
...Hai Sahabatku Sudah lama ku tak mendengar suara indah mu Suara yang sudah lama tak kudengar kembali Suara yang dulu Pernah menjadi motivasi hidup ku...
Dipta memencet bel Sekitar 2 menit menunggu Pemilik rumah membukakannya Pintu Pria di hadapannya tampak terkejut melihat sosoknya. Ia Pun melempar senyum melihat sahabat lamanya itu.
Kalau tidak salah Terakhir kali mereka bertemu saat berantem di luar cafe ketika mengantar Aluna rapat OSIS waktu itu.
" Ngapain lo ke sini," tanya Rio Sudah lama sekali Dipta tidak menginjakkan kaki di kediamannya Kini kembali seolah tidak ada masalah yang terjadi Pada keduanya. Dipta tersenyum Padanya senyum yang masih sama seperti dalam ingatannya di saat mereka berteman baik sebelum ada rasa cinta datang kemudian merusak segalanya.
" Rio gue kangen main sama lo Bisa gak kita main lagi," tanya Dipta
" Gue bawain bola basket yang lo hadiahi buat gue beberapa tahun lalu Gak usah ingat Permasalahan kita Sebentar aja gue Pinjam waktu lo." Dipta melempar bola basket itu dan Rio menangkapnya.
" Walaupun gue udah Punya temen sahabat tapi gue gak Pernah lupa sama lo. Lo orang yang gue benci tapi lo masih berharga bagi gue."
" Gue masih ingat siapa orang yang nonjok muka Preman kelas yang suka ngebully gue Siapa orang yang suka ngasih bekalannya ke gue Siapa yang selalu Peduli sama gue. Itu lo Rio Lo orang yang gak mungkin gue lupain gitu aja."
Rio terdiam Dia sudah tahu apa yang terjadi Pada teman lamannya itu Dia sudah mendengar semua dari kekasihnya.
Dipta sedang sakit Parah Padahal dia ada niatan untuk menemui Pria itu dan meminta maaf Namun hal tidak disangka terjadi Justru sahabatnya itu yang mendatanginya lebih dulu Apakah ini tanda jika Dipta datang sebagai momen berpamitan ?
Mata Rio berkaca-kaca Sekuat apapun dia untuk menahan sedih dia juga masih Punya Perasaan Dia sedih sekali ketika tahu teman kecilnya sakit Haruskah dia memeluk sahabat lamanya itu dan mengatakan bahwa dia sangat menyesal ?
Dipta memutar badannya lalu berlari ke lapangan basket di halaman rumah sahabat lamanya. Dulu lapangan ini adalah tempat mereka berlatih dan bertaruh siapa yang Paling hebat bermain basket Hari ini dia akan mengulang momen bahagia itu.
" Lempar bolanya," Pekik Dipta
Rio melangkah ketika di Pinggir lapangan dia melempar bola basket Pada Dipta
Dipta menangkap bola itu Menunjukkan beberapa skillnya lalu melempar bola kedalam ring.
" Yes " girang Dipta ketika mencetak Point Pertama.
" Ayo " Dipta memanggil Ronal.
Rio datang ikut bermain tanpa bicara Mengikuti Bermain sambil memandangi Dipta yang kelihatannya semangat sekali.
Sudah beberapa kali Dipta berhasil mencetak Point Sedangkan Rio sama sekali tidak memasukkan bola ke ring.
" Lo kenapa ayo dong lawan gue,"
" Tunjukin skill lo, lo Pasti udah jago banget,"
" Nih " Dipta memberi bolanya
" Tunjukin skill terbaik lo ke gue."
Dipta menepi ke Pinggir lapangan Membiarkan Ronal bermain sendiri Sahabat lamanya itupun mulai bermain dan ketika Rio berhasil memasukkan bola ke ring Dipta bertepuk tangan dengan girangnya.
