
"Selamat siang," Sapa seorang laki-laki paruh baya berpakaian lengkap dengan jas putih juga stetoskop yang ada di leher nya.
Dan suara itu berhasil mengalihkan kepiluan dua insan yang sedang di landa kesedihan.
Alex menoleh ke arah sumber suara, namun tidak dengan Jenni, meski ia mendengar tapi sangat enggan rasanya berbicara pada orang lain di saat dirinya merasa hancur.
"Siang dok, bagaimana hasil pemeriksaan istri saya? apa dia dan kandungan nya baik-baik saja?" Tanya Alex cepat karena begitu penasaran dengan hasil pemeriksaan sang istri.
Sang dokter terdiam sesaat kemudian menarik nafas dalam untuk menetralkan kebimbangan nya dalam menyampaikan keadaan Jenni saat ini.
Sang dokter terlihat seperti sedang berpikir mencari kata yang tepat untuk menyampaikan keadaan Jenni.
"Begini pak ...," Sang dokter berhenti sejenak kemudian memperhatikan wajah tegang Alex dan Jenni secara bergantian.
"Dari hasil pemeriksaan yang kami dapatkan, ibu Jenni mengalami sedikit tekanan mental pasca kejadian penculikan itu. Di tambah ...,"
"Di tambah apa pak?? katakan yang jelas! jangan setengah-setengah!!" Sela Alex cepat, ia merasa geram karena sang dokter tidak mengatakan langsung. Justru terkesan bertele-tele di setiap kata-kata nya, padahal Alex sudah penasaran setengah hidup dengan hasil pemeriksaan sang istri.
"Tidak usah dilanjutkan, aku sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh dokter." Sahut Jenni dengan suara bergetar menahan sesak di dada saat mengingat dirinya telah di perkosaa oleh para manusia berperilaku hewan itu.
Ia begitu jijik dengan tubuh nya sendiri jika mengingat begaimana orang-orang itu menjamaah setiap bagian tubuh nya.
Jenni masih sangat mengingat nya saat orang-orang itu secara bersamaan menyentuh tubuh nya.
__ADS_1
Hingga Jenni tidak kuat dan akhirnya pingsan karena tidak sanggup menyaksikan tubuh nya sendiri di nikmati oleh para iblis berkedok manusia.
Sang dokter pun hanya bisa menghela nafas berat menyaksikan sepasang suami-isteri itu yang saling bertolak pendapat.
"Sebaiknya pak Alex ikut ke ruangan saya saja, kita bicarakan ini di sana." Kata sang dokter menyarankan karena merasa kasihan pada kondisi pasien.
"Itu lebih baik dok," Alex setuju dengan pendapat sang dokter, ia juga tidak tega saat melihat istri nya seperti ketakutan saat sang dokter ingin menjelaskan hasil pemeriksaan itu.
Ditambah ada pemeriksaan visum yang semakin jelas apakah Jenni benar-benar menjadi korban sekksuall atau tidak, dan itu membuatnya bertambah takut dan malu.
"Tidak perlu Alex! meski kamu mengetahui hasil pemeriksaan ku tetap tidak akan mengubah sesuatu yang sudah terjadi pada ku." Cegat Jenni dengan bibir bergetar seakan memohon pada Alex untuk tidak perlu melihat hasil nya, ia sangat takut dan malu jika itu benar-benar terjadi.
"Tidak apa sayang, biarkan dokter menyampaikan keadaan mu supaya kamu bisa segera pulih." Tutur Alex lembut pada Jenni, nemun Jenni tak bergeming. Tangan nya mencengkeram kuat pinggiran brangkar itu dengan pandangan mata kosong.
"Kamu yang menutupi semua kekurangan ku, dan begitu pula aku akan berusaha agar bisa menyempurnakan atas ketidaksempurnaan mu. Kita satu paket, jika aku wadah, maka kamu adalah tutup nya. Dan jika aku api, maka kamu akan menjadi air nya." Alex berusaha meyakinkan Jenni tidak akan terjadi apa-apa setelah ini, karena bagi Alex keselamatan dan kesehatan Jenni adalah yang utama.
Alex tidak peduli dengan tubuh Jenni meski sudah menjadi korban pemerkosaaan atau tidak, karena fakta nya Alex lebih brengsek dari siapa pun, fakta nya Alex lebih kotor dari nya karena sering celap celup lubang tanpa melihat lubang wanita mana yang ia masuki.
"Sudah tidak apa. Meski sesuatu telah terjadi pada mu, tapi aku tetap bangga memiliki mu, karena kamu sudah berusaha mempertahankan tubuh mu, dan apapun yang terjadi pada mu bukan lah keinginan mu." Tutur Alex lembut namun tetap tidak ada sahutan dari Jenni, ia tidak lagi melarang Alex untuk melihat hasil pemeriksaan nya maupun memperbolehkan nya.
"Jangan bersedih sayang, aku akan semakin terluka jika melihat mu terpuruk seperti ini." Kata Alex dengan mata sendu nya, ia benar-benar sedih melihat Jenni terpuruk.
"Sayang, coba tersenyum untuk sekali saja." Kata Alex sembari mengangkat dagu Jenni yang sejak tadi menundukkan kepala untuk menyembunyikan air mata nya.
__ADS_1
Akhirnya Jenni menatap Alex dan tersenyum ke arah nya meski senyum itu terlihat memilukan dengan air mata yang tiba-tiba menetes ke pipi nya.
Diusapnya air mata itu dengan penuh kelembutan, kemudian Alex mendekat kan wajah nya ke wajah Jenni dan mencium kening nya.
Setelah itu Alex menarik sudut bibir nya dan ikut menatap lekat wajah pilu istri nya namun tetap tidak mengurangi kecantikan Jenni, kedua tangan Alex menangkup dua sisi pipi sang istri.
"Aku keluar sebentar sayang, jaga dirimu baik-baik. Aku janji akan segera kembali." Kata Alex kemudian menciumi seluruh wajah Jenni dan akhirnya pergi dari sana bersama sang dokter.
Dan saat ini tinggal lah Jenni seorang diri di ruangan itu, air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya berhasil ia keluarkan saat tidak ada siapapun di sana.
Tangisan Jenni terdengar begitu pilu, jika ada orang yang melihat tentu tidak akan tega melihat keadaan Jenni saat ini.
BACA JUGA NOVEL KU YG SATU INI KUY!
...💙💙💙...
...TBC...
...HAPPY IED MUBARAK 1443H...
...MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN 💙...
__ADS_1