
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanpa basa-basi Alex langsung menanyakan keadaan istrinya setelah kedua orang itu tiba di ruangan.
Sebelum menjawab, sang dokter menghela nafas terlebih dahulu.
"Apa sebelumnya, istri anda mengeluh tidak enak badan?" Tanya sang dokter yang tak menghiraukan pertanyaan Alex.
"Selama ini istri saya baik-baik saja dokter, dia tidak pernah mengeluh sakit apapun." Jawab Alex dengan wajah tegang menatap sang dokter.
"Selamat pak, istri Anda hamil. Us..--"
"Apa?? is..tri sa..saya hamil? aku tidak salah dengar kan?" Alex begitu terkejut bercampur bahagia hingga tanpa sadar mengeraskan ucapan awal nya, namun setelah mencerna ucapan sang dokter ia menjadi terbata-bata dalam berucap, bahkan ia menyebut dirinya menggunakan kata aku karena saking bahagia nya.
"Benar pak, selamat sebentar lagi anda akan menjadi seorang Ayah. Usia kandungan nya memasuki 3 Minggu." Kata sang dokter lagi.
Alex tak lagi merespon, ia diam di tempat dengan mata sudah berkaca-kaca.
Ia begitu terharu saat mendengar akan menjadi seorang ayah.
Alex tak tahu cara mengekspresikan rasa bahagia yang saat ini dirasakan.
Rasanya ingin berteriak lepas mengumumkan pada semua orang bahwa ia sebentar lagi akan menjadi seorang ayah tapi tidak mungkin, yang ada malah semua orang pergi menjauh karena takut dikira gila.
Maka dari itu Alex hanya diam di tempat, tapi rasa bahagia begitu membuncah dan tak tahu harus mengekspresikan seperti apa hingga ia memilih diam.
Beberapa detik setelah berhasil menetralkan rasa bahagia di dada nya, Alex kembali menatap sang dokter.
"Tolong di jaga dengan baik istri anda pak, biasanya ibu hamil cenderung lebih sensitif apalagi di trimester pertama. Maka dari itu jangan membuatnya sedih yang nanti nya akan memicu stres dan itu sangat tidak baik bagi wanita hamil."
"Setelah saya periksa sepertinya istri anda terlalu banyak pikiran sehingga merasa tertekan, itu sebabnya tekanan darah istri anda sangat tinggi yang menyebabkan ia tak sadarkan diri."
Deg!
Jantung Alex berdetak lebih cepat saat mendengar penjelasan dokter, ia menyadari telah berbuat salah pada istrinya karena telah memaksa untuk menerima Bella tinggal bersama.
"Bukan hanya itu, setelah diperiksa ternyata istri anda juga mengalami flek, ini sangat berbahaya pada janin yang dikandung jika terus menerus mengalami flek." Lanjut sang dokter.
"Bagaimana untuk mencegah flek itu dok," Tanya Alex dengan Wajah serius.
"Saya sudah memberikan obat penguat kandungan, tapi ingat! jangan sampai membuat nya stres karena kalau wanita hamil banyak tertekan maka besar kemungkinan janin yang di kandung akan bermasalah mengingat usia kandungan masih sangat dini." Jelas sang dokter yang membuat Alex semakin merasa bersalah pada istri nya.
__ADS_1
"Apa ada lagi yang ingin anda tanyakan pak?" Tanya sang dokter ketika mendapati Alex hanya diam tanpa merespon setelah menyimak penjelasan dari dokter.
"Ah tidak ...," Alex kembali tersadar dari lamunan nya.
"Baiklah kalau begitu, silahkan temui istri anda. Ingat! jangan membuat mood istri anda buruk, usahakan selalu bahagia."
"Baik dok, terimakasih atas penjelasannya. Saya permisi ...," Kata Alex seraya menjabat tangan sang dokter kemudian meninggalkan ruangan itu.
Cklek
Alex membuka pintu ruangan rawat Jenni, terlihat sang istri sedang menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Sebelah tangan nya memegang perut yang masih rata.
Melihat itu semua Alex hanya bisa menghela nafas, ia merasa bersalah karena membuat Jenni seperti ini.
"Sayang ...," Panggil Alex setelah berada di hadapan Jenni, sebelah tangan nya mengusap kepala Jenni dengan lembut namun langsung di tepis oleh nya.
"Maaf ...," Kata Alex lirih.
Mendengar kata maaf dari mulut Alex membuat Jenni menoleh ke arah nya, ia menatap sinis pada Alex yang juga sedang menatap nya dengan tatapan sendu.
"Untuk apa kau meminta maaf?" Kata Jenni seraya tersenyum mengejek menatap Alex.