Melihat Dipta yang sangat senang mengingatkan Rio Pada satu momen Kala itu
Dipta berbaring di sebelahnya Mereka sangat kelelahan bermain dan beristirahat sebentar sambil memandangi langit yang mendung karena sudah sore hari Pulang sekolah Dipta sangat sering mampir ke rumahnya Dia juga akan mengantar Pulang sahabatnya itu.
" Kira-kira nanti kalau kita udah dewasa kita masih main bareng gak ya," tanya Rio di usianya yang sepuluh tahun.
" Kalo kita berantem Aku yang akan minta maaf duluan," sahut Dipta
Rio menoleh menatap sahabatnya yang sedang melihat ke langit
" Kalo aku yang salah gimana,"
" Kamu tetap sahabat aku," Dipta menoleh memandangi Rio lalu tersenyum.
Rio bangkit mendudukkan dirinya. " Kalo aku Pergi,"
Dipta ikut duduk. " Aku akan datang dan ngajak kamu main lagi." la tersenyum kembali.
" Teman aku cuman satu Kamu sebenarnya gak boleh ninggalin aku, Rio Kamu jangan jadi mami dan Papi aku Mereka Pergi dan benci sama aku Janji ya jadi sahabat aku selamanya," Dipta menunjukkan jari kelingkingnya.
Rio tersenyum dan menautkan kelingkingnya
" Janji "
...•••••...
Rio menjatuhkan bola dari tangannya. " Apa lo akan mati," tanyanya dengan keras.
Dipta melangkah mendekat
" Lo udah tau gue sakit,"
" Ya gue udah dengar dari Zea Kenapa lo gak cerita apa-apa ke gue ? Kenapa lo diam aja selama ini Udah lama hah Udah berapa lama lo diemin sakit lo,"
Rio mendadak emosional Dia tidak bisa lagi Pura-pura menahan diri untuk tidak Peduli Selama ini dia yang menghilang dari kehidupan
Dipta bukan berarti dia tidak memikirkan sahabatnya sama sekali Sesekali dia datang ke SMA Kencana dan melihat Dipta bermain bersama teman-teman barunya Dia senang melihat Dipta yang sudah memiliki teman namun satu sisi dia juga rindu momen bermain bersama sahabatnya itu.
Rio mencengkeram Pundak sahabatnya. " Lo berusaha'kan untuk kesembuhan Lo ? Lo gak ngebiarin sakit lo 'kan ? Lo gak sengaja mati dengan cara ini kan,"
Rio begitu tahu luka yang selama ini dirasakan sahabatnya Mereka sudah berteman sangat lama. Kala Pertama bertemu anak itu saja sudah membuatnya sangat khawatir. Anak itu sama sekali tidak dicintai orang tuanya Bram dan Sonya adalah 2 orang tua yang Paling buruk di matanya Bram Pria yang sangat jahat baginya Karena Bram adalah teman Papanya yang menusuk karier Papanya dari belakang Keluarganya sempat menderita gara-gara Pria jahat itu.
Orang tua sahabatnya itu sering kali membuat Dipta menangis Tidak Pernah datang menjemput Putra mereka di sekolah Membuat Dipta dibully dan ditertawakan karena selalu diantar jemput oleh nenek tua.
" ini salah gue Dipta ! Gue udah ngerebut kebahagian lo ! Gue seharusnya gak boleh ngelakuin itu ! Gue seharusnya gak egois,"
" Pukul gue ! Pukul gue ! Lo harus balas dendam ke gue,"
Dipta melepas cengkeraman tangan Rio dari Pundaknya.
" Lo Cuman jatuh cinta Gue gak menyalahkan lo lagi Zea bahagia sama lo. Lo cowok yang tepat untuk dia,"
Mendengar ucapan Dipta membuat Rio semakin merasa bersalah.
" Gue memang berengsek banget ya,"
" Iya lo emang berengsek Rio Lo ambil cewek gue Lo suka apa yang gue suka. Tapi ya udah Zea Pergi karena emang gue yang kurang baik Emang gue yang gak Pantas untuk dia Dia nyaman sama lo dan mata gue udah kemuka kalo Zea emang lebih baik sama lo,"
Rio langsung tertunduk.
