Dosenku Sang Casanova

Dosenku Sang Casanova
Calvin


__ADS_3

"Calvin?" Gumam Jenni, ia melihat ke arah kanan dan kira namun tidak menemukan sosok yang cari.


"Apakah Calvin kesini sendiri?" batin Jenni saat tidak menemukan Bella di sudut mana pun.


Ia bahkan melupakan tujuan nya tadi yang ingin mengejar Alex saat melihat Calvin sudah ada di depan pintu apartemen nya.


"Aunty, tolong Calvin." Suara lirih bergetar dari Calvin mampu mengalihkan pandangan Jenni pada sosok di depan nya.


"Kamu kesini bersama siapa sayang? kenapa tidak memencet bell supaya aunty buka kan pintu." Tanya Jenni sembari berjongkok menyamakan tinggi Calvin tanpa memperdulikan perkataan Calvin tadi.


"Calvin kesini sendiri aunty, tadi nya ingin memencet bell tapi ternyata tubuh Calvin tidak bisa menjangkau bell itu, jadi Calvin mengetuk pintu tapi tidak di buka kan dari tadi." Kata Calvin menjelaskan.


Jenni hampir tersedak ludah nya sendiri saat mendengar penjelasan Calvin. Tentu saja bocah itu sependek itu belum bisa memencet bell setinggi satu meter di atas lantai.


"Oh, begitu ya sayang. Ya sudah kita masuk dulu." Jenni menuntun tangan Calvin untuk masuk ke dalam apartemen.


Dia menggiring Calvin menuju sofa ruang keluarga depan televisi yang tadi ia tonton.


"Calvin belum jawab pertanyaan aunty. kenapa Calvin kesini bersama siapa? dimana mommy Calvin?" Tanya Bella setelah keduanya berada di ruang keluarga dan duduk di sofa panjang yang muat di duduki 3 orang.


"Aunty ... Calvin takut, mommy mau jahat sama Calvin." Kata Calvin lirih dengan suara bergetar. Kepala nya menunduk dengan kedua tangan mungil nya meremas celana jeans pendek yang di pakai anak itu.


Jenni terkesiap mendengar perkataan Calvin, apalagi melihat ekspresi Calvin yang terlihat ketakutan membuat Jenni yakin kalau yang di katakan anak kecil itu benar.


"Memang nya apa yang di lakukan mom Bella pada mu sayang?" Tanya Jenni lembut seraya meraih tubuh anak itu kemudian memangku mengusap lembut punggung bergetar anak laki-laki itu.


"Pokok nya mommy jahat aunty, Calvin takut hiks ...," Kata Calvin yang sudah menangis dalam dekapan Jenni.


Jenni merasa sangat iba melihat sosok kecil yang berstatus sebagai anak dari suami nya itu menangis ketakutan, entah apa yang di lakukan Bella pada Calvin hingga membuat anak nya sendiri takut pada ibu nya. Anak pura-pura lebih tepat nya.


"Ya sudah Calvin tenang dulu, tidak perlu takut disini ada aunty yang akan menjaga Calvin. Mau kah Calvin tinggal disini bersama aunty?"


Kepala Calvin yang tadi nya ia benamkan di dada Jenni langsung mendongak menatap tak percaya manik mata wanita yang berstatus sebagai istri Daddy nya itu.


"Aunty serius?? Apakah Calvin tidak akan merepotkan aunty dan Daddy kalau Calvin tinggal bersama kalian?" Tanya Calvin seolah tak percaya dengan ucapan Jenni namun mata nya tak bisa di bohongi kalau ia sangat berharap apa yang di katakan Jenni itu serius.

__ADS_1


"Tentu sayang, Calvin tidak akan merepotkan sama sekali. Aunty malah senang kalau Calvin mau tinggal di sini dan bisa bermain bersama aunty." Kata Jenni sembari melebarkan senyum menatap Calvin.


Ia bahkan melupakan tontonan serial tv yang ada di depan nya padahal tadi ia begitu tegang menyaksikan drama perselingkuhan suami istri itu hingga membuat nya mengabaikan Alex yang berpamitan pada nya.


"Calvin mau aunty, Calvin seneng bisa main bersama aunty setiap hari yes! yes!" Sahut Calvin antusias seraya mengembangkan senyum.


Wajah yang tadi nya murung dan tampak ketakutan kini berubah menjadi wajah begitu ceria, seakan tidak ada beban yang baru saja ia rasakan.


Semudah itu kah seorang anak melupakan kesedihan? Gumam Jenni dalam hati.


"Calvin belum jawab pertanyaan aunty yang tadi loh? Calvin kesini di antar siapa?" Untuk ketiga kalinya Jenni melontarkan pertanyaan yang sama.


