
Di tempat lain, Alex sedang menemani Bella di Rumah Sakit terdekat, karena sakit Bella semakin parah sehingga ia tak mungkin tega meninggalkan nya sendiri.
Sebelumnya Bella sudah menceritakan kalau ia mengidap penyakit kanker rahim stadium akhir pada Alex.
Maka dari itu Alex menjadi iba padanya, ditambah saat ini ia tidak memiliki siapapun untuk bersandar.
Alex sudah mendengar cerita Bella, bahwa di usir dari rumah orang tuanya dari saat ia ketahuan mengandung Calvin.
Alex sangat merasa bersalah karena tidak ada disaat Bella berjuang mengandung anaknya.
Dan saat ini Calvin dan Bella menyusul Alex ke Bora Bora dengan alasan Calvin terus merengek ingin bertemu Alex.
Alex sebenarnya sudah melarang karena sebentar lagi ia akan kembali, namun tanpa diduga Bella nekat menyusulnya ke Bora Bora hingga masalah yang selama ini di takutkan Alex benar benar terjadi.
Saat ini Alex sudah berada di ruang rawat Bella, namun ia terus mondar mandir di ruangan itu sambil memegangi ponselnya.
Ia sudah mencoba menelpon Jenni ratusan kali namun ponselnya tidak aktif.
"Alex..duduklah, kenapa kamu mondar mandir seperti itu..?" tanya Bella dengan suara lemah.
Alex tidak mendengarkan ucapan Bella, ia masih melamun memikirkan bagaimana caranya meminta maaf pada Jenni.
"Alex!!" Panggil Bella lagi dengan suara keras.
Alex langsung tersadar dan menoleh ke arah Bella.
"Ya, ada apa?" saut Alex secukupnya dengan nada datar.
"Kenapa kamu terus mondar mandir seperti itu? duduk dulu..kamu pasti capek kan..?" tanya Jenni lembut.
"Aku tidak capek, apakah sakit mu sudah berkurang?" tanya Alex.
Bella yang merasa diperhatikan Alex seketika mengembangkan senyumnya.
"Iya..aku sudah lebih baik, terimakasih sudah membawa ku kesini dan sudah menemani ku.." Ujar Bella dengan rona bahagia walau suaranya masih terdengar lemah.
"Syukurlah kalau memang kamu sudah baikan, aku harus kembali ke resort dulu. Sudah sore aku harus menemui istri ku." Ucap Alex tegas.
Bella hanya menatap nya dengan penuh kecewa, sebenarnya ia sangat berharap Alex bisa menemani dan merawat nya, tapi apa mau dikata? dia tidak berhak mencegah ataupun melarang nya.
"Kalau kamu pergi bagaimana dengan Calvin? siapa yang akan menjaganya?" tanya Bella dengan tatapan sendu.
Alex menghela nafas berat dengan ekspresi wajah menahan kesal.
"Calvin akan ku titipkan pada suster disini, tenanglah..dia akan menjaga Calvin dan merawat mu." dengan nada sedikit jengah.
__ADS_1
Mau tidak mau Bella harus mengiyakan keinginan Alex, karena ia sudah tidak bisa lagi mencari akal agar bisa menahan Alex untuk tetap di sana.
"Baiklah..jika urusan mu sudah selesai, tolong jenguk kami disini karena Calvin juga membutuhkan mu."
Alex hanya mengangguk kemudian menghampiri Calvin yang tertidur di sofa dan mencium kening nya.
"Daddy pergi dulu sayang..." bisik Alex tepat di telinga Calvin kemudian berjalan ke arah pintu.
Sebelum membuka pintu Alex menyempatkan menoleh ke arah Bella yang juga sedang menatapnya.
"Aku pergi dulu, sebentar lagi suster yang merawat mu datang kesini."
Bella mengangguk dan tersenyum.
"Iya.. terimakasih Alex, hati hati di jalan."
Alex hanya mengangguk kemudian membuka pintu dan langsung keluar dari ruangan dengan langkah lebar.
Ia langsung menuju loby Rumah Sakit dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
.
.
Pada menit berikutnya Alex sudah tiba di halaman resort yang ia sewa.
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh arah, namun tak di temukan satu manusia pun.
Alex langsung berlari ingin masuk ke dalam. Saat ingin membuka pintu, ia mendengar suara deru mobil yang berhenti di belakang nya.