" Kehidupan gue udah banyak yang berubah Orang tua gue sekarang udah baik gue juga udah Punya Pasangan yang sayang sama gue Nanti kalo ada waktu gue akan kenalin dia sama lo,"
Rio menjadi sedikit lega mendengar kabar baik itu Dia mendongak. " Gimana dengan sakit lo,"
" Gue akan dioperasi gue Punya Peluang untuk sembuh Doain aja yang terbaik,"
" Pasti sembuh "
Dipta tidak bisa menjawabnya sehingga ia diam.
" Jujur aja lo belum Pasti sembuhkan,"
" Sial ketebak lagi," Dipta tertawa hambar.
" Gue benci Pakek baju hitam Jadi lo jangan mati."
" Lo masih bisa Pakek baju Putih," Rio seketika memeluk Dipta
" Dipta gue benar-benar minta maaf,"
" Iya "
Pelukan Rio mengerat Momen yang sangat mengharukan ini membuat Rio menangis.
...•••••...
Di ruang makan
Aluna dan Sonya telah menyiapkan makanan untuk di hidangkan bersama keluarganya
" Makanan udah siap " Sonya menghidangkan makanan buatannya di atas meja makan
" Wahhh Mi kayaknya ini enak banget," Puji Aluna sambil membantu mertuanya. Mencium aromanya saja sudah membuatnya sangat tergiur.
" Makanan Paling spesial buatan Mami untuk suami tercinta anak tercinta dan menantu tercinta," Sonya melempar senyum Pada 3 orang yang spesial baginya lalu duduk di samping suaminya.
Aluna cepat mencoba masakan mertuanya itu. " Wow ini lezat banget Mi." Lagi-lagi gadis ini memuji.
__ADS_1
Dipta dan Bram segera mencicipinya
" Mantap," Puji Bram sembari menunjukkan jempolnya.
" Gimana Dipta kamu suka," Sonya sangat menunggu respon dari Putranya.
Dipta langsung menoleh ke istrinya
" aku Lebih suka dia sih," jawabnya.
Bram dan Sonya Pun langsung tertawa mendengar gombalan Putranya Sedangkan Aluna menahan salting dan refleks menepuk lengan suaminya
" Muka kamu itu kelihatannya seneng banget emang ada apa sih," tanya Aluna memancing
Bram dan Sonya segera menengok wajah anak mereka. " Bener 'kan, Mi, Pi ? Liat deh mukanya kayak ada manis-manisnya Kamu gak ke goda cewek lain kan,"
Dipta seketika tersedak dan cepat menyeruput minumannya
" Papi-Mami harus di Pihak aku ya Dipta udah mulai gak setia," lanjut Aluna
" Ya Allah ... aku seneng 'kan karena makan masakan Mami Mana mungkin aku ada main sama cewek lain, "
" Pasti kamu Bohong," sanggah Aluna sambil menggelengkan kepala.
" Seneng kamu beda kamu Pasti menyembunyikan sesuatu."
" Enggak Aluna karena aku udah baikan sama temen lama aku,"
" Tuhkan siapa ? Cewek Pasti,"
" Rio " Sonya langsung dapat menebak
Dipta mengangguk. " Nah tebakan Mami bener Tadi aku ke rumah Rio Kami juga main basket bareng Rio makin jago dan buat aku ngiri sama skill keren dia Dia berhasil mencetak Point dari lemparan jarak jauh,"
Dipta menghela napas berat." Aku kayaknya gak sehebat dia,"
" Putra kesayangan Mami lebih hebat dari siapapun," Sonya tersenyum menyemangati Putranya itu Kalau dia tidak menahan diri dia Pasti menangis di hadapan Putranya saat ini Sakit sekali Perasaannya saat tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Putranya itu.
" Kok kamu bisa baikan,"
" Kita udah baik-baik aja Mi dan Permasalahan kita udah selesai,"
" Cepet banget damainya ? Padahal waktu itu Kalau kamu ketemu Rio langsung berantem Pas ketemu,"
" Mana mungkin dia bisa lama-lama berantem sama Rio Aluna Orang Rio cinta Pertamanya," canda Sonya
Aluna Pun tertawa mendengar candaan itu.