"Calvin kesini sendiri aunty." Cicit Calvin seraya menunduk kembali, baru saja Jenni melihat wajah ceria anak itu kini kembali murung dan Jenni hanya bisa menghembuskan nafas kasar.


"Lalu bagaimana cara nya Calvin menyeberang jalan?" Tanya Jenni cepat, raut wajah nya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam pada anak itu.


"Calvin bisa menyeberang sendiri aunty, tadi saat di tengah jalan ada mobil yang hampir mendekat Calvin langsung lari supaya tidak tertabrak." Sahut Calvin menjelaskan.


"Ya ampun Calvin, itu sangat bahaya sayang. Bagaimana kalau saat lari malah terjatuh? ah syukurlah kamu tidak apa-apa. Lain kali jangan ulangi lagi. Pokoknya aunty tidak mengizinkan Calvin pergi kemana pun jika tidak di dampingi orang dewasa." Ujar Jenni dengan penuh penekanan.


Apalagi kedua tempat itu terpisah berseberangan dengan jalan raya, dan jika berjalan kaki maka harus menyeberang Jalan yang di padati kendaraan sedangkan bila menggunakan kendaraan maka harus berputar terlebih dahulu untuk putar balik karena kebetulan jalan itu hanya satu arah sedangkan arah lain di lapisi oleh dinding pembatas yang hanya muat untuk di lewati orang tapi tidak untuk kendaraan.


"Baik aunty, Calvin akan menuruti nasehat aunty." Kata Calvin seraya mengangguk patuh.


"Anak pintar," Jenni tersenyum sembari mengacak-acak rambut Calvin gemas.


"Calvin sudah sarapan belum?" Tanya Jenni memastikan.


Calvin tidak menjawab, kepala nya menunduk tanpa memberikan jawaban pada Jenni.


"Sayang, aunty tanya loh ...," Kata Jenni mengingatkan saat tidak mendapati jawaban dari Calvin.


"Belum aunty." Cicit Calvin seraya mendongakkan kepala.


Jenni kembali menghela nafas kasar, ia sungguh merasa iba pada anak dari suami nya itu. Entah apa yang dilakukan Bella hingga membuat anak nya pergi dari rumah.

__ADS_1


"Ya sudah, Calvin sarapan dulu. Aunty temani sini." Jenni membujuk Calvin untuk sarapan dan meraih tangan nya agar pindah ke meja makan.


Kedua nya berjalan ke arah meja makan dekat dapur, setelah Jenni mendudukkan Calvin di kursi, ia beralih menyiapkan sarapan untuk anak itu.


Jenni menuangkan susu ke dalam gelas kemudian mengambil dua buah roti untuk membuat sandwich.


"Calvin, aunty buat kan sandwich mu?" Tanya Jenni terlebih dahulu sebelum membuat sandwich.


"Mau aunty, Calvin ingin mencoba sandwich buatan aunty." Kata Calvin penuh semangat.


"Ya sudah, tunggu sebentar ya ...," Kata Jenni.


"Oke aunty." Sahut Calvin seraya mengamati tangan Jenni yang lincah membuat kan sandwich untuk nya.


Tak berapa lama lama sandwich itu jadi, Jenni menyodorkan piring berisi sandwich dan susu yang sudah di siapkan itu ke depan meja Calvin.


"Mau aunty suapi sayang?" Entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Jenni, ia merasa kalau Calvin butuh perhatian.


Bahkan ia melupakan status Calvin yang merupakan anak dari suami nya dengan wanita lain, tak sedikit Jenni memiliki rasa benci pada nya.


"Apakah aunty tidak keberatan?" Pertanyaan Jenni di jawab dengan pertanyaan pula oleh bocah itu.


"Tentu tidak sayang." Akhirnya Jenni menyuapi Calvin dengan telaten.


Calvin pun merasa sangat bahagia, sekian lama ia ingin merasakan di perhatikan oleh mommy nya, tapi Bella tidak pernah sekalipun bersikap layak nya mommy seperti Jenni.


Calvin selalu menginginkan Bella menyuapi nya saat makan, tapi tidak pernah ia dapatkan. Yang ada justru Bella membentak nya saat Calvin disuruh makan hanya diam saja, padahal ia sangat ingin makan di suapi oleh mommy nya.


Novel ini belum tamat, masih ada beberapa chapter lagi, jadi ikuti sampai selesai ya ...,


...❤️❤️❤️...


...**TBC...


Like, komen, hadiah nya mana?🤭😂😂

__ADS_1


See you next chapter 👋**


__ADS_2