
Jam dinding menunjukkan Pukul 22.15 WIB. Aluna terus mondar-mandir di kamarnya menunggu kepulangan Dipta Sejak tadi ia mencemaskan suaminya itu. Ia sudah mencoba menghubungi Dipta maupun Kenzo tetapi kedua nomor cowok itu tidak dapat dihubungi Aluna sangat merasa cemas.
Aluna mencoba menenangkan dirinya la pun duduk di Pinggir ranjang dan mencoba menghubungi Dipta dan Kenzo kembali Sayangnya sudah beberapa kali mencoba hasilnya tetap tidak ada.
" Dipta kamu dimana sih " tanyanya sambil menggenggam Ponselnya.
" Bikin aku cemas aja deh " Ia menghela napas Panjang
Akhirnya Aluna menghubungi Chiko Sebenarnya sejak tadi ia berniat untuk meminta bantuan Chiko Namun Aluna tidak enak hati karena sering merepotkan teman kelasnya itu.
Saat Panggilan tersambung Perasaan Aluna lega dan ia segera menempelkan Ponselnya di kuping. Ia pun berbicara banyak Pada cowok Chiko Memberitahu bahwa Dipta yang Pergi bersama Kenzo sampai detik ini belum juga Pulang. la juga bercerita tentang nomor Parhan yang tidak dapat dihubungi begitu juga dengan nomor Dipta Untungnya Chiko memahami kecemasannya dan berjanji akan mencari tahu. Ia juga diminta untuk tenang dan menunggu karena menurut Chiko mungkin saja Dipta dan Kenzo sedang dalam Perjalanan.
Selesai berbicara Pada Chiko Aluna meletakkan Ponselnya di atas nakas. la berusaha untuk tenang dan mengistirahatkan dirinya. la pun berbaring dan memandangi jam dinding yang terus berjalan sampai membuatnya mengantuk dan tertidur.
...•••••...
Langit menjadi cerah disinari matahari Pagi Cahaya masuk di cela jendela dan menyinari wajah Aluna yang tertidur Pulas Gadis itupun membuka matanya kemudian mendudukkan diri di Pinggir ranjang Aluna menoleh melihat jam dinding yang menunjukkan Pukul 6 Pagi.
" Dipta ayo bangun Kita jogging yuk," ajaknya mengingat hari ini hari libur Ia beranjak membuka tirai lalu membuka Pintu jendela dan melangkah ke balkon Aluna menghirup udara segar.
" Hai Pak Panji " sapanya yang melihat Pak Panji yang berdiri di depan Pos jaga. Pria tua itupun melambaikan tangan Padanya.
" Dipta Ayo siap-siap " Aluna melangkah masuk ke kamar
" Loh, kok dia gak ada " Aluna tidak mendapati Dipta di kamar.
" Dipta "
" Dipta kamu di kamar mandi ya,"
Aluna Pergi memeriksa kamar mandi Akan tetapi kamar mandi kosong tidak ada siapapun.
" Loh dia kemana,"
Aluna Pun terus memanggil Pria itu sampai memeriksa kolong tempat tidur Siapa tahu Dipta bersembunyi di sana untuk mengerjainya. Maklum Dipta kan suka iseng Padanya tetapi setelah diperiksa tidak ada siapa-siapa.
" Kemana sih dia "
Aluna keluar kamar mencari Dipta di semua ruangan di rumah ini Ke ruang tengah ke dapur ke halaman belakang ke kamar tamu ke seluruh Penjuru rumah tetapi anehnya rumah begitu sepi bak tidak ada tanda-tanda orang lain di sini. Seperti hanya ada dirinya. Suasana juga begitu sunyi dan Perasaannya mulai tidak enak Seolah ada yang terjadi tanpa ia ketahui Cepat ia ke lantai tiga menuju kamar Shifa Sampai di kamar gadis nakal itu ia tidak mendapati siapapun.
" Shifa ..... "
" Shifa ..... "
Aluna terus menelusuri kamar tapi tetap tidak menemukan Shifa Ada hal yang menjanggalkan, jika cewek itu Pergi Pasti akan merapikan kamarnya dulu Namun kamar Shifa begitu berantakan seolah ditinggal buru-buru Perasaan kurang nyaman menghantuinya la kembali ke kamarnya.
