
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit akhirnya mobil yang membawa Jenni telah sampai di parkiran rumah sakit.
Para tenaga medis sudah siap membawa brangkar menuju ke sana karena sebelumnya Alex sudah menelepon pihak rumah sakit.
Namun saat di pertengahan jalan,semua orang di buat tercengang dengan Alex yang menggendong istrinya sembari berlari menuju ke sana.
Tetapi bukan itu yang membuat mereka tercengang, penampilan Alex yang bertelanjang dada dan bagian bawah hanya di bungkus oleh satu lembar kain berbentuk bokser yang membuat semua orang tercengang. Terlebih para kaum hawa, mereka sangat menikmati tubuh kekar Alex yang sangat seksi.
Dan mereka kembali di buat tercengang saat melihat banyak nya tanda kemerahan hampir di semua kulit yang terekspos.
"Kenapa kalian hanya diam?! Cepat bantu istri ku akan melahirkan!!" Bentak Alex saat melihat beberapa perawat yang tadinya sangat antusias menyambut nya namun saat di pertengahan jalan tiba-tiba mereka serempak berhenti dengan mulut terbuka lebar. Mungkin air mereka ada yang sudah menetes hingga ke lantai melihat otot-otot Alex.
"Ba-baik, Pak." Kata salah satu perawat di sana sedikit terbata-bata. Nyali mereka seketika menciut saat melihat tatapan tajam Alex serta bentakan nya.
Dengan sigap beberapa perawat membantu Alex membaringkan Jenni ke atas brangkar yang saat ini sedang tertidur.
Jenni sejak tadi sudah mengeluh kesakitan bahkan tak jarang memberikan sumpah serapah pada Alex karena membuatnya hamil dan merasakan sakit yang teramat dahsyat, tetapi saat sakitnya hilang justru tertidur dengan nyenyak. Alex yang tidak mengerti apapun membiarkan istri nya tertidur daripada menyumpahinya terus-menerus saat dia sadar.
"Apakah istri Anda pingsan, pak?" Tanya salah satu perawat saat melihat tidak ada pergerakan apapun dari Jenni.
"Pingsan?" Tanya Alex pada dirinya sendiri sedikit bergumam. Dia diam sejenak sedikit berpikir apakah istri nya memang benar-benar tidur atau justru pingsan.
"Sembarangan menyumpahi istri saya pingsan! Dia hanya tertidur bukan pingsan!" Katanya tidak terima. Padahal dia juga sempat berpikir istri nya pingsan tadi, tapi saat mengingat sebelum Jenni menutup mata dia sempat menguap, berarti Alex yakin istri nya hanya tidur.
"Oh. Maafkan saya, pak. Saya hanya bertanya." Ralat perawat yang tadi bertanya. Dia cukup takut dengan tatapan tajam dari Alex.
Alex tidak menggubris permintaan maaf perawat itu karena lebih fokus melihat istri nya yang terus di dorong masuk menuju ruang perawatan.
Alex yang ikut mendorong dan sedikit berlari membuat senjata sakti nya yang belum di jinakkan itu terombang-ambing ke sana kemari. Beberapa orang yang menyadari akan hal itu sangat menikmati pemandangan itu. Tapi ada beberapa pula yang justru malu melihat Alex hanya mengenakan bokser di rumah sakit apalagi tanda merah yang begitu banyak.
__ADS_1
Sampai sekarang belum ada yang memberi tahu keadaan Alex yang sedang bertelanjang dada, entah Alex memang tidak menyadari nya atau memang dia sengaja ingin memamerkan otot-otot nya yang dipenuhi tanda cinta istri nya.
Saat berada di depan pintu masuk ruangan, tiba-tiba saja langkah Alex di hentikan oleh salah satu dokter yang akan menangani persalinan istri nya.
"Mohon maaf, pak Alex. Sebaiknya Anda menggunakan baju terlebih dahulu daripada menghilangkan konsentrasi kami." Kata seorang wanita muda yang berstatus sebagai dokter. Dia bahkan tidak berani menatap ke arah Alex, lebih tepatnya malu melihat orang tanpa busana apalagi jika perhatian nya beralih ke bawah, itu akan semakin membuyarkan konsentrasi seorang dokter saat bekerja.
