DIPTA

DIPTA
EPISODE 72


__ADS_3


...Masa lalu itu harus dilupakan bukan untuk ingat...


" Tadi Kamu Pergi sama dia lagi," tanya Dipta dengan menatap kesal kekasihnya.


" Kamu itu kenapa sih ? Curiga mulu-mulu terus sama aku Kita udah lama loh sama-sama, tapi kamu masih aja cemburuan gak jelas sama aku,"


" Cemburu gak jelas "


" Iya Kamu itu selalu aja gak Percaya sama aku,"


" Gimana aku gak cemburu Zea kamu Pergi tanpa izin dari aku. Aku bahkan taunya kamu jalan sama dia karena liat kalian."


" Aku udah minta izin Dipta Aku udah bilang aku Pergi nonton bareng sahabat kamu. Lagian dia juga udah jadi sahabat aku Kamunya aja yang Posesif,"


" Aku gak Pernah ngizinin kamu Pergi tanpa aku Zea,"


" Aku udah chat kamu Dipta Aku udah kasih tau kamu. Lagian aku nonton doang. Aku cuman nemenin dia nonton film kesukaannya Kebetulan aku juga udah lama nunggu film itu tayang Jadi apa salahnya sih ? Kita juga gak ngapain-ngapain Salah kamu juga karena setiap aku ajak nonton Pasti gak mau Kamu selalu sibuk dengan dunianya kamu aja Kamu egois,"


Dipta mengecek Ponselnya Memang benar ia mendapati Pesan Zea yang meminta izinnya untuk Pergi bersama sahabatnya. " Kamu memang kasih tau aku Zea tapi aku gak bilang iya,"


" Kamu gak balas chat aku Dipta Kamu bahkan baru baca sekarang Gak mungkin aku nungguin kamu bales dulu."


" Gak mungkin kamu bilang,"


" Aku heran sama kamu Semakin lama sikap kamu berubah! Kamu udah jadi keterlaluan. Kamu mengekang aku Kita berantem kayak gini udah berapa kali Dipta Kamu cemburuin aku sama siapapun. Kamu bahkan ngebatasin aku bertemu temen-temen aku Kamu harusnya terima kalau Pacar kamu ini frendly ke siapapun Kamu gak bisa samain diri kamu yang introvert dong kayak gini Kamu gak boleh buat aku jauh dari apa yang aku sukai Aku mau bebas Kalau sikap kamu kayak gini terus aku gak bakal bisa berkembang Aku butuh relasi Dipta buat kebaikan aku kedepannya Tapi dengan sikap gak jelas kamu ini buat aku terhambat Aku ketemu ini gak boleh, ketemu itu gak boleh Kamu ngekang aku, sadar gak,"


" Aku begini karena aku takut kehilangan kamu,"


" Cara kamu egois dan buat aku gak nyaman,"


"Terus ? Kamu maunya gimana,"


" Terserah Aku udah capek sama hubungan gak sehat kita Aku capek hubungan yang toxic ini,"


" Kamu mau kita Putus,"


" Aku gak Pernah ingin Pisah dari kamu Dipta Tapi cara kamu memperlakukan aku buat aku gak betah Aku gak minta kita Putus Aku minta kamu sadar kalau keegoisan kamu yang buat aku gak nyaman selama ini,"


" Aku tau kamu cinta sama aku Aku tau kekurangan kamu Tapi sekali aja kamu ngerti aku bisa gak,"


" Enggak, kan Ya udah Emang kamu sumber masalah di hubungan kita,"


Dipta menunduk dan terdiam.


" Dipta .... "


" Dipta ..... "


Dipta mendongak menatap gadis yang membuyarkan lamunannya.


" Ayo keluar kita udah nyampek "


Dipta mengangguk. la keluar dari mobil Aluna menunggunya. Ia tersenyum kecil dan melangkah menghampiri gadisnya itu. Aluna menggandeng tangannya.


" Kamu ngelamunin apa tadi sampai lama banget aku sadarinnya," tanya gadis itu.


Dipta hanya senyum.


" Kalau ada yang membebani Pikiran kamu. Kamu bisa cerita ke aku Itukan fungsinya aku ada di hidup kamu,"


" Aku lapar aja "


Aluna langsung Tertawa. " Lapar rupanya Pantas aja bengong mulu Ya udah, aku masakin sebisanya aku aja ya."


" iya Terserah kamu yang terpenting aku dimasakin kamu itu udah bikin aku bahagia," sahut Dipta langsung menoleh hidung Aluna


Aluna langsung tersipu malu

__ADS_1


" Ya udah kita masuk sekarang ya udara di sini gak enak buat badan kamu, kamu kan baru sembuh,"


Dipta langsung mengangguk


...•••••...