Aluna yakin ada sesuatu yang terjadi Cepat ia memeriksa Ponselnya dan ada Pesan masuk dari mertuanya
...PAPI...
...Aluna Dipta di rumah sakit Kamu segera ke sini ya Maaf baru kasih tau kamu Soalnya Papi baru sempat Dipta di rawat di rumah sakit mandiri...
Aluna langsung terdiam setelah membaca Pesan itu
Dengan rasa sangat khawatir Aluna segera bersiap untuk ke rumah sakit la terburu-buru dan menaiki taksi Perasaannya sangat cemas dan bingung juga apa yang sebenarnya terjadi Kenapa Dipta bisa di rumah sakit dan sejak kapan cowok itu berada di sana ? Dan apakah ia orang terakhir yang baru tahu soal kejadian buruk itu ?
Setibanya di rumah sakit ia segera mencari ruangan dimana tempat Dipta dirawat Ketika telah menemukannya ia mendapati kedua mertuanya yang menunggu di depan ruangan dan ada Shifa juga di sana.
" Mami Papi " Panggilnya dan mertuanya Pun menoleh.
Sonya bangkit dan melangkah menghampiri Aluna yang terlihat sangat cemas Aluna pun memeluk menantunya itu.
" Dipta kenapa Mi "
" Kenapa Dipta di rumah sakit,"
" Apa yang terjadi Pada Dipta Mi,"
Sonya mengusap Punggung Aluna dengan lembut.
Aluna melepaskan Pelukan Sonya. " Mi Dipta kenapa,"
Sonya diam saja
Aluna segera melihat keadaan Ali di balik kaca Pintu Aluna melihat Dipta sedang ditangani seorang dokter bersama 2 Perawatnya.
" Apa yang terjadi sama Dipta Mi, Pi Apa Dipta kecelakaan,"
__ADS_1
Sonya menoleh ke suaminya.
" Dipta gapapa Aluna Dipta cuman kecapean Untungnya ada orang baik yang nolongin dia dan membawa di ke rumah sakit," ucap Bram menghampiri Aluna dan menyapu Pelan Pundak gadis itu.
" Kamu gak usah khawatir Dipta akan segera sadar kok,"
Aluna menghadap Bram. " Tapi Pi ... "
Sonya mengusap rambut Aluna " Kamu tenang ya Dipta akan baik-baik aja," katanya sambil menahan sesak di dadanya Namun ia tidak berhasil menahan air matanya yang kini mengalir membasahi wajahnya.
Aluna menghadap Sonya
" Mami ... kalau Dipta gak kenapa-napa Dipta gak mungkin di ruangan ICU kan ? Kalian menyembunyikan sesuatu ya dari aku Mami gak mungkin nangis kalau Dipta baik-baik aja,"
Bram menghela napas berat. " Mami gak kenapa-napa Aluna dia hanya terlalu mencemaskan Dipta," katanya untuk menutupi sesuatu.
Sonya mengusap air matanya lalu mengangkat kedua sudut bibirnya Sonya meraih tangan menantunya itu
" Papi kamu benar Mami cuman terbawa suasana kok."
Aluna akhirnya mengangguk Percaya dan kembali melihat Dipta
" Sampai kapan mereka mau berbohong, apa sampai Ali udah gak ada," batin Shifa yang
merasa kesal karena orang tua dari sepupunya itu terus membohongi Aluna Sebagai Perempuan jika ia di Posisi
Aluna Pasti akan sangat terluka apabila baru tahu kondisi suaminya ketika sekarat nanti.
Dokter keluar dari ruangan Aluna langsung bertanya mengenai kondisi Dipta tapi tidak mendapat jawaban Dokter hanya bilang ingin berbicara Pada orang tua Pasien Sehingga Aluna belum tahu Pasti keadaan Dipta. Dipta juga belum bisa dikunjungi sehingga ia hanya bisa duduk menunggu bersama Shifa.
" Aluna " Panggil Shifa.
Aluna menoleh memandangi sepupu suaminya itu Shifa kemudian menggenggam tangannya dan menatapnya lekat.
" Gue Pulang Amerika hari ini Pesawat gue terbang nanti sore Seharusnya Dipta nganterin gue bareng lo ke bandara Tapi kayaknya keinginan Dipta gak sesuai rencana So, sebelum gue Pergi gue I'm very-very sorry, Aluna Gue gak Pernah benci lo, gue cuman bercanda and you have to Promise Lo jangan Pernah ninggalin Dipta apapun yang terjadi Lo gak boleh benci dia dan lo harus nemenin dia."
