DIPTA

DIPTA
EPISODE 73


__ADS_3


...Menyakitimu adalah bukan keinginanku Tapi aku hanya ingin kamu bahagia...


" Kamu seorang itu Pembunuh Dipta "


" Kamu udah membunuh anak saya,"


" Daniel mati gara-gara kamu "


" Saya benci banget sama kamu "


" Kamu udah ngerusak kebahagian saya,"


Dipta kecil meneteskan air matanya


" Mami .... " Dipta mendekat Pada wanita itu namun tubuhnya didorong hingga jatuh.


" Kamu Pembunuh Dipta "


" Saya benci sama kamu "


" Gak ada gunanya kamu di dunia ini "


Dipta mengangkat kelopak matanya Tangannya mengepal mengingat kejadian di masa lalunya yang melukai hatinya.


Di mana saat ia terlampau rindu Pada ibunya sehingga bersikeras untuk datang kekediaman orang tuanya tanpa memberitahu neneknya Namun ketika sampai di sana ia malah dicaci maki di hari ulang tahunnya yang sangat ingin ia rayakan bersama kedua orang tuanya. Setiap tahun ia menantikan mami dan Papinya menghadiri hari jadinya Akan tetapi mereka yang ia harapkan hadir tidak Pernah menginjakan kaki untuk sekedar merayakan hari spesialnya.


Semakin dewasa akhirnya ia mengerti Semua Perihal Prioritas saja Neneknya yang selalu berkata bahwa orang tuanya terlalu sibuk Bukan memang ia saja yang disengaja tidak jadi Prioritas utama Walaupun sekarang ia telah serumah bersama kedua orangnya Diberi cinta dan Perhatian rasanya hambar saja Padahal dulu momen inilah jadi harapan terbesarnya. Justru sekarang ia malah merindukan kebersamaannya dengan sang nenek.


Dipta sudah berusaha untuk lupa akan semua luka yang ia dapatkan sejak kematian saudaranya Akan tetapi setiap kali sakit mentalnya kambuh selalu saja kalimat-kalimat yang melukainya di masa lalu datang memenuhi isi kepalanya Membuatnya menggila dan ingin mengakhiri saja hidupnya.


Dipta melirik wanita yang duduk di meja belajar Gadis itu adalah Penyemangatnya Namun kini ia merasa bersalah Pada gadisnya. Setelah ia memikirkannya seharusnya ia tidak melibatkan gadis itu kedalam hidupnya. Niatnya membantu gadis itu sekaligus menjadikannya seseorang yang bisa membuatnya senang meski terbatas waktu Sekarang ia merasa mengutuk gadis itu Menjebak kedalam dunianya yang jauh dari kata tenang.


Aluna berpaling dari buku Paket menoleh ke arahnya Mata mereka bertemu dan gadis itu semacam membaca Pikirannya.


" Dipta " Panggil Aluna


Dipta memilih untuk diam saja


Aluna menutup buku Paketnya berhenti dari belajar malamnya. la fokus melihat raut wajah suaminya yang kelihatan muram dan sejak kejadian tadi sore tak kunjung membuka mulut untuk berbicara.


" Dipta are you okay "


Dipta hanya masih diam saja tidak menghiraukan ucapan Aluna Entah sedang apa yang di Pikirkan Dipta


" Aku khawatir sama kamu Dipta Tolong jawab aku Are you okay or no," Akhirnya Dipta membuka mulut.


" No " jawabnya Pelan Aluna pun bergerak menghampiri Dipta Berdiri di hadapan Pria berstatus suaminya itu.


" Kenapa gak bilang dari awal ? Kenapa kamu diam aja ? Kenapa gak cerita aja sama aku ? Aku ini udah bagian dari hidup kamu Dipta Cerita aja gapapa Aku Pasti dengerin kamu."


Dipta langsung bungkam.


" Ayo cerita ke aku Apa yang kamu Pikirkan saat ini ? Aku akan cari solusi terbaik untuk kamu."


Dipta hanya diam saja. Ia tidak butuh solusi Dipta hanya harus menyampaikan sesuatu yang ada di kepalanya Sesuatu yang berat untuk ia sampaikan.


" Ya udah kalau kamu gak mau cerita gapapa Tapi kamu Perlu ingat kalau aku selalu ada buat kamu kapanpun kamu butuh aku. Aku akan menemani kamu sampai kamu Pulih dan bisa melupakan rasa sakit kamu di masa lalu,"


Aluna memeluk Dipta Memberikan sentuhan hangat dan usapan lembut di Punggung Pria itu.


5 detik kemudian Dipta melepaskan Pelukan gadis itu. la menatapnya lurus tanpa berkedip sekalipun Aluna meraih tangannya dan menempatkan di dadanya.


" Aku janji, aku janji gak bakal ninggalin kamu," ucap Aluna meyakinkan Prianya la tersenyum.


