
Seminggu berlalu setelah kejadian di kampus, diman Alex di goda oleh mahasiswa nya.
Sekarang tidak ada lagi yang berani menggoda Alex karena ia sudah mengumumkan pernikahan nya dengan Jenni pada pihak kampus walaupun belum mengadakan resepsi.
Pagi ini Jenni sengaja bangun lebih awal dari karena ia ingin olahraga pagi mengelilingi kompleks apartemen nya.
Jenni bangkit dari tidur nya dan memunguti baju yang masih berserakan di lantai akibat aktivitas nya tadi malam hingga menjelang pagi.
Alex masih nyaman dalam tidur nya karena terlihat kelelahan, tidak menyadari bahwa Jenni sudah beranjak dari sana.
Jenni meletakkan baju baju itu ke tempat cucian kotor, kemudian berjalan ke kamar mandi dengan keadaan tubuh nya yang masih polos.
Selesai membersihkan diri, Jenni berganti pakaian dengan pakaian olahraga.
Ia memakai kaus dan celana pendek warna hitam dengan sepatu berwarna putih, membuat ia terlihat sangat cantik.
Sudah lama Jenni tidak berolahraga semenjak ia menikah dengan Alex, karena ia lebih sering melakukan olahraga pagi di ranjang bersama Alex.
Setelah lengkap menggunakan pakaian olahraga nya, Jenni mengambil ponsel dan earphone nya untuk di pasang di telinga nya kemudian keluar dari apartemen dengan berlari kecil.
Jenni berlari kecil mengelilingi kompleks apartemen nya yang kebetulan berseberangan dengan perumahan elite disana.
Setelah beberapa kali putaran Jenni merasakan tubuh nya sangat lelah.
Kemudian ia mendekati penjual Boba di pinggir jalan untuk membeli nya.
Saat berjalan mendekati penjual itu, tiba tiba Jenni menabrak seorang anak kecil laki-laki.
"Aduuhh..sakit.." Anak itu merintih saat tubuh nya terhuyung ke belakang hingga pantat nya mencium tanah
"Ya ampun, sorry adek..mana yang sakit?" Jenni terlihat panik, kemudian memeriksa tubuh anak itu dan memutar badan nya untuk memastikan nya.
"Di sini aunty cantik, pantat ku sakit.." Anak kecil itu menunjukkan pantat nya yang terasa sakit.
Jenni memperhatikan wajah anak itu yang terlihat lucu dan menggemaskan saat memanyunkan bibir nya mengadu pada Jenni.
Saat Jenni memperhatikan wajah itu seperti mirip seseorang.
"Ah tidak mungkin, ini hanya perasaan ku saja!" gumam Jenni dalam hati.
Ia menggelengkan kepala nya untuk menepis pikiran buruk nya itu.
Kemudian Jenni memeriksa bokong anak itu, tapi tidak ada luka apapun.
Mungkin hanya terasa perih saat tadi mencium tanah.
"Apa masih sakit boy?" tanya Jenni setelah selesai memeriksa.
Anak kecil itu hanya menggelengkan kepala sambil memperhatikan wajah Jenni.
Anak itu mengerjapkan mata nya beberapa kali membuat Jenni terkekeh gemas saat melihat tingkah anak itu yang menurut nya sangat lucu.
"Siapa nama mu boy?" Tanya Jenni sembari mensejajarkan tubuh nya dengan anak itu.
__ADS_1
"Nama ku Calvin aunty.."
"Hm..nama yang bagus, cocok seperti wajah mu yang tampan." Ucap Jenni seraya menoel hidung Calvin.
"Aku ini memang tampan aunty.. seperti Dady ku." jawab Calvin percaya diri.
Jenni hampir tersedak ludah nya sendiri, saat mendengar ucapan anak itu yang penuh percaya diri.
"Oh ya?? memang nya Dady mu tampan seperti mu?" tanya Jenni sembari merapikan rambut depan Calvin.
"Tentu! dad ku sangat tampan, mommy ku juga cantik walau pun lebih cantik aunty sih.." Jawab Calvin sambil mencoba mengingat wajah mommy nya.
Satu jari telunjuk nya ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk pelipis nya, bola mata nya melihat keatas dengan satu sudut bibir nya ia tarik ke samping.
