Dosenku Sang Casanova

Dosenku Sang Casanova
Masalah lagi


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, seperti biasa Jenni berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan.


Tapi kali ini ia tidak sendirian, sang mertua ikut membantu memasak, lebih tepatnya Jenni yang membantu ibu Anin untuk membuat sarapan.


"Potong lebih kecil lagi sayang ... itu masih terlalu besar." Kata ibu Anin sembari memperhatikan Jenni sedang memotong daging dibuat seperti dadu kecil.


Jenni mengangguk dengan kepala menunduk fokus memperhatikan tangan nya yang sedang memotong daging.


"Apa seperti ini?" Tanya Jenni dengan mata fokus menatap tangan nya yang sedang bekerja.


"Iya benar, seperti itu." Jawab sang mertua sambil sesekali melihat ke arah daging yang dipotong Jenni kemudian melihat ke arah wajan didepan nya karena sedang menumis bumbu secara bergantian.


"Hmm ... aroma nya nikmat, pasti masakan nya juga lezat." Celetuk Jenni saat merasakan aroma nikmat bumbu yang sedang di goreng ibu mertua."


Sang ibu tersenyum kemudian fokus pada masakan nya.


"Sudah selesai belum sayang ... bumbunya hampir gosong." Tanya sang mertua saat melihat bumbu yang di goreng nya sudah matang tapi daging yang dipotong Jenni belum selesai.


"Sebentar ... " Kata Jenni dengan sedikit tergesa-gesa untuk menyelesaikan potongan terakhir nya.


"Selesai," Ucap Jenni kemudian berjalan kearah sang mertua untuk memberikan potongan daging itu.


"Terimakasih sayang ... " Ucap sang ibu Anin sembari tersenyum manis pada Jenni.


"Harus nya aku berterima kasih pada ibu," Jawab Jenni seraya melihat kearah masakan yang sedang di buat sang mertua sesekali melihat wajah mertua nya.


"Seharusnya Jenni yang menyiapkan sarapan, tapi ibu justru yang membuatkan untuk kami." Kata Jenni lagi.


"Tidak apa sayang ... ibu senang kalau bisa membantu mu, ibu bosan kalau seharian tidak melakukan apapun." Ucap sang ibu dengan tangan nya yang masih fokus pada masakan.


"Tapi ... "


Ting tong


Jenni tidak jadi meneruskan ucapan nya saat mendengar suara bel berbunyi.


"Siapa pagi-pagi kesini?" Gumam Jenni namun masih bisa didengar oleh ibu Anin.


"Ada tamu sayang?" Tanya ibu Anin.


"Seperti nya iya ibu, sebentar Jenni bukain pintu dulu." Kata Jenni.

__ADS_1


"Iya sayang ... " Jawab sang mertua.


Jenni pun mengangguk kemudian berjalan keluar dari dapur.


Saat Jenni berada di ruang tamu, ternyata pintu apartemen sudah di buka oleh Alex, ternyata tamu yang datang adalah Bella bersama Calvin.


Jenni tidak meneruskan langkah nya, dada nya begitu sesak melihat pemandangan didepan nya.


Bagaimana tidak? saat ini Bella sedang dalam pelukan Alex dengan begitu erat, sedangkan Alex pun membalas pelukan Bella.


Mungkin jika orang lain yang memeluk Alex ia akan memaklumi, tapi wanita ini adalah orang yang sudah mengandung benih Alex.


Rasa takut bersamaan dengan rasa kecewa bercampur menjadi satu.


Takut Alex akan kembali pada Bella mengingat ada Calvin diantara mereka.


Kecewa itu sudah pasti, saat melihat suaminya di peluk oleh mantan kekasih bahkan sampai memiliki anak, tapi bukan nya menghindar Alex justru membalas pelukan Bella hingga begitu lama.


"Alex!" Mendengar nama nya di panggil Alex segera melepaskan pelukan nya kemudian berbalik arah.


Bukan Jenni yang memanggil Alex, tapi sang ibu yang sudah berdiri di belakang Jenni dan menyaksikan itu semua.


Terlihat lah dua wanita yang begitu berarti dalam hidup Alex sama-sama sedang menatap ke arah nya.


"Ibu, Jenni, ada yang ingin aku sampaikan pada kalian ... " Kata Alex.