Dipta menunggu di meja makan dan tak lama kemudian Aluna datang dengan membawa spaghetti yang dijanjikan gadis itu.


" Udah siap Spesial buat kamu." Aluna tersenyum.


" Makasih " Dipta mengangkat kedua sudut bibirnya.


Saat Dipta mau mengaduknya Aluna menahan tangannya. " Biar aku aja," kata gadis cantik di hadapannya itu.


Aluna mengaduknya lalu mengangkat sumpitnya ke arah mulut Dipta. " Buka mulut aaa ..... "


Dengan malu-malu Dipta membuka mulutnya dan mendaratlah spaghetti buatan istri di mulutnya Aluna tersenyum lagi.


" Gimana enak gak,"


Dipta menganggukkan kepala karena belum bisa bicara mulutnya masih Penuh.


" Suapin aku lagi boleh gak " tanya Dipta setelah menelan spaghetti di mulutnya.


" Iyaa boleh "


Aluna menyuapi suami manjanya itu Sembari makan mereka juga bercanda-canda tanpa terasa sepiring spaghetti buatannya sudah tandas.


Dipta meneguk salivanya kala menatap gadis yang cantik luar biasa di hadapannya Ketika ia mau mengucapkan sesuatu Pada gadis itu


" Aluna aku ..... "


" Dipta ada yang nyariin kamu." Dipta menoleh ke belakang.


" Siapa " tanyanya Pada maminya.


" Sebentar ya " Aluna mengangguk Dipta bangkit dari duduknya dan beranjak Pergi ke ruang tamu.


Sampai di ruang tamu dan tahu sudah siapa yang datang membuatnya ingin Pergi lagi tapi gadis itu malah menahannya.


" Gue datang cuman untuk mastiin keadaan lo," ujar Zea.


Dipta melepas tangan gadis itu dari Pergelangan tangannya la berbalik menghadap mantan kekasihnya. " Mau sampai berapa kali gue bilang agar lo berhenti untuk gak datang lagi di hidup gue,"


" Sampai lo nerima rasa kepedulian gue," jawab Zea.


" Gak akan Pernah "


" Sama Gue juga gak akan Pernah berhenti untuk Peduli sama lo,"


Dipta menghela Pelan Menahan emosinya.


" Rio tau lo ke sini "


Zea menggeleng.


" Pulang sekarang "


" Gak "


" Mau lo apa ? Udah ada yang memenuhi ekspetasi lo Terus kenapa lagi ganggu mantan lo ini,"


" Beda Dipta ? Rio emang jadi Prioritas gue Tapi gue ingin berbaikan sama lo,"


" Apa tujuan lo Kasihan sama gue yang udah mau ma ... " Zea menutup mulut Dipta


" Lo kenapa sih Dipta ? Terima aja kenapa sih ? Gue ada nyempatin waktu buat lo karena gue ingin kita berbaikan Lupain masa lalu kita dan jadi teman yang saling Peduli,"


" Gue yakin kok lo bersikap kayak gini cuman di depan gue aja. Di belakang gue, lo Pasti masih mikirin gue belum lupa dengan kenangan kita dan lo gak benci sama gue Buktinya ini," Zea menunjuk barang Pemberiannya yang masih terjaga dengan baik di Pergelangan tangan Dipta

__ADS_1


" Lo masih makek jam Pemberian gue di hari jadian kita Kalau lo udah benar-benar lupa sama gue, gak mungkin masih ada jam ini di tangan lo."


Dipta mengepal tangannya Sudah tidak tahan lagi. la Pun melepas jam tangannya lalu menunjukkannya di depan mata Zea.


" Barang ini gak lebih dari Penunjuk waktu bagi gue," Lalu ia melemparnya ke lantai hingga kaca jam tangan yang bewarna black itu Pecah.


Zea menatap tak Percaya dengan sikap Dipta yang sudah menghancurkan barang Pemberiannya.


" Bagi gue jam itu udah gak ada artinya lagi Paham Seperti halnya hubungan kita yang udah berakhir,"


Cairan bening mengisi kedua bola mata gadis bermata indah itu.


" Perempuan yang baik tidak akan meninggalkan laki-lakinya hanya karena menemukan kenyamanan di tempat yang baru Tapi Perempuan yang jahat adalah dia yang memilih mengencani sahabat Pacarnya hanya demi rasa nyaman yang sudah tidak dia dapatkan di kekasihnya Dan itu lo," Dipta melenggang Pergi dari gadis yang Pernah membuat hatinya mati.


" Dipta "


Langkah Dipta langsung tertahan saat Maminya mendatanginya.


" Jadi seperti itu cara kamu bicara Pada Perempuan," Sonya menunjuk Zea yang menangis.