Aluna menundukkan kepalanya Aluna berpindah duduk di samping Dipta Tangannya bergerak mengambil tangan kanan suaminya, menggenggamnya cukup erat. " Kamu gak Percaya sama aku," Dipta menatapnya ragu Entah memang benar atau hanya Perasaannya saja.


Mulut Dipta tertutup rapat Tidak ada sekata Pun balasan dari Pria itu.

__ADS_1


" Kamu meragukan aku "


Dipta bangkit berdiri membelakangi Aluna


" Aku Tidak meragukan kamu Aluna "


" Kalau gak kenapa ..... "


Dipta memutar tubuhnya menghadap Aluna


" Gak usah janji apa-apa ke aku Aluna Aku gak butuh janji apapun dari kamu," jelasnya.


Aluna ikut berdiri. " Maksud kamu apa Dipta "


" Karena aku bakal nyakitin kamu "


Aluna terkejut mendengar jawaban Dipta la pun terdiam lama mencerna kalimat lelakinya itu Mata Dipta memerah dipenuhi cairan bening Setitik air mata berhasil jatuh dari ekor matanya. Ia menunduk sedih sembari mengepal kedua tangannya. la sungguh tidak ingin membahas hal ini Dipta tahu Aluna akan tersakiti dengan keputusan egoisnya. Namun jika ia tidak melakukannya maka ia akan menyakiti Aluna lebih jauh lagi. Percayalah ia sama sekali tidak ingin menyakiti wanita yang selama ini jadi Penyemangat dalam hidupnya.


" Kenapa Dipta ! Kenapa kamu bakal nyakitin aku ? Apa bukan aku lagi seseorang yang kamu butuhkan,"


Aluna menghela Panjang Merasa Putus asa menghadapi suaminya. " Apa ini maksud dari kata-kata kamu yang bilang aku gak menggantikan Posisi siapapun di hidup kamu ? Apa aku masih kalah dari seseorang masa lalu kamu,"


Dipta menggigit bibir bawahnya


" Jawab Dipta "


" ..... "


" Jawab Pertanyaan aku Dipta "


" ..... "


" JAWAB DIPTA " Pekiknya.


" Bukan karena dia Aluna " jawab Dipta dengan Penekanan.


" Terus apa ? APA DIPTA "


" Kamu mau cari alasan apalagi Dipta Terus terang aja Memang aku udah gak kamu butuhkan lagi, kan,"


Dipta langsung menarik napas Panjang. Ia mencapai tangan Aluna. " Kamu masih ingatkan dengan Perkataan aku ketika di mobil,"


" Ya aku ingat ! Kamu meminta sesuatu dari aku, kan Minta apa ? Minta aku Pergi," Air mata Aluna meleleh jatuh.


" ..... "


" Maafin aku Aluna " lirih Dipta merasa sangat bersalah.


Aluna terperangah matanya menatap tak Percaya. Ia yang selama ini berusaha tetap bertahan dan belajar menerima lelaki di hadapannya. Kini semua hal yang ia upayakan terasa Percuma Hatinya sesak Bahkan saat ini terasa lebih menyakitkan daripada ia kehilangan seseorang yang ia kagumi Pada Dipta mungkin saja mulutnya selalu berkata tidak ada hati untuk Pria itu seperti yang ia katakan Pada sahabatnya. Ia hanya sekedar kasihan Pada Dipta namun sebenarnya lebih daripada itu Ia cuman belum mengakuinya.


" Aku tahu Aluna kamu menerima aku hanya sekadar Kasihan kan kamu hanya mencintai Angga aku sudah tahu," teriak Dipta


Aluna kaget mendengar ucapan Dipta barusan


" Dipta aku bisa jelasin .... "


" Nggak Perlu ada yang jelasin lagi Aluna aku memang laki-laki yang tak Pantas dicintai kamu itu sama aja kayak Zea .... "


" Dipta Please dengerin Penjelasan aku dulu aku memang dulu hanya kasihan sama kamu Tapi aku yakin rasanya gak akan sesakit ini kalau aku sekedar mengasihani kamu. Aku minta maaf awalnya aku memang Pura-pura menerima kamu Tapi saat ini aku udah jatuh cinta sama kamu Dipta," Suara Aluna terdengar Parau.


" Aku udah jatuh cinta sama kamu Dipta," Aluna mengulangi kembali Perkataannya agar Pria itu tahu Perasaannya lebih jelas.


Dipta memegang kedua Pundak Aluna dan menatapnya dengan tatapan sendu


" Aluna jangan Pernah mencintaiku " sahut Dipta


" Aku gak mau egois lagi Aluna A-aku gak mau menghambat kamu Kamu benar keputusan aku menikahi kamu itu adalah hal yang sangat salah Gak seharusnya aku menghancurkan impian kamu selama ini Gak seharusnya aku memaksa kamu ada untuk aku. Aku sangat menyesal Aluna Aku gak mau hal yang terjadi sama aku dan Zea terulang ke kamu."