"Bolehkah Calvin dan Bella tinggal disini bersama kita?" Ucap Alex to the poin.


Deg


Entah mengapa hati Jenni terasa nyeri saat mendengar permintaan Alex.


Bagaimana bisa dia mengizinkan orang lain tinggal di rumah nya?


Apalagi orang lain itu adalah mantan kekasih nya?


"Apa yang kamu katakan Alex? Bagaimana mungkin kamu menyuruh orang lain tinggal disini?" Tanya ibu Anin sedikit menaikkan intonasi suara nya.


"Dia bukan orang lain ibu, Calvin itu anak ku!"


"Apa??" Sang ibu begitu terkejut saat mendengar ucapan Alex.

__ADS_1


Selama ini memang ibu nya belum mengetahui kalau Alex


memiliki anak dari wanita lain.


"Iya ibu, Calvin anak Alex dengan Bella." Bukan Alex yang menjawab, tapi Jenni yang sedari tadi diam pun ikut membuka suara.


"Kamu tidak bercanda kan sayang? Apa maksud semua ini Alex?" Ibu Anin masih belum percaya dengan semua ini.


"Maafkan aku ibu ... Aku sudah memiliki anak dari Bella jauh sebelum aku dan Jenni menikah. Tapi baru beberapa hari ini aku mengetahui kalau aku sudah memiliki anak." Ungkap Alex dengan guratan ekspresi yang menyiratkan penyesalan.


"Jadi kamu sudah punya anak dari wanita itu?" Sang ibu menatap kecewa pada Alex kemudian beralih menatap Bella di akhir kalimat nya.


Alex hanya mengangguk sebagai jawaban.


Melihat anggukan dari Alex air mata di pelupuk nya keluar seketika.


Ia merasa bersalah karena tidak bisa mendidik anaknya, Ibu Anin tidak menyalahkan Alex tapi iya menyalahkan dirinya sendiri karena tidak ada dalam masa pertumbuhan Alex hingga anak nya terjerumus ke jalan yang salah.


Tapi ia cepat-cepat menyeka air mata nya kemudian berjalan mendekati Alex.


"Kenapa kamu menyuruh orang lain tinggal di rumah mu? Apa alasan mu menyuruh orang lain berada di tengah-tengah rumah tangga mu dan Jenni?" Tanya sang ibu masih memanggil Calvin dan Bella orang lain, tapi ia berusaha bersikap tenang.


"Ibu, Bella sedang menderita penyakit kanker stadium akhir. Sedangkan dia tidak memiliki siapapun disini, hanya aku satu-satunya orang yang di kenal Bella disini." Jelas Alex.


"Memang nya orang tua mu di mana? Apa kamu tidak memiliki keluarga?" Tanya ibu Anin sedikit suka pada Bella.


"Orang tua Bella sudah lama berada di luar negeri, dia sebelumnya juga tinggal di sana. Tapi dia kembali kesini hanya untuk memberi tahu ku, kalau aku sudah memiliki Calvin." Jelas Alex karena Bella hanya menundukkan kepala tanpa mau menjawab pertanyaan ibu Anin.


"Kenapa tidak dari dulu kamu memberi tahu Alex?" Tanya ibu Anin pada Bella lagi.


"Saat itu saya berfikir, Alex tidak perlu mengetahui semua ini karena saya yakin Alex sudah memiliki kehidupan baru. Tapi beberapa tahun ini saya kembali berfikir untuk mempertemukan Calvin pada Alex karena saya merasa bersalah jika tidak memberi tahu yang sebenarnya. Apalagi saat saya di vonis mengidap penyakit mematikan, dari situ saya memantapkan untuk mempertemukan Calvin pada Alex. Umur saya sudah tidak lama lagi, maka dari itu saya ingin Calvin berada pada orang yang tepat." Kini giliran bella yang membuka suara, setelah tadi hanya diam menunduk.


Mendengar penjelasan Bella yang masuk akal sedikit membuat ibu Anin lega, tapi entah kenapa rasanya ia belum percaya dengan semua perkataan Bella.


Ia merasa Bella adalah ancaman rumah tangga anak nya. Entah lah, apakah ini hanya sebuah rasa kewaspadaan atau memang suatu firasat.


...❤️❤️❤️...


...TBC...


Jangan lupa tinggalkan jejak...

__ADS_1


See you next chapter ...


__ADS_2