Perhatian Alex langsung tertuju pada tubuhnya sendiri. Seketika matanya membulat sempurna. Dia baru menyadari kalau sejak tadi tidak memakai baju. Wajah nya langsung memerah, apalagi saat melihat corak-corak tubuh nya yang di penuhi karya istri nya.
"Eumm ... Ba-baiklah. Tunggu sebentar." Alex langsung berlari keluar. Sungguh, demi apapun Alex seperti ingin menenggelamkan diri nya menuju inti bumi saja dari pada di landa malu yang teramat.
Tapi dia tetap mencoba tak menghiraukan orang-orang disekitarnya. Alex masih berusaha bersikap cool seperti biasa hingga menuju ke mobil yang terparkir di sana.
Brakk
Alex menggebrak mobil yang terparkir di sana. Pak sopir yang baru saja memposisikan tidur langsung terlonjak kaget.
Sopir itu langsung membukakan pintu mobil dengan gemetar.
Saat Alex berhasil masuk, langsung meraih kerah baju yang di gunakan sopir itu.
"Buka baju mu!" Tekan Alex sembari menatap tajam sang sopir.
Pak sopir itu dibuat pias oleh tatapan Alex. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak karena tiba-tiba bos nya menyuruh nya untuk membuka baju.
"Apakah karena istrinya sedang tidak bisa memuaskan lalu pak Alex memilih untuk homo??" Batin sopir itu bergidik ngeri. Namun tak urung mematuhi perintah boss nya.
"Sekarang buka celana mu!" Perintah Alex lagi saat berhasil membuka baju nya.
Pak sopir benar-benar dibuat ketakutan akan hal itu.
__ADS_1
"Ta-tapi, Pak..."
"Sudah, buka saja!" Tekan Alex tak bisa di bantah.
Akhirnya sopir itu menurut menyisakan celana kolor serta pakaian dalam yang dipakai sopir itu, lalu memberikan nya pada Alex.
"Bagus! Itu hukuman untuk mu karena tidak mengingatkan ku tidak memakai baju ke sini." Lalu Alex beranjak pergi setelah memakai pakaian milik sang sopir. Meski terlihat kekecilan tapi tidak ada pilihan lain dari pada harus bertelanjang seperti tadi.
Alex langsung berlari menuju ruangan bersalin tempat istri nya melahirkan.
Saat di depan pintu ruangan, Alex langsung masuk begitu saja.
"Sayang..." Alex tak kuasa melihat pemandangan di sana. Dimana istri nya sedang mengejan kuat serta lelehan bening kristal itu membasahi pipinya.
Alex tahu saat ini sedang merasa kesakitan yang teramat demi baby mereka.
"Sayang, kamu kuat ya..." Alex mencium puncak kepala nya saat sudah berdiri di samping istri nya. Jenni tidak sempat membalas perkataan suaminya karena saya ini sedang fokus mengatur nafas.
Para dokter sedang membimbing istri nya untuk mengatur pernafasan. Alex berinisiatif mengusap keringat yang membanjiri wajah istri nya.
Tal berapa lama, Alex mendengar suara bayi menangis. Ternyata saat melihat ke bawah, sudah ada baby girl mungil di gendongan dokter yang masih berlumuran darah. Karena sejak tadi Alex tak berani melihat ke bawah sana.
"Sayang, bayi kita sudah lahir. Terimakasih, sayang.... terimakasih..." Alex terus menciumi puncak kepala istrinya penuh cinta. Dia menangis terharu, tidak menyangka dirinya sudah menjadi seorang Ayah.
Jenni hanya bisa mengangguk serta tersenyum lemah. Tenaganya belum kembali setelah proses persalinan tadi.
Setelah baby nya selesai di bersihkan, satu perawat memberikan pada Alex untuk di berikan pada Jenni.
"Welcome in the world my baby girl. Welcome Anastasia Laurencia Lemos di kehidupan kami." Alex meneteskan air mata, tak kuasa akan kebahagiaan yang di dapatkan nya.
__ADS_1