" Mami ih, enggak ya ! Jangan ngada-ngada deh," bantah Dipta cepat.
" Nenek kamu aja Pernah cerita ke Papi takut ngeliat kedekatan kamu sama Rio khawatir kalian memiliki hubungan menyimpang," timbal Bram
" Pasti Nenek itu dulu ngarang cerita deh," Sahut Dipta
" Wah nenek bener-bener ya Masa iya cucunya sediri digosipin,"
Ruang makan Pun Penuh gelak tawa Momen makan malam terasa sangat menyenangkan.
Dipta menatap kedua orang tuanya secara bergantian Bram terlihat sedang tertawa bahagia begitupun dengan Sonya Dipta benar-benar tidak menyangka akan berada di momen ini mengingat betapa ia sangat dibenci oleh kedua orang tuanya.
Dipta yang dulu selalu menangis menantikan kebahagian ini Sampai membuatnya ingin menyerah dan memohon untuk diberikan kesempatan hidup sebentar saja Tuhan sudah mengabulkan harapannya untuk merasakan bahagia Apakah Tuhan juga akan benar-benar mengambil nyawanya ?
" Ya Tuhan makasih aku masih di beri waktu untuk melihat kebahagiaan ini," ucapnya dalam hati. Ia meneteskan air mata dan cepat mengalihkan Pandangannya.
Dipta menghapus air matanya dan memperlihatkan kembali wajah bahagianya.
...•••••...
Aluna duduk di Pinggir ranjang menanti Dipta yang baru saja masuk kedalam kamar.
" Dipta sini," ajaknya sambil menepuk-nepuk kasur mengajak suaminya duduk di sampingnya.
Dipta segera datang kemudian duduk di samping Aluna dan meratapi wajah cantik istrinya yang sedang senyam-senyum itu.
" Kenapa Kamu senyum gitu ada yang aneh, " Sahut Dipta
" Terus kenapa Kamu senyum gitu,"
Tangan Aluna bergerak memegang tangan Dipta
" Kita'kan udah gak sekolah lagi tinggal nunggu kelulusan aja Jadi ..." Ia malu-malu melanjutkan Perkataannya.
" Hm jadi apa,"
" Aku boleh gak aku minta sesuatu ke kamu,"
" Aneh "
" Kok aku dibilang aneh,"
" Gak seperti biasanya kamu minta sesuatu sama aku,"
" Soalnya sekali minta aku suka kebablasan Jadi kasihan kamu nya kalo aku keseringan minta,"
" Terus mau minta apa,"
" Aku ... aku Pengen kita ngadain Pesta Pernikahan,"
" Pesta Pernikahan ? Dipta langsung terdiam mendengarnya.
" Kita 'kan nikah kemarin tertutup banget Cuman keluarga besar kamu yang diundang Aku Pengennya semua orang tau kalau kamu suami aku Kita undang semua temen-temen SMA Kencana Para guru dan juga keluarga aku Gimana menurut kamu,"
" Kamu yakin dengan Keputusan kamu itu," Aluna mengangguk mantap
Sebuah Pesta Pernikahan akan membuat orang-orang luar tahu hubungan mereka Apa itu rencana yang baik ?
Bagaimana kalau operasinya itu gagal maka ia akan membuat gadis itu menjadi wanita yang malang Terlalu muda untuk Aluna menyandang status janda yang ditinggal mati suaminya Itulah alasan mengapa ia memilih merahasiakan Pernikahan mereka selama ini.
Soal keluarganya yang tahu tak akan jadi masalah karena tidak ada yang mengenal sosok istrinya. Sedangkan jika orang-orang yang mengenal Aluna tahu maka kasihan nasib istrinya itu Aluna kemungkinan dapat hinaan dari orang-orang.
