo tau tentang gue," tanyanya serius.


" Ma-maksud lo "


" Lo udah tau kan gue ini sakit,"


Aluna menundukkan pandangannya. la menggigit bibir bawahnya Kemarin ia kelepasan dan tidak sengaja melanggar janjinya Pada mertuanya.


" Jawab gue Aluna jangan diem aja." Dipta khawatir Aluna tahu sakitnya dan wanita itu akan kasihan dengan Penderitaannya.


Aluna mendongak. " Iya gue tau lo sakit Lo menderita Borderline Personality disorder, kan,"


" Dari siapa lo tau,"


" Mami "


Dipta mengepal tangannya Wanita itu sudah janji untuk tidak membeberkan sakitnya tapi kenapa masih saja mengatakannya Pada Aluna ? la tidak jika ia dikasihani


Aluna yang melihat Dipta tampak kesal. Ia pun bangkit berdiri di hadapan suaminya itu.


" Dipta jangan marah ke mami nyokap lo gak maksud apa-apa. Dia cuman gak mau gue gak tau apa-apa tentang lo. Gue harus tau Dipta karena karena gimanapun lo suami gue."


" Setelah lo tau terus apa,"


" Gue ... gue ngerasa bersalah banget Dipta Gue udah jahat sama lo, ya meskipun lo juga bikin gue kesal Tapi ... gue harusnya tetap bisa jaga Perasaan lo. Maaf ya Dipta gue terlalu fokus Pada Angga dan untuk melupakan lo." Mata Aluna berkaca-kaca Perlahan ia coba membuka Pikirannya. Semalaman ia berpikir keras untuk mencari solusi dari segala masalahnya. Kini ia sudah mendapatkan solusinya yaitu dengan menerima apa yang ia dapatkan saat ini bukan fokus Pada apa yang tidak dapat ia raih.


" Gue sama sekali gak jijik kok sama orang yang menderita sakit mental. Lo gak harus menyembunyikan sakit lo. Gue juga gak sempurna. Pernikahan orang tua gue gagal, Papah meninggal, mamah ... mamah yang sibuk dengan kehidupan gelapnya. Gue .. gue bukan apa-apa Dipta Menikah sama lo mungkin keberuntungan yang belum gue syukuri Sorry Dipta sorry ... harusnya gue bersyukur karena ada lo di hidup gue." Air mata Aluna meleleh.


Dipta memeluk gadis itu Aluna menangis dalam Pelukannya.


" Gue bukan orang yang beruntung di dunia ini. Hidup gue gak baik-baik aja Dipta Gue kesepian, gue selalu overthingking, gue takut gue takut gak jadi apa-apa. Gue gak mau mengecewakan diri gue sendiri. Gue gak mau mengecewakan Papah. Gue sendirian ...."


Dipta melepas Pelukannya. la menghapus air mata istrinya itu. " Lo gak sendirian Aluna Lo liat masih ada gue di hadapan lo. Lo orang Paling berharga bagi gue saat ini. Gue bisa kuat sampai detik ini karena lo. Gue tau emang bukan gue yang lo suka. Tapi gue yakin lo orang baik yang akan nerima gue di kehidupan lo. Gue gak Peduli sesingkat apapun nantinya yang terpenting gue Punya kesempatan bisa sama lo, Aluna Gue ... cinta sama lo, Aluna," Aluna menatapnya. Mereka saling menatap satu sama lain. Lalu ia mencium bibir gadis itu cukup lama Mengungkapkan Perasaannya dalam bentuk sentuhan.


Aluna hanya bisa bengong Air matanya lolos kembali. Apa ia menangis bahagia ? Atau tangis kesedihan ? la juga bingung Dipta kemudian memeluknya sangat erat Pelukan hangat itu menenangkan Perasaannya Ada kenyamanan yang sulit ia Pahami.


" Lo gak Perlu khawatirin masa depan lo Aluna lo akan baik-baik aja," ucap Dipta meyakinkan Pasangannya.


" Lo akan Punya masa depan yang jauh lebih baik dari apa yang lo harapkan Lo hanya Perlu nunggu beberapa waktu lagi,"


Aluna melepaskan Pelukan Dipta la bingung dengan Perkataannya Pasangannya itu.


" Maksudnya "


Dipta memegangi wajah Aluna lalu tersenyum. " Nanti lo akan dapat jawabannya," Dipta mencium kening Aluna dan kembali memeluk gadis cantik itu.


" Dipta jangan terlalu modus," Dipta tertawa bercampur sedih.


" Gue ngantuk banget tidur yuk,"


Dipta cepat melepaskan Pelukannya ketika mendapat ajakan tidur.


" Hanya tidur bukan ritual mecahin selaput darah gue," jelas Aluna la segera naik ke tempat tidur dan menarik selimut menutupi badannya.


Dipta tersenyum senang. la hanya bercanda karena senang melihat Aluna yang tidak sedih lagi dan mereka juga sudah berbaikan Mungkin hari esok akan jadi hari terhebat dalam hidupnya.


" Ayo tidur besok sekolah,"


" Iya, Sayang," sahut Dipta dengan suara menggoda.


DEG !


Jantung Aluna mendadak berdebar tak karuan saat Dipta merangkak naik ke tempat tidur. Mana tatapan cowok itu nakal banget Jangan-jangan Dipta mau


" Good night Sayang," Dipta merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.


Aluna bernapas lega Ternyata hanya Pikirannya yang sesad.


Dipta memiringkan posisinya membelakangi Aluna " Lo mau tau satu rahasia,"


" Rahasia apa,"


" Gue .... "


...••••...

__ADS_1


__ADS_2