Dosenku Sang Casanova

Dosenku Sang Casanova
Pulang Terlambat


__ADS_3

Alex mempersiapkan pemakaman Bella yang dibantu oleh Dion dan beberapa orang suruhannya.


Tidak ada yang mengetahui kalau saat ini Bella telah tiada, tidak ada sanak saudara, tidak ada kerabat ataupun teman-teman yang mengantarkan dia ke peristirahatan terakhir.


Alex sengaja tidak membocorkan pada siapapun karena status Bella masih buronan dan jika ada orang lain yang mengetahui, maka Alex pun akan terancam dipenjara, terlebih penyiksanya pada Bella hingga membuatnya meregang nyawa.


Alex ikut mengantarkan jenazah Bella hingga ke liang lahat ditemani oleh Dion, dan beberapa orang suruhannya yang mengurusi prosesi pemakaman, termasuk seorang ustadz, penggali kubur, dan beberapa orang yang sudah dibayar untuk mengurus semua keperluan sekaligus menutup mulut agar tidak membocorkan kepada siapapun.


.


.


.


Sedangkan di tempat lain ada wanita hamil yang sedang menunggu suaminya pulang, ia tidak sabar ingin segera memberitahu kepada suaminya tentang hasil pemeriksaan kandungan siang tadi.


Wajahnya terus memancarkan aura kebahagiaan, satu tangan nya tak henti-hentinya mengusap perut yang sudah terlihat membuncit.


"Jenni, sebaiknya istirahat saja. Tidak perlu menunggu Alex, tidak baik bagi ibu hamil tidur larut malam." Ibu Anin menghampiri menantu yang sangat disayanginya yang sedang duduk di sofa menunggu kepulangan sang suami.


Tadinya Ibu Anin ingin pergi ke dapur, tapi saat melewati ruang tengah tak sengaja dirinya melihat jenni yang masih duduk di sofa sembari mengusap perutnya.


Setelah selesai dari dapur, ibu Anin langsung menghampiri menantunya.

__ADS_1


Padahal jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Jenni masih setia menunggu sang suami, hal itu tentu semakin membuat bu Anin sangat mengagumi menantunya yang begitu mencintai anaknya.


"Tidak ibu, aku akan menunggu Alex pulang. Sebaiknya ibu istirahat saja, aku tidak apa-apa disini sendiri. Lagian sebentar lagi Alex pasti segera pulang." Tutur Jenni dengan senyuman khasnya.


Wajah itu terlihat begitu ceria, tak ada lagi guratan kesedihan yang melintas di wajahnya.


"Tapi nak, kamu juga perlu istirahat. Ingat, saat ini kamu sedang mencari mengandung. Pikirkan juga baby yang ada dalam kandungan mu." Ibu Anin ikut mengelus perut Jenni dengan kepala menunduk menatap sang cucu yang masih dalam kandungan.


"Iya, ibu tenang saja. Sebentar lagi Alex pasti segera pulang."


Ibu Anin hanya bisa menghela nafasnya berat kemudian mengangguk. " Baiklah kalau memang itu kemauan mu. Ibu istirahat dulu. Kalau sudah mengantuk, langsung pindah ke kamar. Tidak perlu menunggu Alex." Kata ibu Anin penuh tidak ingin dibantah.


"Tentu, ibu tidak perlu khawatir." Sahut Jenni sembari tersenyum.


"Ibu ke kamar dulu. Good night." Ibu Anin mencium perut buncit menantunya kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar.


Setelah ibu Anin berlalu dari sana, Jenni meraih ponsel yang ada di kursi di sebelah nya. Kemudian membuka ikon berwarna hijau berharap ada chat dari suaminya, ternyata tidak ada satu pesan pun di sana.


Jenni kemudian melihat pemberitahuan terakhir dilihat, ternyata suaminya memang seharian tidak membuka aplikasi itu karena terakhir membuka aplikasi itu pada pukul 08.03.


Malam pun semakin larut, waktu menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Alex tak kunjung tiba di apartemen.


Jenni merasa sudah tidak kuat menahan rasa kantuknya akhirnya tertidur di sofa dengan posisi duduk, satu tangan nya masih berada di perut buncitnya, sedangkan satu tangan nya lagi masih memegang hp yang hampir terjatuh.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Alex pulang dalam kondisi kacau, tubuh dan pikirannya sangat lelah setelah seharian ini mengurus Bella.


Namun saat ia sudah berjalan menuju ruang tamu, ia melihat istrinya yang tertidur lelap di sana.


Alex semakin merasa bersalah karena istrinya tertidur di sofa karena menunggu dirinya yang pulang terlambat. Namun hatinya juga sedikit menghangat karena istrinya menunggu kepulangan nya.


"Sorry, sudah membuat mu menunggu." Bisik Alex kemudian mengecup lama kening Jenni, lalu berganti mengusap perut yang masih di pegang satu tangan Jenni. "Maafkan Daddy, baby. Sudah membuat kalian menunggu." Alex mencium perut itu setelah selesai mengusapnya.


Setelah itu ia menggendong tubuh Jenni ala bridal style dengan penuh hati-hati agar istrinya tidak terbangun.


Baru saja ia mengangkat tubuh Jenni, sesuatu di atas pangkuan istrinya terjatuh. Dengan susah payah Alex mengambil amplop berwarna coklat sambil menggendong istrinya.


Setelah berhasil ia raih, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar. Setelah Alex membaringkan tubuh istrinya, ia kembali meraih amplop berwarna coklat itu. Merasa penasaran dengan isinya, Alex memutuskan untuk membukanya. Dipandanginya sebuah kertas hasil USG buah cinta nya, ia merasa sangat bahagia namun juga merasa sedih.


Ia bahagia bisa melihat anaknya melalui gambar itu, namun ia juga bersedih karena tidak menemani istrinya saat kontrol.


"Sorry.." Lagi-lagi Alex membisikkan kata maaf di telinga istrinya yang sedang terlelap, ia benar-benar tidak ingin dalam kondisi seperti ini. Dimana istrinya harus mengecek kandungan nya tanpa ditemani dirinya.


Terlalu memikirkan urusan Bella, membuatnya melupakan jadwal cek kandungan istrinya. Tapi sudahlah, ini juga sudah berlalu.


Alex menghembus nafasnya dalam-dalam kemudahan bangkit dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


...💙💙💙...

__ADS_1


...TBC...


See you next chapter 👋🙂


__ADS_2