" Kamu keberatan ya,"
Dipta tak kunjung memberi tanggapannya Aluna curiga suaminya itu tidak setuju dengan keinginannya
Dipta menggeleng.
" Terus kenapa kamu gak jawab Pertanyaan aku,"
" Aku ... aku ..."
" Ya udah kalo kamu keberatan," Aluna bangkit beranjak ke meja belajar Seolah ia tidak kenapa-napa Namun gadis ini tidak Pandai menyembunyikan raut kekecewaannya.
Sebagai Perempuan Aluna mendambakan sebuah Pesta Pernikahan. Menikah adalah hal terpenting baginya Kemarin hanya ada acara Pernikahan yang dilakukan dengan tertutup. la ingin semua orang tahu statusnya yang sebenarnya. la sudah menerima takdir Pernikahannya Masa sekolahnya juga sudah berakhir Lalu buat apa dirahasiakan lagi ?
" Aluna " Panggil Dipta
Aluna tidak menyahut.
" Aluna " Panggilnya lagi.
Aluna tetap mengacuhkannya.
" Aluna .... " Ketiga kali Dipta tetap diabaikan.
" Apa Pesta Pernikahan sangat Penting bagi kamu,"
" iya Dari kecil aku itu selalu membayangkan jadi ratu sehari di Pernikahan aku nantinya Sayangnya aku cuman dinikahi secara Privat," jawab Aluna sambil menyindir suaminya.
" Kamu gapapa kalo sahabat-sahabat kamu tau kamu nikah sama aku ? Gak masalah kalo nanti ada yang ngejekin kamu karena nikah muda atau kamu bakal difitnah hamil duluan,"
" Gapapa Yang Terpenting yang dikatakan mereka gak bener Aku bahagia sama kamu sahabat aku juga Pasti akan dukung Dan soal orang-orang yang julitin aku ya terserah mereka aja Selama aku gak salah kenapa harus takut sama mereka,"
Dipta memegangi Puncak kepala gadisnya sambil mengusapnya Pelan
" Kalo aku tetep gak mau ngadain Pesta apa kamu bakal marah sama aku,"
__ADS_1
" Marah sih enggak kecewa aja sih,"
" Oke kita akan buat Pesta Pernikahan secepatnya," Dipta melempar senyum terbaiknya Pada gadis yang sedang cemberut itu.
Aluna langsung bangkit dari tempat duduknya Aluna menghadap suaminya dengan mata yang terbuka lebar
" ini Beneran " tanyanya dengan eksaited.
" iya Sayang,"
" Makasih Sayang," Aluna langsung memeluk Dipta dengan sangat erat Inilah dirinya jika sudah jatuh cinta. la akan terlihat berbeda dari sikap biasanya. la akan sangat-sangat mencintai Pria yang berhasil membuatnya merasakan cinta Bahkan ia bisa mengorbankan apa saja untuk orang yang dicintainya.
" Gimana caranya aku bilang ke kamu Aluna Kalua orang yang kamu cintai ini akan menghadapi kematian," Ucap
Dipta dalam hatinya Air matanya jatuh Menangis dalam diam Merasakan hati yang begitu sakitnya.
" Dipta aku cinta kamu " Aluna tak sungkan lagi untuk mengutarakan Perasaannya Aluna merasa di sisi laki-laki yang tepat Maka ungkapan cinta Penting untuk ia katakan.
Setelah lama berpelukan Aluna melepas Pelukannya lalu tangannya bergerak memegangi tangan Pria di hadapannya la melangkah menuntun suaminya menuju ranjang mereka.
Di Pinggir ranjang mereka berdiri berhadapan Pegangan mereka melepas Aluna dengan berani melangkah lebih dekat Kedua tangannya mendarat di Pipi Pria itu. " I love you DIPTA " la berjinjit memejamkan mata kemudian mencium bibir Suaminya itu
Jantung yang Penuh dengan debaran Awal yang membuat Dipta terdiam kaku Membuat air matanya jatuh Ciuman yang semakin intim membuatnya memberi balasan Apakah hal yang terjadi selanjutnya tidak apa-apa jika ia lakukan ?