" Gak usah ikut campur Mi ! Mami gak tau apa-apa hubungan aku dengan Perempuan itu," Dipta melanjutkan langkahnya tapi Sonya malah menariknya," Jadi seperti itu juga sikap kamu ke ibu kamu,"


" Ibu apanya ? Ibu yang baru ingat anaknya setelah 14 tahun ngelupain Putranya,"


PLAK


Dipta tersenyum getir dengan mata yang memerah karena air mata yang masih tertahan di sana.


" Gak usah merasa Paling tau tentang aku Mami itu gak Pernah ada di hidup aku Hanya beberapa bulan ini aja kan kalian Peduli sama aku Kemarin-kemarin kemana Sibuk mikirin anak yang udah mati 14 tahun lalu,"


PLAK


Sonya begitu sakit hati mendengarnya Dipta terpaku lalu ia memukul-mukul dirinya Menampar-napar wajahnya dan memukuli kepalanya. " Iya ! Memang aku Pembunuhnya Memang aku yang bunuh anak kalian ! Aku yang jahat ! Aku yang udah buat saudara aku mati,"


" Aku memang gak ada gunanya ! Aku emang Pantas mati ! Aku Pembunuh ! Aku memang Pantas ditinggalkan ! Aku Penjahatnya ! Aku yang jahat,"


Alisha menangis melihat Putranya.


" Aku Penjahatnya " Dengan tangan gemetar Dipta meraih kedua tangan Sonya " Iya Mi, iya, aku yang bunuh Daniel Aku dorong dia dan akhirnya dia mati. A-aku harusnya waktu itu yang mati. A-aku hanya menghindar karena dia yang mendorongku dan aku benar gak sengaja mendorongnya A-aku ingat sekarang D-Daniel yang mengajak aku untuk bermain di kolam A-aku sudah menolaknya Ta-tapi dia tetap ingin bermain di sana. A-aku memang Pantas di salahkan ...."


Dipta kembali memukuli dirinya. " Aku seorang Pembunuh Aku jahat ! Aku membunuh anak kesayangan mami Aku membunuh Putra kesayangan Papi .... "


Zea tak tahan melihatnya la langsung berlari menghampiri Dipta. la berusaha menenangkan Dipta yang kambuh sakit mentalnya. " Dipta udah Dipta Udah kamu gak salah Kamu gak jahat Plis berhenti Dipta ...."


" Maafin aku ya ... gara-gara aku kamu jadi gini ... udah Dipta udah .... "


Namun Dipta tetap menyakiti dirinya sendiri dan Sonya hanya terdiam meneteskan air mata melihat Putranya yang tampak menjadi gila.


Suara yang begitu berisik dari luar membuat Aluna yang di dapur beranjak untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Setelah melihat Dipta cepat ia datang tanpa Peduli ada Zea di sana.


Zea terdiam heran melihat kehadiran Aluna di rumah ini. la benar-benar bingung di situasi ini.


" Kenapa bisa ada dia sini " tanyanya dalam hati.


" Dipta stop Udah ya Kamu gak sendirian A-aku selalu ada buat kamu Aku sangat mengerti kamu. Kamu bukan Penjahat Kamu Dipta anak yang baik dan Penurut Tenang ya everything is fine I will always be here for you Calm down, oke..."


Saat Dipta mulai tenang ia melepas Pegangannya lalu memberi sentuhan di wajah Pria itu. Menatap mata kosongnya lalu memberi senyuman


" Jangan sakiti diri kamu lagi yaa Tenang Ikuti aku ya tarik napas yang Panjang lalu lepas Sekali lagi tarik napas yang Panjang lalu lepaskan." la melempar senyum lalu memberi Pelukan


" Good job Dipta It's oke Semuanya akan baik-baik aja,"


Dipta meneteskan air matannya dan mempererat Pelukannya


" Gapapa, gapapa, gapapa," ucap Aluna menenangkan sambil memberi sentuhan lembut di Punggung pria dalam Pelukannya ini Merasa Dipta sudah tenang Aluna Pun melepas Pelukannya Lagi-lagi ia tersenyum lalu menghapus sisa air mata dan keringat Dipta


Aluna langsung menggenggam tangan Dipta " Gak ada yang jahat Kamu bukan Pembunuh Kamu itu orang baik Kamu bukan anak nakal." la mengusap kepala Dipta. " Jangan takut lagi ya Semuanya sayang sama kamu Dan aku gak akan Pernah Pergi Kamu orang nomor satu bagi aku di dunia ini Kamu Pria yang kuat Jangan Pernah nyerah Kali ini ada aku yang nemenin kamu Kamu gak sendirian kok,"


...•••••...

__ADS_1


__ADS_2