
Sepasang suami istri itu telah sampai di resort.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang membuka suara.
Beberapa kali Alex menatap wajah Jenni namun, istrinya terus memalingkan muka dari nya.
Alex ingin sekali membuka percakapan tetapi suara nya tertahan di tenggorokan, suara itu seakan tak ingin keluar dari tenggorokan.
Hingga tiba di resort, keduanya sama-sama masih enggan membuka suara.
Alex dan Jenni sudah menuju ke kamar, namun mereka terlihat canggung seperti orang baru mengenal satu sama lain.
Saat ini Jenni sedang melepaskan gaun yang dipakai, tetapi ia kesulitan untuk membuka resleting gaun itu.
Alex yang melihat pun segera mendekat dan membantu Jenni melepaskan.
Setelah resleting itu berhasil di turunkan, tangan Alex meraba punggung polos Jenni dengan satu tangan nya dan satu tangan lain nya menahan perut Jenni agar tidak menjauh.
Wajah Alex terus mengendus menyusuri tubuh Jenni mulai dari telinga, leher, punggung hingga lama-kelamaan turun ke bawah hingga ke pinggang Jenni.
Alex terus menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang begitu membuat candu diri nya.
Jenni hanya bisa merasakan desiran darah yang mulai menghangat saat kulit nya di sentuh Alex sampai merasakan seperti tersengat listrik dan menjalar ke tubuh nya.
"Eunghhh.." Tubuh Jenni meremang saat Alex semakin menggila.
Jenni hanya bisa pasrah dan me le nguh saat merasakan nikmat di tubuh nya.
Dengan segera Alex langsung menjatuhkan gaun yang dipakai Jenni kemudian mengangkat tubuh Jenni ala bridal style menuju ke kamar mandi.
Akhirnya dua insan halal itu kembali melakukan ibadah suami istri setelah mengalami banyak rintangan di tengah kehidupan rumah tangga mereka.
Hampir dua jam lama nya sepasang suami-istri itu menghabiskan waktu di kamar mandi.
Alex kembali membopong istri nya ke dalam kamar yang sama-sama telah memakai kimono handuk yang membalut di tubuh mereka.
Dengan telaten, Alex memakaikan baju pada tubuh Jenni.
Walaupun Jenni sudah menolak, tapi Alex tetap memaksa karena Jenni terlihat kelelahan setelah menghabiskan hampir 2 jam di kamar mandi.
"Selesai.." Ucap Alex setelah berhasil memakaikan baju Jenni.
__ADS_1
Alex kembali membopong tubuh Jenni ala koala, kemudian membawa nya ke depan meja rias.
Ia mengeringkan rambut Jenni dengan telaten kemudian menyisir nya.
Jenni hanya bisa memandang dengan tatapan sulit di artikan.
Walaupun Jenni sudah berusaha menerima, namun rasa sakit itu masih menyarang di hati nya.
Entah sampai kapan ia bersungguh-sungguh menerima kenyataan, nyata nya saat ini ia belum sanggup.
Pikiran nya menerawang jauh tentang nasib rumah tangga nya karena ada anak Alex di antara mereka.
"Sayang.. kenapa memandang ku seperti itu?" tanya Alex saat melihat istrinya menatap Alex namun pikiran nya tak tertuju pada nya, seperti orang melamun.
Alex meletakkan hair dryer di atas meja rias kemudian beralih mengambil sisir.
Dengan telaten Alex menyisir rambut pirang itu hingga rapi.
"Ah.. tidak, aku hanya sedang melihat wajah mu yang begitu tampan." Jawab Jenni diiringi dengan seulas senyum yang manis di bibir nya.
"Benar kah? kau sudah pandai menggombal hm..?" Tanya Alex tersenyum sambil menoel dagu sang istri.
"Sudah selesai, tunggu sebentar aku ganti baju dulu sayang.. setelah itu kita akan makan di luar."
Jenni hanya mengangguk menjawab pertanyaan Alex.
Kemudian ia mengambil cream pelembab untuk di oleskan ke wajah nya lalu mengoleskan sedikit lip teen di bibir nya supaya tidak terlihat kering.
Jenni tampak begitu cantik dengan riasan natural di wajah nya yang nyaris tak terlihat memakai make up.