Jenni hanya terkekeh pelan mendengar celotehan Calvin.
"Benarkah? aunty lebih cantik dari mommy Calvin?" tanya Jenni dengan ekspresi yang di buat buat.
"Benar aunty..kalau Calvin sudah besar, Calvin ingin menikah dengan aunty saja!" Ucap Calvin sambil mengelus pipi Jenni.
Tingkah Calvin yang seperti anak dewasa ini membuat nya hanya bisa menggelengkan kepala nya.
"Memang nya kamu mau nikah sama aunty? kalau menunggu Calvin besar berarti aunty sudah tua dong? emang Calvin mau nikah sama aunty kalau aunty sudah tua dan kulit nya keriput?" tanya Jenni.
"Aunty itu nggak akan tua dan nggak mungkin keriput, kan aunty cantik pake banget."
Seketika tawa Jenni pecah saat mendengar kan jawaban Calvin.
"Ya ampun..kamu lucu sekali..anak siapa sih?" tanya Jenni sambil mencubit pipi gembul itu.
Jenni hanya menganggukkan kepala, karena tidak mengenal nama itu.
"Kamu kesini mau ngapain? kenapa sendiri?"
"Aku kesini mau beli itu aunty, tadi aku olahraga sama mommy. Tapi aku pengen minuman itu, jadi aku samperin deh."
"Ya sudah, ayo kita beli Boba dulu."
"Tapi Calvin nggak bawa uang." ucap nya polos.
Jenni menggelengkan kepala sambil menatap Calvin.
Lagi lagi Jenni di buat tercengang dengan tingkah Calvin.
"Biar aunty yang bayar, oke!"
"Thank you aunty cantik calon istri Calvin."
"Oh my God! apakah matahari sudah terbit dari barat??" Batin Jenni seraya menepuk jidat nya.
Ia tak habis pikir dengan anak sekecil Calvin tapi sudah pandai menggombal.
Jenni jadi teringat dengan Alex yang mungkin saja dulu saat kecil tingkah nya sama seperti Calvin.
__ADS_1
Sangat pandai merayu dan menggombal.
Maka dari itu, besar nya sudah terbiasa dan terlatih untuk menggombali para wanita.
Saat sudah sampai di depan penjual Boba, Jenni dan Calvin duduk di pinggir jalan sambil menunggu Boba nya jadi karena penjual itu tidak menyediakan kursi untuk duduk.
Setelah Boba nya jadi, mereka langsung meminum nya.
Terlihat Calvin sangat kehausan, hingga dalam waktu beberapa detik ia sudah menghabiskan minuman itu dan membuang sampah nya asal.
Saat matahari mulai terik, Jenni bangkit dari duduk nya.
"Calvin, rumah mu dimana?" tanya Jenni yang tidak mungkin membiarkan Calvin pulang sendiri.
Calvin menunjuk gang perumahan elit yang berada di seberang apartemen nya.
"Oke, ayo aunty antar sampai ke rumah mu."
"Tapi Calvin masih ingin pacaran sama aunty.." rengek Calvin
"Besok lagi kita pacaran nya ya..? sekarang aunty harus pulang dulu."
Jenni menangkup pipi gembul itu.
"Janji?" Calvin menyodorkan jari kelingking nya pada Jenni.
"Janji" Jenni menautkan kelingking nya itu sambil tersenyum.
"Nama aunty siapa? dari tadi Calvin belum tahu nama aunty cantik.."
"Panggil saja aunty cantik, oke!" Jenni tersenyum lagi.
Calvin hanya menganggukkan kepala.
Jenni sangat senang pagi ini bertemu dengan Calvin.
Membuat nya tidak sabar ingin segera memiliki anak yang lucu seperti Calvin.
Seketika tangan nya terulur untuk mengelus perut rata itu sambil tersenyum membayangkan dalam perut nya akan tumbuh malaikat kecil seperti Calvin.
Mereka melanjutkan langkah nya sampai gang perumahan yang di tunjuk Calvin.
Up lagi gak?
vote dulu ya.. nanti up lagi.
...----------------...
...❤️❤️❤️...
...TBC...
__ADS_1
See you next chapter 😜