
"Maaf sayang, aku sudah tidak bisa menahan." Kata Alex dengan serak nya, belum sempat Jenni menjawab, bibir itu sudah di bungkam oleh bibir suami nya, Jenni yang semula kaget kini hanya bisa pasrah dan lama kelamaan ikut membalas ciuman Alex.
"Eughhh ...," lenguh Jenni saat ciuman Alex turun ke leher.
Perlahan namun pasti, tangan Alex dengan lincah membuka kancing baju rumah sakit yang di kenakan Jenni, mata nya berbinar saat dua benda kenyal favorit Alex itu terpampang nyata di depan nya meski masih terbungkus kain.
Dengan tidak sabaran Alex langsung membuka penutup benda favorit nya itu, detik berikutnya ia langsung membenamkan kepala nya di salah satu pir jumbo itu dan menyesap kuat pucuk nya sedangkan satu nya lagi ia mainkan menggunakan tangan hingga Jenni memekik nikmat saat Alex tiba-tiba melakukan nya dengan brutal.
Tok ... tok ... tok ...,
Baru saja menikmati beberapa detik tiba-tiba konsentrasi nya di buyarkan oleh seseorang yang mengetuk pintu, tapi Alex masih tetap melanjutkan aksi nya.
"Jenni?? kamu di dalam??" Teriak seseorang orang dari luar benar-benar membuat dua insan yang akan memulai penyatuan di landa panik hingga membuat gai rah Jenni menurun.
Jangan tanyakan apakah Alex masih berselera atau tidak, jawaban nya tentu masih karena sejak dulu gai rah Alex tidak akan hilang sebelum ia mendapatkan kepuasan.
Maka dari itu meski sudah tahu ada yang mengetuk pintu Alex tetap melanjutkan aksi nya meski sebenarnya ia juga panik.
"Jenni, kamu baik-baik saja?? kenapa pintu nya di kunci??" Kata orang itu lagi.
Jenni yang sedang menikmati sensasi aneh karena ulah sang suami tentu tak dapat menjawab ucapan ibu mertua, karena khawatir justru nanti saat menjawab bukan kata-kata yang ia keluarkan melainkan suara desaahan yang akan keluar dari mulut nya.
"Eummhh ... Alex, hen...ti..kan ..," Jenni berusaha mendorong tubuh suami nya agar menjauh, tapi tetap saja tenaga nya tidak sebanding dengan Alex yang terus saja menempel di badan nya.
"Alex sudah ... eughhh," Dengan sekuat tenaga Jenni berusaha mendorong tubuh kekar suami nya hingga kepala Alex terlepas dari benda kenyal itu.
"Ada ibu, cepat buka kan pintu." Pinta Jenni saat wajah Alex sudah menghadap ke arah nya dengan mata sayu.
"What???" Alex melotot tajam mendengar permintaan istri nya.
Bagaimana mungkin dia rela melepaskan istri nya begitu saja saat baru memulai permainan awal bahkan belum setengah nya?
__ADS_1
Sedangkan senjata tempur nya sudah menegak sempurna, bahkan celana yang di gunakan menjadi sangat sesak hampir saja tidak muat, dan kini Jenni menyuruh nya berhenti? Oh ... sungguh ini hukuman yang sangat menyiksa bagi Alex.
"Sayang, tapi dia sudah sangat tegak. Kamu harus menidurkan dulu." Alex kembali bersuara dengan suara serak nya seraya bersiap menyerang Jenni kembali, namun dengan sigap Jenni berhasil menghindar.
"Anggap saja itu hukuman untuk mu karena telah membuat ku seperti ini!" Kata Jenni dengan seringai tipis di bibir nya.
Seketika mulut Alex menganga mendengar ucapan istri nya.
"Sayang, kamu tega sekali berbicara seperti itu. Atau jangan-jangan ini memang merencanakan untuk menjebak ku?" Tanya Alex penuh selidik.
"Kalau iya memang kenapa?" Tantang Jenni.
Memang benar Jenni sudah menduga kalau mereka akan gagal bermain mengingat ibu nya hanya pergi untuk sarapan, sama hal nya seperti Jenni, ibu Anin pun belum makan apapun sejak pagi, karena tidak tega pada sang mertua ia menyuruh untuk sarapan di luar dulu yang tentu nya hanya memakan waktu beberapa menit.
Dan benar saja baru saja Alex memulai foreplay ibu nya sudah kembali, dan tentu nya ini menjadi keuntungan besar bagi Jenni.