Dipta memandu gadisnya hingga tubuh mereka jatuh di ranjang Getaran cinta mereka semakin membara Ketika ciuman mereka melepas mereka saling menatap satu sama lain
" Aku siap " ucap Aluna dengan jantung yang berdebar tubuh yang terasa panas, dan hati yang merasakan cinta yang amat besar.
Namun Dipta hanya mengusap puncak kepala gadisnya dan memberikan kecupan di kening Setelah itu ia menjatuhkan tubuhnya di sebelah Aluna sambil memandangi langit kamarnya.
" Why " Timbul begitu banyak Pertanyaan di benak Aluna kenapa suaminya itu menolak untuk melakukan tugasnya sebagai suami Tugas yang telah lama Pria itu menahannya sampai hari ini.
Dipta tidak mau menjawab Diam saja tanpa tahu telah membuat istrinya merasa overthingking.
" Maaf Aluna aku gak bisa melakukan hal ini,"
" Dipta kamu kenapa "
Dipta seperti tidak berkuping Diam saja tanpa Pembalasan meski telah disindir istrinya dan sudah dikatai Pengecut.
" Terus kenapa Kamu diem aja dari tadi,"
Dipta menarik napas. " Gak apa-apa aku belum siap aja,"
Beberapa menit mereka tenggelam dalam kesunyian Sebelum Aluna kembali mengajak bicara.
" Dipta aku gak usah kuliah aja ya."
" Katanya mau jadi dokter Mana ada dokter gak kuliah,"
" Aku mau jadi ibu rumah tangga aja Kalo dipikir-pikir aku udah Punya suami kaya Jadi aku kayaknya cukup jadi ibu yang baik untuk anak-anak kita Kalo aku jadi dokter nanti aku sibuk kayak mami kamu Anak kita bakal sedih kayak bapaknya Jadi aku gak usah kuliah aja ya,"
" Gak boleh "
" Kok gak boleh sih ? Kan jadi ibu juga Pekerjaan yang mulia," rengek Aluna
" Iya mulia tapi kalo gak dapat izin dari suami gak jadi mulia,"
Aluna bangkit mendudukkan dirinya
" ini semua salah kamu "
" Kok jadi nyalahin aku,"
" Siapa suruh nikahin aku dan sekarang aku jadi bucin banget sama kamu Aku mau gila sampe gak mikirin cita-cita aku lagi,"
" Terus masih nyesel nikah sama aku,"
" Justru aku sebel karena kamu gak kayak awal Pernikahan kita Aku ngerasa kamu seperti orang lain,"
" Kamu mau aku kayak dulu lagi,"
" Iya "
" Gak bisa aku udah terlanjur ke update versi terbaru,"
" Kamu kira hidup kamu itu aplikasi apa ! Aku gak sedang bercanda dasar nyebelin,"
Aluna kembali berbaring dengan Posisi memunggungi suaminya.
" Aku Pengen Punya anak kembar," Dipta memiring menghadap Punggung Aluna lalu tangan Pria ini melingkar di tubuh sang istri.
Aluna membiarkan tangan nakal suaminya itu memeluk dirinya.
" Tapi itu dulu Sekarang aku gak Pengen Punya anak Aku gak akan jadi orang tua yang baik Kamu juga masih terlalu muda Anak-anak hanya akan jadi beban buat kamu,"
Aluna bergerak menghadap Dipta
" Salah Anak itu bukan beban Mereka datang karena kemauan orang tua Anak-anak itu Pelengkap kebahagiaan dalam Pernikahan,"
Dipta Cuman menatap tanpa bicara lagi.
" Kamulah yang harus Percaya sama aku Aluna Jangan libatkan anak-anak di dalam Pernikahan kita Kamu lebih baik fokus ke masa depan kamu Kejar impian kamu jangan Pikirin rumah tangga kita," Dipta beralih membelakangi Aluna
" Aku gak mau gara-gara aku kamu melupakan cita-cita kamu."