"Aku minta maaf sayang, maaf karena tadi memaksa mu untuk menerima Bella tinggal bersama kita. Aku hanya--"
Alex hanya diam karena memang benar yang dikatakan Jenni, ia kasihan melihat Bella yang hidup sendiri melawan penyakit nya.
Walau bagaimana pun Bella pernah menjadi sahabat nya, ia tak mungkin tega membiarkan sahabat nya hidup sendirian saat ini.
"Tidak apa, aku tidak masalah jika kau ingin membawa Bella ke apartemen ...," Perkataan Jenni yang tenang sedikit membuat Alex lega.
"Karena aku sendiri yang akan pergi." Namun, setelah mendengar ucapan Jenni selanjutnya tubuh nya kembali menegang.
"Sayang, apa yang kamu katakan? kamu istri ku, bagaimana mungkin kamu ingin meninggalkan rumah suami mu?" Tanya Alex dengan tatapan sendu, nada suara nya tak lagi ia tinggi kan seperti saat di apartemen.
Alex berusaha meraih tangan Jenni tapi tidak bisa karena sang pemilik tangan langsung menyembunyikan di bawah selimut saat menyadari Alex ingin meraih tangan nya.
"Lalu bagaimana bisa seorang laki-laki begitu perhatian pada mantan kekasih nya hingga tak memikirkan perasaan istri nya?" Kini Jenni gantian bertanya, tembok pertahanan yang sejak tadi ia jaga akhirnya runtuh juga, air mata Jenni sudah mengalir tenang ke area pipi.
"Mantan kekasih hingga menghasilkan anak, apakah yakin jika kalian tinggal bersama tidak akan mengulangi kenangan seperti dulu? atau kalian sengaja ingin mengulangi percintaan seperti dulu di apartemen mu?" Kata Jenni melontarkan apa yang ada di kepala nya.
__ADS_1
Alex ingin sekali menentang semua perkataan Jenni, tapi ia ingat yang di katakan dokter agar tidak membuat istri nya tertekan apalagi sampai stress.
Alex menghembuskan nafas kasar untuk menetralkan emosi nya.
"Jangan menuduh ku seperti itu sayang, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya. Ini hanya murni rasa iba ku pada nya." Alex menyanggah perkataan Jenni.
Mendengar ucapan Alex Jenni tersenyum remeh pada nya.
"Bukan kah kau dulu juga tidak memiliki perasaan pada semua jallang yang kau tiduri? tapi kau menikmati nya bukan?" Perkataan Jenni cukup memancing emosi Alex, tapi sebisa mungkin ia mengendalikan nya agar tidak menyakiti Jenni.
Alex tahu saat ini Jenni sedang sensitif yang mudah marah karena hormon kehamilan.
"Bukan kah kau sudah menerima masa lalu ku? lalu kenapa kau membahasnya lagi Jenni?" Alex berkata dengan tenang, tapi terlihat sekali ia sedang menahan amarah nya.
"Aku hanya sedang mengingatkan mu kalau kau lupa Alex, bahwa seseorang bisa saja bercinta meski tanpa ada nya perasaan!" Tandas Jenni.
"Jangan menguji kesabaran ku Jenni!" Kata Alex yang mulai kehilangan kesabaran.
Sedangkan Jenni justru tersenyum mengejek pada Alex.
"Apa? kau tidak terima dengan yang ku katakan? atau kau ingin membenarkan semua ucapan ku? bukan kah dulu setiap saat kau bergonta-ganti wanita untuk menuntaskan hasrat mu?" Bukan nya takut, Jenni justru seakan menantang Alex dengan perkataan nya.
"Cukup!!! kau..--"
Cklek
belum selesai berbicara, ucapan Alex sudah terpotong akibat suara pintu di buka.
Keduanya menoleh ke arah pintu, ternyata ibu Anin yang datang dengan raut wajah tegang.
"Jangan bicara kasar pada istri mu Alex! Seharusnya kau bisa menurunkan ego mu dan mulai introspeksi diri kalau semua yang di katakan Jenni benar!" Perkataan sang ibu membuat sepasang suami istri ini bingung, bagaimana sang ibu bisa mengetahui percakapan mereka?
"Maaf, seharusnya ibu tidak ingin ikut campur masalah kalian. Maka dari itu ibu sengaja menunggu di luar tadi, tapi saat mendengar suara kalian begitu terdengar dari luar ibu memutuskan untuk masuk." Kata ibu Anin menatap ke arah Alex dan Jennifer secara bergantian.
...❤️❤️❤️...
...**TBC...
Jangan lupa like, komen, vote, gift & rate.
__ADS_1
Biar author semangat up lagi😚
See you next chapter 👋**