Perhatian Jenni beralih pada Alex yang sedang memakai baju di sana.
Ia memandangi tubuh suaminya itu sambil menopang dagu.
"Kenapa kau sejak tadi memandang ku seperti itu? terpesona hm..?" tanya Alex sambil mendekati Jenni setelah selesai memakai pakaian lengkap.
"Iya..aku terpesona padamu hingga membuat ku buta dengan kebenaran yang ada di depan mata ku, aku tetap memaafkan mu meski orang lain akan menganggap ku bodoh menerima mu yang telah memiliki anak di luar nikah." Alex tampak menegang di tempat nya saat Jenni melontarkan kalimat itu.
Apalagi saat melihat wajah Jenni yang datar dan tak menatap nya.
__ADS_1
"Aku tuli dengan semua nasehat yang ku dengar dari mereka, hingga aku tak menghiraukan orang orang di dekat ku yang menginginkan aku terlepas dari mu." Ucap Jenni lagi.
"Sayang..--"
"Sebesar itu rasa cinta ku pada mu, hingga membuat ku buta dan tuli. Jangan sampai kau kembali menyakiti ku, karena aku pasti tak akan sanggup lagi."
"Sayang..jangan katakan itu lagi. Aku berjanji tidak akan menyakiti mu lagi, sungguh maaf kan aku. Aku tahu kamu pasti berat menerima kenyataan bahwa aku telah memiliki anak dari wanita lain, tapi aku pun tak bisa mengubah takdir sayang.." Alex menggenggam tangan Jenni sambil berusaha menatap mata nya, namun Jenni tetap memalingkan muka dari nya.
"Apakah sesakit itu kamu mengetahui kebenaran ini sayang? maaf kan aku, aku berjanji ini yang terakhir kali aku membuat mu bersedih." Gumam Alex dalam hati.
"Tolong jangan pikirkan masalah itu lagi, kita harus melangkah ke depan. Jika kami tidak ingin menerima Calvin aku tak apa. Biarkan dia hidup bersama mommy nya."
"Apa aku setega itu Alex?? apa aku setega itu?? membiarkan seorang anak tumbuh tanpa kasih sayang lengkap kedua orang tua nya??" Tanya Jenni dengan menaikan intonasi nya dengan mata sudah berkaca-kaca.
"Apa di mata mu aku ini wanita jahat??"
Jenni dibuat meradang dengan perkataan Alex tadi.
"Bukan begitu maksud..--" ucapan Alex kembali terpotong oleh perkataan Jenni.
"Aku pun pernah merasakan bagaimana menderita nya seorang anak tumbuh tidak didampingi orang tua nya. Dan kamu pun merasakan itu! lalu kenapa kamu menjadi setega itu dengan darah daging mu sendiri??" Tanya Jenni dengan mulut berapi-api.
"Jangan sampai Calvin menjadi korban akibat keegoisan mu Alex!! Aku akui, aku pun belum sepenuh nya menerima kalau Calvin itu darah daging mu. Tapi aku tak akan tega itu untuk memisahkan anak dari ayah nya!"
"Sayang..maaf kan ucapan ku tadi. Aku tidak bermaksud seperti yang kau tuduhkan tadi. Aku hanya tidak ingin kau bersedih lagi. Aku pikir..--"
"Dengan mengorbankan kebahagiaan seorang anak yang tumbuh tanpa kedua orang tua nya maka aku akan bahagia? itu maksud mu?" Potong Jenni.
"Tidak sayang, tolong jangan katakan itu lagi. Kamu adalah wanita terbaik yang pernah ku temui. Hati mu sangat lembut dan penyayang, mana mungkin tega memisahkan Calvin dari ku. Tapi aku juga tidak sanggup melihat mu terus-terusan murung seperti ini." Tutur Alex lembut hingga membuat Jenni pun akhirnya melunak.
"Sudah lah sayang, kita bahas ini lain kali saja. Kita harus makan, kamu juga lapar kan sejak tadi belum makan?" tanya Alex sambil merangkul Jenni kemudian mengangkat nya.
Jenni tak menanggapi nya, ia hanya diam saat Alex mengangkat tubuh nya keluar kamar.
Jangan lupa tinggalkan jejak...
...❤️❤️❤️...
...TBC...
See you next chapter 👋😜
__ADS_1