Ia pikir sekali-kali tidak masalah mengerjai suami nya mengingat dia sudah membuat nya kesal bahkan sampai pingsan.
Persetan dengan kasian, sekarang Jenni tidak ingin mudah luluh pada Alex yang sudah semena-mena terhadap nya.
"Jenni?? kamu baik-baik saja???" Dari nada bicara nya terlihat sekali saat ini sang mertua sedang cemas saat tidak mendengar sahutan dari dalam.
"I..ya, a..ku baik-baik saja. Sebentar ibu!!" Jawab Jenni keras dengan sedikit terbata-bata.
"Cepat kau turun!!" Kata Jenni setengah berbisik seraya mendorong tubuh Alex agar turun dari brangkar.
"Ah ... shiittt!" Alex hanya bisa mengusap wajah nya kasar.
Alex terlihat sangat frustasi memikirkan nasib nya, bahkan kini kepala nya sudah cenat cenut akibat ulah istri nya itu.
Andai saja diri nya tidak mengingat sudah berbuat salah pada sang istri hingga membuat tertekan, Ia akan tega menerkam istri nya tidak perduli akan keberadaan ibu nya.
__ADS_1
Alex sebenarnya sangat geram dengan Jenni karena bagaimana pun saat melakukan pemanasan awal Jenni tidak menolak yang seakan memberi lampu hijau pada Alex untuk melakukan lebih, tapi saat Alex benar-benar sudah tidak bisa di tahan justru Jenni menghentikan aksi nya.
Dan ternyata itu semua Jenni lakukan hanya untuk mengerjai diri nya supaya bertambah siksaan nya, "Ah siaaal ... " Alex terus saja mengumpat dalam hati.
"Baiklah, saat ini aku mengampuni mu. Tapi ...," Alex mengacungkan telunjuk jari nya di depan Jenni.
"Saat kau sudah kembali ke apartemen, maka tidak akan ku biarkan kau pergi kemana pun, kau akan ku kurung di ranjang selama satu Minggu sebagai hukuman yang telah berani mengerjai ku dan jangan harap kau bisa berjalan sayang." Lanjut Alex seraya tersenyum smirk membuat Jenni hanya bisa menelan ludah nya kasar.
Jenni sangat tahu kalau ancaman Alex tidak lah main-main, jika dia sudah berkata akan membuat Jenni tidak bisa berjalan itu artinya Alex benar-benar akan menggempur nya habis-habisan hingga tak berdaya melakukan apapun.
Alex beranjak dari sana setelah merapikan pakaian kemudian berjalan menuju pintu.
Cklek.
"Jenni, kenapa kau lama sekali membuka kan pintu? kau tidak apa-ap--" Ibu Anin menghentikan ucapan nya saat menyadari kalau yang membuka pintu ternyata bukan lah Jenni melainkan anak kandung nya sendiri.
"Loh, Alex? ah syukurlah, ternyata ada kau yang menemani Jenni. Ibu pikir dia sendirian, tadi ibu sangat panik saat Jenni tidak segera membukakan pintu."
"Oh iya, kenapa pintu ruangan di kunci?" Ibu Anin menepuk kening nya hampir lupa menanyakan hal itu saat melihat Alex yang membuka kan pintu.
"Loh loh loh, kenapa muka mu merah seperti itu Alex? apa kamu sakit? kenapa kamu memegang kepala mu terus?" Bahkan pertanyaan yang tadi belum sempat di jawab oleh Alex maupun Jenni, sang ibu kembali bertanya saat melihat wajah anak nya yang memerah bahkan terlihat sedang menahan sesuatu yang di yakini ibu Anin saat ini Alex sedang merasa kesakitan.
Terlihat sekali dari wajah nya yang lesu dan tangan nya terus memijat kepala.
"Satu-satu kalau mau tanya ibu," Alex mengeluarkan suara berat nya saat mendengar pertanyaan beruntun dari ibu nya seperti wartawan televisi yang semakin membuat nya pusing.
"Sudahlah, aku akan menjawab nya nanti. Aku keluar dulu." Alex langsung berjalan keluar tanpa berniat menjawab pertanyaan dari sang ibu sedangkan ibu nya di buat terheran-heran melihat tingkah anak nya.
Vote mana vote?😜
...❤️❤️❤️...
__ADS_1
...TBC...
See you next chapter 👋