" Apa cita-cita masih Penting ketika kita udah menemukan sumber kebahagian kita Aku rasa udah gak Perlu cari kebahagian lagi di luar sana,"
" Dulu aku Punya semangat luar biasa untuk bisa ngejar impian aku karena aku berpikir hal itu bisa buat aku bahagia Sekarang udah ada kamu
yang ternyata jadi sumber kebahagian aku Terus buat apa lagi aku Pergi Sama kamu aku udah Punya segalanya Apalagi yang harus aku cari,"
" Oke jika seandainya aku kuliah keluar negeri lulus dan jadi seorang dokter Terus apa ? Aku cuman akan kehilangan waktu-waktu berharga sama kamu. Aku sibuk, kamu sibuk, lalu apa? Gak bahagia 'kan."
" So aku gak Perlu impian aku lagi Aku cuma butuh kamu,"
Dipta mengepal tangannya. Ia sudah tidak tahan lagi Ia bergegas turun ranjang.
" Jangan Pernah korbankan impian kamu demi aku," tekannya Pada gadis itu Dipta sangat tidak suka dengan statement istrinya.
Aluna Perlahan mendudukkan dirinya.
" Kamu gak bisa Paksa aku harus melakukan apa yang gak mau aku lakukan Dipta,"
" Aku Punya keputusan sendiri Aku udah Putuskan aku gak mau kemana-mana Aku mau tetap di sini sama kamu,"
" AKU BILANG JANGAN PERNAH KORBANKAN IMPIAN KAMU DEMI AKU ALUNA," bentak Dipta
Aluna terbelalak kaget dan terperanjat mendengar suara keras Pria itu Benar-benar membuat wanita ini terkejut dan takut.
" Kalo kamu ingin aku seneng kejar impian kamu itu Gak usah sok mau nemenin aku setiap waktu Aku gak Perlu itu yang aku mau kamu tetap seperti Aluna yang aku kenal Penuh dengan semangat untuk ngejar impiannya bukan jadi cewek lemah yang mau aja hidup demi laki-laki tanpa mikirin dirinya sendiri,"
" Kamu harus mandiri ! Jangan bergantung sama aku ! Aku ... aku belum tentu bisa nemenin kamu terus Siapapun bisa Pergi kamu cuman boleh ngandelin diri sendiri,"
" Jangan jadi Perempuan jangan bodoh Aluna jangan mengabdikan diri demi 1 laki-laki," sarkasnya tanpa maksud menyakiti. Ia hanya ingin Aluna sadar dengan Pikirannya yang dibutakan cinta itu.
Aluna meneteskan air matanya.
" Apa maksud kamu orang yang menikahi aku bukan Pria yang baik,"
Dipta menundukkan Pandangan sedihnya.
" Kamu juga harus mikirin masa depan kamu Aluna Kamu gak boleh mikirin aku aja,"
" Kenapa gak boleh ? Salahnya dimana Dipta Aku cuman Pengen jadi istri yang baik buat kamu Istri yang selalu di rumah nyiapin makanan untuk suaminya jadi ibu yang baik untuk anak-anak kita Apa yang salah dari tugas ibu rumah tangga Aku ingin mengabdikan diri sebagai istri yang baik Kenapa gak boleh,"
Dipta mengangkat Pandangannya
" Karena kalau aku mati hidup kamu akan hancur Aluna," jawabnya dalam hati.
" Kenapa Dipta ? Kenapa gak boleh "
" Karena kalau kamu mau aku bahagia tetap kejar impian kamu," tegasnya.
Dipta melenggang keluar kamar Ketika Pintu tertutup la bersandar Ucapannya sangat keterlaluan Kasar dan lagi-lagi membuat Aluna menangis Perkataan orang tuanya saat itu ternyata benar.
__ADS_1
" Maafin aku Aluna ini semua demi kebahagiaan kamu aku gak mau kamu terpuruk setelah aku tidak ada di samping kamu aku ingin kamu sukses Aluna," lirih Dipta dalam hati
...•••••...