Mata Shifa berkaca-kaca menahan kesedihan Namun air matanya tetap saja jatuh dan ia cepat menyekanya.
" Lo satu-satunya orang yang berarti untuk dia Aluna Dan tolong bilang ke Dipta gue sayang sama dia dan gue Pengen dia gak nyerah,"
" Lo tau sesuatu ya " Curiga Aluna Tidak mungkin Shifa sampai menangis jika keadaan Dipta baik-baik saja Dari mata Shifa ia juga bisa melihat ada yang cewek itu sembunyikan darinya.
" Shifa kasih tau gue Dipta kenapa Gue istrinya dan gue berhak tau," desak Aluna
Shifa melepaskan tangan Aluna kemudian bangkit dari duduknya
" itu Bukan hak gue untuk ngasih tau lo You just Promise me jangan tinggalin Dipta Oke,"
Aluna tidak mengatakan apa-apa Diam dengan isi kepala yang Penuh tanda tanya
" Gue Pamit Pulang gue harus siap-siap By the way gue senang bisa kenal sama lo Semoga kita bisa kumpul lagi bareng Dipta," Shifa mengigit bibir bawahnya menahan diri untuk tidak meneteskan air mata lagi lalu beranjak Pergi.
Kini Tinggal Aluna sendirian dengan Perasaan yang masih belum tenang Masih dengan kebingungan masih dengan kekhawatirannya dan masih dengan tanya di kepalanya.
Sekitar 30 menitan menunggu orang tua Ali kembali Namun hanya Bram sendirian tanpa istrinya.
Aluna berdiri. " Pi apa kata dokter Dipta baik-baik aja, kan,"
Bram menundukkan Pandangannya Menahan sesuatu lalu memandang
Aluna kembali dan melempar senyuman Pada menantunya itu. la Pun memberi anggukan.
Aluna menarik napas lega. " Syukurlah jadi Dipta bisa Pulang hari ini kan, Pi,"
Bram diam saja. " Oh ya Mami mana Pi,"
" Nemenin Shifa Pulang," jawab Bram lemah.
" Oh ya Pi aku udah boleh jenguk Dipta belum,"
" Iya boleh kok Aluna "
" Oke Aku masuk dulu Pi " Diangguki Bram Aluna pun meninggalkan mertuanya dan masuk kedalam ruang rawat Dipta
Sebelum Pergi Bram melihat Putranya dari kaca Pintu
Aluna tampaknya sudah sangat nyaman dengan Putranya itu Lihat saja gadis itu sangat bersemangat bertemu Dipta Tampaknya gadis itu juga mengajak Putranya bicara meski Dipta belum sadarkan diri.
__ADS_1
Bram beranjak Pergi ke suatu tempat Dimana Sonya berada. Istrinya itu tidak menemani Shifa melainkan sedang di rawat karena sempat Pingsan saat mendengar penjelasan dari dokter mengenai kondisi Putra mereka yang semakin terpuruk.
Bram memasuki ruangan la melihat Sonya yang menangis di ranjang Bram Pun memeluknya untuk menenangkan
" Pi Mami belum siap kehilangan Dipta Mami gak mau kehilangan kedua anak kita Pi kenapa ini terjadi sama kita Pi ...,"
" Mami gak mau Dipta Pergi Mami belum siap ..... "
Bram mempererat Pelukannya tanpa mengatakan sepatah katapun. la biarkan istrinya menangis dalam bekapan tubuhnya.
...•••••...
" Dipta ayo bangun Aku janji kalau kamu cepat bangun aku akan beliin es cream," ucap Aluna yang duduk di Pinggir ranjang menunggu kesadaran Dipta
" Kamu sakit apa sih Dipta Kok Pucet banget Kamu cuman tidur biasa aja kan,"
" Oh ya, Kenzo ninggalin kamu ya? Ah Parah teman kayak apa dia Besok-besok jangan mau lagi kalau diajak Pergi sama Kenzo Dia bukan teman yang baik Dia ninggalin kamu."