Saat berbalik arah, terlihat Jenni yang tangannya sedang di gandeng oleh seorang pria yang terlihat sangat tampan dan gagah.
Alex mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, wajahnya merah padam dengan mata terus menatap tajam pria itu.
Dengan langkah lebar dan aura mematikan, Alex memghampiri Jenni yang menatap datar Alex.
"Apa yang kau lakukan!!" sentak Alex sambil melepaskan tautan tangan Adrian dan Jenni.
"Berani sekali kau memegang tangan istriku!!" hardik Alex dengan kemarahan sudah di ubun-ubun.
Kepalanya terasa mendidih bahkan uap nya nyaris dilihat oleh Adrian dan Jenni. (ga bisa bayangin kepala mendidih sampai menguap🙈)
"Memang nya apa yang ku lakukan? aku hanya menggandeng tangan sahabat ku yang sedang rapuh karena dikhianati suaminya." sinis Adrian dengan nada menantang.
Alex terlihat mati kutu di depan keduanya.
__ADS_1
"Sayang..ayo masuk, aku bisa jelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." ucap Alex dengan nada memohon.
Tatapan nya terlihat begitu sendu dan tak lagi memancarkan kemarahan.
"Memang nya apa yang aku pikirkan?" Jawab Jenni datar, matanya menatap Alex dengan penuh kekecewaan.
"Tenang saja, aku kesini hanya ingin mengambil barang ku yang tertinggal. Aku tidak akan melarang mu untuk bertemu dengan keluarga kecil kalian, hidup lah bersama anak dan wanita mu." Jenni menghela nafas sejenak untuk menetralkan rasa sesak di hati nya
"Semoga kalian selalu bahagia, aku akan berusaha ikhlas melepas mu dan aku yakin kamu bisa bahagia tanpa ku. Setelah kembali aku akan mengajukan percer---" Jenni tidak melanjutkan ucapannya saat mendengar suara alex yang begitu menggelegar.s
"Cukup!!!!" Bentak Alex dengan suara keras.
Nafas nya naik turun tidak teratur seraya menatap tajam Jenni.
"Hentikan semua omong kosong mu itu!! siapa yang ingin meninggalkan mu? dan siapa bilang aku bahagia bersama nya??" Ucap alex dengan nafas memburu, dada nya naik turun dengan mata sudah berkaca-kaca.
Sungguh ia tak sanggup membayangkan harus kehilangan Jenni, satu-satunya orang yang paling di cintai dan mau mencintai diri nya dari semua kebaikan dan menerima keburukan yang ia miliki.
"Ku mohon sayang..jangan pernah kamu berfikiran untuk pergi dariku, sungguh! membayangkan saja aku tak sanggup sayang.." Alex bersimpuh tepat di hadapan Jenni dengan air mata sudah menetes membasahi wajah nya.
Tangan nya meraih tangan Jenni dan menggenggam nya erat.
"Ku mohon sayang..ampuni kesalahan ku..berikan aku kesempatan untuk menjelaskan nya.." Alex masih bersimpuh di hadapan Jenni dengan wajah menunduk, seakan ia sangat menyesali semua kesalahannya.
Jenni yang melihatnya pun sebenarnya tidak tega, ia menghadap ke arah lain tanpa mau memandang Alex.
Jenni berusaha mati-matian untuk menahan air matanya supaya tidak tumpah dihadapan Alex, Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang yang telah menghancurkan hidup dan kebahagiaan nya.
"Sudahlah, ku mohon lepaskan aku. Terimalah kenyataan, kau harus bertanggung jawab pada mereka. Anak mu juga membutuhkan keluarga yang utuh. Jadi, jangan bersikap egois. Pikirkan nasib anak mu jika harus kehilangan kasih sayang salah satu orang tuanya." Jenni menjelaskan dengan nada tenang.
Meski sebenarnya batin nya menjerit merasakan betapa perihnya luka yang dirasakan saat ini.
Jenni melepaskan tangan yang ada di genggaman Alex lalu masuk ke dalam.
Saat Alex ingin menyusul, tiba-tiba ia di hadang Adrian sehingga tidak bisa masuk kedalam.
**Maaf ya..kalo tulisannya amburadul, udah😴😴😴
Udah Senin kan..vote nya mana?? nggak kepakai kan? sini sedekahin aja😂😂
Udahlah kalo ga mau ga maksa😌**
...❤️❤️❤️...
...TBC...
__ADS_1
See you next chapter 👋