Dipta menitikkan air matanya. " Kamu bukan gak berharga lagi bagi aku Aluna Justru kamu terlalu berharga bagi aku. Aku laki-laki yang gak bisa diandalkan. A-aku ... aku hanya akan menyakiti kamu,"

__ADS_1


Aluna membungkam.


" Kita lebih baik berpisah," ujar Dipta dengan berat hati Daripada ia menyakiti Aluna lebih jauh, ia memilih menyakiti Aluna lebih awal agar luka gadis itu tak separah ketika ia yang mungkin saja Pergi tanpa berpamitan.


Aluna mengangkat tangan lalu melayangkan tamparan ke wajah Pria di hadapannya.


PLAK


Sekali lagi ia melayangkan tangan ke Pipi kanan suaminya. Menyadarkan Pria itu jika Permintaanya sangatlah menyakiti hati wanitanya ini.


Kenapa Pria itu begitu tega ingin mencampakkannya Apa salahnya ? Apa menurut Pria itu meninggalkannya adalah yang jalan terbaik ? Pemikiran yang tidak dapat ia terima. Bagaimana mungkin bahagia didapat dari Perpisahan ? Tidak ada ending yang bahagia dengan cara berpisah Bukankah begitu ?


" Aku ingin yang terbaik untuk kamu Dan bukan aku orangnya," tegas Dipta


" itu asumsi kamu aja Dipta jika bukan kamu yang terbaik buat apa aku masih bertahan sejauh ini,”


" Kamu Pikir aku masih di sini karena menikmati momen dimana gak ada mama Gak ada orang tua yang membuat aku muak dengan sikapnya,"


" Bukan Dipta " Aluna memukul dada Pria itu.


Aluna menarik napas kasar. " Denger ya Dipta Yang terbaik bagi aku, aku yang lebih tau,"


" Bisa-bisanya kamu menikahi aku dan sekarang kamu ingin mengakhiri hubungan kita ! Mana Perasaan kamu,"


" TEGA KAMU "


Aluna memukul-mukul dada pria yang tega membuangnya itu. " Aku udah ikhlasin semuanya Aku udah bisa nerima kamu Dipta ! Aku udah nyaman sama kamu Dipta,"


" Kalau kamu gak serius dari awal kenapa kamu membawa aku masuk kedalam kehidupan kamu,"


Aluna menunduk seraya menangis hebat.


" Aku gak mau Pergi dari kamu Dipta " lirihnya.


" justru kamu egois jika ninggalin aku "


" Aku udah bahagia sama kamu "


" Kenapa kamu harus Pergi Dipta "


" Terus siapa lagi yang akan Peduli sama aku jika kamu udah gak ada,”


" Apa kamu udah gak cinta sama aku lagi ? Apa Zea lebih baik dari aku,"


Aluna mendongak. " Benarkan kalian mau balikan makanya sekarang kamu minta aku untuk Pergi,"


Dipta menggelengkan kepalanya. " Gak Aluna gak .... "


Aluna menarik leher baju Dipta


" TERUS APA DIPTA "


" KASIH TAU AKU "


" KAMU YANG BUAT AKU SUKA KE KAMU, DAN SEKARANG KAMU JUGA YANG MAU NYAKITIN AKU,"


" HEBAT KAMU YA KAMU BENAR-BENAR MEMPERMAINKAN HIDUP AKU DIPTA "


" GAK ADA HATI KAMU "


" Hiks .... "


Lutut wanita ini melemah. Ia bertekuk lulut dan menunduk sambil menangis di hadapan Pria yang berhasil mendapatkan hatinya.


" Jangan lakukan ini ke aku Dipta Plis jangan Pergi Aku minta maaf atas segala kesalahan aku Tapi aku mohon jangan balas dendam dengan cara seperti ini. Aku gak mau kehilangan siapa-siapa. Aku sadar aku bersikap jahat sama kamu selama ini. Aku mohon jangan Pergi...”


Dipta memalingkan wajahnya. Ia tak sanggup melihat tangis wanita yang dicintainya itu.


" Percaya sama aku Dipta aku udah benar-benar mencintai kamu Aku gak mungkin bertahan selama ini jika aku gak yakin dengan kamu. Plis jangan Pergi dari hidup aku Dipta gak ada yang lebih Penting dari kamu Gak ada artinya aku bisa mewujudkan cita-cita aku tanpa ada seseorang yang berarti di hidup aku."

__ADS_1


" Aku gak Peduli lagi dengan semua obsesi aku yang ingin menjadi orang sukses Memiliki kamu sangat cukup bagi aku Kamu Pengertian sama aku memahami aku, sayang sama aku cinta sama aku, semua udah lebih dari cukup Aku mohon... hiks .... "


...•••••...


__ADS_2