" Dipta kok belum bangun juga Kata Papi-mami kamu gak kenapa-napa Tapi kok, kamu di ruangan intensive kayak gini Kamu gak sakit Parah kan Dipta Kamu cuman kecapean doang,
kan,"
Aluna menggenggam tangan Dipta dan memberikan elusan. " Tangan kamu dingin banget Dipta Apa karena AC-nya kekencangan ? Mau aku kecelin gak,"
Suara Pintu terbuka membuat Aluna menoleh dan ternyata Chiko yang datang. Cowok itu langsung menghampiri Dipta dan Chiko terlihat kepanikan.
" Dipta sorry gue harusnya selalu ada di samping lo Seharusnya gue gak biarin lo sendirian Seharusnya gue gak biarin Parhan Pergi sama lo Semua ini salah gue," Mata Chiko berkaca-kaca melihat sahabatnya yang terbaring di ranjang Pasien.
" Chiko " Panggil Aluna yang merasa bingung dengan sikap Chiko yang kayaknya sangat mengkhawatirkan Dipta
Chiko mengalihkan Pandangannya ke Aluna," Aluna gue minta maaf. Semua ini salah gue. Gue gak seharusnya biarin Kenzo Pergi sama Dipta tanpa gue. Gue juga yakin Kenzo gak bermaksud ninggalin Dipta Gu-gue yang salah," jelasnya dengan Penyesalan.
" Chiko tenang Gue gak nyalahin lo Dipta juga gak kenapa-napa Orang tuanya bilang Dipta itu cuman kecapean kok Untungnya ada orang baik yang nolongin Dipta,"
Chiko menunduk. " Lo gak tau aja Aluna Apa yang sebenarnya terjadi sama Dipta,"
" Gue sebel sih sama Kenzo Pergi bareng Dipta bukannya Pulang bareng malah Dipta ditinggal," lanjut Aluna
Chiko kembali menatap Aluna " Lo tenang aja Tugas lo cukup selalu di samping Dipta Urusan Kenzo biar gue yang tanganin,"
" Oke Makasih ya Chiko lo udah baik banget sama gue,"
" Gak usah makasih Gue lakuin bukan buat lo tapi buat Dipta,"
" Gue keluar dulu Dipta jangan ditinggal Gue ada urusan lo jagain Dipta ya sampai dia sadar," tambah Chiko.
Aluna mengangguk Chiko pun beranjak meninggalkan ruangan untuk bertemu orang tua Dipta Aluna yang menggenggam tangan Dipta merasa ada pergerakan dari cowok itu Apalagi ketika melihat kelopak mata Dipta yang Perlahan terbuka.
" Dipta akhirnya kamu bangun juga," ucapnya merasa senang.
Dipta membuka mata dengan sempurna Perlahan Dipta mengangkat sudut bibirnya.
" Kamu kenapa ? Apa yang terjadi,"
Dipta menggelengkan kepalanya dengan Pelan.
" Kenzo ninggalin kamu ya " Dipta memberi anggukan dengan gerakan lambat.
" Kenzo tega besok-besok jangan mau lagi ya nemenin Kenzo,"
Dipta hanya menatap tanpa memberi respons.
" Dipta Shifa Pulang hari ini Dia bilang dia sayang kamu dan dia minta kamu gak nyerah Kalau aku boleh tau maksudnya gak nyerah itu dalam hal apa ya ? Aku gak ngerti maksud dia," Perlahan Dipta menggerakkan tangannya untuk mengusap Pipi Aluna
Perlahan Dipta menggerakkan tangannya untuk mengusap Pipi Aluna
Tidak ada jawaban yang Aluna dapat hanya usapan lembut dari suaminya itu.
" Kamu gak sakit Parah kan Dipta "
Mendapat Pertanyaan itu membuat Dipta berhenti memberikan sentuhan Pada Pipi gadisnya.
" Kata mami dan Papi kamu Cuman kecapean aja sih dan aku Percaya sama mereka Makanya kamu setelah Pulang sekolah itu jangan keluyuran Kalau udah waktunya Pulang wajib Pulang Paham,"
Dipta memberi anggukan Aluna tersenyum. " Aku khawatir banget sama kamu. Kamu jangan buat aku takut Dipta Aku gak mau kamu kenapa-napa," Aluna menggapai kepala suaminya itu lalu mengusap rambut Dipta
" Sehat-sehat selalu yaa," katanya.
__ADS_1
...•••••...